Mas Maryanto, wah tebakannya tepat, ya sekitar 20 cm itu kalau ditumpuk empat 
buku. Tentu saja hasil mesin cetak, kan mesin cetak sudah ditemukan hampir 300 
tahun sebelum zaman Junghuhn. Penerbitnya di Amsterdam. Hampir semua buku 
tentang Indonesia pada zaman2 itu bahkan sampai saat van Bemmelen mengeluarkan 
bukunya tahun 1949 semuanya diterbitkan dan dicetak di Belanda. Buku "Max 
Havelaar" pun demikian (yang pernah pemetaan geologi di daerah Lebak, 
Rangkasbitung) tentu akan mendapatkan manfaat kalau membaca buku ini (H.B. 
Jassin menerjemahkannya dengan apik).
 
Kebetulan bahasa Belanda adalah bahasa asing pertama yang saya pelajari sejak 
masih anak2 dan bahasa ini pula yang membuat saya untuk pertama kalinya naik 
pesawat terbang dengan gratis (ke Jayapura) he..he... Saat mahasiswa saya 
pernah dikontrak sebuah perusahaan mineral dari Australia untuk dua minggu di 
Jayapura memilih dan menerjemahkan laporan-laporan Belanda tentang deposit 
mineral di Papua. 
 
Koleksi laporan-laporan geologi tentang Papua dan Halmahera di Kanwil 
Pertambangan Jayapura ternyata lebih lengkap daripada laporan2 yang sama di 
perpustakaan P3G Bandung. Baru kali itu pula saya membaca tulisan2 tangan dari 
veld boek/dag boek (buku lapangan/buku harian) geologist2 Belanda yang sekarang 
namanya abadi dalam perkembangan pengetahuan geologi Indonesia(Molengraaf, 
Duyfjes, dll yang namanya biasa kita temukan di referensi lembar2 peta 
geologi). 
 
Jayapura saat itu (Juni, 1988) sudah jadi kota mahal, harga selembar fotokopi 
sudah Rp 75 (saat di Bandung masih Rp 15).. Koran lokal Cenderawasih hanya 
terbit seminggu sekali. Koran dan tabloid dari Jakarta tertinggal 5-7 hari. 
Jenuh menerjemahkan, saya main ke pantai Jayapura dengan bekas2 meriam karatan 
tentara sekutu komando Douglas Mc Arthur tersebar di beberapa tempat. Atau, 
main ke bukit nikel lateritik Peg Cycloops yang tinggi, kering, tapi anginnya 
besar. Bukit Cycloops menghadap Lautan Pasifik dan ofiolit yang kemudian jadi 
nikel lateritik ini sesungguhnya berasal dari samudera itu. 
 
Untuk Abah dan Mas Iskandar, terima kasih atas apresiasinya. Saya hanya berbagi 
cerita, semoga ada gunanya. Membagi cerita itu memang banyak medianya : jurnal, 
paper di seminar, milis, atau sekedar ngobrol2 di kantor dan kantin.
 
Untuk Pak Koesoema terima kasih atas infonya. Mungkin karena Junghuhn besar di 
Jerman, dia terpengaruh pandangan2 Abraham Werner, geologist Jerman pencetus 
mazhab neptunisme; tetapi Junghuhn sebenarnya tak menekuni geologi sebelum ke 
Indonesia, dia tertarik dengan kedokteran dan botani. Tetapi, karena Junghuhn 
tak dididik atau mendidik dirinya secara khusus dalam geologi, tulisan di 
bukunya itu tak terlalu mendalam geologinya, kalau aspek geomorfologi lumayan 
detail.
 
Sebagai refreshing, akhir 1700-an sampai pertengahan 1800-an serulah dua scholl 
of thoughts geologi antara pengikut James Hutton (1726-1797) dan Abraham Werner 
(1750-1817), bisa dibilang antara mazhab Inggris dan mazhab Jerman. Hutton 
mencetuskan uniformitarianisme dan vulkanisme. Uniformitarianisme-nya dilawan 
katastrofisme Georges Leopold Chretien Frederic Dagobert Cuvier (kita 
menyingkat nama panjang ini Georges Cuvier saja). Vulkanisme-nya dilawan 
neptunisme Werner. 
 
Vulkanisme bilang semua batuan berasal dari magma, terdapat perbedaan antara 
batuan beku dan batuan sedimen, juga bahwa internal heat Bumi adalah sumber 
energi utama untuk semua proses geologi. Neptunisme bilang bahwa semua batuan 
adalah asalnya batuan sedimen yang dibentuk di primordial worldwide ocean. 
Werner juga bilang bahwa gunungapi itu berasal dari pembakaran lapisan batubara 
di bawah tanah (hanya pernyataan ini bertentangan kemudian dengan skema 
stratigrafi yang dibuatnya : urgebirge, ubergangsgebirge, flotzgebirge, 
aufgeschwemmtgebirge - berturut2 : crystalline original mountains, quartzite or 
limestone mountains, sedimentary mountains, alluvial mountains).
 
Mazhab Hutton mendapatkan sokongan yang kuat oleh Charless Lyell, sesama orang 
Skotlandia. Dialah pemopuler teori2 Hutton, buku komprehensifnya 3 volume "The 
Principle of Geology" (terbit 1830-1833) sangat berpengaruh dan buku inilah 
yang dibawa2 Charles Darwin saat berkelana dengan kapal HMS Beagle ke belahan 
selatan Bumi. 
 
Sebagian besar pandangan James Hutton dan Charles Lyell masih kita pakai sampai 
sekarang. Buktinya, kita tak memakai skema stratigrafi Werner, tetapi 
menggunakan skema stratigrafi Hutton-Lyell. Terminologi Eosen, Miosen, Pliosen, 
Pleistosen berasal dari Charles Lyell. Meskipun demikian, katastrofisme Cuvier 
pun terbukti benar. Tak semua yang dikatakan Hutton benar, misalnya saat dia 
berujar tahun 1785 "there is no vestige of a beginning, no prospect of an end"  
Dunia, ternyata punya awal..
 
salam,
awang

"Maryanto (Maryant)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Wah setabal apa bukunya Junghuhn di P3G itu Pak Awang? 20 cm 4 buku itu?
Tulisan tangan atau sudah hasil mesin ketik/cetak? Baru saya tahu kalau
Junghuhn juga geologist.

Apa saja di baca oleh Pak Awang ini. Bahasa Belanda-pun amat faham, dari
pernah sebut 2000'an buku di rumah beliau. Sayang saya belum boleh
melihatnya di Bogor itu. 

Memang, bagi tukang loak, banyak buku nilainya hanya beberapa ribu.
Tapi, bagi yang berilmu, sering harga menjadi berlipat. Contoh nilai
tinggi ilmu tentang info harga transportasi laut Indonesia bisa seharga
orang menemukan ladang Minyak. Logikanya: bila tak ada transpotasi laut
Indonesia, maka transpotasi minyak dari TimTeng ke Jepang, lebih jauh,
dan harga minyak menjadi 2 kali lipat ke konsumen!. 

Bagi yang tak tahu nilai tingginya, fosil kepala Trinil ya untuk mainan
sepak-bola saja waktu itu. Padahal, Dobois, jauh-jauh dari Eropa,
melihat kemungkinan fosil ada disitu. Juga Walace, melihat keberagaman
ya di Indonesia. Geologist dunia, belum mantab kalau belum melihat
ke-kompleks-an geologi Indonesia. Kaya ya Indonesia.

Junghuhn disebut mulai memetakakan geologi Indonesia, th 1839. Wah,
masih jauh dari "malaise" kejatuhan ekonomi 1860, waktu mesin pertama
dengan bahan bakar ditemukan, lalu Otto (Jerman) membuat paten 1880'an.
Minyak lalu baru di cari, Drake ngebor pertama, 1885. Mobil Ford baru
mulai di produksi 1895, harga minyak masih rendah, 3 USD/barel. Tentu
hasil pemetaan itu untuk dasar pencarian minyak dan temukan ladang
Cepu/Wonokromo itu, untuk juga explorasi hingga Sumatra
Utara-Tengah-Selatan di akhir abad 19 ini. 

Sebenarnya saya tertaik dengan buku "Rob Nieuwenhuys "Oost Indische
Spiegel" (1972), kalau bisa bahasanya. Kayaknya di loak Kwitang itu ada
buku bahasa aslinya tulisan Einstein, tapi ya tidak ku beli wong gak
ngerti bahasanya.

Salam,
Maryanto.


                
---------------------------------
Yahoo! Mail
 Stay connected, organized, and protected. Take the tour

Kirim email ke