Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian. Ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (Qs. at-Taubah [9]: 123).
Ayat ini terdapat dalam Qs. at-Taubah [9]. Dalam surat ini, dalam beberapa ayatnya, kaum Muslim diperintahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrik. Ayat ini termasuk di antaranya.
Ketika ayat ini diturunkan, perintah memerangi kaum musyrik boleh dijalankan. Sebabnya, ketika itu Daulah Islamiyah sudah berdiri kukuh. Surat ini termasuk yang terakhir diturunkan kepada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam. 1
Tafsir Ayat
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: Yâ ayyuhâ alladzîna âmanu qâtilû al-ladzîna yalûnakum min al-kuffâr (Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang
ada di sekitar kalian itu). Kata qâtilû merupakan fi'l al-amr dari masdar kata al-qitâl atau al-muqâtalah. Secara bahasa, kata al-muqâtalah bererti al-muhârabah (peperangan). 2 Pengertian peperangan yang dimaksud tentulah perang fizikal (jasadi). 3
Adapun kata yalûna merupakan bentuk mudhâri' dari al-waly yang bererti al-qurb wa al-dunuw (dekat). 4 Kata yalûnakum pun dapat dimaksudkan dengan yaqrubûna minkum (yang dekat dari kalian). 5 Bertolak dari makna-makna tersebut, ayat ini dapat difahami sebagai perintah terhadap kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir yang dekat dengan mereka. 6
Beberapa ayat dalam Qs. at-Taubah [9] di atas (yakni ayat 5, 29, dan 36) memang memerintahkan kaum Muslim memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Akan tetapi, untuk boleh memerangi mereka dalam waktu bersamaan tentu tidak mungkin. Yang mungkin boleh dilakukan adalah memerangi sekelompok di antara mereka terlebih dulu. Kerana harus dipilih, maka kaum yang paling dekat dengan merekalah harus didahulukan. 7 Inilah skala prioriti yang ditetapkan ayat ini.
Ar-Razi, az-Zuhayli, dan ash-Shabuni menuturkan, ketika Allah Subhanahu wa ta'ala memerintahkan kaum Mukmin untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan. Dia pun mengajarkan metod yang
paling tepat dan cocok untuk ditempoh, yakni mereka perlu memulai dari yang dekat-dekat, lalu beralih kepada yang jauh-jauh. 8 Dengan metod ini, kewajiban untuk memerangi kaum kafir secara keseluruhan dapat tercapai.9
Metod inilah yang ditempoh Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam dan para Sahabat ra. Pada awalnya baginda memerangi kaumnya, lalu bangsa Arab di Hijaz, kemudian Syam. 10 Dari Madinah, Syam memang lebih dekat dibandingkan dengan Iraq , Parsi, atau Mesir. Setelah Syam dapat dikuasai pada masa Sahabat, kaum Muslim baru beralih ke Iraq , berikutnya ke wilayah-wilayah lain. 11
Selanjutnya Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman: Walyajidû fîkum ghilzhah (dan hendaklah mereka merasakan kekerasan dari kalian). Makna ghilzhah adalah dhidd ar-riqqah (lawan dari halus); 12 boleh juga bererti syiddah (keras), quwwah (kuat), dan hamiyyah (gagah berani). 13
Menurut al-Andalusi dan al-Baqa'i, dalam ayat ini, kata ghildhah digunakan untuk menunjukkan syiddah li al-harb (kerasnya peperangan). 14
Menurut lahiriah ayat
ini, yang diperintah untuk merasakan sifat ghilzhah adalah kaum kafir. Akan tetapi, perintah itu sebenarnya ditujukan kepada kaum Mukmin. Mereka diperintahkan memiliki sifat-sifat yang disebutkan itu, yakni sifat ghilzhah dengan segala makna yang tercakup di dalamnya. 15 Dengan demikian, ayat ini menggunakan musabab untuk menyatakan sebab. Ertinya, jika kaum kafir boleh merasakan kerasnya kaum Muslim, hal itu disebabkan oleh kerasnya kaum Muslim terhadap mereka. 16
Perintah untuk memiliki segala sifat yang tercakup dalam kata ghilzhah itu amat tepat. Sebab, demikianlah tabiat dan kemaslahatan dalam peperangan. 17 Untuk boleh memenangkan peperangan, sifat tersebut perlu dimiliki kaum Muslim (lihat
juga: Qs. at-Taubah [9]: 73).
Ayat ini ditutup dengan firman-Nya: Wa'lamû anna Allâh ma'a al-muttaqîn (Ketahuilah bahawa Allah beserta orang-orang yang bertakwa). Di akhir ayat ini Allah Subhanahu wa ta'ala mengingatkan bahwa Dialah Penolong hamba-hamba-Nya yang bertakwa.18
Beberapa Pelajaran
1. Jihad ofensif.
Menurut ayat ini, jihad yang diwajibkan terhadap kaum Muslim tidak hanya bersifat difâ'î (defensif, membela diri), namun juga ibtidâ'i (ofensif, memulai perang terlebih dulu). Ayat ini jelas memberikan kesimpulan demikian.
Patut dicatat, jihad ibtidâ'i ini perlu dilakukan di bawah komando (panglima) Daulah Islamiyah. Kerana jihad ini dilancarkan dalam kerangka futûhât (pembukaan/pembebasan), yakni usaha memperluas wilayah kekuasaan Daulah Islamiyah dengan cara
menaklukkan wilayah-wilayah lain yang sebelumnya dikuasai penguasa kafir dan sistem kufur. Selanjutnya, wilayah yang telah ditaklukkan tersebut disatukan dengan Daulah Islamiyah. Bertolak dari fakta ini, jihad futûhât tidak boleh dilakukan jika tidak ada Daulah Islamiyah.
Inilah yang dikerjakan Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam dulu. Ketika Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam berhasil mendirikan negara di Madinah, baginda pun mengirim banyak briged dan pasukan perang ke wilayah-wilayah lain. Selalunya, baginda memimpin sendiri pasukan tersebut. Selama Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam hidup, baginda telah memimpin 27 kali peperangan. Adapun jumlah utusan dan ekspedisi ketenteraan yang tidak baginda pimpin langsung mencapai 60 kali. 19
Dengan jihad ibtidâ'i inilah wilayah kekuasaan Islam terus mengalami perluasan. Jika di awal berdirinya, luas wilayah Daulah Islamiyah sekitar 274 batu persegi (kota Madinah), maka sepuluh tahun kemudian -ketika Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam wafat- luas wilayah Daulah mencapai lebih dari 1 000 000 batu persegi. 20
Kewajiban jihad ibtidâ'i ini juga tidak terlepas dari konteks dakwah. Disebutkan bahawa tatkala Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam menggerakkan pasukan perang,
baginda menyampaikan beberapa pesan kepada panglimanya. Di antara pesan baginda:
Jika kalian bertemu dengan musuh kalian dari kalangan kaum musyrik maka serulah mereka pada tiga pilihan, mana saja di antara ketiganya, selama mereka bersedia memenuhi seruanmu, maka terimalah dan tahanlah dirimu dari menyerang mereka. Ajaklah mereka memeluk Islam. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah dirimu untuk menyerang mereka
.Jika mereka enggan (memenuhi seruan kalian), mintalah mereka membayar jizyah. Jika mereka memenuhi seruan kalian, terimalah dan tahanlah diri kalian untuk menyerang mereka. Jika mereka enggan juga, mintalah perlindungan kepada Allah, kemudian perangilah mereka. [HR. Muslim].
2. Serius dan konsisten dalam menjalankan kewajiban jihad.
Dalam ayat ini, kaum Muslim diperintahkan agar memiliki sifat ghilzhah dalam perang menghadapi kaum kafir. Ini bererti, mereka harus menyiapkannya secara sungguh-sungguh sehingga kaum kafir boleh merasakan kerasnya pasukan kaum Muslim dalam pertempuran.
Prinsip ini patut ditanam dalam diri kaum Muslim. Sekalipun jihad terkategori sebagai aksi menolong agama-Nya, dan bagi siapapun yang menolong agama-Nya dijanjikan memperoleh
pertolongan-Nya (Qs. Muhammad [47]: 7), kaum Muslim tidak boleh meninggalkan faktor-faktor sababiyyah yang berhubungan dengan kemenangan. Mereka perlu mengerahkan segala kemampuan sehingga menjadi pasukan yang kuat dan handal (lihat juga: Qs. al-Anfâl [8]: 60).
Jika kaum Muslim boleh menunjukkan keperkasaan kekuatan tenteranya, jelas setiap musuh akan merasa gentar menghadapi kaum Muslim. Rasa gentar ini akan menyebar luas kepada musuh-musuh yang nyata mahupun yang berpotensi, sehingga dapat menjadi mekanisme yang efektif untuk mencegah kemunculan pihak-pihak yang hendak melakukan makar (tipudaya). Pasukan Islam pun tidak perlu menemui banyak perlawanan. Dengan begitu, pertumpahan darah pun dapat dihindari. Inilah yang terjadi pada masa Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa
sallam. Amat sering pasukan Islam memperoleh kemenangan tanpa mendapatkan perlawanan yang bererti dan tertumpahnya darah. Di antaranya adalah peristiwa dibebaskannya Makkah. Makkah dapat dikuasai pasukan kaum Muslim tanpa harus menumpahkan darah. Demikian juga pada saat Perang Tabuk. Ketika pasukan Islam yang berjumlah 30 000 anggota sampai di Tabuk, pasukan Rom -negara 'super power' ketika itu- sudah pergi meninggalkan daerah itu. Dalam hal ini Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Aku dimenangkan dengan rasa takut (yang dialami pasukan musuh) sepanjang satu bulan perjalanan. [HR. al-Bukhari].
