|
From: safwan
minggu syuhada' palestin day 6 "Insinyur Keempat", Ahli Bom al-Qassam Syahid dalam baku tembak dengan pasukan imperialis Israel
Ditangkap Pemerintah Otoritas Palestina Muhannad ditangkap pihak Pemerintah Otoritas Palestina pada bulan Januari 1998 setelah terbongkarnya gudang besar berisi bahan peledak di Nablus. Pihak intelijen Palestina berhasil menginterogasi dan menyidik Asy Syahid di ruang eksekusi penjara Jericho. Dari sana Muhannad dipindahkan ke penjara Junaid di Nablus untuk menjalani interogasi dan penyidikan sekali lagi. Hanya saja penyidikan kali ini dilakukan dengan cara licik dan keji. Kepala penjara Junaid, Muhammad Jabarin (Abu Sufyan) mengelabuinya, bahwa beliau akan diberi kesempatan keluar dari penjara untuk berlibur selama 24 jam bersama keluarganya. Dan benar, kesempatan itu diberikan oleh Abu Sufyan kepada beliau dengan tanpa meminta dari Muhannad untuk menghadirkan pihak yang menjamin keluarnya beliau dari penjara sebagaimana mestinya yang terjadi ketika itu. Begitu Asy Syahid keluar dari pintu luar penjara, pihak Dinas Intelijen Palestina yang memang sudah menunggunya di luar penjara langsung meringkus Muhannad dengan cara kotor, karena pada awalnya beliau menduga pihak kesatuan khusus Israel yang meringkus dirinya. Namun nyatanya, dua jam setelah berada di ruang penyidikan di penjara Jericho setelah menjalani interogasi dan penyidikan selama sebulan penuh , lalu beliau menjalani penyisaan dan penganiayaan dari para anggota intelijen Palestina, kemudian dikembalikan ke penjara Junaid di Nablus untuk menjalani masa tahanan yang tidak diketahui sampai kapan berakhir Menjadi Buron
Berbagai upaya penangkapan atas beliau telah digelar, namun selalu gagal. Allah Azza wa Jalla juga telah menyelamatkan beliau dari dua aksi upaya pembunuhan yang dirancang oleh pihak militer imperialis Israel. Pada suatu malam yang telah ditetapkan, beliau harus menyertai Mujahid Mahmud Abu Hanud dan malam itulah rencana pembunuhan terhadap Asy Syahid Mahmud Abu Hanud dilancarkan oleh imperialis Israel namun Allah Azza wa Jalla mengakhirkan keberangkatan beliau (Muhannad) untuk menyertai Mahmud Abu Hanud yang kemudian gugur syahid pada malam tersebut. Pada saat militer imperialis Israel kembali menduduki kota Nablus untuk yang kedua kalinya pada Mei 2002 yang lalu, Allah Azza wa Jalla kembali menyelamatkan beliau dari maut yang ditebarkan oleh rezim militer imperialis Israel. Beliau, dengan ditemani saudaranya yang juga aktivis al Qassam, Mujahid Ali el Khudhairi, terlibat bentrokan bersenjata dengan serdadu-serdadu imperialis Israel di sebuah gang di jalan Garnathah di tengah kota Nablus. Dalam aski sengit tersebut, dua orang serdadu dan seorang komandan dari kesatuan khusus militer imperialis Israel tewas, sementara pejuang al Qassam Ali el Khudhairi gugur syahid, sedang Muhannad terluka di bagian tangan dan kakinya. Namun, Allah Azza wa Jalla telah melindungi dan menjaga beliau hingga serdadu-serdadu imperialis Israel pun akhirnya tak mampu menghadapi beliau dan lari meninggalkan beliau dalam keadaan terluka Kepemimpinannya dalam Brigade Izzuddin al Qassam Muhannad Thaheir menerima kepemimpian Brigade Izzuddin al Qassam di Nablus setelah para mujahid dan sekaligus pemimpin Brigade Izzuddin al Qassam di Nablus, Asy Syaikh Yusuf Sarkaji, Nasim Abu al Rus, Jasir Samaro dan Karim Mufarijah masing-masing menemui Rabbnya sebagai syuhada'. Beliau mampu mengendalikan perjalanan Brigade dengan cara sangat hikmah, penuh kebijaksanaan. Terutama saat menghadapi situasi dan kondisi sangat sulit yang harus dilalui oleh para mujahidin. Diburu oleh militer imperialis Israel dan dikejar-kejar oleh Dinas Keamanan Palestina, itulah tekanan yang selalu dialami Muhannad, hingga memaksanya pindah tempat berkali-kali. Di sisi lain, pihak intelijen dan Dinas Keamanan Palestina telah menyiarkan, bahwa selama Muhannad masih hidup, militer imperialis Israel tidak akan meninggalkan kota Nablus begitu saja. Namun, betapapun kondisi berat yang harus dihadapi Muhannad, atas karunia Allah Azza wa Jalla, beliau mampu membendung berbagai pukulan penjahat imperialis Israel. Alhamdulillah, beliau berhasil melakukan aksi terbesar dengan jumlah korban tidak sedikit di pihak imperialis Israel, baik yang tewas maupun yang teruka. Karenanya beliau dituduh dibelakang tewasnya 117 orang Yahudi dan ratusan korban lainya yang terluka akibat aksi jihad yang beliau lakukan, terutama dalam aksi khusus "Dolvinaryum" di Tel Aviv, Haifa, Hotel Barak dan yang terakhir aksi syahid di Gilo. Mempertahankan Nablus Muhannad Thaheir, termasuk orang-orang yang pertama kali mempertahankan kota Nablus selama pendudukan besar yang dilakukan militer imperialis Israel terhadap kota tersebut pada April 2002. Saat itu para mujahidin mampu melakukan perlawanan luar biasa dalam sebuah pertempuran yang terjadi di Kota Lama (Baldah Qadimah). Ia adalah seorang pemimpin yang kalem, cerdas, intelek dan memiliki semangat juang tinggi. Agaknya ia menganut falsafah sedikit bicara banyak kerja. Begitu barang kali ungkapan yang pas buat mujahid Palestina bujangan juga lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersama Al Quran di sela-sela aktivitasnya. Sehingga tidak mengherankan kalau jebolan Fakultas Syariah dari Universitas Negeri el Najah ini hafal hampir seluruh Al Quran. Syahadah
Sebuah pasukan besar dari Kesatuan Khusus Militer Imperialis Israel yang didukung lima tank dan sejumlah kendaraan militer dan buldoser, serta ratusan serdadu dikerahkan untuk mengepung kota Nablus dan memblackout secara total selama 12 hari. Aksi yang juga didukung dua pesawat helikopter Apache tersebut dimulai dengan sebuah serangan udara ke rumah warga Palestina Amar el Misri, salah seorang aktivis gerakan Islam, yang sekaligus menempati tingkat dasar dari rumah bertingkat dua miliknya tersebut. Setelah serdadu imperialis Israel mengepung dan berkonsentrasi mengelilingi rumah tersebut, lewat pengeras suara mereka menyeru penghuni bangunan tersebut untuk keluar. Selanjutnya para wanita dan anak-anak keluar dari bangunan tersebut. Shuhaib (16), yang juga cucu pemilik rumah akhirnya ditangkap oleh pihak militer Imperialis Israel. Kemudian para serdadu Imperialis Israel berusaha menyerbu bangunan yang diduga dijadikan markas para mujahidin. Tak pelak lagi, sebuah perlawanan sengit akhirnya terjadi dan mengakibatkan banyak korban luka mendera para serdadu Imperialis Israel. yang kemudian memaksa para serdadu menarik diri menjauh dari bangunan tersebut. Selanjutnya pihak militer imperialis Israel melakukan serangan dengan menggunakan meriam tank dan rudal udara-darat yang ditembakan oleh dua pesawat helikopter Apache buatan Amerika tersebut. Kemudian serdadu-serdadu Imperialis Israel kembali menyerbu bangunan rumah tadi sekali lagi. Aksi yang berlangsung dari pukul 17:00 dan berakhir pada 22:30 tersebut akhirnya menghantarkan kesyahidan dua aktivir Brigade Izzuddin al Qassam, Muhannad el Thaheir dan pengawalnya, Imad Derwazah. Sementara Amar Riziq el Misri (36 tahun) pemilik rumah yang dijadikan benteng pertempuran menderita luka parah, yang kemudian diterbangkan dengan menggunakan helikopter Israel ke tempat yang tidak diketahui. Selanjutnya, buldoser-buldoser besar militer imperialis Israel menggilas melumatkan bangunan bertingkat dua tersebut rata dengan tanah. Sementara itu, dua jasad pejuang Palestina yang dikeluarkan dari reruntuhan dalam keadaan hangus terbakar oleh meriam dan rudal militer imperialis Israel tersebut di tahan oleh pihak militer imperialis Israel. Menjelang tengah malam, pihak Israel menghubungi pihak Palang Merah untuk menerima penyerahan kedua jasad Asy Syahid agar bisa dimakamkan malam itu juga. Namun pihak Palang Merah menolak usulan tersebut. Ribuan Warga Nablus Mengantar Kepergiannya
Dengan tetesan air mata dan helaan nafas panjang penuh kehangatan, dengan doa-doa dan bacaan ayat-ayat suci al Quran, menyertai ciuman di kening Muhannad dan Imad dari rekan-rekan dan orang-orang yang selalu mencintai keduanya. Hati mereka bergolak penuh kemarahan dan kerinduan untuk melakukan balasan terhadap penjarah dan perampas tanah air mereka; tanah suci Palestina. Doa Ibunda & Warga Palestina "Salam sejahtera wahai putraku, semoga Allah meridhaimu wahai putraku, ruhku dan hatiku." Begitulah Ummu Thaheir mengawali sambutannya dalam upacara melepas kepergian putranya, Muhannad el Thaheir menghadap Rabbnya. "Kau selalu berharap dapat menggapai kesyahidan, dan kini kau telah dapatkan. Telah kau timpakan adzab kebinasan dan kebakaran di hati orang-orang Yahudi. Aku tidak akan menangis, kecuali hanya setetes air mata, sebagaimana telah engkau wasiatkan kepada kami. Aku memohon kepada Allah agar waktu perjumpaanku denganmu tidak lama lagi. Bagaimana mungkin aku hidup tanpamu, wahai putraku. Mereka (orang-orang Israel) telah menjauhkanmu dariku lima tahun lamanya, namun engkau tetap tidak pernah jauh dari hatiku, walau hanya sedetik. Semoga Allah meridhaimu wahai putraku, sejumlah keridhaan-Nya pada manusia, semoga Allah meridhaimu wahai putraku, sebanyak jumlah daun-daun pepohonan" Sementara itu, di depan rumah sakit telah berkumpul ribuan warga kota Nablus bergerak mengiringi keranda kedua syuhada' Palestina tersebut. Sebuah iring-iringan yang dihadiri oleh para pimpinan dan tokoh gerakan Islam dan Nasional. Keranda yang diusung oleh orang-orang bercadar dari para aktivis Gerakan Perlawanan Islam Hamas tersebut diiringi oleh gemuruh doa yang kadang di jeda dengan yel yel semangat kepahlawanan. sumber:comes layarilah www.palestinkini.info hari ini. afan -------------------------------------------------------------------------- All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise. If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest". Yahoo! Groups Links
|
