Pak Ndaru, maaf bukan mengenai magnet.
Menanggapi pernyataan kawan kita itu tentunya harus berhati-hati. Beberapa kenyataan 
di tempat saya bekerja mungkin bisa memberikan tambahan kejelasan mengenai praktek 
bisnis pertambangan batubara di era otoda:
1. Desentralisasi memang memberikan kemudahan bagi semua pengusaha (bukan hanya 
pengusaha nasional), terutama mengenai perizinan yg tidak harus ke pusat (dlm hal ini 
cukup ke propinsi atau pemkab/kota sesuai dgn locus drpd otoda). Namun hal ini 
mensyaratkan sdm pemda yg berkualitas spt pengetahuan geologi, pemahaman yg 
komprehensif thd pengelolaan sda, manajemen lingkungan dan implikasinya thdp strategi 
pembangunan daerah. Sayangnya, tdk semua daerah sdh memiliki itu, shg izin2 dlm bentuk 
KP, SIPD dll mudah sekali dikeluarkan dan cenderung belum terkelola sesuai dgn 
peruntukannya.
2. Saya tdk tahu pandangan birokrat di Jkt thdp pengusaha lokal, namun yg namanya 
efisiensi tentu bukan hanya menyangkut jumlah orang tapi juga jumlah produksi 
(material yg dipindahkan, resource yg dikeluarkan, enhanced process, recovery, dll). 
Maksudnya, jika jumlah total karyawan 40-100 namun produksi batubara cuma 500 ribu 
ton/tahun tentu sgt tdk efisien dibanding dgn perusahaan yg mempekerjakan 1000 org 
tapi berproduksi 11-16 juta ton/tahun. Belum lagi kalau menyangkut enhanced process 
(preparasi: washing, crushing, de-ashing, dll) dimana jml labor hrs ditingkatkan utk 
memperbaiki recovery shg sda milik rakyat ini dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. 
Skrg menyangkut kontribusi tdhp negara sbg pemilik sda, perusahaan batubara besar 
umumnya adl pemegang PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) yg 
wajib menyerahkan royalti kepada pemerintah sesuai dgn value dari batubara (rank, 
type, market value, dll). Benar seperti yg dikatakan Pak Ndaru, selain royalti, ada 
pajak2 lain yg harus dibayarkan baik ke pusat maupun pemda dan yg paling signifikan 
besarnya adalah corporate tax (pajak atas keuntungan perusahaan).

Semoga bisa menambahkan.

Salam, Noel

-----Original Message-----
From: Sukmandaru Prihatmoko [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, March 13, 2003 3:40 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [iagi-net-l] [PHYSICS-UI] Edaran 01: Seminar Nasional Bahan
Magnet III


Agar IAGI gak berlepotan minyak melulu seperti sentilan bung RDP (padahal
gak ada salahnya lho dengan minyak......), ini aku postingkan masukan
seorang pengusaha kecil (?) tambang batubara (geologist juga) mengenai aspek
praktis bisnis pertambangan batubara di era otoda yang disampaikan melalui
salah seorang kawan di PP IAGI.
(1) Positip: Disentralisasi dirasakan banyak memberi kemudahan bagi
pengusaha tambang batubara nasional di daerah, yang tentu saja berimplikasi
pada efisiensi investasi
(2) Negatifnya: pandangan para birokrat di Jakarta yang masih diskriminatif
terhadap pengusaha lokal. Padahal berdasarkan pengalamannya dengan jumlah
karyawan 40 - 100 orang, perusahaannya jauh lebih efisien dibandingkan
perusahaan multinasional di sebelah KP-nya yang memiliki 1000an orang
karyawan. Dan yang paling 'menggusar'kan adalah, royalty yang hanya 13 %
('padahal menurutnya keuntungan mereka bisa 100 - 150 %, apalagi mereka
ekspor'). Jual batubara US $ 25 - 26 / ton, sementara biaya produksi paling
top US$ 12.

Secara eksplisit ybs minta IAGI untuk melakukan advokasi tentang hal ini
(penghapusan diskriminasi perlakuan 'oknum birokrat' thd pengusaha tambang
batubara nasional, sekaligus untuk penciptaan iklim usaha yang kondusif -->
akses perbankan).

Saya sudah menanggapi hal ini terutama masalah pendapatan negara yang tidak
hanya dari royalty seperti tax dan restribusi lainnya yang jumlahnya bisa di
atas 50% (mestinya beliau ini tahu masalah ini ya..............).

Salam - SP
RDP.....aku gak tahu banyak ttg magnet, mungkin kawan lain bisa kasih
input..........


----- Original Message -----
From: "PUTROHARI Rovicky" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, March 13, 2003 9:50 AM
Subject: [iagi-net-l] [PHYSICS-UI] Edaran 01: Seminar Nasional Bahan Magnet
III


> Sebagai geologist aku kok ngga tahu ya .. mineral "bahan magnet" itu apa
> saja sih ? selain magnetit tentunya ...
> ada yang tahu ...logam apa saja yg bisa jadi --> Potensi Sumber Daya Alam
> di Indonesia untuk Bahan Magnet dari segi geologi tentunya, mineralnya,
> batuannya, asosiasinya dan terbentuknya.
>
> Ah, Dimas nDaru dan temen-temen di mining mustinya lebih tahu,
> mohon pencerahan doonk ....!!
>
> lumayan kan biar IAGI ngga belepotan minyak mlulu ... !!
>
> rdp
>



---------------------------------------------------------------------

To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/

IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi



Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id

Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])

Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])

Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])

Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])

Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])

---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke