Ya nasib ya nasib, kalo gagal ya Indonesia, kalo rugi ya Indonesia.
Alasan nya macem2, kan Indonesia geologically is an earth lab, kan
Indonesia nggak punya dana utk lakukan research seperti ini, kan
Indonesia masih harus belajar banyak, kan..kan...kan, maapin aja ya.

JCI

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Wednesday, August 04, 2004 1:55 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama di
Dunia, Bendungan di dalam Tanah

Walaupun umurku sudah kepala empat mungkin kacamataku masih minus, lebih

banyak utk melihat jarah jauh ketimbang utk jarak deket, terlalu sering 
mimpi kali yee :D. Saya kok ngeliatnya berbeda soal 'bendungan' ini.
Apalagi 
dengan imbuhan "yang pertama di dunia". Sesuatu yg pertama di dunia
tentulah 
bukan sesuatu yg "menguntungkan" dalam arti material jangka pendek.
Pasti 
proyek semacam ini akan banyak menyangkut soal research, soal percobaan,

soal trial-error, .... dan yg lebih penting lagi soal BELAJAR.

Kalau saja proyek ini dibaca sebagai proyek investasi yg "menguntungkan"

dalam jangka pendek, tentunya bakalan rugi besar (-$$$). Itu sudah jelas

terbaca pada judul artikel. Kecuali judulnya terbaca "Pertamakali di
dunia 
sebagai proyek yg menguntungkan" .. :D

Apakah proyek beginian selalu "merugi" ? Sebagai proyek percobaan
tentunya 
ini akan terbaca "rugi" dalam tahun anggaran berjalan, bisa saja
berjalan 
dua atau tiga bahkan lima tahun berikutnya.
Bagaimana menghadapinya terutama sebagai Indonesia yg disebut-sebut
sebagai 
yg "menerima sumbangan" ?
Kalau emang ini sebagai proyek percobaan tentunya tidak ada (atau
sedikit) 
aspek ekonomi yg dipakai sebagai alat ukur untuk menilainya. Bahkan
kalau 
sudah beroperasi sekalipun mungkin biaya operasi akan lebih mahal
ketimbang 
harga air ataupun listriknya.

Jadi kalau ada grant, sumbangan, pinjaman ataupun investasi semua mesti 
dilihat untuk apa peruntukannya, juga bagaimana kita berharap dari
sebuah 
proyek yg mempunyai nilai "multi dolar" ini. Kalau proyek seperti
bendungan 
bawah tanah ini semestinya bukan berupa pinjaman yg harus dikembalikan,
kan 
?

Semestinyalah kita tahu bahwa proyek ini bukan proyek pembangkit listrik

pengganti proyek PLTN atau PLTG. Proyek ini mestinya dapat disikapi
sebagai 
proyek "belajar bersama" dengan pihak luar yg kebetulan bersedia untuk 
menyediaan dana serta teknologinya. Kita (Indonesia) bermodalkan tempat 
serta mungkin bantuan tenaga (kasar maupun halus). Nah belajar bersama
ini 
yg dapat kita optimumkan. Jadi libatkan saja semua pihak yg terkait baik

engineering geology maupun energy alternatif.

Sebagai geoscientist, ada hal yang perlu kita selalu sadari bersama,
salah 
satunya adalah --> "This country, Indonesia, is a good earth science 
laboratory". Ada tiga plate tectonic raksasa yg bergabung disini, ada
jalur 
volkanisme aktif, ada banyak proses-proses desert (gurun) seperti di
gumuk 
pasir parang tritis, ada juga proses glasiasi di Irian Jaya. Jadi
tentunya 
banyak orang yg tertarik dan belajar di daerah ini. Baik untuk belajar 
ekstraksi maupun belajar utk tujuan konservasi.

Jerman sebagai salah satu negara eropa yg kuat tentunya melihat atau 
melakukan sesuatu proyek akan sangat berbeda dengan gaya American.
Setahuku 
sejak Jerman kalah perang dalam PD II, Jerman sering memberikan
bantuannya 
dalam bentuk "grant" dan pemberian atau bunga rendah. Bandingkan dengan
gaya 
Americans yang "materialising in short term" (mungkin termasuk
sekutunya). 
Ini bukan masalah mana yg bener mana yg salah looh. Tetapi bagaimana 
filosofi keduanya berbeda, namun tentunya masing-masing mempunyai
kelebihan. 
Mungkin Pak Widya yg juga sempat ikutan dalam proyek bribin dan sempat 
sekolah (tinggal) di Jerman lebih tahu bagaimana Jerman berprinsip, juga
Pak 
Leo serta Pak HEru Hendrayana yg banyak bekerja dengan GTZ. Juga rekan
yg 
pernah ke Amrik (termasuk Pak Koesoema) mungkin akan dapat memberikan 
gambaran berlainan bagaimana kedua negara ini berbeda dalam memandang
sebuah 
perkembangan dunia.

