|
Agar Allah Tidak Melupakan Kita ----------------------------------------------- Bismillahir rahmanir rahiem Dalam usia dunia yang semakin tua ini, tidak disangsikan lagi bahwa
setan2 yang ditangguhkan kematiannya menjadi sangat berpengetahuan dan sangat
berpengalaman. Tidak hanya itu saja, alat2 bantu untuk menyesatkan manusia juga
menjadi semakin banyak, semakin lengkap dan semakin canggih. Dan salah satu
alat bantu mereka yang semakin berkembang adalah media massa yang diperuntukkan
bagi tema2 yang tidak ada manfaatnya; termasuk di dalamnya adalah perbualan2
kosong dan gossip2. Dalam usaha dakwah, tidak sedikit kita jumpai orang2 beriman yang
terperosok dalam kubangan maksiat. Alhamdulillah, sebagian diantara mereka ada
yang begitu mudah kita ingatkan sehingga dapat segera kita tarik kembali ke
jalan Allah. Sebagian lagi memerlukan kesabaran ekstra untuk mendatangi,
membujuk dan merangkul mereka. Adapun sisanya, kita serahkan kepada Allah (swt)
karena Dia maha berencana dan maha berkendak atas kesudahan setiap orang dari
mereka. Dan diantara orang2 yang kembali ke jalan Allah, ada yang sebelumnya
telah melakukan maksiat secara sembunyi2 dan ada juga yang melakukannya secara
terang2-an. Keadaan mereka bermacam ragam. Diantara mereka ada yang sungkan dan
ada pula yang dengan polos menceritakan maksiat2 yang telah dikerjakannya. Yang
menggembirakan kita adalah bahwa keduanya mempunyai niat yang sama, yakni niat
suci untuk memperbaiki diri mereka sendiri dari kerusakan2 yang terlanjur
mereka lakukan. Bukan satu perkara yang mudah bagi seseorang yang memiliki suatu
kebiasaan buruk untuk meninggalkannya atau mengubahnya dalam sekejap. Bahkan
tidak sedikit dari mereka yang gagal setiap kali mereka berniat dan mencobanya.
Dalam keadaan seperti itu (dimana dakwah telah sampai kepada lubuk hati mereka
sementara mereka juga belum kuasa meninggalkan maksiat), maka mereka se-akan2
seperti orang2 yang memiliki standard ganda: di tempat2 para salihin mereka
menjadi saleh dan di tempat2 maksiat mereka juga melakukannya. Namun demikian, tidak seorangpun diantara kita yang berkelayakan untuk
merendahkan mereka. Yang demikian adalah karena kita tidak mengetahui saat2
mereka menangis di hadapan Allah (swt) setiap kali mereka melakukan maksiat.
Kita tidak mengetahui bagaimana dengan cara meng-hiba2 mereka mengakui
kesalahan2, dosa2 dan ketidakmampuan mereka untuk meninggalkan maksiat. Dan
lebih daripada itu adalah karena kita tidak mengetahui bagaimana rencana dan
pola perbaikan yang akan Allah terapkan pada tiap orang yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya, masih banyak urusan yang lebih bermanfaat, lebih tinggi
nilainya dan lebih baik ganjarannya daripada sekadar membicarakan aib
seseorang. Termasuk di dalamnya adalah membicarakan keburukan orang2 'lama'
dalam kerja dakwah. Jika kita mendapatkan bahwa kualitas akhlak dan ikram
orang2 �lama� tak kunjung menjadi baik, sementara orang2 'baru' memperlihatkan
progres yang bagus dan memperoleh perbaikan kualitas yang menawan, maka keadaan
mereka yang demikian tetap tidak layak untuk dibicarakan. Allah (swt) memberitahu kita dalam kitab-Nya, "Sesungguhnya ada
segolongan dari hamba2-Ku yang berdoa, �Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka
ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah se-baik2 pemberi
rahmat.� Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu
mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." (QS Al Mu'minun
23:109-110) Maka benarlah firman Allah (swt) bahwa kesibukan kita dalam membicarakan
kekurangan dan keburukan orang lain akan menjadikan kita lupa kepada-Nya. Yang
demikian adalah karena hati kita laksana sebuah wadah. Jika sesuatu
menempatinya, maka terkeluarlah yang lain darinya. Jelasnya, jika wadah ingatan
kita dipenuhi oleh fikiran2 tentang aib saudara2 kita, maka bersemayamnya
fikiran2 itu akan mencegah ingatan kepada Allah memasuki dan memenuhi
relung2-nya. Perkara melupakan Allah (swt) bukanlah perkara main2 dan bukan pula hal
yang sepele. Yang demikian adalah karena orang2 yang lupa kepada Allah (swt)
adalah seumpama orang2 munafik. Padahal tidak seorangpun yang memiliki predikat
munafik kecuali dia yang mengaku dirinya muslim atau berserah diri kepada Allah
(swt), sedangkan hatinya menolak apa yang dikatakan oleh lisannya tersebut. Dan
sebagaimana informasi dari Allah (swt) sendiri, mereka yang munafik adalah
orang2 yang telah lupa kepada-Nya. "Orang2 munafik laki2 dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang
lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat
yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada
Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang2 munafik itulah orang2
yang fasik." (QS At Taubah 9:67) Tidak seorangpun yang benar keimanannya kecuali dia merasa khawatir
kalau2 Allah (swt) melupakan dirinya. Yang demikian adalah karena tidak ada
kemalangan yang lebih besar selain Allah (swt) melupakannya. Dan dia merasa cemas
dan takut jika Allah (swt) mengelompokkannya ke dalam golongan orang2 munafik.
Yang demikian adalah karena tidak ada ancaman yang lebih dahsyat yang akan
ditimpakan kepada orang2 munafik selain daripada neraka jahanam. "Allah mengancam orang2 munafik laki2 dan perempuan dan orang2
kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi
mereka. Dan Allah melaknati mereka dan bagi mereka azab yang kekal." (QS
At Taubah 9:67-68) Karena itu, agar Allah (swt) tidak melupakan kita, maka meskipun sulit
dilakukan, tetap saja kita harus mengusahakannya, yakni untuk tidak meng-olok2
dan tidak pula berbicara mengenai aib saudara2 kita. Tidak sekali dua kali,
tetapi lagi dan lagi. Kita benci kepada gosip2 dan se-kali2 kita tak sudi untuk
menyebarkannya. Kita tidak membicarakan keburukan orang2 'lama' dan kita tidak
memperbincangkan kekurangan orang2 �baru�, khusunya dalam barisan pejuang2
agama. Dan jika kita terjebak ke dalam pembicaraan2 seperti itu, maka cara
terbaik adalah dengan segera bangkit dan menyingkir darinya dengan cara yang
sopan. Sungguh, ini jauh lebih baik buat kita, jika kita mengetahuinya. Jika sudah demikian, maka Allah (swt) yang mengetahui niat kita, niscaya
akan menolong kita untuk membersihkan hati kita dari prasangka2 yang jelek,
buruk dan jahat. Dan apabila kita bersih dari hal2 seperti itu, maka kita
memiliki sebagian dari perkara2 yang dikehendaki dan disukai-Nya. Sungguh,
sebagaimana kebersihan dzahir, maka kebersihan hati adalah sebagian daripada
iman yang sempurna. Subhanallah. Subhan ibn Abdullah Laem Chabang, 22/02/2005 * http://imanyakin.modblog.com/ -------------------------------------------------------------------------- All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise. If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".
Yahoo! Groups Links
|
