Rekan-rekan sekalian, 
Berikut ini saya postingkan artikel Gali Kata Alkitab dengan judul “Kuk atau 
Penindasan”. 
Harap artikel ini menjadi berkat bagi kita sekalian. 
Artikel ini dan artikel sejenis dapat Anda akses di alamat berikut ini: 
http://herysa.blog.friendster.com/ 
Tuhan Yesus memberkati. 
  
Salam, 
herysa
Gali
Kata Alkitab
Rubrik
 ini menyediakan artikel yang berisi makna suatu kata dalam Alkitab
yang diteliti dengan menggali akar kata dalam bahasa Ibrani Kuno.
Artikel yang dimuat di rubrik ini merupakan pengembangan dari artikel
pendek dalam "Pelayanan via SMS" yang disebarkan setiap
hari Rabu dengan rubrik "Gali Kata Alkitab" dari telepon
selular nomor  085294397157 atas nama Hery Setyo Adi. Sedangkan
rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang disebarkan melalui e-mail ini
-- mempostingkan satu artikel seminggu sekali setiap hari Kamis.
Artikel yang sama disebarkan juga melalui
http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata.
Harap artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. Tuhan Yesus
memberkati.
Pelayanan
via E-mail 

Edisi
33: Kamis, 23 Oktober  2008

Kuk
atau Penindasan




Apa
arti kata “kuk” atau “penindasan” ditinjau dari tulisan
Ibrani kuno? Kata “kuk” memiliki arti yang sama dengan ‘ol
(ayin-holem waw-lamed) dalam bahasa Ibrani. Kata ‘ol
tersebut berasal dari akar kata induk (parent root) ‘l
(ayin-lamed).
 

Sebagaimana
umumnya terjadi di berbagai bangsa, tulisan Ibrani mengalami
perubahan-perubahan. Huruf “ayin” pada awalnya berupa gambar mata
dan menyimbolkan pengetahuan atau pengalaman. Sedangkan huruf “lamed”
adalah gambar tongkat gembala atau kuk. Gabungan dua tulisan-gambar
(piktograf) tersebut berarti “pengalaman penindasan”. Kuk adalah
sebuah tongkat yang ditaruh di atas bahu, diikatkan terhadap sapi
untuk melakukan suatu pekerjaan, sesuai kemauan sang pembajak.
 

Nas-nas
Alkitab puluhan kali menggunakan kata “kuk” ini dengan dua makna,
yakni makna sebenarnya dan makna simbolis. Sebagai contoh, Bilangan
19:2 atau pun 1 Samuel 6:7 kata “kuk” dipakai penulisnya untuk
menyatakan makna yang sebenarnya. Sedangkan seluruh kitab Yeremia
(5:5; 27:8; 27:11,12; 28:2,4,11, 14; 30:8), menggunakan kata itu
secara simbolis, yang berarti “penindasan.”
 

Penindasan
sebagai Cara Tuhan Membentuk UmatNya
 

 Berulang
kali Alkitab menghadirkan kenyataan, bahwa Tuhan mendisiplin umatNya
melalui penindasan. Pada zaman hakim-hakim (baca:kitab Hakim-hakim)
siklus pendisiplinan itu berulang dengan pola: Israel berdosa –
Tuhan menindas – Israel berteriak minta tolong – Tuhan
membangkitkan seorang hakim – Israel diselamatkan. Lalu, mereka
berdosa lagi, Tuhan menindas lagi, Israel berteriak lagi, Tuhan
membangkitkan seorang hakim lagi, dan Israel diselamatkan lagi.
Begitu seterusnya, siklus itu berulang tujuh kali.
 

Dalam
kitab Yeremia, Tuhan menaruh “kuk” (penindasan) dan juga
mengambil “kuk” (penindasan) itu dari bangsa Yehuda. Karena
mereka telah memberontak dan jahat di mata Tuhan, maka mereka harus
mau menaruh tengkuknya di bawah kuk raja Babel. Mereka yang bersedia
menerima “kuk” raja Babel, akan hidup (27:12), bahkan dibiarkan
Tuhan untuk tetap tinggal di tanahnya (ayat 11). Tetapi, jika bangsa
itu menolak untuk takluk kepada Babel, mereka akan mengalami
penindasan yang lebih berat lagi, sampai pada akhirnya mereka
diserahkan kepada Babel (ayat 8). 

Di
tengah nubuat penghukuman untuk bangsa itu, Allah pun memberitakan
pemulihan dan keselamatan. “…Aku akan mematahkan kuk dari tengkuk
mereka dan memutuskan tali-tali pengikat mereka,…” (30:8). Allah
yang menaruh “kuk” itu, tetapi Dia juga yang akan mengambilnya
setelah Dia melaksanakan apa yang dirancangkan dalam hatiNya (30:24).

Dengan
demikian “kuk” atau ‘ol (harfiah berarti pengalaman
penindasan) dengan sengaja dipakai Tuhan untuk mengarahkan umatNya,
sehingga mereka dapat melakukan pekerjaan yang dikehendaki Tuhan.
Seperti halnya dua sapi bajak tanpa kuk di bahunya, maka si pembajak
akan sulit mengarahkannya, begitu juga umat Tuhan tanpa penindasan.
 

Implikasi

Apabila
kita, jemaat Tuhan, baik secara kelompok maupun perorangan mengalami
penindasan politik, ekonomi, dan aspek-aspek hidup yang lain, kita
perlu merenungkan kembali ketaatan kita kepada Tuhan. Bukannya tidak
mungkin, Tuhan sedang menyerahkan tengkuk anak-anakNya ini di bawah
kuk pihak lain.
 

Jika
hal itu yang terjadi, maka doa kita yang pertama-tama bukannya minta
dibebaskan dari kuk itu, melainkan bertobat dan minta kekuatan dari
Tuhan untuk menaggung kuk itu. Sebab, Tuhan sendiri yang akan
mengambil kuk itu setelah sesuatu yang dirancangkan dalam hatiNya
terlaksana.
 

(Artikel
ini ditulis oleh Hery Setyo Adi. Berbagai sumber dipakai sebagai
rujukan tulisan ini)


      
___________________________________________________________________________
Nama baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/

Kirim email ke