So, what will you learn there ?

Salam
RDP

"tapi kenapa justru Pak Mentri lebih menyoroti (mengomentari) teknologi 
nuklirnya yg justru bukan teknologi yg mutakhir karena sudah
diaplikasikan 
dimana-mana ?, entah siapa yg salah, mungkin wartawannya suka dengan 
kata-kata nuklir atau kacamataku sudah burem :)"



>From: "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama
di 
>Dunia,  Bendungan di dalam Tanah Date: Wed, 4 Aug 2004 12:37:59 +0700
>
>Itulah masalahnya, sumber energi alternatif itu (juga geothermal)
selalu
>kalah dari segi pembiyaan dibanding dengan sumber minyak bumi. Pasang 
>diesel
>tentu akan jauh lebih murah, walaupun harga minyak melonjak tajam
hari-hari
>ini.
>Tetapi  kan projek PLTA ini tidak perlu BBM, tidak perlu disubsidi, dan
>mungkin dalam jangka panjang akan menguntungkan. Diesel kan masa
jabatannya
>tidak lama, harus dioverhaul bahkan diganti. Turbin dan PLTA juga 
>memerlukan
>perawatan, tetapi tidak perlu beli BBM, selama sungai bawah tanahnya
>mengalir terus.
>R.P.Koesoemadinata
>Jl. Sangkuriang G-1
>Bandung 40135
>Telp: 022-250-3995
>Fax: 022-250-3995 (Please call before sending)
>e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>----- Original Message -----
>From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Wednesday, August 04, 2004 11:42 AM
>Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... Pertama
di
>Dunia, Bendungan di dalam Tanah
>
>
> >
> > Dari apa yang telah disampaikan para pejabat di proyek ini,
pemahaman 
>saya
> > ( mungkin salah ), bahwa ada sungai bawah tanah yang mengalir dg
debit
> > tertentu dan kedalaman 100 an meter ( Gua Bribin), Untuk memompa air
ini
> > dibutuhkan tenaga listrik sebesar 220 KVA ( 220 KW), untuk
mendapatkan
> > tenaga listrik tersebut dibikin PLTA bawah tanah ,dimana aliran
sungai
>bawah
> > tanah tersebut dibendung dan kemudian dialirkan lagi untuk dapat
memutar
> > turbin.Dari penjelasan nya proyek ini memakan biaya 70 M Rp.dan ini
akan
> > dibantu oleh pemerintah Jerman.Karena PLTA tsb berada dibawah tanah
(
>sungai
> > bwh tanah) maka biaya investasinya sebsesar itu, Pertanyaannya
kenapa
>hanya
> > untuk memenuhi energi listrik yang besarnya cuma 220 KW tsb mesti
> > mengeluarkan biaya sebesar itu, padahal kalau dg disel mungkin dg  1
M
>sudah
> > dapat disel dg kapasitas 500 KW - 1 MW.
> > ISM
> >
> >
> > > Adakah rekan-rekan dari Yogja atau Surabaya yang pernah terlibat
atau
> > > bersinggungan dengan project ini yang tahu tentang perhitungan
> > > keekonomian-nya? (Pak Heru Hendrayana, Pak Widya, Bu Sari, Pak
>Gendoet???)
> > >
> > > Beberapa informasi yang membuat saya bertanya-tanya:
> > >
> > > Diesel bisa menaikkan air ke permukaan: 80liter/detik
> > > Integrated Mikrohidro bisa menaikkan air ke permukaan:
2000liter/detik
> > >
> > > Investasi diesel: Rp.150jt (?) ==> asumsi saya (termasuk pipa, 
>bangunan,
> > > dsbnya)
> > > Investasi integrated mikrohidro: Rp.70milyar ==> konversi dari pak
>ismail
> > >
> > > Operational cost diesel: Rp.250.000,-/hari (asumsi) =  Rp.
2,89/detik 
>=
> > > Rp.0,04/liter
> > > Operational cost integrated mikrohidro: Rp.100.000,-/hari (asumsi)
=
>Rp.
> > > 1,16/detik = Rp. 0,0006/liter
> > >
> > > Bagaimana menghitung revenue projek tsb? Apakah airnya dibagikan 
>gratis
>ke
> > > masyarakat ataukah ada sejumlah ongkos yang harus dibayar
masyarakat
> > > per-liter airnya?
> > >
> > > Bagi yang mengetahui, mohon pencerahannya.
> > >
> > > adb
> > >
> > >
> > >
> > > ----- Original Message -----
> > > From: "Fajar" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > > Sent: Wednesday, August 04, 2004 10:25 AM
> > > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ...
Pertama 
>di
> > > Dunia, Bendungan di dalam Tanah
> > >
> > >
> > > > Sepertinya yang dimaksud pak menteri itu adalah studi isotop,
bisa
>untuk
> > > > penjejak (tracer) atau kalibrasi umur. Perkembangan studi Bribin
ini
> > > sangat
> > > > menarik dan investasinya besar, memang kalau hanya untuk PLTA
>sepertinya
> > > > secara ekonomi tidak "reasonable".
> > > >
> > > > Salam,
> > > > R. Fajar (2448)
> > > > NB : mengenai bendungan bawah tanah..mungkin bukan yang pertama
di
> > dunia.
> > > > Indonesia bekerjasama dengan Jepang telah mengembangkan
bendungan
>karet
> > > > untuk membendung airtanah di pelosok negeri ini. Saya pernah 
>terlibat
> > > dalam
> > > > pekerjaan bendungan karet ini di Karang Asem, Bali untuk
membendung
> > sungai
> > > > yang hilang (loosing stream) akibat patahan yang sangat
> > intensif..hasilnya
> > > > sangat memuaskan.
> > > >
> > > >
> > > > ----- Original Message -----
> > > > From: "ismail" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > > > Sent: Tuesday, August 03, 2004 10:18 PM
> > > > Subject: Re: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ... 
>Pertama
>di
> > > > Dunia, Bendungan di dalam Tanah
> > > >
> > > >
> > > > > Dari studi yang pernah dilakukan pada tahun 70 -80 an ( Progo 
>basin
> > > study
> > > > /
> > > > > Yogyakarta Ground water resources study ) diketahui bahwa
potensi
> > sungai
> > > > > bawah tanah daerah in cukup banyak al di Gua Bribin dg debit 
>700l/dt
>(
> > > > yang
> > > > > sekarang lagi mau dikembangkan itu ) , Gua Ngobaran 220 l/dt ,
Gua
> > > Seropan
> > > > > 800 l/dt.Daerah yang merupakan dataran tinggi dr sistem Peg 
>selatan
> > ini
> > > > juga
> > > > > banyak ditemui sumber - sumber air ( tealaga/luweng) yang
tersebar
>dan
> > > > > sangat potensial dikembangkan, mengingat sedikitnya curah
hujan
> > didaerah
> > > > ini
> > > > > ( kurang lebih 1700 MM dg pereode kemarau 5-7 bulan) Kalau
diamati
> > pola
> > > > > penyebaran desa desa di daerah ini mengikuti pola keberadaan
dari
> > luweng
> > > > > luweng ini.Sebetulnya pada pereode tsb di daerah ini telah
banyak
> > > > dilakukan
> > > > > pemboran pemboran air tanah ( lebih 50 an sumur )dengan
kedalaman
> > kurang
> > > > > lebih 100 an meter dan dimanfaatkan untuk air minum dan
pengairan 
>.
> > > > > Mengingat curah hujan yang relatif kecil, maka kemungkinan
besar
> > sistem
> > > > air
> > > > > tanah didaerah ini disuplai dari sungai oyo yang melintasi
daerah
>ini,
> > > > yang
> > > > > membentuk sungai sungai bawah tanah yang berpola sangat 
>komplek.dan
> > > > mengalir
> > > > > kerah samodra hindia mengingat kemiringan tpografi yang
mengarah 
>ke
> > > > selantan
> > > > > dg kemiringan 10 an derajat.
> > > > >
> > > > > Dari rencana akan dibangunnya PLTA bawah tanah yang akan
>menghasilkan
> > > > > listrik 440 KVA ( 220 KVA akan dipakai untuk mengopersikan
pompa),
> > > rasanya
> > > > > ini suatu proyek yang sangat besar dari segi investasinya, 
>bayangkan
> > > > > bagaimana bikin bendungan dibawah tanah dan bangunan lainnya
untuk
> > > > > menggerakan turbin. Kalau dilihat dari biayanya yang akan 
>diberikan
> > oleh
> > > > > Pemerintah Jerman ( saya tidak tahu yang dimaksud bantuan itu 
>apakah
> > ini
> > > > > dalam bentuk grant,softloan, atau kredit export ) sebesar
Rp.70 M 
>(
> > 7,7
> > > > Juta
> > > > > dollar dg 1 $ = 9000,- ) ini sangat besar sekali, karena untuk
> > investasi
> > > > > pembangkit listrik itu biasanya biayanya antara 1 - 2 juta 
>dollar/MW
>,
> > > > jadi
> > > > > kalau kapasitas yang dihasilkan "cuma" 440 KVA atau 0,44 MW 
>berarti
>I
> > MW
> > > > nya
> > > > > bisa 14 juta dollar.
> > > > > Jadi kalau secara ekonomi ( mungkin ada pertimbangan lain)
kalau
>cuma
> > > > untuk
> > > > > mendapatkan daya listrik untuk menaikan air / memompa yang
hanya 
>220
> > KVA
> > > > tsb
> > > > > , lebih praktis pakai disel saja.
> > > > > Mungkin ada yang tahu apa hubungannya PLTA ini dengan Nuklir
tsb,
> > kalau
> > > > > tidak salah ilmu nuklir ( radio aktif) ini dapat dipakai untuk

>untuk
> > > > > mengetahui aliran aliran bawah tanah arahnya kemana, mengathui
> > kebcoran
> > > > > kebocoran bendungan, aliran aliran fluida dalam suatu
reservoar  , 
>(
> > > > > prisipnya untuk membantu mengetahui arah aliran fluida)
disamping
> > untuk
> > > > > mengetahui umur batuan.atau ada yang lain mungkin.
> > > > > ISM
> > > > >
> > > > >
> > > > > ----- Original Message -----
> > > > > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
> > > > > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > > > > Sent: Tuesday, August 03, 2004 5:53 PM
> > > > > Subject: [iagi-net-l] Masih soal bawah tanah di Jogja ...
Pertama 
>di
> > > > Dunia,
> > > > > Bendungan di dalam Tanah
> > > > >
> > > > >
> > > > > > Pertama di Dunia,  Bendungan di dalam Tanah
> > > > > >
> > > > > > Dengarkan Menristek Hatta Kertarajasa dan Gubernur DIY Sri 
>Sultan
> > > > Hamengku
> > > > > > Buwono X mendengarkan Pimpinan Proyek "Pembangunan
Pembangkit
> > Listrik
> > > > > dengan
> > > > > > Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah 
>Bribin,
> > > > > > Gunungkidul" Prof Dr Ing Franz Nestnjann saat menjelaskan
> > pembangunan
> > > > > proyek
> > > > > > tersebut. (Foto : SM CyberNews/Sugiarto)
> > > > > > Gunung Kidul, CyberNews. Menristek Hatta Kartarajasa
mengatakan,
> > masih
> > > > > > banyak masyarakat kita yang belum tahu manfaat teknologi
nuklir.
> > > Selama
> > > > > ini
> > > > > > yang mereka tahu, bahwa kata nuklir disamakan dengan 'Bom'
yang
> > > meletus
> > > > di
> > > > > > Hirosima dan Nagasaki, Jepang.
> > > > > > Padahal apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara
damai,
> > justru
> > > > > dapat
> > > > > > mensejahterakan rakyat banyak. Seperti pembuatan dam di
bawah
>tanah
> > > pada
> > > > > > kedalaman 100 meter lebih di bawah tanah.
> > > > > >
> > > > > > ''Apabila teknologi nuklir ini dikembangkan secara damai,
justru
> > > sangat
> > > > > > bermanfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia,'' kata 
>Menristek
> > > Hatta
> > > > > > Kartarajasa pada peresmian pengeboran Proyek Pembangunan
>Pembangkit
> > > > > Listrik
> > > > > > Dengan Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah
Tanah
>di
> > > > > Bribin,
> > > > > > Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Senin (2/8).
> > > > > >
> > > > > > Lebih lanjut Menristek mengatakan, salah satu contoh 
>pengembangan
> > > > > teknologi
> > > > > > nuklir yang dilakukan secara damai adalah proyek pengeboran
dan
> > > > > pembangunan
> > > > > > dam di dalam sungai bawah tanah. Dengan demikian, apabila
>teknologi
> > > > nuklir
> > > > > > itu dilakukan secara damai dan benar bisa menjadi tumbuhan
hidup
> > umat
> > > > > > manusia.
> > > > > >
> > > > > > Apalagi, tambah Kartarajasa, air merupakan salah satu sumber
> > > > kelangsungan
> > > > > > hidup manusia yang harus kita lestarikan. Hal ini perlu
>disampaikan,
> > > > > karena
> > > > > > sumber air di dunia tidak lebih dari 3 persen. Untuk itu,
kita
> > > bersyukur
> > > > > > bisa mengembangkan sumber air yang ada di sungai dalam
tanah.
> > > > > >
> > > > > > Semua itu bisa terjadi, karena kemajuan teknologi dan sumber

>daya
> > > > manusia
> > > > > > yang mumpuni. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan
> > kelangsungan
> > > > > hidup
> > > > > > manusia akan datang menggantungkan pada teknologi. Proyek
yang
> > > > > dikembangkan
> > > > > > di Bribin ini, tambah Menristek, merupakan salah satu contoh
> > kemajuan
> > > > > > teknologi dengan memanfaatkan sumber alam.
> > > > > >
> > > > > > Sementara Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam
>kesempatan
> > > itu
> > > > > > mengatakan, proyek pengeboran dan pembangunan dam di bawah
tanah
> > serta
> > > > > > pembuatan listrik tenaga air ini sepenuhnya dibiaya
Pemerintah
> > Jerman
> > > > > > melalui Universtas Karlsruhe Jerman sebesar Rp 70 miliar.
Proyek
> > kali
> > > > > > pertama di dunia ini, dikerjakan langsung oleh para ahli
dari
>Jerman
> > > dan
> > > > > > Badan Tenaga Atom Nasional (Batan).
> > > > > >
> > > > > > Peresmian pengeboran tanah ke dalam dasar sungai bawah tanah
>dengan
> > > > > > disaksikan Menristek Hatta Kartarajasa, Gubernur DIY Sri
Sultan
> > > Hamengku
> > > > > > Buwono X dan pejabat DIY sudah berhasil mengebor sedalam 19 
>meter
> > > > dibawah
> > > > > > tanah. Pengeboran ke dinding sungai bawah tanah diperkirakan

>akan
> > > > mencapai
> > > > > > 104 meter dengan diameter 2,4 meter.  Untuk menyelesaikannya
> > > dibutuhkan
> > > > > > waktu sekitar 4 bulan
> > > > > >
> > > > > > Pembangunan tahap awal hanya khusus pengeboran tanah ke
dalam
>sungai
> > > > bawah
> > > > > > tanah. Sedangkan pembangunan tahap kedua, para ahli dari
Jerman
>dan
> > > > > > Indonesia segera membuat dam sekaligus membangun listrik
tenaga
>air
> > di
> > > > > > sungai bawah tanah. Nantinya air di sungai bawah tanah itu 
>disedot
> > ke
> > > > atas
> > > > > > lalu didistribusikan ke masyarakat melalui jaringan pipa.
> > > > > >
> > > > > > Dalam sungai bawah tanah itu, menurut Sultan, akan dibangun
> > bendungan
> > > > air
> > > > > > dengan tinggi 4 meter dan panjang 10 meter. Bendungan ini
> > diperkirakan
> > > > > mampu
> > > > > > menampung air sungai Bribin 400 ribu meter kubik. Sedangkan 
>turbin
> > > yang
> > > > > > digerakkan melalui aliran sungai Bribin mampu menghasilkan
440
>KVA.
> > > > > > Sementara untuk mengoperasikan pompa air hanya membutuhkan
220
>KVA,
> > > > > sehingga
> > > > > > kelebihanyya bisa dipergunakan penerangan jalan yang ada di 
>daerah
> > > > > tersebut.
> > > > > >
> > > > > > Sebelumnya untuk menaikkan air sungai bawah tanah Bribin
>menggunakan
> > > > mesin
> > > > > > diesel. Namun biaya yang dikeluarkan terlalu besar tidak 
>seimbang
> > > dengan
> > > > > air
> > > > > > yang dialirkan yang hanya sebesar 80 liter per detik.
Sedangkan
> > dengan
> > > > > > teknologi modern ini, debit minimum yang tersedia sebesar
2000
>liter
> > > per
> > > > > > detik pada musim kemarau. Sementara pada musim hujan debit
air
> > > mencapai
> > > > > 4000
> > > > > > liter per detik. Apabila proyek ini nanti berhasil, maka
akan
> > > > dikembangkan
> > > > > > ke daerah lain.( sugiarto/CN07 )

_________________________________________________________________
STOP MORE SPAM with the new MSN 8 and get 2 months FREE* 
http://join.msn.com/?page=features/junkmail


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan
Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke