Crocker turbidite harus dikeluarkan dari Rajang Group  Sibu-Embaluh Zone Central 
Ranges of Kalimantan. Crocker-Temburong flysch umurnya Oligo-Miosen sedangkan Rajang 
Group Lower Cretaceous-Upper Eocene yang merupakan north-facing prisma akresi orogenic 
flysch complex dari subduction South China Sea yang mengarah ke SE sebelum collision 
mikrokontinen2 Luconia dan Kelabit-Longbowan di umur Paleogen. Volcanic-magmatic arc 
yang seumur saat itu adalah Schwaner Mountains di barat Kalimantan. Sehingga, kalau 
melihat distribusi magmatic-volcanic arc Schwaner, maka yang sensu stricto back-arc 
basin saat itu mestinya bukan Kutei Basin tapi Pembuang dan Barito Basin, sedangkan 
Melawi-Ketungai-Keriau-Mandai adalah fore-arc basins mestinya. Setelah itu subduction 
ceased dan digantikan oleh collision semua mikrokontinen di selatan South China Sea 
spreading. Ini kemudian mengangkat dan menyempitkan Rajang Group di Sibu-Embaluh Zone 
dan sebagian materi erosional sediments-nya menyusun Crocker. Semua
 volkanik di Central Ranges of Kalimantan termasuk upper Kutei Basin umurnya 
post-Eocene dan ini tidak subduction-related, mungkin collisional related atau malah 
berhubungan dengan pembukaan basin (basic volcanic seperti Piyabung volcanic di dekat 
Melawi-Ketungau).
 
Sekarang katakanlah sedimen tertua Kutei Basin adalah nonmarine pre-rift sediments 
Paleocene-Eocene Keham Haloq di Upper Kutei Basin. Saya lebih gampang menafsirkannya 
sebagai pre-rift dari satu arm rift sistem aulacogen yang masuk menuju Upper Kutei 
Basin dari dua tangan rifting yang lain di Makassar Strait. Implikasi dari ini, maka 
Kutei Basin terbentuk sebagai sistem aulacogen saat Sulawesi Barat mulai memisahkan 
diri dari Kalimantan melalui rifting di Makassar. Akibatnya, Kutei hanya passive 
margin basin dari sistem aborted rift. Apakah ia pernah poly-history, belum ada 
sejarah pembalikan polarity basin dan kedudukan tektonik yang berubah sejak Early 
Tertiary. Progradasi delta tetap ke timur, mengesankan sistem tektonik-sedimentasi 
yang stabil.
 
Salam,
awang

"Darman, Herman H BSP-TSX/4" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya mau jawab yang nomor 2.
Kalau ditarik cross section dari Kutei/Tarakan ke NW Borneo waktu Oligocene, kita bisa 
lihat SChina Sea plate sebagai oceanic crust subducted ke SE, ke arah Kutei. Crocker 
Turbidite merupakan accretionary zone. Kutei Basin jadi back-arc basin. Volcanism 
muncul di upper Kutei, Semporna area Tarakan dlsb. Lupar subduction umurnya lebih tua 
lagi. Totally different system. 
SChina sea spreading berhenti pada akhir Late Miocene. Pada Late Miocene ini 
accretionary zone, volcanics semua terangkat di tengah-tengah Kalimantan. Semua yang 
terangkat terkikis dan diendapkan di cekungan NW Borneo, Kutei, Tarakan, dan Sandakan. 
Kesimpulan ini saya dapat dari recent gravity, magnetic study in house, didukung oleh 
teori Charles Hutchison.

Herman

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 29 April 2004 13:53
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [iagi-net-l] Lupar Mersing Line-Kutei Basin-Meratus Range -
part 1


Menyaksikan sidang terbuka promosi doktor pak ketum kita, sekarang sudah resmi boleh 
disebut Dr. Andang Bachtiar, dengan pimpinan sidang Ibu Emmy Suparka, para promotor 
Pak Soejono, Pak Sukendar, Pak Ong; tim penyanggah Pak Koesoemadinata, Pak Bona 
Situmorang, dan John Decker (Unocal), Sabtu 24 April 2004 dari jam 13.00-15.00 di Gd. 
Pasca Sarjana ITB, dengan mayoritas yang hadir adalah para mahasiswa S2 dan S3 ITB, 
dan dinyatakan lulus; menyisakan beberapa pertanyaan dalam diri saya, 
pertanyaan-pertanyaan klasik yang sudah sering dimasalahkan dan mungkin menjadi 
"debate of decades" tanpa jawaban yang memuaskan.

Kebetulan Pak Andang sembilan tahun menggumuli Kutei Basin untuk disertasinya, saya 
ingin menanyakan beberapa pertanyaan klasik di bawah ini, yang kebetulan saya dengar 
di sidang itu (walau saya duduk di luar, untung pak ketum kita bersuara lantang)dan 
saya baca di ringkasan disertasi. Kebetulan dalam sidang itu tidak diberikan 
kesempatan bertanya buat para penonton, selain kepada para promotor dan penyanggah, 
maka saya lewat jalur IAGI-net saja.

1. Bagaimana bisa Mersing subduction mengangkat Meratus Mts ? Kalau melihat sekuen 
sedimen Barito Basin, maka proper Meratus Mts. naik intra Warukin Atas di sekitar 
Miosen Atas dan pre Dahor molassic deposits di Pliosen. Katakanlah pengangkatannya 
Mio-Pliosen. Maka ini lebih muda dari Mersing subduction. Saya percaya Mersing 
subduction mengangkat Kuching High di Oligo-Miosen yang memulai delta progradation di 
Kutei Basin pada Early Miocene. Bagaimana mekanisme yang tepat agar Meratus bisa 
terangkat oleh Mersing sebab selain waktunya tidak cocok juga ada Schwaner Core yang 
sangat stabil yang bisa menghalangi propagasi gaya kompresif dari Mersing subduction. 

2. Kutei pernah menjadi back-arc basin ? Kedudukan ini dihubungkan dengan 
tectonic/volcanic element yang mana ? Bila terhadap Lupar-Mersing Subduction Line 
rasanya Kutei adalah oceanic basin, fore-arc pun bukan. Katakanlah intrusi2 di 
Schwaner adalah hasil Mersing subduction, walaupun proper volcanic arc seperti di 
Sumatra-Jawa tidak pernah muncul di sini dan umurnya pun harus dicek dulu, maka yang 
back-arc basin lebih cocok adalah Barito walaupun untuk ini perlu banyak argumen. Di 
Kutei ada Sembulu volcanics, tetapi hanya spotted di sekitar Bungalun dan rasanya 
tidak bisa dipakai sebagai reference untuk tipe basin sebesar Kutei. Di bawah Meratus 
ada Alino Arc yang pre-Tertiary, tetapi tidak bisa dipakai sebagai referensi 
basin-basin Tertiary seperti Barito dan Kutei. Kutei, saya pikir, lebih cocok sebagai 
tipe basin yang berkembang di passive margin yang divergent (relatif terhadap North 
Makassar spreading), walaupun ini kemudian jadi failed/aborted rift basin.

3. Intrusi-intrusi Neogen (Mio-Pliosen) di Upper Kutei Basin itu dari mana atau 
berasosiasi dengan subduction Mersing ? Ini kontradiktif dengan sejarah pemekaran dan 
terhentinya South China Sea spreading dan collisionnya microplates Luconia, Reed Bank, 
Dangerous Ground, dan Palawan Ridge. Hampir semua intrusi itu terjadi di tengah Rajang 
flysh-melange, ini mengindikasi suatu migrasi antara subduction zone dan mungkin 
volcanic arc, ini bisa berhubungan dengan pertanyaan ke-2 di atas.

4. Apa sebenarnya yang memisahkan Upper dengan Lower Kutei Basin ? Tinggian basement 
pre-Tertiary mestinya kalau mau ideal. Kalau sekedar intrusi Neogen apa bisa ? Dulu, 
oleh Hank Ott (1987) katanya ada Kutei "Gravity High" yang suka dipakai sebagai batas 
itu walaupun apakah high ini berasosiasi dengan basement tidak dielaborasi lebih jauh, 
hanya dipakai sebagai origin of present Kutei lakes di aliran Sungai Mahakam sekarang. 
Menurut Pak Andang, High ini terangkat sezaman dengan Meratus Uplift pada 17.5 Ma. 
Jadi pertanyaan, apa High ini ? Kalau sezaman dengan Meratus dan jadi tempat Kutei 
Lakes sekarang, kenapa "high" ini tergeser lebih ke barat dibanding Meratus, 
seolah-olah ada sesar mendatar sinistral (ini akan berantai ke pertanyaan : origin dan 
reaktivasi Adang-Lupar Fault, slipnya; dan apa hubungan antara Samarinda Anticlinorium 
dengan Meratus uplift, sebab di tempat Meratus berakhir, di situlah Samarinda 
Anticlinorium mulai).

5. Asal inversi di Kutei Basin. Ini benar2 "debate of decades" Dari paper2 yang pernah 
terbit saya bisa golongkan menjadi 7 mekanisme : (1) vertical diapirism, (2) 
gravitational gliding, (3) stress couple of regional wrenching, (4) micro-continental 
(East Sulawesi) collision, (5) detachment folding above overpressured sediments, (6) 
differential loading within deltaic sediments, dan (7) inverted deltaic growth fault 
system. Kalau saya ikuti, mekanisme no. 5 - 7 belakangan banyak diikuti dan banyak 
eksperimen analog dengan sand box modelling. Mekanisme no. 1 terjadi di beberapa 
tempat, tetapi tidak regional. Mekanisme no. 2 diawali oleh van Bemmelen (1949), Rose 
& Hartono (1978), dan didetailkan Ott (1987) dan jadi dasar berpikir mekanisme no. 
5-7. Mekanisme no. 4 yang sempat disebut oleh van de Weerd dan Armin (1992) dan no. 3 
tidak mendapat evaluasi dan pengujian lebih jauh. Pak Andang memilih mekanisme no. 3 
untuk asal inversi di Kutei Basin, menggunakan Adang dan Mangkalihat
Faults. Suatu stress couple dari dua regional wrenching bisa bikin pop-pup structure 
yang kelihatannya tidak mirip dengan karakter struktur Samarinda anticlinorium (juga 
tidak cocok dengan karakter struktur Lengguru Belt di Kepala Burung Papua kalau 
dibilang sebagai disebabkan Sorong dan Tarera-Aiduna Faults). Pertanyaannya, kanapa 
Pak Andang memilih no. 3 ini, dan apa keberatan-keberatan dengan mekanisme2 lainnya.

Itu dulu pertanyaan2/komentar2 di sekitar regional tectonics yang sempat menyelinap di 
pikiran saya sambil mendengarkan presentasi Pak Andang. Pertanyaan2 tentang 
sedimentologi dan geokimia selanjutnya di part-2. Mohon jawaban/komentar Pak Andang. 

Salam,
awang



---------------------------------
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs 

Kirim email ke