Junghuhn itu naik puncak gunung api dengan membawa rombongan kuli ratusan orang, dan beliau digotong naik tandu. Beliau juga membawa tukang gambar, yang menghasilkan gambar2 woodprint yang mengilustrasikan bukunya yang sangat bagus. Dalam salah satu gambar ini diperlihatkan orang2 pribumi yang sedang nyembah2 Junghuhn sewaktu berada dipuncak gunung api, diantaranya terlihat jurugambar yang sedang mensketsa situasi, ada yang sedang meneropong (teodolit) dsb.
Namun tetap apa yang dilakukan Junghuhn itu menakjubkan, mengingat di Jawa itu belum ada jalan2 raya seperti sekarang, sehingga untuk mencapai puncak gunung api itu memerlukan benar2 suatu expedisi yang menyangkut ratusan orang.
RPK
----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, May 10, 2005 9:20 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Junghuhn : Bukan Hanya Karena Kina
Menarik uraian Ferry, Kenapa orang melupakannya ?
Ya mungkin saja karena Junghuhn termasuk "wong londo", dimana dalam benak hampir kita semua di adalah bagian dari penjajahan, yg dibenci oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Sulitnya buat kita yg konsen dengan ilmu atau sains yg tidak mengenal kata baik-buruk, tidak mengenal bangsa, tidak mengenal negara. Sains hanya bicara apa adanya seadanya dan tidak mengada-ada. Tentunya menjadikan heran karena seseorang saintist yg datang karena minat ilmiahnya menjadi rancu karena status kedatangannya sebagai "tentara".
Kita bisa kagum sekaligus "gemes" karena kita berada diatas dua kaki ilmiah yg ingin tahu banyak tentang alam lingkungan sekitarnya, dan satu lagi kaki yg berada diatas kebangsaan yg bangga dengan jiwa patriotiknya dalam mengusir penjajah. Ilmiah memang tidak mengenal bangsa, tidak mengenal agama, seolah tidak mengenal tata nilai manusia, tetapi ilmiah yg ndompleng penjajahan menjadikan sesuatu yg cerah menjadi kabur.
Apakah saya, anda, ataupun dia mau melakukan kerjaan atas dasar minat ilmiah dengan mengabaikan sifat manusiawinya atau tidak ... its up to you. apapun yg anda putuskan yg fenomenal tetep saja fenomenal.
Salam, RDP "knowledge, filling an empty mind with the open one"
On 5/10/05, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Nama besar Junghuhn juga dikenal di kalangan avonturir dan pendaki gunung,
sebagai orang pertama yang mendaki & mengidentifikasi keberadaan 30 gunung
di Jawa yang ber-elevasi di atas 2000 mdpl di Pulau Jawa. Sekilas kata2
Junghuhn yang menjadi sumber inspirasi banyak pendaki gunung:
" Masih jelas dalam ingatanku kesan pemandangan hutan-hutan Pulau Jawa yang
tak putusnya diselubungi kehijau-hijauan alami yang memesona. Juga pada
beribu-ribu bunga di dalamnya yang senantiasa menyebarkan wewangian dan
aroma asli nan penuh nikmat, Jelas juga dalam ingatanku berisiknya
daun-daun yang diembus angin laut yang lembut, meniup sela-sela pepohonan
pisang sampai ke pucuk-pucuk pepohonan kelapa. Jauh di dalam hutan
terdengar tak henti-hentinya suara gemuruh jatuhnya air terjun dari lereng
gunung yang terjal ke sungai yang berbatu-batu.
Mengalami semua ini, aku sungguh-sungguh merasa seolah-olah kami sudah lama
berkenalan, dan aku tak dapat berbuat lain selain menundukkan kepala dan
berdoa, berterima kasih kepada Sang Pencipta.
Kini timbul dalam hati sanubariku perasaan rindu dan hasrat kuat untuk
kembali ke tempat itu, dan memuja: Hai gunung-gunung dan hutan-hutan, salam
cinta dan terima kasih, sampai jumpa lagi !" (FW Junghuhn)
Sayangnya, dibandingkan nama besar dan jasanya, tak demikian penghargaan
masyarakat kepadanya. Terakhir kali saya bersepeda ke Taman Junghuhn di
Jayagiri, Lembang tahun lalu kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan
tidak terawat. Tugu dan nisannya sudah berlumut dan kotor. Menurut sang
kuncen, dana perawatan Taman dan makam beliau sudah lama terhenti bersamaan
dengan ditutupnya Goethe Institute, Bandung. Sedihnya lagi, banyak orang
yang mengunjungi makamnya, tetapi bukan untuk mengenang jasa2nya, tetapi
karena menganggapnya keramat dan untuk mencari pesugihan...hiks...hiks.
salam
Ferry
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

