09/11/2006 9:59:15 PM

  Jangan Minta Tolong Dari Pemimpin Arab!
  Abdul Bari Athwan 
  (Al Quds Araby, London)
   
  Kini sudah tidak mampu mendata jumlah korban gugur dari warga Palestina. 
Sebab selalu bertambah setiap saat dan setiap jam. Jenis pembantain selalu 
berulang. Setiap hari pasti ada pembantaian baru. Korbannya sama, wajah 
kecoklatan, yang yakin akan tergilas, anak-anak kelaparan dengan pakaian tidak 
menutup sebuah tubuhnya, wanita-wanita syahid, wanita lainnya berteriak 
anak-anak mereka yang syahid, atau keponakan, suami, ayah, ibu atau semuanya. 
Seperti halnya pembantaian keluarga Atsaminah yang dihabisi oleh roket-roket 
Israel di kota Bethanon. Ketujuh anak-anaknya tidak tersisa. 
  Kita sudah paham, sikap dunia Barat yang mengaku beradab berdiri menjadi 
penggebira pembantaian ini. Dukungan Amerika terhadap Israel sebagai tindakan 
membela diri sudah bukan yang mengagetkan lagi. Namun yang menyedihkan kita 
adalah ketidakpedulian Negara-negara Arab baik pemerintah atau rakyatnya. 
Seakan pembunuhan anak-anak Palestina yang sedang berlomba siap ke sekolah 
menjadi masalah biasa dan sah-sah saja.  
  Kita merasa sangat gunda ketika janda-janda Palestina bertanya tengan 
Negara-negara Arab, dimana pasukan militernya, pemimpin mereka. Seakan 
teriakan-teriakan ini sendiri mengajarkannya bahwa tiada satupun yang 
mendengarkannya, atau kalau mereka mendengarkanya mungkin wajahnya dipalingkan, 
atau mematikan TV yang menayangkanya atau mencari canel lain yang lebih 
menghibur. Rakyat Palestina, juga saudara-saudara mereka di Irak memahami 
dengan baik bahwa darah (perasaan) malu sudah demikian membeku atau yang lebih 
tepat perasaan itu sudah tidak ada lagi di sebagian besar pemimpin Arab dan 
komandan militer mereka. 
  Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa sekedar permintaan tolong para 
mujahid di negeri Palestina yang terjajah adalah penghornatan yang tidak layak 
diterima oleh pemimpin-pemimpin Arab itu. Kerenanya, kita kita anjurkan mereka 
yang membela kehormatan bangsa ini dan ideologinya agar melupakan pemimpin 
Arab. Kalau meminta tolong seharusnya lebih layak kepada para pemimpin Asia dan 
Afrika atau Amerika Selatan seperti Ortega, Shavez atau kepada Ahamdi Nejad 
atau Vlandemir Puttin sebab kemungkinan mereka merespon jauh lebih besar dari 
pada sebagian besar pemimpin Arab. 
  Mr. Umar Sulaiman, kepala Badan Intelijen Mesir yang juga delegasi Mubarak 
tidak beranjak pergi ke Bethanon untuk mencari jasad korban yang tercecer. Ia 
lebih senang jalan kaki mencari anggota badan serdadu Israel yang tanknya 
diledakkan oleh pejuang Palestina di Rafah sembari mengancam jika anggota badan 
itu tidak dikembalikan langsung ke Sharon sehingga keluarga korban bisa 
menyempurnakan penguburannya sesuai tuntutan agama Yahudi. 
  Pemimpin Mesir yang secara moral dan hukum bertanggungjawab atas anak-anak 
Palestina tidak berdaya membuka perlintasan Rafah agar senjata bisa diterima 
kelompok perjuangan. Pemimpin Mesir lebih memilih berusaha membebaskan serdadu 
Israel yang ditawan kelompok perjuangan Palestina agar memperoleh aplus dari 
Ehud Olmert untuk selanjutnya dari guru besar George W. Bush. 
  Barangkali bencana terbesar kita adalah apa yang diutarakan oleh Mahmod Abbas 
yang menenangkan hati Ehud Olmert, Liberman dan Haltus. Seperti pernyataannya 
agar menfokuskan menyerang para penyerang roket ke permukiman Israel, dengan 
kalimat yang keras dan membenarkan langkah pembantaian Israel ini.  
  Logika menyatakan, Mr. Abbas harusnya focus sebagai presiden dari rakyat yang 
tertindas dan tidak mungkin membenarkan kejahatan-kejahatan Israel bagaimanapun 
bentuknya. Namun tanpaknya logika Mr. Abbas jenis yang kita tidak tahu 
sumbernya sebab tidak memiliki hubungan dengan values, warisan budaya dan 
ideology kita. 
  Israel tidak ingin alasan melakukan kejahatannya. Apakah pejuang Palestina 
menyerang dengan roketnya ketika Israel melakukan pembantaian di Der Yasen, 
Qabiah, Shabra dan Shatila? Saya kita Mr. Abbas mengetahui jawabannya dengan 
baik. 
  Palestina tidak memiliki roket Korz atau Tom Hawk atau bahkan Katiyusha sebab 
mereka diisolasi oleh dunia Arab yang negeper oleh roket terkecil Amerika. 
  Kita memahami, tapi tidak bisa menerima jika pemimpim-pemimpin Arab 
bersenang-senang di tengah jeritan para janda Palestina di Rafah, Bethanun, 
Jenin dan Nablus. Kita bisa mengerti tak bisa menerima penutupan perbatasan 
dengan rapat untuk mencegah masuknya senjata ke pejuang perlawanan Palestina 
juga tidak bisa menerima jika pemimpin-pemimpin Arab tunduk terhadap embargo 
dan pelaran terhadap tiga juta lebih rakyat Palestina oleh Amerika dan Israel. 
  Pemimpin-pemimpin Afrika melepaskan embargo udara terhadap Libia dan menerima 
pesawatnya di bandara Afrika untuk menantang arogansi Amerika. Namun kita tidak 
mendengar seorang pemimpin Arab terusik kehormatannya untuk membebaskan diri 
dari isolasi ekonomi atau isolasi militer dari pejuang Palestina.  
  Sejak serdadu Israel disandera pejuang Palestina, lebih dari 500 Palestina 
gugur menjadi korban invasi Israel, 1500 ditangkap di antara mereka wakil 
rakyat dan menteri Palestina. Mana keadilan di sini. Taurat yang mereka yakini 
“hukuman mata dengan mata, gigi dengan gigi” namun 500 korban gugur hanya 
karena satu serdadu. Satu gigi dibanding 500 gigi. Lebih bahayanya, satu 
serdadu Israel yang ditawan masih hidup.  
  kepemimpinan politik Palestina dengan kedua pemimpinnya (PM dan Presiden) 
sama-sama bertanggungjawab. Keberadaan pemerintah Palestina menjadi alasan 
terkuat Israel melakukan pembantaian. Jika pemerintah ini tidak melindungi 
rakyatnya dan tidak membebaskan dari embargonya apa lantas gunanya? 
  Maka harus kembali ke titik awal, titik perlawanan terhadap penjajahan dan 
menghilangkan segala kebatilan Oslo, kembali merekontruksi PLO serta bergabung 
dengan gerakan perjuangan melawan arogansi, terorisme dan kekejaman Amerika. 
(atb)

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke