|
Dik Agus,
Terima kasih banyak atas sumbang cerita
pengalamannya, sungguh sangat menyejukkan di suasana tidak menentu di Indonesia
menunggu hasil Pemilu.
Cerita selanjutnya ditunggu ya.
Aya
PL-74
----- Original Message -----
Sent: Thursday, June 17, 2004 11:17
AM
Subject: [IA-ITB] Jalan-jalan Virtual:
Aberdeen
Halo IA-ITB,
Kita nikmatin cerita dari Agus Partono. Agus
bekerja di Sclumberger, India.
Agus, mana fotonya ? Katanya baru coba digicam
baru. Tapi kalau kirim gambar jangan besar-besar, di bawah 75 kb.
Kami lengkapi gambar Aberdeen. Untuk infonya
tanya ke Agus.
Salam,
99Venus Team
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, June 02, 2004 3:19
PM
Subject: [99Venus-Indonesia] Menjadi
Backpacker di UK (2) > Aberdeen
Aberdeen, The Granit City. Seperti julukannya, kota
Aberdeen lebih menonjolkan warna abu-abu, sebagian besar bangunan
kotanya terbuat dari bahan batu granit yang kokoh, everything is grey.
Batuan granit dari segi geologis merupakan batuan basement, terletak di
lapisan dasar susunan batu2an kerak bumi. Akibat pergerakan lempeng
bumi, maka lapisan dasar tersebut dapat menyembul ke permukaan bumi
seperti yang dapat disaksikan di Aberdeen ( juga di Vung Tau –
Vietnam).
Selain sebagai kota granit, Aberdeen terkenal sebagai
Balikpapan-nya Scotland, merupakan kota pelabuhan dan minyak utama di
Scotland. Terletak di sebelah utara daratan Inggris, di pantai timur,
berpenduduk tak lebih dari 500.000 jiwa. Hati2 menyebut orang
Scotland, mereka begitu bangga akan kebangsaannya, sehingga ngga mau
bahkan marah2 jika disebut sebagai orang Inggris. Ada sejarah ttg
hubungan Scotland-Inggris (England) seperti yang digambarkan dalam film
Brave Heart. Asal tahu saja, Mel Gibson seolah menjadi pahlawan baru di
jaman modern ini bagi orang2 Scotland. Bekas2 pembuatan film Brave
Heart sampai saat ini masih disimpan dan dijaga dengan baik, bahkan
menjadi salah satu atraksi wisata di Edinburgh.
Perjalanan ke
Aberdeen saya tempuh dalam waktu 6.5 jam dari Newark menggunakan kereta
api. Sepanjang jalan hampir tidak ada pemandangan yang `merusak mata'.
Kereta melewati country side yang begitu hijau, bersih, indah dan rapi
tertata. Berbahagialah orang2nya yang mempunyai landscap seperti
itu. Hampir tak henti saya memotret dari jendela kereta. Scotland memang
sungguh indah ( Puncak sebenarnya lebih baik, tapi tertutup oleh
banyaknya spanduk2 perumahan dan kios2 di samping jalan). Betapa mereka
tahu cara menghargai dan menikmati alam dan lingkungan tempat
tinggalnya.
Tiba di stasiun kereta Aberdeen hampir tengah malam,
dijemput oleh Mas Oz, seorang kenalan yang sudah seperti saudara
sendiri. Dia seorang dosen Universitas Andalas Padang yang sedang
menyelesaikan penelitian post doctoral-nya di Rowet Institute Aberdeen.
Bersamanya di mobil seorang Doktor juga yang masih bujang, namanya Irwan
asal Jayapura, seusia dengan saya ( yg masih setia dgn D3-nya), anak
buah Mr Habibie yang lupa pulang ke tanah air (ketika ditanya kenapa
ngga pulang, jawabnya " Pak Habibie aja skr tinggal di Jerman" hehehe,
jawaban yg lucu & cerdas). Kami langsung menuju ke rumahnya di
kawasan Bucksburn dekat airport. Tiba di rumah langsung disuguhi nasi
rendang Padang berikut sambalnya oleh Mbak Wevi, istri Mas Oz. Wow….
Sungguh nikmatnya….makan nasi padang di Aberdeen.
Lingkungan
rumah Mas Oz sangat asri, khas lingkungan pertanian dan peternakan
di Inggris. Dari jendela rumahnya, kita bisa melihat sapi dan domba yang
sedang merumput. Sangat harmonis dan tenang sekali. Bagi saya rumah itu
adalah rumah impian. Jauh dari segala macam polusi dan sangat indah
lanskapnya, tapi tidak jauh dari pusat kota. Selesai makan ditambah
dengan perjalanan yang jauh, membuat badan ingin istirahat. Maka
tidurlah saya dengan lelapnya di atas kasur angin.
Pagi yang cerah.
Matahari bersinar terang, di kejauhan nampak mendung menggantung di
langit. Tapi itu tidak membuat saya bangkit dari tempat tidur. Hanya
ketika Ovin ( 4th), putra bungsu Mas Oz, membuka pintu kamar membuat
saya harus bangun dari tempat tidur. Dia rupanya masih ingat dengan
saya, setahun yang lalu kami bertemu, saat kunjungan ke Aberdeen pertama
kalinya saya mampir ke rumah Mas Oz . Ovin dengan Putri ( 7 tahun,
anak pertama) sangat akrab dengan saya, begitupun dengan Om-Om yang
lainnya di Aberdeen. Mereka tidak canggung untuk menyapa dan bermain.
Tentu saja dengan gaya bahasa Scottish yang demikian cepat dan singkat2
itu. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Pinter betul anak balita
pake bahasa Inggris, hehehe….
Hari itu kebetulan ada acara
silaturahmi dan pengumpulan dana untuk kemanusiaan bagi anak2 yatim
korban konflik di Ambon yang diselenggarakan di University of Aberdeen.
Acaranya dikoordinir oleh ICR, Indonesian Children Relief
(www.icruk.org) yang diketuai oleh Ibu Nizma Agustjik. Seorang ibu yang
sangat bersemangat dan aktif dalam berbagai kegiatan humanitarian di
Inggris untuk Indonesia. Dalam hal ini keluarga Mas Oz sangat berperan
dalam banyak hal, mulai dari konsumsi dan keperluan2 acara lainnya.
Sungguh, saya begitu kagum dengan mereka yang bekerja begitu ikhlas
untuk sesama. Sangat melelahkan di sela sela kesibukan penelitian dan
mengurus anak2nya.
Banyak rupanya komunitas Indonesia yang datang.
Umumnya adalah mahasiswa post graduate yang melanjutkan studi di seluruh
penjuru Scotland. Ada seorang polisi kita yang nyempil belajar S-2 di
Stirling, namanya Pak Yani, salah seorang reserse pengungkap misteri
Bom Bali. Ada juga beberapa rekan yang bekerja di perminyakan, seperti
BP dan Schlumberger. Tidak hanya dari Indonesia saja, lebih banyak
lagi yang datang dari negeri jiran, Malaysia. Serasa seperti saudara
sendiri satu bapak dan satu ibu. Tak ada batas negara lagi. Kami
cepat akrab satu sama lain. Acara pengumpulan dana kemanusiaan
berlangsung sukses, banyak dana terkumpul, dan banyak yang sanggup
menyantuni anak yatim secara berkelanjutan. Sungguh, saya sangat
berbahagia menjadi bagian dari mereka yang care terhadap sesama yang
kurang beruntung nasibnya.
Acara dilanjutkan keesokan harinya
dengan mengunjungi Balmoral Castle, 40 miles dari kota Aberdeen. Sayang
saya tidak bisa ikut dalam rombongan yang berbahagia itu. Saya harus
mengejar kereta sore harinya untuk kembali ke Newark. Namun sebelum
berpisah, kami mengadakan pesta kebun di rumah Mas Oz. Sangat nikmat
makan masakan Indonesia bersama di kebun yang asri, hijau dan tenang
itu. Saatnya berpisah, tinggalah saya sendirian berkeliling kota
Aberdeen dengan back pack di punggung yang setia menemani. Cuaca sangat
cerah dan shiny. Banyak gambar yang berhasil saya jepret. Sudut2 kota
yang menarik, bangunan2 kuno yang tetap tegar berdiri, kehidupan
penduduk kotanya yang sibuk, semuanya tak lepas dari rekaman kamera
saya.
Tak terasa waktu sudah hampir tiba dimana saya harus mengejar
kereta. Tak terasa pula kaki sudah pegal dan sedikit lecet karena
berjalan kaki jauh. Saatnya meninggalkan Aberdeen. Entah kapan lagi saya
kembali ke sana, menemui orang2 yang saya cintai selayaknya saudara
sendiri.
Tulisan berikutnya, Pendakian 3 puncak tertinggi di
Britania Raya ( mudah2an, masih rencana. Akhir pekan ini saya akan
mengadakan pendakian bersama
teman2).
Salam, Agus
***
Referensikan
alumni ITB lainnya untuk bergabung, minta mereka kirim email kosong ke
[EMAIL PROTECTED]
Members:
1,508
Last Updated: Jun 1,
2004 ------------------------------------------------------------
***** IA-ITB
***** -
Merajut komunitas alumni ITB - Persahabatan, Kesejahteraan, Bisnis,
Iptek, Desain, Seni http://www.yahoogroups.com/group/IA-ITB
Managed by: IA-ITB, ITB & 99Venus
International ------------------------------------------------------------
***
Referensikan alumni ITB lainnya untuk bergabung,
minta mereka kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
Members: 1,508 Last Updated: Jun 1, 2004
------------------------------------------------------------
***** IA-ITB *****
- Merajut komunitas alumni ITB -
Persahabatan, Kesejahteraan, Bisnis, Iptek, Desain, Seni
http://www.yahoogroups.com/group/IA-ITB
Managed by: IA-ITB, ITB & 99Venus International
------------------------------------------------------------
| Yahoo! Groups Sponsor |
ADVERTISEMENT
![click here]() | |
![]() |
Yahoo! Groups Links
|