Bambang,

Diskusi mengenai masa depan Industri Migas Indoneisa selalu menarik,
termasuk membaca komentar-komentar dari para-pakar bidang explorasi dan
perminyakan dibeberapa milis yang ada. Sebenarnya, saya bukan pakar
perminyakan, tetapi kalau boleh, semua komentar-komentar dan masukan yang
ada dapat saya dikelompokkan dalam dua kategory dibawah ini:

1. Yang pesimis, melihat permasalahan yang ada sudah sedemikian kusutnya,
sehingga tidak tahu membenahinya dan dari mana memulainya. 
2. Yang Optimis, melihat masih besarnya peluang untuk explorasi dan
exploitasi untuk mencari dan mengembangkan lapangan yang ada maupun yang
baru. Dan tersedianya human resourse yang andal.

Pada umumnya kelompok I yang pesimistis, milihat situasi, kondisi keamanan,
peraturan dalam negeri dan jaminan hukum tidak kondusif untuk berusaha,
sehingga perusaaan asing tidak begitu tertarik untuk investasi baru. Juga
prosfek untuk menemukan reservoir besar semakin sedikit, dan pada umumnya
lebih banyak di daerah frontier di bagian timur Indonesia atau laut dalam
yang membutuhkan biaya yang lebih besar, dimana perusahan independent dan
kecil dalam negeri kurang punya dana untuk itu. 

Kelompok kedua, yang masih optimis milihat bahwa kita punya banyak human
resources yang mampu dan handal, dan prosfek kedepan masih banyak yang bisa
diexplorasi dan exploitasi, tetapi kurang tahu bagaimana mewujudkannya. Pada
umumnya yang bisa dilakukan baru berupa ide-ide dan usulan, tidak pernah
sampai kepada pengembangan ide, screening dan pelaksanaan. Ini bisa
dimengerti, karena para pakar perminyakan masing terpencar-pencar bekerja
pada instansi yang berbeda-beda baik di instansi pemerintah maupun swasta.
Yang mana masing-masing akan sangat dipengaruhi dan terikat dengan
institusinya masing-masing. Tidak punya kekuatan untuk melakukan langkah
nyata karena pendapat dan knowledge kurang terintegrasi dan tidak punya
organisasi dan dana untuk meujudkan ide-ide tbs. 

Kita sudah lama sadar dan belajar dari pengalaman Malaysia dalam membangun
Petronas yang madiri dan bisa bersaing secara International, dan Jepang
membangun Industri tanpa sumber daya mineral domestik. Tetapi kita tepatnya
perintah tidak punya kosep dan kemauan keras untuk membangun suatu
perusahaan MiGas National yang kuat sehat dan terbebas dari beban dan
kepentingan-kepentingan non-usaha. Dengan UU MIGAS yang baru saya kira
adalah saat yang tepat untuk membangun suatu perusahaan National (Perintah
maupun swasta) yang kuat dan handal. Yang penting adalah suatu kemauan dan
langkah nyata untuk memulai suatu cita-cita kedepan. Kita tidak kekurangan
tenaga ahli mulai dari explorasi, exploitasi sampai ahli  keuangan dan
management perusahaan. Perusahaan tersebut bisa dibangun oleh pemerintah
(juga swasta tentunya) dari perusahaan yang ada spt Pertamina atau membentuk
suatu perusahaan baru dengan struktur organisasi yang baik, kuat dan sehat,
diisi oleh para ahli dibidangnya baik dari para ahli yang ada diinstansi
pemerintah, Pertamina maupun me-recruit tenaga ahli dari swasta lainnya.
Dengan resources yang ada baik, assest, reserve dan humanresources, serta
"privileges" yang ada dalam UU, peraturan dan kontrak yang ada saat ini,
saya yakin perusaaahn national tsb bisa bersaing dan akan lebih efektif dan
efisien untuk mengelola asset yang ada maupun untuk mengembangakan ladang
baru ynag relatif kecil yang tidak diminati oleh perusahaan asing.

Seorang analis perusahaan Minyak, berpendapat bahwa suatu perusahaan migas
(upstream) yang baik dan bisa sustain dan bersaing kedepan antara lain harus
mempunyai pertumbuhan "growth" dalam tiga hal :
1. Reserve, 2. Produksi dan 3. Profit. Bagaimana untuk mencapai itu, saya
kira rekan-rekan mempunyai jawaban masing-masing.


Best Regards,

Boyke Pardede
Houston, USA

-----Original Message-----
From: Istadi, Bambang P [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, December 26, 2002 10:31 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: RE: [iagi-net-l] Indonesia struggling to find new oil.


Apa yang tersirat dari posting Herman adalah "Indonesia sudah tidak menarik
untuk investasi" dan "high risk" kata Teguh.  Ini bahasa halusnya investor
untuk "minta" insentif dan berbagai kemudahan untuk melanjutkan usahanya di
Indonesia.  Bisa saja diartikan,.. beberapa kasus besar seperti Cepu (EM),
Terang-Sirasun (BP) dan perpanjangan kontak KPS lainnya (Total),..
selesaikan dulu,.. baru kita (asing) pikir2 untuk investasi lebih lanjut di
Indonesia.

Kenyataanya setelah berbagai proses merger dan akuisisi, sekarang ini hanya
ada beberapa gelintir perusahaan minyak raksasa yang rata2 "sedang"
konsolidasi kedalam.  Memilah-milah portfolio, memotong cost termaksud
exploration cost, berkonsentrasi kebeberapa core assets saja, dan mungkin
menjadi non risk taker dibanding sebelum merger/akuisisi. Lihat saja untuk
menambah reserves bukan dengan jalan menemukan/ exploring, tapi dengan cara
akusisi cadangan yang sudah terbukti. Bisa jadi untuk ambil konsesi baru
bukan masuk dalam hitungan, kecuali termaksud dalam strategic positioning
core asset.  Perusahaan2 inilah yang biasanya menjadi pemain di arena
perminyakan Indonesia.  Perusahaan kecil/ sedang semakin sedikit dan para
pemain baru "takut" untuk masuk dengan bombardir berita ngga nyaman dan ngga
aman,... yaa dagangan konsesi ngga laku !

Dengan merger perusahaan semakin besar dan punya financial position untuk
melakukan proyek2 besar,.. mungkin saja Indonesia tidak termaksud dalam
hitungan ini.  Lihat saja cadangan2 besar secara global berada di mana !!
dan cadangan terbukti dunia sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan 50 tahun
mendatang meskipun tanpa explorasi lagi.  Cadangan Indonesia kecil tapi enak
untuk cari duit karena berbagai kemudahan yang diberikan pemerintah oleh
sistim cost recovery dan investment creditnya.  Namun ceritanya bisa lain
kalau mereka merasa dirongrong seperti dalam kasus2 diatas.

Sekalian untuk menjawab pertanyaannya Teguh, jumlah produksi yang 1.12 juta
bbl/day tadi, berapa yang net untuk Indonesia dan berapa yang untuk
kontraktor dalam bentuk cost recovery ?? jawabannya ada di anda2 sekalian.
Kalau soal target area, Jossy sudah kasih indikasi, human resources, saya
yakin rekan2 IAGI banyak yang handal untuk menemukan cadangan2 baru,.. hanya
saja visi, peran yang di-inginkan dari oleh pemerintah dan empowerment
terhadap kita untuk menjawab tantangan2 masa datang terhadap cadangan ini
yang "masih kabur",.. mungkin ini bedanya dengan Malaysia.  Makanya kita
masih saja jadi "kuli" setelah 117 tahun minyak berada di
Indonesia,...Wallahu alam.

KL yoo opo cak Guh ?

Bambang Istadi
ConocoPhillips Inc.
+1-281-293-3763


-----Original Message-----
From: Herman Darman <[EMAIL PROTECTED]>
[mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Monday, December 23, 2002 8:51 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Indonesia struggling to find new oil.


Indonesia struggling to find new oil. 
Apakah artinya kita akan kehilangan natural resources? Apakah artinya 
kita perlu siap-siap mengantisipasi kemungkinan yang lebih buruk? 
Mungkin kita harus belajar dari Jepang, yang tidak punya minyak 
dinegaranya sendiri tapi bisa cari minyak di negara orang lain. Kita 
sudah siap? 

Kalau kita punya human resources yang bagus, mungkin kita bisa go 
international. Tapi apakah human resources kita cukup bagus untuk 
dijual?

Herman
_________________

Indonesia, Asia's only OPEC member, has been struggling to find new 
oil reserves. It mostly stumbled in its efforts to lure investors' 
interest in other oil blocks this year. 

"We will open for tender eleven oil blocks mostly in offshore East 
Java in 2003 in addition to 15 areas which have been offered for 
tender this year but were not taken up," Purnomo told reporters. 

"I am optimistic the (eleven) areas will attract investors. We need 
natural gas to supply growing energy needs on Java," he added. 

The vast archipelago held tenders for 17 exploration areas at the 
beginning of 2002 but only two were taken up, an official at the 
ministry said. 

The official said the oil blocks included eight located in offshore 
East Java, two in onshore central Sumatra, and one in offshore and 
onshore East Kalimantan. 

Indonesia produced 1.12 million barrels per day of crude oil in 
November, unchanged from October. 

The country also produced 145,000 bpd of condensate in November, 
compared with 150,000 bpd in October. 

(C) Reuters Limited 2002.    




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]),
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi 
Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke