Pak Koesoema sudah menyentil kata2 kunci "penemuan yang signifikan" dan "menantang kita para geologist dan industri perminyakan dan juga pemerintah cq BP migas". Pertanyaannya adalah: Siapa yang akan menemukan penemuan signifikan tadi ? KPS ? Pertamina ? Kita2 ?
Trend yang kita lihat akhir2 ini adalah merger dan konsolidasi portfolio aset. Beberapa aset dilepas dan beli aset lainnya. Tapi kecenderungannya adalah beli cadangan, bukan cari penemuan yang signifikan. Pertamina saja mungkin sudah ketularan, eg. posting Hasan, berita Routers tentang Pertamina mau beli aset Amerada Hess (Jambi Merang). Meskipun harga minyak naik terus mulai akhir tahun lalu, dari sekitar $25 ke $35+, tapi sebagian perusahaan minyak malah melakukan kontraksi dengan budget E&P yang lebih kecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya. E&P spending survey yang dilakukan Raymond James & Associates maupun Lehman Brothers terhadap 323 perusahaan migas, ternyata budgetnya tidak berubah atau malah turun dari tahun sebelumnya. Diantara perusahaan raksasa, ConocoPhillips turun 10%, Royal Dutch/Shell turun 9%; TotalFinaElf SA turun 29%; BP Plc naik 4%, Exxon Mobil Corp naik 5%. Celakanya, pemerintah/BP Migas hanya mengharapkan naiknya produksi minyak dengan cara "promosi" pada KPS/ investor untuk meningkatkan investasi disektor ini. Kenyataan yang kita lihat, tingkat penandatangannya kontrak baru saat ini berada diposisi terendah selama 20 tahun terakhir (posting pak Ketum). Dari sisi supply kita banyak mengandalkan pada lapangan2 tua signifikan yang ditemukan lebih dari 40 tahun lalu (posting Noor) dan trend yang sama kita lihat didunia (posting saya mengenai giant fields). Secara umum lapangan2 minyak di Indonesia kecil2 dengan decline rate yang relatif tinggi. Diperlukan investasi terus menerus untuk menjaga tingkat produksi. Tapi kalau perusahaan2 minyak termaksud Pertamina hanya tertarik untuk beli cadangan, dan terjadi penurunan investasi, mungkin saja minyak kita habis, kalau kita tidak menemukan lapangan2 sekelas Minas atau Duri,.... wass. Bambang Istadi ConocoPhillips Inc. +1-281-293-3763 -----Original Message----- From: Koesoema [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, April 01, 2003 5:36 PM To: [EMAIL PROTECTED]; Rovicky Dwi Putrohari Subject: Re: [iagi-net-l] Disertasi : Minyak, 10,5 Tahun Lagi Habis Sebetulnya disertasi doktor ini adalah menantang kita para geologist dan industri perminyakan dan juga pemerintah cq BP migas. Harap disimak kalimat terakhir dibawah ini "cadangan terbukti minyak bumi Indonesia yang saat ini berjumlah 5.149,1 juta barel akan habis dalam kurun waktu 10,5 tahun atau pada pertengahan 2010. > Ini apabila tidak terjadi penemuan yang signifikan," tegas Dr Roberto Akyuwen." Nah penemuan-penemuan baru yang cukup banyak (tidak perlu penemuan yang signifikan) inilah yang jadi tantangan kita Wassalam R.P.Koesoemadinata Jl. Raya Ciburial 17 Dago Pakar Bandung telp: 022-2503995 ----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, March 03, 2003 1:40 AM Subject: [iagi-net-l] Disertasi : Minyak, 10,5 Tahun Lagi Habis > Kali ini ngga tanggung2 ... sebuah desertasi doktor .... :-p > lengkap dengan bahasa koran ... > Kesulitan --> kekurangan --> net import --> HABIS !!! > > RDP > ======== > Serba UGM http://www.kagama.org/ Arsip Terbaru > 01 Maret 2003 > Disertasi : Minyak, 10,5 Tahun Lagi Habis > > INDONESIA akan mengalami kesulitan di sektor minyak bumi dalam beberapa > tahun ke depan. Penyebabnya, permintaan minyak bumi senantiasa meningkat, > terutama konsumsi domestik, tapi tidak dapat diimbangi penawaran. Bahkan, > tingkat produksi senantiasa mengalami penurunan dari waktu ke waktu. > > "Fakta lain yang perlu dicermati adalah bahwa dengan rata-rata tingkat > produksi sebanyak 490,2 juta barrl per tahun pada periode 1980-2000, > cadangan terbukti minyak bumi Indonesia yang saat ini berjumlah 5.149,1 juta > barel akan habis dalam kurun waktu 10,5 tahun atau pada pertengahan 2010. > Ini apabila tidak terjadi penemuan yang signifikan," tegas Dr Roberto > Akyuwen. > Roberto menyampaikan hal itu dalam promosi doktor bidang Ilmu Ekonomi di > Balai Senat UGM, Selasa (4/2), kemarin. Pria kelahiran Ambon ini > menyampaikan disertasi berjudul "Model Dinamik Produksi dan Eksplorasi > Minyak Bumi Indonesia". Roberto dinyatakan berhasil lulus meraih gelar > doktor Ilmu Ekonomi. > > Dikatakan, penawaran minyak bumi Indonesia antara 1995-2000 rata-rata > mencapai 577,5 juta barel per tahun. Sedangkan permintaan pada periode yang > sama rata-rata 498,7 juta barel per tahun. Setiap tahunnya terjadi penurunan > kelebihan penawaran 10 juta barel atau menurun 7,7 persen per tahun. > > Dengan demikian, lanjut putra mantan wakil gubernur Maluku ini, meskipun > masih terdapat kelebihan penawaran rata-rata 78,8 juta barel per tahun, jika > terus-menerus menurun, diperkirakan volume permintaan akan menyamai > penawaran dalam tempo 7,9 tahun. Kondisi yang sama dijumpai pula pada neraca > ekspor dan impor minyak bumi Indonesia. > > Sekalipun terdapat kelebihan ekspor rata-rata 190,8 juta barel per tahun > pada periode 1990-2000, ekspor netto tersebut rata-rata menurun 8,7 juta > barel atau 4,1 persen per tahun. Alasan inilah yang mengarah pada kesimpulan > bahwa 10,5 tahun lagi, minyak bumi Indonesia akan habis.(wan) > Sumber : Jawa Pos > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

