Saya mau jawab yang nomor 2. Kalau ditarik cross section dari Kutei/Tarakan ke NW Borneo waktu Oligocene, kita bisa lihat SChina Sea plate sebagai oceanic crust subducted ke SE, ke arah Kutei. Crocker Turbidite merupakan accretionary zone. Kutei Basin jadi back-arc basin. Volcanism muncul di upper Kutei, Semporna area Tarakan dlsb. Lupar subduction umurnya lebih tua lagi. Totally different system. SChina sea spreading berhenti pada akhir Late Miocene. Pada Late Miocene ini accretionary zone, volcanics semua terangkat di tengah-tengah Kalimantan. Semua yang terangkat terkikis dan diendapkan di cekungan NW Borneo, Kutei, Tarakan, dan Sandakan. Kesimpulan ini saya dapat dari recent gravity, magnetic study in house, didukung oleh teori Charles Hutchison.
Herman -----Original Message----- From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: 29 April 2004 13:53 To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [iagi-net-l] Lupar Mersing Line-Kutei Basin-Meratus Range - part 1 Menyaksikan sidang terbuka promosi doktor pak ketum kita, sekarang sudah resmi boleh disebut Dr. Andang Bachtiar, dengan pimpinan sidang Ibu Emmy Suparka, para promotor Pak Soejono, Pak Sukendar, Pak Ong; tim penyanggah Pak Koesoemadinata, Pak Bona Situmorang, dan John Decker (Unocal), Sabtu 24 April 2004 dari jam 13.00-15.00 di Gd. Pasca Sarjana ITB, dengan mayoritas yang hadir adalah para mahasiswa S2 dan S3 ITB, dan dinyatakan lulus; menyisakan beberapa pertanyaan dalam diri saya, pertanyaan-pertanyaan klasik yang sudah sering dimasalahkan dan mungkin menjadi "debate of decades" tanpa jawaban yang memuaskan. Kebetulan Pak Andang sembilan tahun menggumuli Kutei Basin untuk disertasinya, saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan klasik di bawah ini, yang kebetulan saya dengar di sidang itu (walau saya duduk di luar, untung pak ketum kita bersuara lantang)dan saya baca di ringkasan disertasi. Kebetulan dalam sidang itu tidak diberikan kesempatan bertanya buat para penonton, selain kepada para promotor dan penyanggah, maka saya lewat jalur IAGI-net saja. 1. Bagaimana bisa Mersing subduction mengangkat Meratus Mts ? Kalau melihat sekuen sedimen Barito Basin, maka proper Meratus Mts. naik intra Warukin Atas di sekitar Miosen Atas dan pre Dahor molassic deposits di Pliosen. Katakanlah pengangkatannya Mio-Pliosen. Maka ini lebih muda dari Mersing subduction. Saya percaya Mersing subduction mengangkat Kuching High di Oligo-Miosen yang memulai delta progradation di Kutei Basin pada Early Miocene. Bagaimana mekanisme yang tepat agar Meratus bisa terangkat oleh Mersing sebab selain waktunya tidak cocok juga ada Schwaner Core yang sangat stabil yang bisa menghalangi propagasi gaya kompresif dari Mersing subduction. 2. Kutei pernah menjadi back-arc basin ? Kedudukan ini dihubungkan dengan tectonic/volcanic element yang mana ? Bila terhadap Lupar-Mersing Subduction Line rasanya Kutei adalah oceanic basin, fore-arc pun bukan. Katakanlah intrusi2 di Schwaner adalah hasil Mersing subduction, walaupun proper volcanic arc seperti di Sumatra-Jawa tidak pernah muncul di sini dan umurnya pun harus dicek dulu, maka yang back-arc basin lebih cocok adalah Barito walaupun untuk ini perlu banyak argumen. Di Kutei ada Sembulu volcanics, tetapi hanya spotted di sekitar Bungalun dan rasanya tidak bisa dipakai sebagai reference untuk tipe basin sebesar Kutei. Di bawah Meratus ada Alino Arc yang pre-Tertiary, tetapi tidak bisa dipakai sebagai referensi basin-basin Tertiary seperti Barito dan Kutei. Kutei, saya pikir, lebih cocok sebagai tipe basin yang berkembang di passive margin yang divergent (relatif terhadap North Makassar spreading), walaupun ini kemudian jadi failed/aborted rift basin. 3. Intrusi-intrusi Neogen (Mio-Pliosen) di Upper Kutei Basin itu dari mana atau berasosiasi dengan subduction Mersing ? Ini kontradiktif dengan sejarah pemekaran dan terhentinya South China Sea spreading dan collisionnya microplates Luconia, Reed Bank, Dangerous Ground, dan Palawan Ridge. Hampir semua intrusi itu terjadi di tengah Rajang flysh-melange, ini mengindikasi suatu migrasi antara subduction zone dan mungkin volcanic arc, ini bisa berhubungan dengan pertanyaan ke-2 di atas. 4. Apa sebenarnya yang memisahkan Upper dengan Lower Kutei Basin ? Tinggian basement pre-Tertiary mestinya kalau mau ideal. Kalau sekedar intrusi Neogen apa bisa ? Dulu, oleh Hank Ott (1987) katanya ada Kutei "Gravity High" yang suka dipakai sebagai batas itu walaupun apakah high ini berasosiasi dengan basement tidak dielaborasi lebih jauh, hanya dipakai sebagai origin of present Kutei lakes di aliran Sungai Mahakam sekarang. Menurut Pak Andang, High ini terangkat sezaman dengan Meratus Uplift pada 17.5 Ma. Jadi pertanyaan, apa High ini ? Kalau sezaman dengan Meratus dan jadi tempat Kutei Lakes sekarang, kenapa "high" ini tergeser lebih ke barat dibanding Meratus, seolah-olah ada sesar mendatar sinistral (ini akan berantai ke pertanyaan : origin dan reaktivasi Adang-Lupar Fault, slipnya; dan apa hubungan antara Samarinda Anticlinorium dengan Meratus uplift, sebab di tempat Meratus berakhir, di situlah Samarinda Anticlinorium mulai). 5. Asal inversi di Kutei Basin. Ini benar2 "debate of decades" Dari paper2 yang pernah terbit saya bisa golongkan menjadi 7 mekanisme : (1) vertical diapirism, (2) gravitational gliding, (3) stress couple of regional wrenching, (4) micro-continental (East Sulawesi) collision, (5) detachment folding above overpressured sediments, (6) differential loading within deltaic sediments, dan (7) inverted deltaic growth fault system. Kalau saya ikuti, mekanisme no. 5 - 7 belakangan banyak diikuti dan banyak eksperimen analog dengan sand box modelling. Mekanisme no. 1 terjadi di beberapa tempat, tetapi tidak regional. Mekanisme no. 2 diawali oleh van Bemmelen (1949), Rose & Hartono (1978), dan didetailkan Ott (1987) dan jadi dasar berpikir mekanisme no. 5-7. Mekanisme no. 4 yang sempat disebut oleh van de Weerd dan Armin (1992) dan no. 3 tidak mendapat evaluasi dan pengujian lebih jauh. Pak Andang memilih mekanisme no. 3 untuk asal inversi di Kutei Basin, menggunakan Adang dan Mangkalihat Faults. Suatu stress couple dari dua regional wrenching bisa bikin pop-pup structure yang kelihatannya tidak mirip dengan karakter struktur Samarinda anticlinorium (juga tidak cocok dengan karakter struktur Lengguru Belt di Kepala Burung Papua kalau dibilang sebagai disebabkan Sorong dan Tarera-Aiduna Faults). Pertanyaannya, kanapa Pak Andang memilih no. 3 ini, dan apa keberatan-keberatan dengan mekanisme2 lainnya. Itu dulu pertanyaan2/komentar2 di sekitar regional tectonics yang sempat menyelinap di pikiran saya sambil mendengarkan presentasi Pak Andang. Pertanyaan2 tentang sedimentologi dan geokimia selanjutnya di part-2. Mohon jawaban/komentar Pak Andang. Salam, awang --------------------------------- Do you Yahoo!? Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