3. Formula memperoleh pertolongan.
Dalam ayat ini ditegaskan, Allah Subhanahu wa ta'ala bersama orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana dijelaskan para mufassir, ma'iyyah dalam ayat ini bermakna pertolongan dan perlindungan Allah Subhanahu wa ta'ala. Itu bererti, siapapun yang ingin mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa ta'ala, dia harus mengikatkan dirinya dengan semua perintah dan larangan-Nya, termasuk kewajiban jihad dengan segala ketentuannya.
Bertolak dari prinsip tersebut, kaum Muslim tidak perlu takut, cemas, ragu, dan khuatir terhadap kekuatan musuh-musuhnya dalam menjalankan
jihad, kerana Allah Subhanahu wa ta'ala bersama mereka. Jika Allah Subhanahu wa ta'ala telah menjadi Penolong mereka, tentu tidak ada seorang pun yang dapat mengalahkan mereka. Jadi, masih takutkah kaum Muslim mengibarkan bendera jihad melawan musuh-musuh mereka?
Wallâhu a'lam bis-sawâab.
Catatan Kaki :
1. Ash-Shabuni, Shofwat al-Tafâsîr, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), 421.
2.
Ar-Raghib al-Ashfahani, Mu'jam Mufradât Alfâzh al-Qur'ân (Beirut : Dar al-Fikr, tt), 407.
3. Zahid Ivan Salam, Jihad dan Kabijakan Luar Negeri (terj. Abu Faiz, dkk) (Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, 2003), 58.
4. Abd al-Qadir al-Razi, Tartîb Mukhtâr al-Shihah (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 879.
5. Az-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 312; al-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta'wîl, vol. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2001), 525; al-Baqa'i, Nazhm Durar fî Tanâsub al-Ayât wa al-Suwar, vol. 3
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 403; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta'wîl, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1997), 530.
6. Ath-Thabari, Jâmi' al-Bayân fî Ta'wîl al-Qur'ân, vol. 6 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), 517; Abu Ali al-Fadhl, Majmû' al-Bayân fî Tafsîr al-Qurân, vol. 5 (Beirut: Dar al-Ma'rifah, tt), 127; al-Alusi, Rûh al-Ma'ânî, vol. 9 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 47.
7. Al-Jashash, Ahkâm al-Qur'ân, vol. 3 (Beirut: Dar al-Fikr, 1993), 230.
8. Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 181; al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 427; al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr,
vol. 11, 80; al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, vol. 1, 529.
9. Al-Khazin, Lubâb al-Ta'wîl fî Ma'ânî al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423; Sulaiman al-'Ajili, al-Futuhât al-Ilâhiyyah, vol. 3 (Beirut : Dar al-Fikr, 2003), 239.
10. Al-Zamakhsyari, al-Kasyâf, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 312.
11. Sulaiman al-'Ajili, al-Futûhât al-Ilâhiyyah, vol. 3, 240.
12. Al-Qasimi, Mahâsin al-Ta'wîl, vol. 5, 531; Fakhruddin al-Razi, al-Tafsîr al-Kabîr, vol. 15, 182;
al-Khazin, Lubâb al-Ta'wîl fî Ma'ânî al-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1995), 423.
13. Al-Quthubi, al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur'ân, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 189; al-Shabuni, Shofwat al-Tafâsîr, vol. 1, 529.
14. Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsîr al-Bahr al-Muhith, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 118; al-Baqa'i, Nazham Durar, vol. 3, 403.
15. Al-Qinuji, Fath al-Bayan, vol. 5, 426- 427
16. Sulaiman al-'Ajili, al-Futuhât al-Ilâhiyyah, vol. 3, 240.
17. Al-Zuhayli, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 11, 80
18. Abu Ali al-Fadhl, Majmû' al-Bayân, vol. 5, 127; al-Alusi, Rûh al-Ma'ânî, vol. 9, 47.
19. Abu al-Hasan Ali al-Nadwi, Sirah Nabaiyyah, terj. Muhammad Halabi dkk. (Yogyakarta : Mardiyah Press, 2005), 454.
20. Abu al-Hasan Ali al-Nadwi, Sirah Nabaiyyah, 456.
Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.
--------------------------------------------------------------------------
All views expressed herein belong to the individuals concerned and do not in any way reflect the official views of Hidayahnet unless sanctioned or approved otherwise.
If your mailbox clogged with mails from Hidayahnet, you may wish to get a daily digest of emails by logging-on to http://www.yahoogroups.com to change your mail delivery settings or email the moderators at [EMAIL PROTECTED] with the title "change to daily digest".
SPONSORED LINKS
| Divine inspiration | Islam |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "hidayahnet" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
