>
  Rekan rekan

  Terus terang saat pertama Bribin diposting di IAGI - net ini aku berfikir
  fikir : Apa benar yang pertama kali , bahkan (aku lugu loh dlm geologi
  teknik ) apa kita tidak bisa kalau sekedar ngebor ratusan meter , walaupun
  dengan diameter cukup besar.
  Radio isotop ??? kan sudah lama dipakai di Indonesia.
  Rp 70 Milyarda (psssst)  sama dengan US$ 7 juta , amboi , besar sekali.
  Begitu melihat perbandingan biaya per MW yang cuma US$ 1 juta , wah aku
  jadi berfikir kayak orang LSM looh , ada apa kok mahal amat, apa pinjaman
  atawa sumbangan yaa ?
  Baca RDP tambah banyak pertanyaannya .
  Apa Bang Ridwan Djamaluddin  bisa menerangkan ??

  Si Abah


  Walaupun umurku sudah kepala empat mungkin kacamataku masih minus, lebih
> banyak utk melihat jarah jauh ketimbang utk jarak deket, terlalu sering
> mimpi kali yee :D. Saya kok ngeliatnya berbeda soal 'bendungan' ini.
> Apalagi
> dengan imbuhan "yang pertama di dunia". Sesuatu yg pertama di dunia
> tentulah
> bukan sesuatu yg "menguntungkan" dalam arti material jangka pendek. Pasti
> proyek semacam ini akan banyak menyangkut soal research, soal percobaan,
> soal trial-error, .... dan yg lebih penting lagi soal BELAJAR.
>
> Kalau saja proyek ini dibaca sebagai proyek investasi yg "menguntungkan"
> dalam jangka pendek, tentunya bakalan rugi besar (-$$$). Itu sudah jelas
> terbaca pada judul artikel. Kecuali judulnya terbaca "Pertamakali di dunia
> sebagai proyek yg menguntungkan" .. :D
>
> Apakah proyek beginian selalu "merugi" ? Sebagai proyek percobaan tentunya
> ini akan terbaca "rugi" dalam tahun anggaran berjalan, bisa saja berjalan
> dua atau tiga bahkan lima tahun berikutnya.
> Bagaimana menghadapinya terutama sebagai Indonesia yg disebut-sebut
> sebagai
> yg "menerima sumbangan" ?
> Kalau emang ini sebagai proyek percobaan tentunya tidak ada (atau sedikit)
> aspek ekonomi yg dipakai sebagai alat ukur untuk menilainya. Bahkan kalau
> sudah beroperasi sekalipun mungkin biaya operasi akan lebih mahal
> ketimbang
> harga air ataupun listriknya.
>
> Jadi kalau ada grant, sumbangan, pinjaman ataupun investasi semua mesti
> dilihat untuk
> apa peruntukannya, juga bagaimana kita berharap dari sebuah
> proyek yg mempunyai nilai "multi dolar" ini. Kalau proyek seperti
> bendungan
> bawah tanah ini semestinya bukan berupa pinjaman yg harus dikembalikan,
> kan
> ?
>
> Semestinyalah kita tahu bahwa proyek ini bukan proyek pembangkit listrik
> pengganti proyek PLTN atau PLTG. Proyek ini mestinya dapat disikapi
> sebagai
> proyek "belajar bersama" dengan pihak luar yg kebetulan bersedia untuk
> menyediaan dana serta teknologinya. Kita (Indonesia) bermodalkan tempat
> serta mungkin bantuan tenaga (kasar maupun halus). Nah belajar bersama ini
> yg dapat kita optimumkan. Jadi libatkan saja semua pihak yg terkait baik
> engineering geology maupun energy alternatif.
>
> Sebagai geoscientist, ada hal yang perlu kita selalu sadari bersama, salah
> satunya adalah --> "This country, Indonesia, is a good earth science
> laboratory". Ada tiga plate tectonic raksasa yg bergabung disini, ada
> jalur
> volkanisme aktif, ada banyak proses-proses desert (gurun) seperti di gumuk
> pasir parang tritis, ada juga proses glasiasi di Irian Jaya. Jadi tentunya
> banyak orang yg tertarik dan belajar di daerah ini. Baik untuk belajar
> ekstraksi maupun belajar utk tujuan konservasi.
>
> Jerman sebagai salah satu negara eropa yg kuat tentunya melihat atau
> melakukan sesuatu proyek akan sangat berbeda dengan gaya American.
> Setahuku
> sejak Jerman kalah perang dalam PD II, Jerman sering memberikan bantuannya
> dalam bentuk "grant" dan pemberian atau bunga rendah. Bandingkan dengan
> gaya
> Americans yang "materialising in short term" (mungkin termasuk sekutunya).
> Ini bukan masalah mana yg bener mana yg salah looh. Tetapi bagaimana
> filosofi keduanya berbeda, namun tentunya masing-masing mempunyai
> kelebihan.
> Mungkin Pak Widya yg juga sempat ikutan dalam proyek bribin dan sempat
> sekolah (tinggal) di Jerman lebih tahu bagaimana Jerman berprinsip, juga
> Pak
> Leo serta Pak HEru Hendrayana yg banyak bekerja dengan GTZ. Juga rekan yg
> pernah ke Amrik (termasuk Pak Koesoema) mungkin akan dapat memberikan
> gambaran berlainan bagaimana kedua negara ini berbeda dalam memandang
> sebuah
> perkembangan dunia.
>
> So, what will you learn there ?
>
> Salam
> RDP
>
> "tapi kenapa justru Pak Mentri lebih menyoroti (mengomentari) teknologi
> nuklirnya yg justru bukan teknologi yg mutakhir karena sudah diaplikasikan
> dimana-mana ?, entah siapa yg salah, mungkin wartawannya suka dengan
> kata-kata nuklir atau kacamataku sudah burem :)"
>
>
>
>>From: "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>>Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
>>Dunia,  Bendungan di dalam Tanah Date: Wed, 4 Aug 2004 12:37:59 +0700
>>
>>Itulah masalahnya, sumber energi alternatif itu (juga geothermal) selalu
>>kalah dari segi pembiyaan dibanding dengan sumber minyak bumi. Pasang
>>diesel
>>tentu akan jauh lebih murah, walaupun harga minyak melonjak tajam
>> hari-hari
>>ini.
>>Tetapi  kan projek PLTA ini tidak perlu BBM, tidak perlu disubsidi, dan
>>mungkin dalam jangka panjang akan menguntungkan. Diesel kan masa
>> jabatannya
>>tidak lama, harus dioverhaul bahkan diganti. Turbin dan PLTA juga
>>memerlukan
>>perawatan, tetapi tidak perlu beli BBM, selama sungai bawah tanahnya
>>mengalir terus.
>>R.P.Koesoemadinata
>>Jl. Sangkuriang G-1
>>Bandung 40135
>>Telp: 022-250-3995
>>Fax: 022-250-3995 (Please call before sending)
>>e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>
>>----- Original Message -----
>>From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>>Sent: Wednesday, August 04, 2004 11:42 AM
>>Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
>>Dunia, Bendungan di dalam Tanah
>>
>>
>> >
>> > Dari apa yang telah disampaikan para pejabat di proyek ini, pemahaman
>>saya
>> > ( mungkin salah ), bahwa ada sungai bawah tanah yang mengalir dg debit
>> > tertentu dan kedalaman 100 an meter ( Gua Bribin), Untuk memompa air
>> ini
>> > dibutuhkan tenaga listrik sebesar 220 KVA ( 220 KW), untuk mendapatkan
>> > tenaga listrik tersebut dibikin PLTA bawah tanah ,dimana aliran sungai
>>bawah
>> > tanah tersebut dibendung dan kemudian dialirkan lagi untuk dapat
>> memutar
>> > turbin.Dari penjelasan nya proyek ini memakan biaya 70 M Rp.dan ini
>> akan
>> > dibantu oleh pemerintah Jerman.Karena PLTA tsb berada dibawah tanah (
>>sungai
>> > bwh tanah) maka biaya investasinya sebsesar itu, Pertanyaannya kenapa
>>hanya
>> > untuk memenuhi energi listrik yang besarnya cuma 220 KW tsb mesti
>> > mengeluarkan biaya sebesar itu, padahal kalau dg disel mungkin dg  1 M
>>sudah
>> > dapat disel dg kapasitas 500 KW - 1 MW.
>> > ISM
>> >
>> >
>> > > Adakah rekan-rekan dari Yogja atau Surabaya yang pernah terlibat
>> atau
>> > > bersinggungan dengan project ini yang tahu tentang perhitungan
>> > > keekonomian-nya? (Pak Heru Hendrayana, Pak Widya, Bu Sari, Pak
>>Gendoet???)
>> > >
>> > > Beberapa informasi yang membuat saya bertanya-tanya:
>> > >
>> > > Diesel bisa menaikkan air ke permukaan: 80liter/detik
>> > > Integrated Mikrohidro bisa menaikkan air ke permukaan:
>> 2000liter/detik
>> > >
>> > > Investasi diesel: Rp.150jt (?) ==> asumsi saya (termasuk pipa,
>>bangunan,
>> > > dsbnya)
>> > > Investasi integrated mikrohidro: Rp.70milyar ==> konversi dari pak
>>ismail
>> > >
>> > > Operational cost diesel: Rp.250.000,-/hari (asumsi) =  Rp.
>> 2,89/detik
>>=
>> > > Rp.0,04/liter
>> > > Operational cost integrated mikrohidro: Rp.100.000,-/hari (asumsi) =
>>Rp.
>> > > 1,16/detik = Rp. 0,0006/liter
>> > >
>> > > Bagaimana menghitung revenue projek tsb? Apakah airnya dibagikan
>>gratis
>>ke
>> > > masyarakat ataukah ada sejumlah ongkos yang harus dibayar masyarakat
>> > > per-liter airnya?
>> > >
>> > > Bagi yang mengetahui, mohon pencerahannya.
>> > >
>> > > adb
>> > >
>> > >
>> > >
>> > > ----- Original Message -----
>> > > From: "Fajar" <[EMAIL PROTECTED]>
>> > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
>> > > Sent: Wednesday, August 04, 2004 10:25 AM
>> > > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ...
>> Pertama
>>di
>> > > Dunia, Bendungan di dalam Tanah
>> > >
>> > >
>> > > > Sepertinya yang dimaksud pak menteri itu adalah studi isotop, bisa
>>untuk
>> > > > penjejak (tracer) atau kalibrasi umur. Perkembangan studi Bribin
>> ini
>> > > sangat
>> > > > menarik dan investasinya besar, memang kalau hanya untuk PLTA
>>sepertinya
>> > > > secara ekonomi tidak "reasonable".
>> > > >
>> > > > Salam,
>> > > > R. Fajar (2448)
>> > > > NB : mengenai bendungan bawah tanah..mungkin bukan yang pertama di
>> > dunia.
>> > > > Indonesia bekerjasama dengan Jepang telah mengembangkan bendungan
>>karet
>> > > > untuk membendung airtanah di pelosok negeri ini. Saya pernah
>>terlibat
>> > > dalam
>> > > > pekerjaan bendungan karet ini di Karang Asem, Bali untuk
>> membendung
>> > sungai
>> > > > yang hilang (loosing stream) akibat patahan yang sangat
>> > intensif..hasilnya
>> > > > sangat memuaskan.
>> > > >
>> > > >
>> > > > ----- Original Message -----
>> > > > From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
>> > > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
>> > > > Sent: Tuesday, August 03, 2004 10:18 PM
>> > > > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ...
