Ini tentang gas geochemistry yang risetnya di seluruh dunia pun ketinggalan jauh dibanding oil geochemistry. Sementara kita tahu banyak tentang oil geochemistry, maka sangat sedikit yang kita ketahui tentang gas geochemistry, akhirnya sangat sedikit pula metode yang tersedia untuk bidang gas geochemistry termasuk untuk gas-gas correlation apalagi gas-source correlation. Bukan hanya karena risetnya yang minim, sifat molekul gas pun sangat simpel dibanding minyak, sehingga praktis hanya sedikit informasi yang bisa digali untuk melacak source dan semua proses yang telah dialami sebuah sampel gas. Kalau di minyak kita bisa bermain dengan berbagai biomarker yang sekian banyak, di gas tidak mungkin seperti itu. Tetapi, paling tidak ada dua metode untuk mengkarakterisasi source gas, yaitu (1)molecular composition, dan (2) stable isotope ratios. Dengan molecular composition dan berbagai rasio-nya kita bisa menentukan ini biogenic/bacterial gas atau thermogenic gas, seberapa kering/basah, biodegraded atau tidak dsb. Source-nya ? Kalau ternyata biogenic, maka source tak akan jauh dari reservoirnya (mungkin malahan interbedded), bisa juga dari bawahnya dengan catatan temperatur yang dianggap source tak lebih dari sekitar 80 derajat celsius sebab di atas sekitar temperatur itu bakteri mati. Kuncinya ada di GG di daerah itu. Bisa saja bacterial gas ditemukan di ribuan meter asal di very cool basin. Kalau dari molecular composition ternyata thermogenic/wet gas (fraksi etan plus lebih dari 2 %) maka source-nya ya dari tempat-tempat dalam, nah di sini bermain pengetahuan geologic setting versus thermal modeling dan kerogen type (ini bisa bercampur ke bidang oil geochemistry). Yang sekarang banyak dikembangkan adalah dengan gas fingerprinting menggunakan stable isotope ratios dari unsur C, S, atau H. Juga non-hydrocarbon gas seperti CO2, N2, H2S, He, dan Rn (radon) sering membantu pemikiran apa source gas. Berbagai crossplot canggih dari isotop2 ini telah tersedia. Asal analisis laboratorium untuk isotop lengkap dan detail sampai ke fraksi-fraksi terkecilnya, ditambah pengetahuan geologic setting akumulasi gas tersebut, juga pengetahuan tentang oil geochemistry di tempat yang sama (kalau ada), maka source gas bisa diperkirakan lebih baik...mudah-mudahan (dalam biomarker pun untuk menentukan apa oil source saya belum pernah dapat yang 100 % match). Alasan utamanya adalah sebab oil datang dari kitchen sementara source yang kita analisis di lab adalah dari posisi sumur yang tak pernah di kitchen, jadi bagaimana bisa 100 % match. Lebih spesifik lagi, dari pengetahuan sementara yang ada, source gas Natuna D- Alpha adalah Barat shale yang Oligo-Miocene. Data geokimianya belum pernah dipublikasi, kalau ada yang punya data molecular composition dan stable isotope ratios-nya termasuk isotop C dari CO2nya yang tinggi itu maka pengetahuan kita akan jauh lebih baik dari mana source gas, dan dari mana source CO2 setinggi itu, apa dari breakdown reservoir karbonat atau reservoir kena intrusi, semuanya bisa ditaksir dengan data isotop karbon CO2. Salam, Awang
[EMAIL PROTECTED] wrote: Identifikasi source rock, mana yg menjadi sumber (charging), dari suatu lapangan minyak, biasanya dicari dengan biomarker. Namun kalau utk gas biasanya biomarker sulit dipakai, juga kadang-kadang biomarker utk high maturity oilnyapun sudah rusak (cracked) karena suhu tinggi (rantai panjangnya ngga ada). Lantas, bagaimana menentukan source rock type utk gas (condensates/high maturity oil) ? bagaimana melakukan gas to source correlation ? More specific ... source rocknya Natuna D-Alpha apaan sih ? Trims RDP --------------------------------- Do you Yahoo!? Yahoo! Finance Tax Center - File online. File on time.

