Trims Pak Awang
nanya lagi ... apakah 1)molecular composition, dan (2) stable isotope ratios itu 
dilakukan juga 
utk source rocknya ? Maksud saya sebuah pendekatan gas to source 
correlation ? atau statistics saja.

Saya sedang bermain-main disekitar East Natuna, yang aku heran kenapa yang 
sebelah timurnya (Sarawak) dan baratnya (West Natuna) banyak sekali minyak 
dan gas, sedangkan di East natuna cuma satu tapi "guedhe" menyendiri 
sampai seolah blok ini di"anak tiri"kan. Kayaknya juga ngga masuk sebagai 
blok yg ditawarkan kemaren.

Adakah kesamaan atau kesinambungan geologi antara East Natuna dengan 
Luconia ? Mungkin "Paleogene"nya sectionnya ?
Di Luconia reserviornya juga karbonat serta isinya mostly gas tetapi di 
Luconia ini banyak "condensate"nya. Yang menarik buatku ttg Luconia ini 
kemungkinan adanya Oligocene (?eocene) synrift yg mungkin berisi 
oil-source. Karena hingga saat ini "coal as an oil source" yg cukup 
kontroversi itu masih dipercaya disini.

Luconia ini merupakan sebuah "microplate" yg mengalami rift-drift setelah 
"lepas" dari induknya. Nah, pada saat rift-drift ini yg aku duga merupakan 
saat terendapkannya source rock.
Aku cuman ngga nyangka kalau Balingian Province ini mempunyai struktur yg 
sangat kompleks, sampek bikin mumeth.

RDP





Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
03/25/2004 01:25 PM
Please respond to iagi-net

 
        To:     [EMAIL PROTECTED]
        cc: 
        Subject:        Re: [iagi-net-l] East Natuna Geochemistry -> tanya


Ini tentang gas geochemistry yang risetnya di seluruh dunia pun 
ketinggalan jauh dibanding oil geochemistry. Sementara kita tahu banyak 
tentang oil geochemistry, maka sangat sedikit yang kita ketahui tentang 
gas geochemistry, akhirnya sangat sedikit pula metode yang tersedia untuk 
bidang gas geochemistry termasuk untuk gas-gas correlation apalagi 
gas-source correlation. Bukan hanya karena risetnya yang minim, sifat 
molekul gas pun sangat simpel dibanding minyak, sehingga praktis hanya 
sedikit informasi yang bisa digali untuk melacak source dan semua proses 
yang telah dialami sebuah sampel gas. Kalau di minyak kita bisa bermain 
dengan berbagai biomarker yang sekian banyak, di gas tidak mungkin seperti 
itu.
 
Tetapi, paling tidak ada dua metode untuk mengkarakterisasi source gas, 
yaitu (1)molecular composition, dan (2) stable isotope ratios. Dengan 
molecular composition dan berbagai rasio-nya kita bisa menentukan ini 
biogenic/bacterial gas atau thermogenic gas, seberapa kering/basah, 
biodegraded atau tidak dsb. Source-nya ? Kalau ternyata biogenic, maka 
source tak akan jauh dari reservoirnya (mungkin malahan interbedded), bisa 
juga dari bawahnya dengan catatan temperatur yang dianggap source tak 
lebih dari sekitar 80 derajat celsius sebab di atas sekitar temperatur itu 
bakteri mati. Kuncinya ada di GG di daerah itu. Bisa saja bacterial gas 
ditemukan di ribuan meter asal di very cool basin. Kalau dari molecular 
composition ternyata thermogenic/wet gas (fraksi  etan plus lebih dari 2 
%) maka source-nya ya dari tempat-tempat dalam, nah di sini bermain 
pengetahuan geologic setting versus thermal modeling dan kerogen type (ini 
bisa bercampur ke bidang oil geochemistry). 
 
Yang sekarang banyak dikembangkan adalah dengan gas fingerprinting 
menggunakan stable isotope ratios dari unsur C, S, atau H. Juga 
non-hydrocarbon gas seperti CO2, N2, H2S, He, dan Rn (radon) sering 
membantu pemikiran apa source gas. Berbagai crossplot canggih dari isotop2 
ini telah tersedia. Asal analisis laboratorium untuk isotop lengkap dan 
detail sampai ke fraksi-fraksi terkecilnya, ditambah pengetahuan geologic 
setting akumulasi gas tersebut, juga pengetahuan tentang oil geochemistry 
di tempat yang sama (kalau ada), maka source gas bisa diperkirakan lebih 
baik...mudah-mudahan (dalam biomarker pun untuk menentukan apa oil source 
saya belum pernah dapat yang 100 % match). Alasan utamanya adalah sebab 
oil datang dari kitchen sementara source yang kita analisis di lab adalah 
dari posisi sumur yang tak pernah di kitchen, jadi bagaimana bisa 100 % 
match.
 
Lebih spesifik lagi, dari pengetahuan sementara yang ada, source gas 
Natuna D- Alpha adalah Barat shale yang Oligo-Miocene. Data geokimianya 
belum pernah dipublikasi, kalau ada yang punya data molecular composition 
dan stable isotope ratios-nya termasuk isotop C dari CO2nya yang tinggi 
itu maka pengetahuan kita akan jauh lebih baik dari mana source gas, dan 
dari mana source CO2 setinggi itu, apa dari breakdown reservoir karbonat 
atau reservoir kena intrusi, semuanya bisa ditaksir dengan data isotop 
karbon CO2.
 
Salam,
Awang

[EMAIL PROTECTED] wrote:
Identifikasi source rock, mana yg menjadi sumber (charging), dari suatu 
lapangan minyak, biasanya dicari dengan biomarker. Namun kalau utk gas 
biasanya biomarker sulit dipakai, juga kadang-kadang biomarker utk high 
maturity oilnyapun sudah rusak (cracked) karena suhu tinggi (rantai 
panjangnya ngga ada).
Lantas, bagaimana menentukan source rock type utk gas (condensates/high 
maturity oil) ?
bagaimana melakukan gas to source correlation ?

More specific ... source rocknya Natuna D-Alpha apaan sih ?

Trims

RDP

---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.

Kirim email ke