Ketika pertama kali saya (dan beberapa rekan) mendengar isu ini, kami cukup kaget, seakan-akan tidak percaya ada segelintir orang yang dengan mudah hendak memutuskan membuang sampah, entah itu organik, plastik, kaleng, dan segala macam sampah lain, asal ke 'lubang'.
Padahal, sampah-sampah itu nanti akan terurai (terutama sampah basah), lalu sampah yang mengandung bahan logam bisa menyebar lewat pergerakan air tanah. Pemilihan TPA yang sembarangan seperti ini tentu saja seperti bom waktu, membawa masalah baik masalah kesehatan maupun sosial. Bayangkan jika bakteri coli menyebar kemana-mana, apa bukan masyarakat yang menanggung derita? Isu ini kemudian reda dan tampaknya usaha pengiriman sampah ke pulau Bangka urung dilakukan (entah jika dilakukan tanpa pengetahuan masyarakat sana).
Sampai dengan hari ini, saya belum 'ngeh' jika ada orang-orang geologi yang dilibatkan dalam pemilihan lokasi pembuangan sampah tipe timbunan ini, padahal peran mereka dibutuhkan misalnya untuk mencari lempung yang cukup tebal dan kedap air. Jika ibukota seperti Jakarta memiliki masalah TPA, apa tidak mungkin kota-kota besar lain di Indonesia juga demikian?
Minarwan
[EMAIL PROTECTED] wrote:
logika yang dipakai tepat, B' Gebang-Buyat
tapi apa keta'atan personil nya terhadap aturan sudah sama?
dalam pengolahan TPA tidak banyak membutuhkan pengolahan 'lanjut' (tidak seperti TPS yg pengolahannya relatif lebih 'lanjut')
dari segi materi pun TPA 'hanya' mengandung materiil organik (ga tau deh kalo ada orang buang radioaktif)
sedangkan Buyat, mengandung Raksa, dan sangat butuh penanganan yg serius
apa NMR sudah benar-benar memenuhi standart pengolahan logam berat 'tailing'?
saya dulu sempat di Kelian Equatorial Mining, dan di sana aturan kantor adalah:
kita dilarang Minum Air dari keran walaupun sudah di masak berapa kali pun.
kita HANYA boleh minum dari AQUA.
sementara di dekat KEM ada perkampungan, dan penduduknya sah-sah saja minum selain AQUA.
2 standart yg sudah berbeda: employee KEM minum aqua, penduduk silahkan minum apa aja (kalo mau aqua ya beli sendiri)..ini contoh real
saya ga tau apa BUYAT juga begitu, apa employee minum aqua sementara penduduk yg hanya berjarak kurang 10km dari pabrik 'bisa' minum air apa aja..
--------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

