Ini bedanya "entitlement" dengan "patriotic." Kalau saya bekerja untuk negara, seharusnya merupakan "my patriotic duty." Jangan dibalik, karena saya mengabdi kepada negara, saya "entitled" untuk segala kemewahan. Dan jeleknya, di Indonesia hanya mengenal perbaikan nasib. Jadi kalau dahulu mereka dapat "Valiant" buatan Australia, terus diganti dengan kebiasaan harus "Volvo" (karena IndoMobil toh), dari seri 640, 960 dan terakhri S90, mana mau menteri yang akan datang, turun menjadi "Hyundai Sonata." Padahal, dari anggaran yang seharusnya, kalau dihitung dengan Rupiah, beli Honda Bebek pun nggak bisa lagi. Saya inget dulu, awal tahun 1970-an, harga mobil paling-paling 5 juta untuk jenis "Valiant" baru.

Ceritera mobil, yang dulu jadi panutan adalah Wiweko waktu jadi boss Garuda. Mobil kantor beliau hanya VW kodok. Nggak ada staffnya yang berani punya mobil lebih mewah dari VW kodok. Jadi petinggi Garuda paling banter punya Corolla. Memang para menteri kita harus menjadi panutan. Jangan sok mewah ah..

Regards,
Deva Choesin - EL 74

Inactive hide details for amrie <[EMAIL PROTECTED]>amrie <[EMAIL PROTECTED]>


Ternyata negara kayak gini, bukan melulu karena dijajah Belanda, buktinya
mereka masih lebih genah...

Amrie
----- Original Message -----
From: "Andoko" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, May 31, 2004 5:52 PM
Subject: [IA-ITB] Fw: [anggota] Ironi


> dari milis sebelah... sekedar informasi dan pertimbangan dalam menghadapi
> pemilu mendatang.
>
> Andoko
> 10195058
>
>
> >
> > Subject: Fw: ironi...
> >
> > Setelah gaji dan fasilitas Presiden, wakil-wakil rakyat
> > (DPR RI), dan pejabat-pejabat yang lainnya lebih tinggi
> > daripada Perdana Menteri dan anggota parlemen di negeri
> > sekaya Belanda.
> > Ternyata, fasilitas para menteri ini lebih wah juga. Orang
> > barangkali akan maklum, ketika mobil dinas Menteri Kabinet
> > Gotong Royong, Volvo S90 Executive Automatic, melintas
> > memantulkan kilat cahaya.Maklum menteri harus dijatah
> > mobil yang representatif menilai Rp743.000.000, yang
> > sebenarnya bisa dipakai untuk menyediakan 4 mobil gres
> > yang
> > lebih rendah hati.
> > Sikap maklum muncul, mungkin saja karena itu sudah menjadi
> > pemandangan biasa atau karena tidak ada pengetahuan
> > pembanding. Namun, sikap maklum tersebut bisa menguap dan
> > berubah menjadi tanda tanya, ketika ada bahan pembanding
> > yang menggugah nalar sehat.
> > Di Belanda, salah satu negeri terkaya di dunia dengan
> > pendapatan per Kapita mencapai 22.570 euro, mobil dinas
> > menterinya cuma mobil bekas!
> > Mengapa menteri Indonesia, yang praktis hampir bangkrut
> > dan mayoritas rakyatnya melarat, harus bermewah-mewah?
> > Mobil dinas yang dipakai Minister van Volkshuisvesting,
> > Ruimtelijke Ordeningen Milieubeheer (Menteri Urusan
> > Perumahan Rakyat, Tata Ruang, danPengelolaan Lingkungan),
> > Jan Pronk (dulu menteri Kerjasama Pembangunan) adalah
> > mobil bekas (tweedehand) dari menteri pendahulunya,
> > Margreet de Boer.
> > Pengertian mobil dinas di Belanda ya begitu masa jabatan
> > selesai harus dikembalikan kepada negara, sehingga
> > Mercedes E230 itu kini bisa dipakai oleh Pronk. Tanpa
> > negara harus merogoh brankas untuk membeli mobil baru.
> > Untuk mobil yang benar-benar su! dah tak layak pakai,
> > barulah diadakan mobil baru. Jenisnya terserah, sesuai
> > selera para menteri. Namun negara
> > membatasi bahwa harga mobil itu tidak boleh melebihi 44,54
> > sen euro per km x usia mesin. Jika usia mesin rata-rata
> > 200.000 km, maka harga untuk mobil dinas menteri Belanda
> > itu maksimal 89.080 euro. Jika diasumsikan 1 euro = 8.000
> > maka harga paling mahal mobil tersebut adalah Rp
> > 712.640.000.
> > Menteri Keuangan Belanda Gerrit Zalm misalnya, dia
> > mengendarai Volvo S80.Sedangkan Menteri Perhubungan dan
> > Perairan Tineke Netelenbos cukup dengan Volvo S70. Seri
> > mobil di atas dalam pandangan para 'manajer negara'
> > Belanda sudah dinilai cukup representatif.
> > Parlemen kita kini terkesan mewah. Gedung DPR RI Senayan
> > bagai show room Mobil mewah. Padahal di Belanda, anggota
> > parlemen tidak mendapat gaji dan tunjangan mobil. Mereka
> > hanya mendapat schadeloosstelling (ganti rugi) yang cekak
> > dan tunjangan yang zakelijk.
> > "Jatah mobil dinas?" Demikian reaksi pertama Hugo van der
> > Steenhoven, anggota partai Groenlinks, saat ditanya soal
> > 'sarana mobilitas untuk menunjang tugas wakil rakyat' itu.
> > "Ah, laat me niet lachen, meneer (Jangan membuat saya
> > tertawa, pak.)" kata Van der Steenhoven.
> > Dijelaskan bahwa anggota parlemen Belanda itu bukan
> > pegawai negara. Jadi jangankan mobil dinas, salaris (gaji)
> > pun tidak ada. Istilah salaries menunjukkan bahwa anggota
> > parlemen berdinas pada pihak tertentu.
> > Sebagai imbalan jerih payah, anggota parlemen menerima apa
> > yang disebut schadeloosstelling alias ganti rugi.
> > "Anggota parlemen sepatutnya kan independen dan oleh
> > karena itu diatidak berdinas pada pihak manapun," jelas
> > dia.
> > Jadi untuk urusan mobil ke Gedung Parlemen di Binnenhof
> > (Den Haag),Yang nyata-nyata demi kepentingan negara, itu
> > menjadi tanggung jawab masing-masing anggota parlemen.
> > Apalagi 'mobilitas untuk merawat konstituen', itu bu! kan
> > menjadi tanggung jawab dan beban negara melainkan partai
> > darimana mereka berasal. Di sini logika yang dipakai
> > simpel saja:
> > urusan menemui konstituen adalah kepentingan partai, masa
> > negara harus menanggung biayanya?
> > Negara hanya menyediakan uang ganti transport untuk
> > kepentingan tugas anggota parlemen, besarnya 781,36 euro
> > untuk yang bertempat tinggal dalam radius 10-15 kilometer
> > dari Kompleks Parlemen Binnenhof (Den Haag),1.093,63 euro
> > untuk radius 15-20 kilometer dan 1.562,72 euro untuk
> > radius lebih dari 20 kilometer. Jumlah tersebut semuanya
> > bruto
> > untuk satu tahun. Untuk yang bertempat tinggal dalam
> > radius 10 kilometer ke bawah, tidak masuk dalam ketentuan
> > tersebut alias tidak mendapat apa-apa.
> > Makanya banyak anggota parlemen yang ngantor dengan naik
> > trem, sejenis angkutan umum kota mirip kereta api tapi
> > bentuknya lebih kecil. Jan Pronk, kini Minister van
> > Volkshuisvesting, Ruimtelijke Ordening en Milieubeheer
> > (Menteri Urusan Perumahan Rakyat, Tata Ruang, dan
> > Pengelolaan Lingkungan), malah sering datang naik sepeda.
> > Demikian hati-hati dan ketatnya Belanda mengelola keuangan
> > negara, sehingga pada tahun 2001 neraca keuangan negara
> > surplus sampai 7 milyar gulden (mata uang euro belum
> > diberlakukan). Kelebihan tersebut sebagian dikembalikan
> > kepada rakyat sebagai uang surprised di mana tiap-tiap
> > rumah tangga mendapat 100 gulden atau setara 100 kg gula.
> > Sebagiannya lagi dipakai untuk pembayaran utang negara,
> > agar secepatnya berkurang.
> > Bila anda berkesempatan melancong ke Belanda, tidak ada
> > salahnya mampir sebentar ke kompleks parlemen Binnenhof,
> > di jantung kota Den Haag.Sekalian melakukan 'studi
> > banding' dan setidak-tidaknya anda akan menyaksikan bahwa
> > di halaman gedung parlemen negeri berpenghasilan 22.570
> > euro per kapita itu, tidak ada ditemukan mobil kelas
> > Jaguar dan sejenisnya.
> > Bagaimana dengan parlemen kita?
> > ironis memang.....padahal penerapan hukum yg berlaku di
> > kita masih sebagian besar berdasarkan hukum belanda,
> > kenapa bukan peraturan-peraturan seperti ini yg kita ambil
> > ya....
> >



***

Referensikan alumni ITB lainnya untuk bergabung,
minta mereka kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]

Members: 1,508                   Last Updated: Jun 1, 2004
------------------------------------------------------------
                   ***** IA-ITB *****
            - Merajut komunitas alumni ITB -
  Persahabatan, Kesejahteraan, Bisnis, Iptek, Desain, Seni
         http://www.yahoogroups.com/group/IA-ITB

     Managed by: IA-ITB, ITB & 99Venus International
------------------------------------------------------------



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

<<inline: graycol.gif>>

Kirim email ke