Coba melakukan experiment di kamar mandi dengan gayung dan air di bak 
mandi.

Pergerakan air secara massif vertikal dari dasar laut hanya tejadi di atas 
episentrum, selebihnya adalah 
pergerakan horisontal permukaan.
Dengan demikian kerusakan di laut yang dalam (>30m) hanya terjadi di atas 
episentrum.
Cutt-off kedalaman laut yang mengalami kerusakan bisa dilihat dari tinggi 
gelombang maksimal di
daerah bencana. Jadi misalkan  tinggi maksimal 20 meter, maka kerusakan 
dasar laut adalah sampai kedalaman 20m.

Ini hanya logika saya saja. Mungkin yang ikut road show bisa share di 
sini.


Regards,

=============================
AMIR AL AMIN - DKS/OPG/WGO 
TOTAL E&P INDONESIE
BALIKPAPAN
(62-542)-534283 - (62)-811592277
=============================





Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]>
03/02/2005 09:17 AM
Please respond to iagi-net

 
        To:     [email protected]
        cc: 
        Subject:        Re: [iagi-net-l] Re: Paleo-Tsunami


Di tengah laut di sekitar titik episentrum, gelombang tak akan melebihi 
satu meter, karena kedalaman di situ katakanlah ratusan meter. Kapal2 
besar tak akan merasakan kalau ada tsunami. Mendekati pantai, amplitudo 
gelombang semakin meningkat karena kedalaman laut mendangkal dan di 
situlah tsunami mulai merusak apapun. Dalam kondisi begini, memang lebih 
baik tetap di tengah laut.
 
Cut-off depth kapan tsunami mulai merusak dasar laut tentu berbeda2 
bergantung kepada topografi dasar laut setempat dan kondisi oseanografik 
saat itu. Katakanlah di Pulau We 30 meter cut off depth itu. 
 
Barang siapa yang pernah seharian di sekitar Mercusuar Anyer itu tentu 
dapat melakukan rekonstruksi kejadian tsunami Krakatau saat itu. Mercusuar 
yang sekarang bisa dilihat besar di pinggir jalan Anyer-Carita itu 
(tepatnya di Anyer Kidul). Coba naik dulu sampai ke puncaknya dan 
layangkan pandangan ke sekeliling, menghadap ke laut, pandang ke kiri 
menuju utara-barat-selatan (tak perlu ke timur menuju Anyer). Saya 
mengunjunginya tahun 2001 karena suka saja dengan yang namanya mercusuar, 
apalagi Mercusuar Anyer Kidul...
 
Setelah mendapatkan pandangan regional, kita turun dan jalan2 di sekitar 
mercusuar itu. Di depan mercusuar, di dekat pantai, kadang tertutup kalau 
pasang naik, kita akan temukan runtuhan bangunan, lalu di sekitarnya 
fondasi. Apakah ini. Ini adalah runtuhan bagunan Mercusuar Anyer lama yang 
dibangun tahun 1860an, lalu runtuh dihantam tsunami Krakatau 1883. Lalu, 
dua tahun kemudian, 1885, dibangun lagi Mercusuar Anyer baru (baru, tapi 
sudah berumur 120 tahun sekarang), inilah yang bisa kita lihat sekarang. 
Kemudian, sebrangi jalan Anyer-Carita, tak jauh dari situ, akan ditemukan 
sebongkah besar terumbu karang (moderen) kira2 setinggi 5-6 meter : 
sebesar rumah tipe 45 barangkali. Di pantai pun bersebaran bongkah2 
terumbu karang yang sama yang berukuran lebih kecil. Nah rekonstruksinya : 
ini adalah kompleks fringing reef yang sebelum Krakatau meletus 1883 
mengelilingi pantai di sekitar Anyer, lalu terjadilah tsunami yang besar 
itu, yang memukul Anyer setinggi 30 meter, karang pen
 ghalang
 pantai (fringing reef) rupanya tak berdaya menahan gempuran itu, ia 
tercabut dari akarnya, terbawa gelombang, menghantam bagian bawah 
Mercusuar Anyer (lama), dan runtuhlah mercusuar itu, lalu karang ini 
didamparkan di tempatnya sekarang, tak jauh setelah menghantam mercusuar.
 
Patch reef yang tenggelam di tempat lebih dalam bisa saja aman dari amukan 
tsunami, tetapi fringing reef, belum tentu..
 
Salam,
awang

[EMAIL PROTECTED] wrote:
Di tayangan Expedisi Metro, ada yang melakukan penyelaman setelah (2 
minggu?) tsunami , di daerah
P Weh (kalo gak salah), pada kedalaman 0-30 kondisi dasar laut berantakan, 

bahkan sampah-sampah
peradaban manusia tersebar di dasar laut, tetapi di kedalaman >30m, 
terumbu karang dan ikan-ikan baik-baik saja.

Regards,

=============================
AMIR AL AMIN - DKS/OPG/WGO 
TOTAL E&P INDONESIE
BALIKPAPAN
(62-542)-534283 - (62)-811592277
=============================





"Noor Syarifuddin" 
03/02/2005 03:27 AM
Please respond to iagi-net


To: 
cc: 
Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Paleo-Tsunami


Pak Awang,
Beberapa hari setelah kejadian di Aceh, di Tv saya lihat ada kisah 'true
story' tentang beberapa orang yang sedang menyelam di lepas pantai 
Thailand.

Mereka sama sekali tidak sadar bahwa telah terjadi tsunami yang begitu
dasyat sampai mereka merapat ke pinggir pantai.
Pada saat menyelam mereka hanya mengamati bahwa air laut berubah menjadi
keruh, sehingga mereka berhenti menyelam dan naik ke permukaan (ini 
kayaknya
cocok dengan air laut yang berwarna gelap keruh pada saat tsunami). 
Kemudian
di permukaan mereka melihat banyak 'sampah' sehingga mereka ngomel orang 
kok
pada buang sampah sembarangan.....

Pada saat mendekati pantai mereka barulah sadar ada yang aneh, karena 
banyak
mayat yang terapung dilaut. Begitu melihat ke arah daratan, mereka begitu
shok karena bangunannya sudah pada rata dengan tanah......

Nah, dengan cerita ini (dan juga ada seruan bagi kapal-kapal supaya tetap 
di
lepas pantai saja karena lebih aman), apakah kira-kira sejalan dengan
"berpindah"nya reef di dekat mercusuar itu.....


salam,


> Gelombang tsunami tak ada hubungan dengan angin, tak ada hubungan dengan
gerak pasang surut. Ia berhubungan dengan gempa bawah laut, ia 
dibangkitkan
gempa. Perbedaan menyolok terjadi dengan windwave. Dari titik episentrum 
di
dasar laut sampai ke permukaan laut, semua materi air bergerak. Di seluruh
kolom air yang di atasnya ada tsunami semua bergerak. Jadi bisa 
dibayangkan
betapa merusaknya gelombang ini baik di pantai maupun di lautnya sendiri.
Banyak terumbu karang dengan mudah dicabut, dasar laut dikocok-kocok,
sedimen dibulak-balikkan dengan gerak turbulen upper dan lower regim-nya.
Walhasil : tak mengherankan kalau warna air laut gelombang tsunami keruh
kotor menghitam. Pantai rusak oleh tsunami, tapi dasar laut pun rusak oleh
tsunami di sepanjang perjalanannya.
>




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy 
Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau 
[EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------




 
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'

Kirim email ke