Cukup menarik berita ini. Kalau bener bahwa floresiensis ini sebenernya "masih hidup", maka pertempuran T Jacob masih berlanjut terus. Flores banyak menyimpan "pygmi" (kerdil). Mungkin kondisi alamnya yg unik sehingga meninggalkan "fosil hidup".
RDP =================== http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/28/humaniora/1714417.htm KEBERADAAN perkampungan masyarakat pygmi (katai) di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), amat menarik sekaligus menyisakan misteri. Dalam konteks temuan arkeologis berupa kerangka manusia prasejarah dari Liang Bua di Flores-sempat dipublikasikan secara luas sebagai spesies bernama Homo floresiensis- keberadaan masyarakat pygmi di Dusun Rampasasa, Kelurahan Waemulu, Kecamatan Waeriri, itu boleh jadi bisa mematahkan semua argumentasi terdahulu. "Keberadaan masyarakat pygmi di sana sangat menarik sekaligus mengejutkan. Selama bertahun-tahun, para ahli dari berbagai penjuru dunia hanya sempat melihat jejak-jejak mereka, ternyata sekarang kita bisa menemukan mereka hidup bermasyarakat. Artinya, selama ratusan atau bahkan mungkin ribuan tahun, masyarakat katai tersebut tetap menetap di tempat itu tanpa pernah berpindah-pindah," kata Prof Dr Teuku Jacob, guru besar emiritus Universitas Gadjah Mada (UGM). Jacob yang juga memimpin Laboratorium Bio dan Paleoantropologi UGM lebih lanjut menjelaskan, "Orang katai memang sempat dilaporkan pernah ada di Andaman dan Papua, tetapi tinggal beberapa orang dan sudah sulit ditemukan sebab sudah hidup berpencar. Nah, sekarang kita bisa menemukan mereka hidup bersama di satu desa." Sudah sejak tahun 1920-an, wilayah NTT menjadi obyek minat para antropolog, terutama dari Belanda, sesudah melihat kenyataan bahwa penduduk setempat mempunyai ukuran tinggi badan agak pendek. Hasil penelitian Biljmer tahun 1929 menunjukkan, lebih dari 50 persen penduduk di wilayah tersebut memiliki ukuran tinggi badan sekitar 155 sampai 163 cm. Selain itu, di Flores memang sudah sejak lama beredar cerita rakyat mengenai orang-orang bertubuh pendek dengan warna kulit kehitam-hitaman (negrito) yang tinggal di perbukitan, bersembunyi dalam gua-gua. Dr Theodore Verhoeven, pastor dari Seminari Ledalero Maumere, pada tahun 1958 bahkan memperkirakan orang-orang bertubuh pendek tersebut adalah masyarakat Proto-Negrito. Istilah ini merujuk penelitian Schebesta di Andaman, pelosok Borneo (Kalimantan), dan juga di Filipina Selatan. Menurut Teuku Jacob, kalau tinggi orang Negrito berkisar antara 155 sampai 163 cm, maka sebutannya pygmoid. Tetapi masyarakat di Rampasasa adalah pygmi, katai, karena tinggi badan mereka di bawah 145 cm untuk laki-laki dewasa dan wanita dewasanya malah hanya sekitar 135 cm. Berat badan pria maksimum 40 kg dan wanitanya rata- rata 30 kg. Katai memang beda dengan kerdil. Sebab, istilah kerdil menunjukkan ukuran tubuh mengecil dengan proporsi rusak atau tidak beraturan. Sementara katai ukurannya kecil secara proporsional. AKHIR tahun lalu, tim bersama pimpinan Prof Dr RP Soejono dan Dr MJ Morwood yang melakukan penggalian di Liang Bua, Flores, menemukan tengkorak manusia dengan taksiran tinggi badan 130 cm dan besar otak sepertiga manusia masa kini. Penemuan tersebut kemudian mereka nyatakan sebagai spesies baru manusia yang disebut Homo floresiensis (Manusia Flores). Worwood, ahli lukisan gua dari Australia, bahkan menegaskan bahwa hasil temuannya tersebut secara populer dia sebut hobbit; kelompok manusia katai seperti muncul dalam film Lord of The Rings. Gambaran mengenai Manusia Flores mini tersebut kemudian juga muncul sebagai laporan utama dalam majalah National Geographic edisi bulan April 2005. Klaim mengenai penemuan spesies baru manusia seperti di atas ditolak oleh sejumlah ahli. Etty Indriati PhD dari UGM menyebutnya sebagai dongengan tanpa dasar. Bagaimana bisa ada pernyataan spesies baru hanya dari temuan sebuah tengkorak yang bahkan keliru diidentifikasi. Mereka sebut perempuan sedang dari susunan geraham dan giginya jelas itu lelaki dan juga manusia masa kini. "Yang lebih tidak masuk akal, tidak mungkin otak manusia yang sudah berkembang menjadi Homo sapiens, kemudian berubah mengecil dan lantas muncul menjadi spesies baru, tertinggal sebagai kelompok manusia purba," jelasnya. Memang, untuk mamalia yang terjebak di pulau terpencil selama ratusan tahun-dan bahan makanannya kurang-tubuhnya akan mengecil menyesuaikan diri dengan lingkungan. "Tetapi, untuk manusia, menu mereka tidak hanya satu jenis makanan. Meski terpencil, mereka akan berusaha mencari atau menemukan jenis makanan lain, bukan mengecilkan tubuh," tambahnya. Teuku Jacob bahkan menegaskan, "Orang katai di Flores bukan manusia purba. Tim kami malah berhasil menemukan masyarakat katai hidup di alam modern." Semakin ironis, perkampungan orang pygmi yang disebutkan Jacob hanya sekitar satu kilometer jauhnya dari Liang Bua, tempat hunian dari spesies manusia yang diberi nama Homo floresiensis oleh Worwood. Koeshardjono, ahli biologi yang pertama kali mengungkapkan adanya perkampungan masyarakat katai di Flores, menyatakan, "Ekspedisi ini diberi nama Ekspedisi Somatologi Pygmi Rampasasa. Karena, masyarakat katai tersebut-jumlahnya sekitar 77 keluarga-tinggal semuanya di Dusun Rampasasa, Kelurahan Waemulu, Kecamatan Waerii, Kabupaten Manggarai, Flores Selatan." Hasil penelitian tim antropologi ragawi pimpinan Teuku Jacob mencatat, 80 persen warga Rampasasa tergolong katai. Catatan sementara menunjukkan, terdapat 10 orang dengan tinggi badan 155 cm dan dua orang dengan tinggi 160 cm. Ternyata, ukuran tubuhnya relatif bisa lebih tinggi oleh karena kawin dengan warga luar dusun. Tim peneliti dari UGM berada di Rampasasa sejak 18 April dan kembali ke Yogya Minggu (25/4) malam. (jup) -- Education can't stop natural disasters from occurring, but it can help people prepare for the possibilities ---

