Yang harus disadari adalah juga bahwa banyak Ph.D yang dikirim pemerintah ke luar negeri, waktu kembali langsung masuk ke jajaran administration/managment, sehingga akhirnya ilmunya hilang, karena jabatan struktural lebih menggiurkan daripada jabatan fungsional bahkan sering nganggur, karena memang fasilitas dan dana tidak ada.
Saya kagum lihat banyak orang India/Pakistan, Irak, Lebanon yang menjadi expert di Amerika Serikat, bahkan kampus2 pun penuh dengan professor dari negara-negara tersebut, dari Indonesia nyaris tidak ada.
Tetapi banyak juga "expatriate" dari Indonesia yang bekerja di Amerika Serikat, Brasil, Argentina, Timur Tengah dan Rusia yang benar2 jadi expert dalam bidangnya, dan orang2 penting di perusahaannya. Ini sangat membanggakan, dari pada berkutik jadi juara kandang saja. Kita seharusnya mendidik untuk export.
Untuk pengembangan masa depan keadaan alamiah ini harus betul2 difahami pemerintah, saya kira lambat laun pemerintah tidak boleh lagi melakukan diskriminasi gajih dan fasilitas yang menyolok terhadap expatriate dan pribumi, tetapi harus didasarkan atas expertise. Dengan atau brain-drain ini hal tersebut akan terjadi secara alamiah, tanpa harus ada aturan atau SK
----- Original Message ----- From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, May 11, 2005 5:05 PM
Subject: [iagi-net-l] Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset?



Artikel menarik tentang braindrain. Salah satunya adalah merubah
paradigma serta bagaimana mengambilnya kembali investasi yg nyaris
hilang

RDP
=======================================
http://www.beritaiptek.com/messages/artikel/974072005em.shtml
Brain Drain : Dari Cibiran Menjadi Aset?

Berita IPTEK Kamis, 07 April 2005, 09:42:24 Wib
Oleh Is Helianti

Setiap tahun di bulan Maret, bertambahlah Doktor lulusan Jepang asal
Indonesia. Ini dikarenakan kalender akademik Jepang diawali di bulan
April, dan diakhiri di bulan Maret. Mahasiswa Indonesia menempati
posisi yang cukup besar di Jepang setelah China dan Korea. Hampir
selalu terjadi pergulatan batin dan diskusi yang panjang bagi para
doktor baru asal Indonesia. Bertahan di Jepang kah? Atau langsung
pulang ke tanah air? Kira-kira demikian yang terjadi jika selesai
program doktoral, mereka ditawari kesempatan yang lebih luas,
Postdoktoral atau bekerja di perusahaan.

Sebenarnya, jawaban bagi sebagian mereka tidaklah rumit. Jika ada
kesempatan untuk belajar lebih banyak, mengapa tidak? Tetapi, tidak
demikian bagi banyak kalangan yang melihatnya dari kaca mata investasi
dan balas jasa kepada negara. Bekerjanya para doktor di LN ini
otomatis menjadi "brain drain" yang merugikan negara. Kebanyakan
mereka disekolahkan dengan uang negara (yang berasal dari pajak
rakyat), lalu mengapa tidak mau pulang secepatnya dan berbakti pada
rakyat?

Brain drain; fenomena lebih senangnya para intelektual berkiprah di
negara-negara maju adalah fenomena klasik. Betapa banyak dosen dan
peneliti yang capai-capai disekolahkan pemerintah, lebih asik bekerja
di negara tetangga atau negara tempat mereka pernah bersekolah. Bahwa,
lebih senangnya kaum cerdas ini di LN adalah masalah pendapatan dan
penghargaan yang tak sebanding dengan yang mereka terima jika mereka
di LN.

Dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan beberapa fakta ilmiah yang
telah dikaji sehingga dapat memberi suatu pandangan lain, tentang
brain drain. Bahwa, brain drain bisa jadi merupakan suatu asset.

Sejarah Brain Drain

Fenomena brain drain dimulai ketika banyaknya SDM-SDM trampil dari
Eropa seperti Inggris, Jerman, juga Kanada memasuki Amerika dan
menjadikan Amerika sebagai dream land pasca perang dunia II. Seiring
dengan melajunya kedigdayaan Amerika, maka immigrant yang memasuki
Amerika di tahun 1980-an adalah para SDM trampil dan ahli dari Asia
seperti China, Taiwan, India, dan Korea Selatan. Tahun 1990-an, ketika
Habibie memulai mengirimkan para remaja potensial lulusan SMA ke LN,
"brain drainer" dari Indonesia pun melonjak. Tahun 1990-an US
mengalami masa keemasan ekonomi. Gaji tinggi dan berbagai insentif
seperti Green Card ditawarkan bagi SDM-SDM immigrant yang ahli dan
berprestasi yang dapat berkontribusi besar bagi kemajuan negeri Paman
Sam ini. Tentu ini juga berlaku bagi para mahasiswa Indonesia di sana.
Ketika krisis multidimensional mulai meledak di tahun 1998-an, banyak
mahasiswa yang sudah lulus sekolah lebih bertahan memilih di LN,
daripada kembali ke Indonesia yang belum jelas menjanjikan apapun
untuk masa depan mereka.

Sebenarnya, bukan hanya Indonesia saja yang menderita brain drain.
Fenomena banyaknya orang pandai yang lebih senang di negara maju
ketimbang di negaranya sendiri (yang termasuk negara berkembang)
bukanlah fenomena yang aneh. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), secara
khusus bahkan melakukan kajian tentang efek brain drain terhadap
negara berkembang. Dalam konferensi PBB untuk perdagangan dan
pembangunan tahun 1996 disebutkan , paling tidak benua Afrika
kehilangan 60 000 orang tenaga trampilnya antara tahun 1985-1990. Jika
dikonversikan ke dalam nilai mata uang adalah sekitar sebesar $ 184
000 setiap orang. Atau dalam kurun lima tahun itu Benua Afrika
menderita kerugian hampir 12 milyar USD.

Di tahun 1980-an, Amerika sebagai negara penerima brain drain terbesar
diuntungkan sekitar 20 000 dolar per tahun untuk satu orang tenaga
trampil hasil brain drainnya.

Tetapi, pandangan bahwa brain drain melulu sesuatu yang merugikan dan
menggerogoti negara berkembang, akhir-akhir ini banyak dibantah oleh
para ahli. Antara lain Prof Dr Saxenian dalam banyak makalahnya,
megatakan bahwa pada dasarnya brain drain tidak lah abadi. Tetapi, dia
hanya suatu siklus saja di dalam fenomena globalisasi yang dinamakan
brain circulation. Semua brain drain berpotensi besar menjadi reverse
brain drain yang memberi keuntungan pada negara pengirim. Contohnya
adalah kasus India dan Taiwan.

Reverse Brain Drain, Belajar dari Taiwan dan India

Taiwan menjadi contoh istimewa dari parahnya mereka mengalami brain
drain, sekaligus betapa suksesnya mereka menggaet para brain
drainernya untuk kembali atau berkontribusi positif terhadap
negaranya. Tahun 1970-an, posisi Taiwan adalah layaknya Indonesia saat
ini. Saat itu, Taiwan adalah tipikal negara berkembang yang hanya bisa
menyuplai banyak tenaga kerja murah bagi negara maju. Hubungan dengan
negara-negara maju dalam ekonomi maupun Iptek selayaknya Indonesia
sekarang. Bukan berdiri sama tinggi ataupun duduk sama rendah.
Sementara itu, banyak dari kalangan cerdas atau intelektual Taiwan
bersekolah lalu bekerja di Negara maju, seperti Amerika Serikat.

Tahun 1980-an, Pemerintah Taiwan mengubah arah kebijakan yang membuat
iklim ekonomi dan pengembangan Iptek Taiwan lebih kondusif. Mulailah
Pemerintah Taiwan mendekati para brain drainer yang berdiam di LN dan
sudah banyak mempunyai modal. Mereka di harapkan dapat berkontribusi
modal untuk pembangunan negaranya. Pendekatan simpatik dari pemerintah
bersambut. Para warga negara Taiwan yang tingal di LN berbondong
berbalik ke Taiwan dan menjadi reversed brain drain. Para SDM unggul
ini, tidak hanya menyumbangkan modalnya, bahkan pikiran dan karyanya
pada negaranya.

Contohnya, Miin Wu, "braindrainer" yang lulus PhD dari Stanford tahun
1976. Lalu dia bekerja sebagai profesional di Silicon Valley dan
kembali ke Taiwan 1989. Setelah kembali ke Taiwan, Wu mendirikan
perusahaan Macronix Co. Perusahaan ini kini menjadi salah satu
perusahaan semikonduktor terbesar di Taiwan dengan omset $ 300
juta/tahun dan menyerap 2 800 tenaga kerja.

Dengan iklim yang sehat dan kondusif ini, sekarang Taiwan tidaklah
menjadi negara yang takut kehilangan orang-orang pintarnya.
Sebagaimana dilaporkan dalam Financial Development tahun 1999, hanya
kurang dari 10% warga negara Taiwan yang lulus PhD di tahun 1990 yang
tetap tinggal di US sampai tahun 1996. Atau, hampir sebagian besar
mereka kembali ke negaranya. Sejak tahun 1990 ini, Taiwan diakui
sebagai negara yang leading dalam bidang ekonomi dan teknologi
informasinya. Semua berkat reversed brain drain!

Langkah Taiwan, nampaknya sedang diikuti oleh India saat ini. India
juga merupakan negara yang sangat menderita karena brain drain.
Menurut data, di tahun 1996 kurang dari 25 % warga negara India yang
kembali ke negaranya setelah selesai PhD di Amerika tahun 1990-1991.
Berarti pada tahun tersebut, sebagian besar orang-orang terpilih ini
memilih tetap tinggal di AS.

Prestasi penduduk Amerika asal India di dream land tersebut memang
tidak main-main. Tahun 1970-1990-an SDM India dengan kualitas tinggi
brain drain ke USA. Di tahun 1998 profesional asal India menguasai 775
perusahaan teknologi di Silicon Valley dengan omset $3.6 milyar dan
penyediaan 16 600 lapangan kerja!

Akan tetapi, ternyata trend brain drain ini mulai berubah sejak akhir
tahun 1999. Sejak awal tahun 2000 sampai kini diperkirakan, terjadi
reversed brain drain besar-besaran ke India. Sekitar 35 000 warga
negara India kembali ke negaranya, baik untuk tinggal permanent
ataupun sementara.

Kembalinya WN India ke negaranya, sebenarnya tak lepas dari kondisi
perekonomian di US sendiri, yang sejak tahun 1999 tidak sekondusif
sebelumnya. Kondisi resesi di US, menyebabkan banyak perusahaan yang
menutup perusahaanya dan mem-PHK para tenaga ahlinya. Kesempatan
bekerja dan iming-iming insentif bagi para orang cerdas ini tidaklah
segemerlap sebelumnya. Amerikapun mulai menerapkan kebijakan
outsourcing, khususnya dalam bidang teknologi informasi seperti
penyediaan software. Mereka memesan ke negara-negara seperti Taiwan
dan India yang dipandang punya kemampuan karena lebih murah secara
biaya. Para WN India yang telah mengenyam pendidikan dan pengalaman
berprofesi dan berbisnis menangkap peluang ini. Maka, mereka berlomba
pulang ke negaranya, dan menjadi jembatan penghubung antara para
tenaga trampil yang menetap di India dan jaringan pasar di LN dengan
menjadi pengusaha ataupun konsultan di negaranya.

Misalnya kisah Nagarajan, seorang "braindrainer" alumni Silicon Valley
yang kembali ke India. Tahun 2000 dia mendirikan perusahaan teknologi
informasi dengan cuma 20 pekerja. Pada tahun 2004 perusahaannya
mempunya 3 600 pekerja dengan laba $ 30 juta. Maka tak heran, jika
pemerintah India dengan optimis meramalkan bahwa lewat kehadiran
industri teknologi informasi ini India secara keseluruhan akan
mendapat laba $ 87 milyar dengan omset pasar $ 225 milyar dan akan
mampu menyediakan 2,2 juta lowongan pekerjaan di tahun 2008. Beberapa
intelektual India dengan bangganya menunjukkan beberapa WN Inggris
yang saat ini brain drain ke perusahaan India, karena perusahaan
tersebut mampu membayar ahli dari Inggris tersebut lebih daripada
Inggris sendiri!

Bagaimana dengan Indonesia?

Warga negara Indonesia yang mendapat kesempatan bersekolah di LN
dengan beasiswa atau berkiprah di sana pada dasarnya adalah SDM
terpilih sehingga merupakan asset bangsa. Keunggulan merekalah yang
menyebabkan mereka juga mendapat peluang untuk lebih lama di LN dengan
tawaran penelitian lanjutan atau bekerja di perusahaan di sana. Jadi
potensi yang ada ini, rasanya sangat sayang jika diabaikan, hanya
karena mereka "disertir", "pembelot", dan sebagainya. Seharusnyalah
pemerintah memanfaatkan asset bangsa yang terserak di negeri orang
ini, seperti yang telah dilakukan India dan Taiwan. Karena mereka
potensial memberi keuntungan sebagai ��eversed brain drain��dan
menjadi jembatan penghubung dengan jaringan internasional. Pendekatan
yang bijak tentu harus dilakukan.

Pada dasarnya, mereka yang memilih untuk tetap tinggal di LN, bekerja
dan berkiprah di sana tak perlu dipertanyakan rasa nasionalismenya.
Indonesia, sebagai tanah air dan kecintaan tentulah tak semudah itu
dilupakan. Banyak yang tetap tinggal di LN merasakan kehadirannya di
luar negeri, lebih dapat berkontribusi ke tanah air, tinimbang mereka
berada di Indonesia. Mereka giat melakukan kegiatan pengumpulan
beasiswa untuk anak-anak tak mampu. Bagi mereka yang telah bekerja di
univeristas sebagai peneliti ataupun pengajar maka jaringan
internasional dibidang penelitian dan Iptek tentu menjadi lebih
terbuka. Kesempatan beasiswa atau lowongan program doctoral misalnya,
menjadi lebih mudah diakses lewat keberadaan mereka.

Pengalaman bekerja secara professional tentunya jauh lebih baik
ketimbang "cuma" pengalaman belajar formal yang mereka bawa jika
mereka pulang ke tanah air. Setidaknya mereka punya kemampuan know how
secara manajerial dan institusional yang lebih praktis dan dalam. Jika
mereka mapan dengan posisi mereka di LN, maka para peneliti,
professional, atau pebisnis yang mapan ini tentulah dapat menjadi link
antara komunitas yang sama atau produser lokal di tanah air dengan
masyarakat internasional.

Beberapa saran bagi pemerintah yang mungkin bisa dilakukan dalam
mengatasi fenomena brain drain ini. Bagi mereka yang PNS, diberi
kebebasan untuk memilih.Tetap bekerja di LN tanpa batas waktu tetapi
harus mengundurkan diri dengan hormat. Uang pengembalian beasiswa atau
denda proses PTUN dikelola untuk kepentingan masyarakat secara
transparan dan akuntabel. Atau, diberikan jangka waktu terbatas untuk
berada di LN. Bisa juga mereka dibebaskan PTUN dengan syarat wajib
secara hukum kembali ke Indonesia suatu saat kelak, dan wajib menjadi
penghubung pengembangan ekonomi, industri, dan iptek.

Selain itu, harus diciptakan kondisi yang kondusif, sehingga para
lulusan luar negeri ini dapat berkiprah optimal dan sepenuh hati di
tanah air. Negara tetangga kita, Malaysia misalnya, tidak takut
kehilangan para orang unggulnya yang sekolah di tanah orang. Dengan
sendirinya, tanpa dipaksa, rata-rata mereka kembali ke Malaysia untuk
membaktikan dirinya pada masyarakat tanah airnya. Ini dikarenakan,
Malaysia menciptakan iklim yang nyaman bagi para tenaga trampil dan
ahli, baik di penelitian, perguruan tinggi maupun bidang professional
lainnya. Mereka mendapat penghargaan yang layak sesuai pendidikan,
keahlian, dan prestasi kerja mereka.

Pemerintah Thailand sampai membuat program khusus untuk menarik para
tenaga ahlinya di LN untuk balik ke Thailand lewat proyek "Reverse
Brain Drain". Proyek ini dilakukan oleh National Scientific and
Tecnology Agency of Thailand. Mereka membuka pendaftaran untuk para
tenaga trampil/ahli di LN untuk mengisi lowongan pekerjaan bergengsi
di Thailand dengan imbalan yang dua kali lipat daripada tenaga kerja
domestik. Walaupun, banyak memperoleh kritikan, khususnya dari para
alumni dalam negeri, karena masalah diskriminatif gaji. Akan tetapi,
semangat gebrakan kebijakannya mungkin patut dicontoh.

Yang terakhir, namun tak kalah penting, adalah kiprah para intelektual
kita di dalam negeri sendiri. Para brain drain India yang menjadi
reversed brain drain sangat tergugah dan terinspirasi oleh
rekan-rekannya yang memilih hidup dan bekerja keras di tanah air.
Mereka merasa harus bisa berkontribusi yang sepadan dengan para rekan
di tanah air bagi kemajuan bangsa, walaupun mereka di LN sekalipun.
Inilah sumber kekuatan mereka untuk membangun Iptek, khususnya
industri teknologi informasi India saat ini.

Dr. Is Helianti, MSc Peneliti pada Pusat Pengkajian dan Penerapan
Teknologi Bioindustri, BPPT. Alumni Universitas Jepang




-- Education can't stop natural disasters from occurring, but it can help people prepare for the possibilities ---

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------





---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------



Kirim email ke