Kalau saja proyek ini dibaca sebagai proyek investasi yg "menguntungkan" dalam jangka pendek, tentunya bakalan rugi besar (-$$$). Itu sudah jelas terbaca pada judul artikel. Kecuali judulnya terbaca "Pertamakali di dunia sebagai proyek yg menguntungkan" .. :D
Apakah proyek beginian selalu "merugi" ? Sebagai proyek percobaan tentunya ini akan terbaca "rugi" dalam tahun anggaran berjalan, bisa saja berjalan dua atau tiga bahkan lima tahun berikutnya.
Bagaimana menghadapinya terutama sebagai Indonesia yg disebut-sebut sebagai yg "menerima sumbangan" ?
Kalau emang ini sebagai proyek percobaan tentunya tidak ada (atau sedikit) aspek ekonomi yg dipakai sebagai alat ukur untuk menilainya. Bahkan kalau sudah beroperasi sekalipun mungkin biaya operasi akan lebih mahal ketimbang harga air ataupun listriknya.
Jadi kalau ada grant, sumbangan, pinjaman ataupun investasi semua mesti dilihat untuk apa peruntukannya, juga bagaimana kita berharap dari sebuah proyek yg mempunyai nilai "multi dolar" ini. Kalau proyek seperti bendungan bawah tanah ini semestinya bukan berupa pinjaman yg harus dikembalikan, kan ?
Semestinyalah kita tahu bahwa proyek ini bukan proyek pembangkit listrik pengganti proyek PLTN atau PLTG. Proyek ini mestinya dapat disikapi sebagai proyek "belajar bersama" dengan pihak luar yg kebetulan bersedia untuk menyediaan dana serta teknologinya. Kita (Indonesia) bermodalkan tempat serta mungkin bantuan tenaga (kasar maupun halus). Nah belajar bersama ini yg dapat kita optimumkan. Jadi libatkan saja semua pihak yg terkait baik engineering geology maupun energy alternatif.
Sebagai geoscientist, ada hal yang perlu kita selalu sadari bersama, salah satunya adalah --> "This country, Indonesia, is a good earth science laboratory". Ada tiga plate tectonic raksasa yg bergabung disini, ada jalur volkanisme aktif, ada banyak proses-proses desert (gurun) seperti di gumuk pasir parang tritis, ada juga proses glasiasi di Irian Jaya. Jadi tentunya banyak orang yg tertarik dan belajar di daerah ini. Baik untuk belajar ekstraksi maupun belajar utk tujuan konservasi.
Jerman sebagai salah satu negara eropa yg kuat tentunya melihat atau melakukan sesuatu proyek akan sangat berbeda dengan gaya American. Setahuku sejak Jerman kalah perang dalam PD II, Jerman sering memberikan bantuannya dalam bentuk "grant" dan pemberian atau bunga rendah. Bandingkan dengan gaya Americans yang "materialising in short term" (mungkin termasuk sekutunya). Ini bukan masalah mana yg bener mana yg salah looh. Tetapi bagaimana filosofi keduanya berbeda, namun tentunya masing-masing mempunyai kelebihan. Mungkin Pak Widya yg juga sempat ikutan dalam proyek bribin dan sempat sekolah (tinggal) di Jerman lebih tahu bagaimana Jerman berprinsip, juga Pak Leo serta Pak HEru Hendrayana yg banyak bekerja dengan GTZ. Juga rekan yg pernah ke Amrik (termasuk Pak Koesoema) mungkin akan dapat memberikan gambaran berlainan bagaimana kedua negara ini berbeda dalam memandang sebuah perkembangan dunia.
So, what will you learn there ?
Salam RDP
"tapi kenapa justru Pak Mentri lebih menyoroti (mengomentari) teknologi nuklirnya yg justru bukan teknologi yg mutakhir karena sudah diaplikasikan dimana-mana ?, entah siapa yg salah, mungkin wartawannya suka dengan kata-kata nuklir atau kacamataku sudah burem :)"
From: "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di Dunia, Bendungan di dalam Tanah Date: Wed, 4 Aug 2004 12:37:59 +0700
Itulah masalahnya, sumber energi alternatif itu (juga geothermal) selalu
kalah dari segi pembiyaan dibanding dengan sumber minyak bumi. Pasang diesel
tentu akan jauh lebih murah, walaupun harga minyak melonjak tajam hari-hari
ini.
Tetapi kan projek PLTA ini tidak perlu BBM, tidak perlu disubsidi, dan
mungkin dalam jangka panjang akan menguntungkan. Diesel kan masa jabatannya
tidak lama, harus dioverhaul bahkan diganti. Turbin dan PLTA juga memerlukan
perawatan, tetapi tidak perlu beli BBM, selama sungai bawah tanahnya
mengalir terus.
R.P.Koesoemadinata
Jl. Sangkuriang G-1
Bandung 40135
Telp: 022-250-3995
Fax: 022-250-3995 (Please call before sending)
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
----- Original Message ----- From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, August 04, 2004 11:42 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di Dunia, Bendungan di dalam Tanah
>
> Dari apa yang telah disampaikan para pejabat di proyek ini, pemahaman saya
> ( mungkin salah ), bahwa ada sungai bawah tanah yang mengalir dg debit
> tertentu dan kedalaman 100 an meter ( Gua Bribin), Untuk memompa air ini
> dibutuhkan tenaga listrik sebesar 220 KVA ( 220 KW), untuk mendapatkan
> tenaga listrik tersebut dibikin PLTA bawah tanah ,dimana aliran sungai
bawah
> tanah tersebut dibendung dan kemudian dialirkan lagi untuk dapat memutar
> turbin.Dari penjelasan nya proyek ini memakan biaya 70 M Rp.dan ini akan
> dibantu oleh pemerintah Jerman.Karena PLTA tsb berada dibawah tanah (
sungai
> bwh tanah) maka biaya investasinya sebsesar itu, Pertanyaannya kenapa
hanya
> untuk memenuhi energi listrik yang besarnya cuma 220 KW tsb mesti
> mengeluarkan biaya sebesar itu, padahal kalau dg disel mungkin dg 1 M
sudah
> dapat disel dg kapasitas 500 KW - 1 MW.
> ISM
>
>
> > Adakah rekan-rekan dari Yogja atau Surabaya yang pernah terlibat atau
> > bersinggungan dengan project ini yang tahu tentang perhitungan
> > keekonomian-nya? (Pak Heru Hendrayana, Pak Widya, Bu Sari, Pak
Gendoet???)
> >
> > Beberapa informasi yang membuat saya bertanya-tanya:
> >
> > Diesel bisa menaikkan air ke permukaan: 80liter/detik
> > Integrated Mikrohidro bisa menaikkan air ke permukaan: 2000liter/detik
> >
> > Investasi diesel: Rp.150jt (?) ==> asumsi saya (termasuk pipa, bangunan,
> > dsbnya)
> > Investasi integrated mikrohidro: Rp.70milyar ==> konversi dari pak
ismail
> >
> > Operational cost diesel: Rp.250.000,-/hari (asumsi) = Rp. 2,89/detik =
> > Rp.0,04/liter
> > Operational cost integrated mikrohidro: Rp.100.000,-/hari (asumsi) =
Rp.
> > 1,16/detik = Rp. 0,0006/liter
> >
> > Bagaimana menghitung revenue projek tsb? Apakah airnya dibagikan gratis
ke
> > masyarakat ataukah ada sejumlah ongkos yang harus dibayar masyarakat
> > per-liter airnya?
> >
> > Bagi yang mengetahui, mohon pencerahannya.
> >
> > adb
> >
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Fajar" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Wednesday, August 04, 2004 10:25 AM
> > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
> > Dunia, Bendungan di dalam Tanah
> >
> >
> > > Sepertinya yang dimaksud pak menteri itu adalah studi isotop, bisa
untuk
> > > penjejak (tracer) atau kalibrasi umur. Perkembangan studi Bribin ini
> > sangat
> > > menarik dan investasinya besar, memang kalau hanya untuk PLTA
sepertinya
> > > secara ekonomi tidak "reasonable".
> > >
> > > Salam,
> > > R. Fajar (2448)
> > > NB : mengenai bendungan bawah tanah..mungkin bukan yang pertama di
> dunia.
> > > Indonesia bekerjasama dengan Jepang telah mengembangkan bendungan
karet
> > > untuk membendung airtanah di pelosok negeri ini. Saya pernah terlibat
> > dalam
> > > pekerjaan bendungan karet ini di Karang Asem, Bali untuk membendung
> sungai
> > > yang hilang (loosing stream) akibat patahan yang sangat
> intensif..hasilnya
> > > sangat memuaskan.
> > >
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > > Sent: Tuesday, August 03, 2004 10:18 PM
> > > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama
di
> > > Dunia, Bendungan di dalam Tanah
> > >
> > >
> > > > Dari studi yang pernah dilakukan pada tahun 70 -80 an ( Progo basin
> > study
> > > /
> > > > Yogyakarta Ground water resources study ) diketahui bahwa potensi
> sungai
> > > > bawah tanah daerah in cukup banyak al di Gua Bribin dg debit 700l/dt
(
> > > yang
> > > > sekarang lagi mau dikembangkan itu ) , Gua Ngobaran 220 l/dt , Gua
> > Seropan
> > > > 800 l/dt.Daerah yang merupakan dataran tinggi dr sistem Peg selatan
> ini
> > > juga
> > > > banyak ditemui sumber - sumber air ( tealaga/luweng) yang tersebar
dan
> > > > sangat potensial dikembangkan, mengingat sedikitnya curah hujan
> didaerah
> > > ini
> > > > ( kurang lebih 1700 MM dg pereode kemarau 5-7 bulan) Kalau diamati
> pola
> > > > penyebaran desa desa di daerah ini mengikuti pola keberadaan dari
> luweng
> > > > luweng ini.Sebetulnya pada pereode tsb di daerah ini telah banyak
> > > dilakukan
> > > > pemboran pemboran air tanah ( lebih 50 an sumur )dengan kedalaman
> kurang
> > > > lebih 100 an meter dan dimanfaatkan untuk air minum dan pengairan .
> > > > Mengingat curah hujan yang relatif kecil, maka kemungkinan besar
> sistem
> > > air
> > > > tanah didaerah ini disuplai dari sungai oyo yang melintasi daerah
ini,
> > > yang
> > > > membentuk sungai sungai bawah tanah yang berpola sangat komplek.dan
> > > mengalir
> > > > kerah samodra hindia mengingat kemiringan tpografi yang mengarah ke
> > > selantan
> > > > dg kemiringan 10 an derajat.
> > > >
> > > > Dari rencana akan dibangunnya PLTA bawah tanah yang akan
menghasilkan
> > > > listrik 440 KVA ( 220 KVA akan dipakai untuk mengopersikan pompa),
> > rasanya
> > > > ini suatu proyek yang sangat besar dari segi investasinya, bayangkan
> > > > bagaimana bikin bendungan dibawah tanah dan bangunan lainnya untuk
> > > > menggerakan turbin. Kalau dilihat dari biayanya yang akan diberikan
> oleh
> > > > Pemerintah Jerman ( saya tidak tahu yang dimaksud bantuan itu apakah
> ini
> > > > dalam bentuk grant,softloan, atau kredit export ) sebesar Rp.70 M (
> 7,7
> > > Juta
> > > > dollar dg 1 $ = 9000,- ) ini sangat besar sekali, karena untuk
> investasi
> > > > pembangkit listrik itu biasanya biayanya antara 1 - 2 juta dollar/MW
,
> > > jadi
> > > > kalau kapasitas yang dihasilkan "cuma" 440 KVA atau 0,44 MW berarti
I
> MW
> > > nya
> > > > bisa 14 juta dollar.
> > > > Jadi kalau secara ekonomi ( mungkin ada pertimbangan lain) kalau
cuma
> > > untuk
> > > > mendapatkan daya listrik untuk menaikan air / memompa yang hanya 220
> KVA
> > > tsb
> > > > , lebih praktis pakai disel saja.
> > > > Mungkin ada yang tahu apa hubungannya PLTA ini dengan Nuklir tsb,
> kalau
> > > > tidak salah ilmu nuklir ( radio aktif) ini dapat dipakai untuk untuk
> > > > mengetahui aliran aliran bawah tanah arahnya kemana, mengathui
> kebcoran
> > > > kebocoran bendungan, aliran aliran fluida dalam suatu reservoar , (
> > > > prisipnya untuk membantu mengetahui arah aliran fluida) disamping
> untuk
> > > > mengetahui umur batuan.atau ada yang lain mungkin.
> > > > ISM
> > > >
> > > >
> > > > ----- Original Message -----
> > > > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > > > Sent: Tuesday, August 03, 2004 5:53 PM
> > > > Subject: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
> > > Dunia,
> > > > Bendungan di dalam Tanah
> > > >
> > > >
> > > > > Pertama di Dunia, Bendungan di dalam Tanah
> > > > >
> > > > > Dengarkan Menristek Hatta Kertarajasa dan Gubernur DIY Sri Sultan
> > > Hamengku
> > > > > Buwono X mendengarkan Pimpinan Proyek "Pembangunan Pembangkit
> Listrik
> > > > dengan
> > > > > Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah Bribin,
> > > > > Gunungkidul" Prof Dr Ing Franz Nestnjann saat menjelaskan
> pembangunan
> > > > proyek
> > > > > tersebut. (Foto : SM CyberNews/Sugiarto)
> > > > > Gunung Kidul, CyberNews. Menristek Hatta Kartarajasa mengatakan,
> masih
> > > > > banyak masyarakat kita yang belum tahu manfaat teknologi nuklir.
> > Selama
> > > > ini
> > > > > yang mereka tahu, bahwa kata nuklir disamakan dengan 'Bom' yang
> > meletus
> > > di
> > > > > Hirosima dan Nagasaki, Jepang.
> > > > > Padahal apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara damai,
> justru
> > > > dapat
> > > > > mensejahterakan rakyat banyak. Seperti pembuatan dam di bawah
tanah
> > pada
> > > > > kedalaman 100 meter lebih di bawah tanah.
> > > > >
> > > > > ''Apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara damai, justru
> > sangat
> > > > > bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia,'' kata Menristek
> > Hatta
> > > > > Kartarajasa pada peresmian pengeboran Proyek Pembangunan
Pembangkit
> > > > Listrik
> > > > > Dengan Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah
di
> > > > Bribin,
> > > > > Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Senin (2/8).
> > > > >
> > > > > Lebih lanjut Menristek mengatakan, salah satu contoh pengembangan
> > > > teknologi
> > > > > nuklir yang dilakukan secara damai adalah proyek pengeboran dan
> > > > pembangunan
> > > > > dam di dalam sungai bawah tanah. Dengan demikian, apabila
teknologi
> > > nuklir
> > > > > itu dilakukan secara damai dan benar bisa menjadi tumbuhan hidup
> umat
> > > > > manusia.
> > > > >
> > > > > Apalagi, tambah Kartarajasa, air merupakan salah satu sumber
> > > kelangsungan
> > > > > hidup manusia yang harus kita lestarikan. Hal ini perlu
disampaikan,
> > > > karena
> > > > > sumber air di dunia tidak lebih dari 3 persen. Untuk itu, kita
> > bersyukur
> > > > > bisa mengembangkan sumber air yang ada di sungai dalam tanah.
> > > > >
> > > > > Semua itu bisa terjadi, karena kemajuan teknologi dan sumber daya
> > > manusia
> > > > > yang mumpuni. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan
> kelangsungan
> > > > hidup
> > > > > manusia akan datang menggantungkan pada teknologi. Proyek yang
> > > > dikembangkan
> > > > > di Bribin ini, tambah Menristek, merupakan salah satu contoh
> kemajuan
> > > > > teknologi dengan memanfaatkan sumber alam.
> > > > >
> > > > > Sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam
kesempatan
> > itu
> > > > > mengatakan, proyek pengeboran dan pembangunan dam di bawah tanah
> serta
> > > > > pembuatan listrik tenaga air ini sepenuhnya dibiaya Pemerintah
> Jerman
> > > > > melalui Universtas Karlsruhe Jerman sebesar Rp 70 miliar. Proyek
> kali
> > > > > pertama di dunia ini, dikerjakan langsung oleh para ahli dari
Jerman
> > dan
> > > > > Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).
> > > > >
> > > > > Peresmian pengeboran tanah ke dalam dasar sungai bawah tanah
dengan
> > > > > disaksikan Menristek Hatta Kartarajasa, Gubernur DIY Sri Sultan
> > Hamengku
> > > > > Buwono X dan pejabat DIY sudah berhasil mengebor sedalam 19 meter
> > > dibawah
> > > > > tanah. Pengeboran ke dinding sungai bawah tanah diperkirakan akan
> > > mencapai
> > > > > 104 meter dengan diameter 2,4 meter. Untuk menyelesaikannya
> > dibutuhkan
> > > > > waktu sekitar 4 bulan
> > > > >
> > > > > Pembangunan tahap awal hanya khusus pengeboran tanah ke dalam
sungai
> > > bawah
> > > > > tanah. Sedangkan pembangunan tahap kedua, para ahli dari Jerman
dan
> > > > > Indonesia segera membuat dam sekaligus membangun listrik tenaga
air
> di
> > > > > sungai bawah tanah. Nantinya air di sungai bawah tanah itu disedot
> ke
> > > atas
> > > > > lalu didistribusikan ke masyarakat melalui jaringan pipa.
> > > > >
> > > > > Dalam sungai bawah tanah itu, menurut Sultan, akan dibangun
> bendungan
> > > air
> > > > > dengan tinggi 4 meter dan panjang 10 meter. Bendungan ini
> diperkirakan
> > > > mampu
> > > > > menampung air sungai Bribin 400 ribu meter kubik. Sedangkan turbin
> > yang
> > > > > digerakkan melalui aliran sungai Bribin mampu menghasilkan 440
KVA.
> > > > > Sementara untuk mengoperasikan pompa air hanya membutuhkan 220
KVA,
> > > > sehingga
> > > > > kelebihanyya bisa dipergunakan penerangan jalan yang ada di daerah
> > > > tersebut.
> > > > >
> > > > > Sebelumnya untuk menaikkan air sungai bawah tanah Bribin
menggunakan
> > > mesin
> > > > > diesel. Namun biaya yang dikeluarkan terlalu besar tidak seimbang
> > dengan
> > > > air
> > > > > yang dialirkan yang hanya sebesar 80 liter per detik. Sedangkan
> dengan
> > > > > teknologi modern ini, debit minimum yang tersedia sebesar 2000
liter
> > per
> > > > > detik pada musim kemarau. Sementara pada musim hujan debit air
> > mencapai
> > > > 4000
> > > > > liter per detik. Apabila proyek ini nanti berhasil, maka akan
> > > dikembangkan
> > > > > ke daerah lain.( sugiarto/CN07 )
_________________________________________________________________
STOP MORE SPAM with the new MSN 8 and get 2 months FREE* http://join.msn.com/?page=features/junkmail
--------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