>>Pertama
>>di
>> > > > Dunia, Bendungan di dalam Tanah
>> > > >
>> > > >
>> > > > > Dari studi yang pernah dilakukan pada tahun 70 -80 an ( Progo
>>basin
>> > > study
>> > > > /
>> > > > > Yogyakarta Ground water resources study ) diketahui bahwa
>> potensi
>> > sungai
>> > > > > bawah tanah daerah in cukup banyak al di Gua Bribin dg debit
>>700l/dt
>>(
>> > > > yang
>> > > > > sekarang lagi mau dikembangkan itu ) , Gua Ngobaran 220 l/dt ,
>> Gua
>> > > Seropan
>> > > > > 800 l/dt.Daerah yang merupakan dataran tinggi dr sistem Peg
>>selatan
>> > ini
>> > > > juga
>> > > > > banyak ditemui sumber - sumber air ( tealaga/luweng) yang
>> tersebar
>>dan
>> > > > > sangat potensial dikembangkan, mengingat sedikitnya curah hujan
>> > didaerah
>> > > > ini
>> > > > > ( kurang lebih 1700 MM dg pereode kemarau 5-7 bulan) Kalau
>> diamati
>> > pola
>> > > > > penyebaran desa desa di daerah ini mengikuti pola keberadaan
>> dari
>> > luweng
>> > > > > luweng ini.Sebetulnya pada pereode tsb di daerah ini telah
>> banyak
>> > > > dilakukan
>> > > > > pemboran pemboran air tanah ( lebih 50 an sumur )dengan
>> kedalaman
>> > kurang
>> > > > > lebih 100 an meter dan dimanfaatkan untuk air minum dan
>> pengairan
>>.
>> > > > > Mengingat curah hujan yang relatif kecil, maka kemungkinan besar
>> > sistem
>> > > > air
>> > > > > tanah didaerah ini disuplai dari sungai oyo yang melintasi
>> daerah
>>ini,
>> > > > yang
>> > > > > membentuk sungai sungai bawah tanah yang berpola sangat
>>komplek.dan
>> > > > mengalir
>> > > > > kerah samodra hindia mengingat kemiringan tpografi yang mengarah
>>ke
>> > > > selantan
>> > > > > dg kemiringan 10 an derajat.
>> > > > >
>> > > > > Dari rencana akan dibangunnya PLTA bawah tanah yang akan
>>menghasilkan
>> > > > > listrik 440 KVA ( 220 KVA akan dipakai untuk mengopersikan
>> pompa),
>> > > rasanya
>> > > > > ini suatu proyek yang sangat besar dari segi investasinya,
>>bayangkan
>> > > > > bagaimana bikin bendungan dibawah tanah dan bangunan lainnya
>> untuk
>> > > > > menggerakan turbin. Kalau dilihat dari biayanya yang akan
>>diberikan
>> > oleh
>> > > > > Pemerintah Jerman ( saya tidak tahu yang dimaksud bantuan itu
>>apakah
>> > ini
>> > > > > dalam bentuk grant,softloan, atau kredit export ) sebesar Rp.70
>> M
>>(
>> > 7,7
>> > > > Juta
>> > > > > dollar dg 1 $ = 9000,- ) ini sangat besar sekali, karena untuk
>> > investasi
>> > > > > pembangkit listrik itu biasanya biayanya antara 1 - 2 juta
>>dollar/MW
>>,
>> > > > jadi
>> > > > > kalau kapasitas yang dihasilkan "cuma" 440 KVA atau 0,44 MW
>>berarti
>>I
>> > MW
>> > > > nya
>> > > > > bisa 14 juta dollar.
>> > > > > Jadi kalau secara ekonomi ( mungkin ada pertimbangan lain) kalau
>>cuma
>> > > > untuk
>> > > > > mendapatkan daya listrik untuk menaikan air / memompa yang hanya
>>220
>> > KVA
>> > > > tsb
>> > > > > , lebih praktis pakai disel saja.
>> > > > > Mungkin ada yang tahu apa hubungannya PLTA ini dengan Nuklir
>> tsb,
>> > kalau
>> > > > > tidak salah ilmu nuklir ( radio aktif) ini dapat dipakai untuk
>>untuk
>> > > > > mengetahui aliran aliran bawah tanah arahnya kemana, mengathui
>> > kebcoran
>> > > > > kebocoran bendungan, aliran aliran fluida dalam suatu reservoar
>> ,
>>(
>> > > > > prisipnya untuk membantu mengetahui arah aliran fluida)
>> disamping
>> > untuk
>> > > > > mengetahui umur batuan.atau ada yang lain mungkin.
>> > > > > ISM
>> > > > >
>> > > > >
>> > > > > ----- Original Message -----
>> > > > > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
>> > > > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
>> > > > > Sent: Tuesday, August 03, 2004 5:53 PM
>> > > > > Subject: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ...
>> Pertama
>>di
>> > > > Dunia,
>> > > > > Bendungan di dalam Tanah
>> > > > >
>> > > > >
>> > > > > > Pertama di Dunia,  Bendungan di dalam Tanah
>> > > > > >
>> > > > > > Dengarkan Menristek Hatta Kertarajasa dan Gubernur DIY Sri
>>Sultan
>> > > > Hamengku
>> > > > > > Buwono X mendengarkan Pimpinan Proyek "Pembangunan Pembangkit
>> > Listrik
>> > > > > dengan
>> > > > > > Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah
>>Bribin,
>> > > > > > Gunungkidul" Prof Dr Ing Franz Nestnjann saat menjelaskan
>> > pembangunan
>> > > > > proyek
>> > > > > > tersebut. (Foto : SM CyberNews/Sugiarto)
>> > > > > > Gunung Kidul, CyberNews. Menristek Hatta Kartarajasa
>> mengatakan,
>> > masih
>> > > > > > banyak masyarakat kita yang belum tahu manfaat teknologi
>> nuklir.
>> > > Selama
>> > > > > ini
>> > > > > > yang mereka tahu, bahwa kata nuklir disamakan dengan 'Bom'
>> yang
>> > > meletus
>> > > > di
>> > > > > > Hirosima dan Nagasaki, Jepang.
>> > > > > > Padahal apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara
>> damai,
>> > justru
>> > > > > dapat
>> > > > > > mensejahterakan rakyat banyak. Seperti pembuatan dam di bawah
>>tanah
>> > > pada
>> > > > > > kedalaman 100 meter lebih di bawah tanah.
>> > > > > >
>> > > > > > ''Apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara damai,
>> justru
>> > > sangat
>> > > > > > bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia,'' kata
>>Menristek
>> > > Hatta
>> > > > > > Kartarajasa pada peresmian pengeboran Proyek Pembangunan
>>Pembangkit
>> > > > > Listrik
>> > > > > > Dengan Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah
>> Tanah
>>di
>> > > > > Bribin,
>> > > > > > Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Senin (2/8).
>> > > > > >
>> > > > > > Lebih lanjut Menristek mengatakan, salah satu contoh
>>pengembangan
>> > > > > teknologi
>> > > > > > nuklir yang dilakukan secara damai adalah proyek pengeboran
>> dan
>> > > > > pembangunan
>> > > > > > dam di dalam sungai bawah tanah. Dengan demikian, apabila
>>teknologi
>> > > > nuklir
>> > > > > > itu dilakukan secara damai dan benar bisa menjadi tumbuhan
>> hidup
>> > umat
>> > > > > > manusia.
>> > > > > >
>> > > > > > Apalagi, tambah Kartarajasa, air merupakan salah satu sumber
>> > > > kelangsungan
>> > > > > > hidup manusia yang harus kita lestarikan. Hal ini perlu
>>disampaikan,
>> > > > > karena
>> > > > > > sumber air di dunia tidak lebih dari 3 persen. Untuk itu, kita
>> > > bersyukur
>> > > > > > bisa mengembangkan sumber air yang ada di sungai dalam tanah.
>> > > > > >
>> > > > > > Semua itu bisa terjadi, karena kemajuan teknologi dan sumber
>>daya
>> > > > manusia
>> > > > > > yang mumpuni. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan
>> > kelangsungan
>> > > > > hidup
>> > > > > > manusia akan datang menggantungkan pada teknologi. Proyek yang
>> > > > > dikembangkan
>> > > > > > di Bribin ini, tambah Menristek, merupakan salah satu contoh
>> > kemajuan
>> > > > > > teknologi dengan memanfaatkan sumber alam.
>> > > > > >
>> > > > > > Sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam
>>kesempatan
>> > > itu
>> > > > > > mengatakan, proyek pengeboran dan pembangunan dam di bawah
>> tanah
>> > serta
>> > > > > > pembuatan listrik tenaga air ini sepenuhnya dibiaya Pemerintah
>> > Jerman
>> > > > > > melalui Universtas Karlsruhe Jerman sebesar Rp 70 miliar.
>> Proyek
>> > kali
>> > > > > > pertama di dunia ini, dikerjakan langsung oleh para ahli dari
>>Jerman
>> > > dan
>> > > > > > Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).
>> > > > > >
>> > > > > > Peresmian pengeboran tanah ke dalam dasar sungai bawah tanah
>>dengan
>> > > > > > disaksikan Menristek Hatta Kartarajasa, Gubernur DIY Sri
>> Sultan
>> > > Hamengku
>> > > > > > Buwono X dan pejabat DIY sudah berhasil mengebor sedalam 19
>>meter
>> > > > dibawah
>> > > > > > tanah. Pengeboran ke dinding sungai bawah tanah diperkirakan
>>akan
>> > > > mencapai
>> > > > > > 104 meter dengan diameter 2,4 meter.  Untuk menyelesaikannya
>> > > dibutuhkan
>> > > > > > waktu sekitar 4 bulan
>> > > > > >
>> > > > > > Pembangunan tahap awal hanya khusus pengeboran tanah ke dalam
>>sungai
>> > > > bawah
>> > > > > > tanah. Sedangkan pembangunan tahap kedua, para ahli dari
>> Jerman
>>dan
>> > > > > > Indonesia segera membuat dam sekaligus membangun listrik
>> tenaga
>>air
>> > di
>> > > > > > sungai bawah tanah. Nantinya air di sungai bawah tanah itu
>>disedot
>> > ke
>> > > > atas
>> > > > > > lalu didistribusikan ke masyarakat melalui jaringan pipa.
>> > > > > >
>> > > > > > Dalam sungai bawah tanah itu, menurut Sultan, akan dibangun
>> > bendungan
>> > > > air
>> > > > > > dengan tinggi 4 meter dan panjang 10 meter. Bendungan ini
>> > diperkirakan
>> > > > > mampu
>> > > > > > menampung air sungai Bribin 400 ribu meter kubik. Sedangkan
>>turbin
>> > > yang
>> > > > > > digerakkan melalui aliran sungai Bribin mampu menghasilkan 440
>>KVA.
>> > > > > > Sementara untuk mengoperasikan pompa air hanya membutuhkan 220
>>KVA,
>> > > > > sehingga
>> > > > > > kelebihanyya bisa dipergunakan penerangan jalan yang ada di
>>daerah
>> > > > > tersebut.
>> > > > > >
>> > > > > > Sebelumnya untuk menaikkan air sungai bawah tanah Bribin
>>menggunakan
>> > > > mesin
>> > > > > > diesel. Namun biaya yang dikeluarkan terlalu besar tidak
>>seimbang
>> > > dengan
>> > > > > air
>> > > > > > yang dialirkan yang hanya sebesar 80 liter per detik.
>> Sedangkan
>> > dengan
>> > > > > > teknologi modern ini, debit minimum yang tersedia sebesar 2000
>>liter
>> > > per
>> > > > > > detik pada musim kemarau. Sementara pada musim hujan debit air
>> > > mencapai
>> > > > > 4000
>> > > > > > liter per detik. Apabila proyek ini nanti berhasil, maka akan
>> > > > dikembangkan
>> > > > > > ke daerah lain.( sugiarto/CN07 )
>
> _________________________________________________________________
> STOP MORE SPAM with the new MSN 8 and get 2 months FREE*
> http://join.msn.com/?page=features/junkmail
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
> Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> ---------------------------------------------------------------------
>


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke