Untuk umur absolut karbonat lebih banyak digunakan metode dating dengan isotop 
strontium 87Sr/86Sr. Strontium berlimpah di air laut (pada urutan ke-8) dan biasa 
mengisi kisi-kisi kristal pada pengendapan karbonat seperti halnya kalsium. Karena 
isotopnya tidak mengalami fraksionasi, tidak seperti pada C dan O, maka rasio isotop 
87Sr/86Sr adalah pencerminan langsung kondisi air laut saat itu.
 
Rasio isotop 87Sr/86Sr berubah sepanjang waktu geologi. Laut-laut primitif banyak 
mendapat kontribusi strontium dari input mantel dengan nilai rasio sekitar 0.700, 
semakin ke sini, input semakin banyak dari continental crust, dan modern sea water 
punya rasio isotop 87Sr/86Sr sebesar 0.711. Beberapa kurva rasio isotop ini vs. 
geologic time telah diterbitkan oleh beberapa penulis, sehingga kalau kita tahu rasio 
isotop Sr suatu sampel karbonat maka akan kita ketahui umur absolutnya. Deviasinya 
sangat kecil, jauh di bawah 0.5 Ma, dalam kebanyakan kasus hanya beberapa puluh ribu 
tahun.
 
Efek diagenesa karbonat akan berpengaruh dalam keakuratan pengukuran rasio. Tetapi ada 
koreksi2 tertentu di samping ada perbandingan dengan umur relatif berdasarkan 
biostrat. Pemilihan sampel untuk dating tentu disarankan dilakukan pada karbonat yang 
tak terdiagenesa.
 
Saat ini saya sedang menggunakan data isotop Sr ini untuk mengikat seluruh karbonat 
Paleogen (Kujung, Prupuh, Kranji, Poleng, dll.) di Jawa Timur, untuk menertibkan 
tata-nama stratigrafinya, dibantu kontrol regional tectonics dan carbonate sequence 
stratigraphy.
 
Salam,
Awang

Shofiyuddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
pak Ade,
Barangkali saya bisa tahu sumber rujukan untuk tipe tipe age dating ini,
meliputi background, cara pengukuran dan tingkat akurasinya. Saya juga
ingin tahu, metoda age dating apa yang cocok untuk batuan karbonat. Saya
mendengar bahwa Ar-Ar sementara ini banyak digunakan untuk batuan
karbonate juga, namun akurasinya masih plus minus 0.5 juta tahun. Ini
tentu saja cukup mengganggu kalau kita mau korelasi facies antar sumur
untuk batuan karbonat.


Salam

Shofi



-----Original Message-----
From: Ade Kadarusman [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, March 04, 2004 3:27 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [iagi-net-l] - Metoda K-Ar


Dear IAGI netter,
Metoda K-Ar (40K-39Ar) memang saat ini sudah dianggap ketinggalan zaman,
karena adanya masalah
potensial "excess argon" atau "argon loss" sangat besar, karena unsur K
sangat rentan perubahan terhadap alterasi atau perubahan kimiawi/fisik.
Metoda yang lebih baik dari K-Ar adalah Ar-Ar (40Ar-39Ar), dimana
potensial
excess/loss argon dapat
dipantau dengan diagram age spectra, walaupun sebenarnya Ar-Ar juga
rentan
terhadap kontaminasi.
Selain itu yang harus diperhatikan adalah cara analisa sampelnya, apakah
berupa whole rock atau mineral terpisah (mika, amfibol, atau
plagioklas),
karena sangat berhubungan closure/blocking temperatur dari mineral
tersebut.
Jadi kalau kita dating batuan granit menggunakan metoda K-Ar/Ar-Ar
dengan
menggunakan mineral biotit, rasanya belum tentu umur tersebut mewakili
"crystallization age" dari granit, tetapi merupakan "cooling age"
dari granit tersebut, disebabkan closure temperatur dari biotit adalah
sekitar 300-410 C, sedangkan kristalisasi dari granit mulai dari
temperatur
700-600 C.
Jadi umur yang didapatkan dari mineral biotit tsb merupakan umur
alterasi
atau fase kristalisasi yang terakhir.

Metoda penentuan umur batuan yang sangat "dipercaya" adalah
berturut-turut
dari yang paling akurat:
(i) zircon U-Pb, (ii) zircon Pb-Pb, (iii)Sm-Nd mineral age, (iv) Rb-Sr
mineral age dsb.
Selain itu instrument yang digunakan sangat menentukan validasi suatu
penentuan umur,
untuk saat ini yang dijadikan kiblat untuk penentuan umur batuan adalah
zircon U-Pb/Pb-Pb menggunakan
ion probe (SHRIMP), yang dikembangkan oleh research School of Earth
Sciece,
AustralianNationa University.

Jadi bagaimana dengan posisi umur K-Ar sekarang :
Saya pernah dua kali melihat presentasinya Prof. Robert Hall ketika
mempresentasikan
Reconstructing Cenozoic SE Asia, beliau "excused" dengan data-data umur
yang
digunakan dalam rekonstruksinya yang sebagian besar (90%) berdasarkan
K-Ar
age dating. Padahal umur batuan sangat penting dalam suatu rekonstruksi,
selain posisi geographis dari data paleomag. Jadi dengan bertambahnya
data-data umur baru, saya yakin rekontsruksi dari beliau akan berubah
total.
Jadi selama belum ada data age dating baru yang lebih bisa dipercaya
(dgn
metoda yg canggih), kita masih valid menggunakan data age dating dari
K-Ar
untuk acuan umur geologi batuan tsb, tentu saja dengan "caution".

Gitu aja, salam
Ade Kadarusman

> Pak Ade Kadarusman,
> Lalu bagaimana . . . kalau tidak begitu akurat?
> Padahal beberapa koleksi hasil dating "Metoda K-Ar" yang saya lakukan
lebih dari 10 tahun yang lalu untuk beberapa conto batuan beku di
Sumatra
Selatan dan di beberapa Pulau Jawa, apakah berarti "gugur" untuk acuan
umur
geologi batuan daerah tersebut?
>
> Sudah lama sekali saya tidak mengikuti 'kelemahan' Metoda tersebut.
> Mohon penjelasannya?
>
> Terima kasih.
>
> Salam,
>
> SLAMET RIYADI
>



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Search - Find what you�re looking for faster.

Kirim email ke