Tidak bisa selalu hitam putih dalam mengurusi para kontraktor, ada saatnya 
mesti di wilayah abu-abu. Ada saatnya tegas menolak usulan para kontraktor, ada 
saatnya menyetujui usulannya tanpa berlarut-larut, ada saatnya mengubah - 
memodifikasi usulannya dan kemudian menyetujuinya. Kapan saat menarik dan kapan 
saat mengulur harus dimainkan dengan harmonis. Ini bukan petunjuk pelaksanaan 
yang formal tercantum di dalam buku pedoman, tetapi pengalaman berinteraksi 
dengan para kontraktor yang melahirkan prinsip ini.
 
Usulan TSA (dalam pengertian "technical service from abroad") memang tak bisa 
ditutup-tutupi sebagian dipakai oleh para kontraktor (yang punya research 
center/headquarter di LN) untuk menghidupi research center-nya. Tetapi, itu 
bukan satu-satunya alasan mengapa kontraktor mengusulkan TSA dan tak memberikan 
proyek studinya ke institusi DN. Bila cost lebih murah, proses lebih cepat, dan 
internal quality assurance dibutuhkan, maka TSA berpotensi untuk disetujui. Tak 
semua TSA itu lebih mahal daripada studi DN. Bahkan, mempertimbangkan waktu 
pelaksanaannya dan hasilnya yang harus langsung compliance dengan standard 
internal kontraktor itu, serta orang2nya yang telah terbiasa dengan situasional 
permasalahan, maka TSA bisa menjadi pilihan dibanding studi DN. Studi DN bisa 
lebih mahal, makan waktu bisa lebih banyak, hasilnya bisa belum langsung 
compliance dengan yang dibutuhkan reserach center/headquarter si kontraktor, 
dan selalu butuh waktu untuk learning curves. Kalau soal pengua
 saan
 konsep dan teknologi, memang banyak ahli-ahli kita pun sudah mumpuni, walaupun 
ada beberapa teknologi yang memang masih harus dilakukan di LN, atau bisa di 
DN, hanya masih sangat mahal.
 
Tak semua usulan TSA itu disetujui BPMIGAS. Lima tahun lalu, saya dkk. 
melakukan tur ke banyak PT di Indonesia yang punya departemen geologinya. Kami 
ingin melihat sejauh mana kemampuan mereka bila menangani proyek-proyek dari 
kontraktor perminyakan. Kemampuannya sangat bervariasi : dari nol sampai yang 
sudah seperti service company. Untuk apa kami melakukan itu ? Untuk menolak 
atau memodifikasi usulan TSA dan menjadikannya studi-studi DN yang dilakukan 
oleh PT-PT atau institusi2 DN (Lemigas, PGSC, dll.). Sejak itu, maka diskusi 
kami dengan para kontraktor yang mengusulkan TSA menjadi ramai dan hangat. Tak 
ada yang 100 % lolos TSA sesuai dengan yang diusulkan, pasti kami lakukan 
modifikasi, entah dengan menurunkan anggaran, menghapus beberapa studi, atau 
memindahkan beberapa studi menjadi studi2 DN. Jangan kuatir, BPMIGAS tak begitu 
saja menyetujui usulan2. Kami tak suka studi itu menghasilkan studi, studi itu 
harus menghasilkan minyak/gas. Maka, kalau ternyata studi itu tak
 menghasilkan penemuan, atau studinya ngaco hasilnya, nah, saat kontraktor itu 
mengusulkan studi lagi, maka mereka akan berhadapan dengan kesulitan tingkat 
tinggi dalam persetujuan.
 
Tak bisa dipungkiri, mark-up dalam usulan bisa terjadi. BPMIGAS pun harus 
mengakui bahwa mikrodetail check untuk cost recovery tak selalu bisa dilakukan. 
Tetapi, kami tak segan-segan membatalkan cost recovery selama kesalahan 
prosedur fatal dan kesengajaan bisa kami tangkap. Saya pribadi, belum lama ini 
menangkap hal itu, 1.5 juta dollar dari sebuah KPS besar tak bisa di-cost 
recovery. Tentu menimbulkan kegusaran, tetapi kalau mau konsisten dengan 
peraturan, harus begitu. 
 
Ada hal yang dikatakan Dadeu benar, memang ada beberapa institusi DN sudah 
over-capacity menerima proyek, tetapi mereka tetap menerima proyek. Akibatnya, 
hasilnya kurang tinggi mutunya (menurut saya sebenarnya bisa lebih dari itu) 
dan tenaga2 pelaksananya "menjerit" kecapean dan stres (beberapa kebetulan 
mengadu kepada saya). Nah, tambahlah tenaga pelaksananya atau apresiasilah 
lebih tinggi. Kemudian, laporan2 studi yang dibuat PT yang belum biasa 
mengerjakan proyek biasanya terlalu akademik dan ngambang (memang ciri ilmiah 
begitu), tetapi lupa bahwa client-nya adalah industri migas. Perbaikilah semua. 
Proyek studi pasti tak akan habis. Studi2 yang dulu diusulkan sebagai TSA 
sebagian sudah dialihkan BPMIGAS menjadi studi2 DN.
 
Tambahan lagi, baik studi TSA maupun DN itu sama-sama di-cost recovery 
kontraktornya ke pemerintah melalui BPMIGAS. Maka, tak mungkinlah BPMIGAS 
menutup mata saja dengan semua usulan kontraktor yang nantinya akan menjadi 
beban kita bersama. Makanya, studi itu harus menghasilkan penemuan migas, 
jangan menghasilkan studi (lanjutan) lagi....
 
salam,
Awang Harun Satyana
Divisi Eksplorasi BPMIGAS

Indra Sumbodo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Setuju ma Bun Noor,

Institusi yang ada seperti lemigas, perguruan tinggi (terutama ITB), ataupun 
PGSC-nya Bung Sigit ataupun Groupnya Bung Andang,secara SDM maupun kemampuan 
untuk mengaplikasikan tehcnology terbaru sudah mumpuni. Kekurangannya, Time 
management dan Final Report yang suka ngambang, plus harga yang terlalu 
murah.
Untuk alasan TSA sebenarnya BP Migas-lah yang bisa mengontrol secara ketat 
dan fair sehingga Pembebanan Cost Recovery dari Proyek TSA ini bisa 
diminimalkan.

Jadi untuk rekan-rekan di Institusi maupun Swasta Nasional ada beberapa 
point yang harus dibenahi,

- Time Management yang akurat bin tidak molor (ketidak mampuan untuk 
mengelola 'Time management" ini yang paling mengesalkan dan menjadi preseden 
buruk bagi PSC pengguna jasa mereka)

- Cost yang reasonable, sehingga pekerja di institusi bisa lebih menikmati 
hasil kerja keras mereka dengan bayaran yang memadai)

- Jangan overloaded dan menerima setiap proyek tanpa menghitung kemampuan 
tenaga kerja dan waktu yang ada.

Saya percaya institusi kita mampu untuk mengerjakan proyek Migas dengan 
technology yang terbaru, hanya perlu pembenahan dan Profesionalisme yang 
Tinggi.

dd
----- Original Message ----- 
From: "Noor Syarifuddin" 
To: 
Sent: Monday, May 23, 2005 2:07 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] Pemanfaatan Cost Recovery - analisis pakar FKDPM


> wah...wah genderang perang sudah ditabuh rupanya........:-)
>
> Tapi omong-omong "kita" siap nggak sih untuk menampung tumpahan semua
> kebutuhan riset itu kalau sampai BP Migas "bisa memaksa" untuk membelokan
> katakanlah sebagian saja dari TSA itu ke dalam negeri.....
>
> Yang saya maksud siap di sini adalah dalam segala-galanya....... termasuk
> hal-hal kecil......misalnya menyelesaikan pekerjaan sampai laporan
> selesai.....etc etc....
>
> Kalau melihat arsip jaman tahun 80-an, saya pernah menemukan bahwa 
> hubungan
> antara KPS dan lembaga riset dalam negeri termasuk PT sangat "bagus"....
> Saya menemukan banyak dokumentasi kerja sama penelitian dan
> macam-macamnya..... tapi seringkali penemuan saya juga berlanjut dengan
> penemuan dokumentasi korespondesi antara si pemberi proyek dan si penerima
> proyek.... dan isinya =sayang sekali= biasanya soal menagih laporan dan
> hasil akhir yang rupanya sudah jauh melewati dateline.....
>
> Tapi saya setuju bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulainya...... 
> tapi
> kita juga musti konsekuen dong untuk bebenah diri....he he he
> Mudah-mudahan group geosciencenya Kang Sigit yang di Patra Jasa bisa
> menangkap peluang ini dengan "sebaik-baiknya"...(dan dalam tempoh yang
> sesingkat-singkatnya...)
>
>
> salam,
>
> (lagi ngerjain TSAnya North Sea.....)
>
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Ariadi Subandrio" 
> To: "IAGI NET" 
> Sent: Sunday, May 22, 2005 6:03 PM
> Subject: [iagi-net-l] Pemanfaatan Cost Recovery - analisis pakar FKDPM
>
>
>> Cost Recovery Banyak Diserap
>> KPS di Luar Negeri
>>
>> Kamis, 19 Mei 2005
>> JAKARTA (Suara Karya): Di samping banyak digunakan di luar peruntukan,
> dana cost recovery yang seharusnya berputar dan dinikmati di dalam negeri
> juga tak sedikit pula terbang ke kantor pusat kontraktor migas asing 
> (KPS).
> Itu bisa terjadi karena ketidakmampuan BP Migas melakukan komunikasi
> menyangkut kebutuhan teknis dan kebutuhan finansial.
>>
>> "Karena tidak mampu dan kurang pengetahuan dalam membaca serta
> menyinkronkan kebutuhan teknis dan finansial, otoritas kita (BP Migas) 
> hanya
> setuju-setuju saja terhadap apa yang dikatakan KPS menyangkut teknis dan
> finansial ini. Karena itu, banyak pekerjaan yang didanai cost recovery
> dilakukan di luar negeri," kata anggota Dewan Pakar Forum Konsultasi 
> Daerah
> Penghasil Migas (FKDPM) Dr Andang Bachtiar.
>>
>>
>> Kepada Suara Karya di Jakarta, kemarin, pakar geologi itu menuturkan,
> banyak kegiatan yang sebenarnya bisa dilakukan di dalam negeri dengan 
> harga
> dan ongkos lebih murah. Karena itu, apa yang dilakukan KPS di luar negeri
> dengan memanfaatkan dana cost recovery, pembiayaannya menjadi 
> berlipat-lipat
> dan sangat mahal. Itu pula yang kemudian disebut dengan TAS (technical
> served abroad), yaitu pengerjaan proyek di dalam negeri yang sebenarnya
> termasuk cost recovery namun dilakukan di negara asal KPS.
>>
>>
>> "Itu merugikan kita karena dana cost recovery kembali ke negara asal
> KPS," ujar Andang. Dengan kata lain, dana cost recovery menjadi tidak
> bermanfaat di dalam negeri. Indonesia akhirnya lebih banyak mengerjakan
> proyek-proyek "skrup" -- berskala kecil --, sementara proyek-proyek besar
> digarap di home office KPS.
>>
>>
>> "Bisa saya katakan terjadi inefisiensi dan tidak efektif akibat
> rendahnya pengetahuan kita soal teknis serta finansial. Intinya, karena
> tidak paham atau tak mau capek, kita lantas setuju-setuju saja terhadap
> keputusan yang dibuat KPS," tutur Andang.
>>
>>
>> Bentuk proyek yang dananya berkaitan dengan cost recovery dan
> dikerjakan di luar negeri adalah evaluasi lapangan minyak, survei, juga
> penelitian-penelitian lapangan. Nilanya bisa mencapai ratusan juta dolar 
> AS.
>>
>>
>> Meski sekarang ini sudah mulai mengalami perbaikan, tetapi BP Migas
> perlu hati-hati dan tidak mudah tergoda menyetujui segala yang merugikan
> kepentingan nasional.
>>
>>
>> Memang, kata Andang, di dalam negeri sendiri masih ada
> perilaku-perilaku yang membuat cost recovery boros dan tidak tepat.
> Misalnya, cost recovery dirogoh untuk main golf atau pembangunan rumah
> sakit.
>>
>>
>> Namun demikian, Andang tidak yakin bahwa dana cost recovery ini
> digelembungkan (mark up). Kemungkinan tentang itu, katanya, sangat kecil
> karena pengawasan sangat ketat. "Namun bila mark up kecil-kecilan, ya bisa
> saja. Tetapi itu tidak signifikan," katanya.
>>
>>
>> Sementara itu, juru bicara PT Caltex Pacific Indonesia Harry Bustaman
> menolak tudingan bahwa KPS menerbangkan dana cost recovery ke negara asal
> mereka. Menurut dia, di Indonesia tidak mempunyai lembaga bisa
> mengejawantahkan hasil riset, evaluasi, serta survei tentang keberadaan
> migas.
>>
>>
>> Menurut dia, kegiatan itu tidak masuk cost recovery karena dikerjakan
> sebelum penandatanganan kontrak dilakukan -- dan karena itu tidak ada 
> pihak
> yang dirugikan. "Kalau sudah kontrak, baru bandrol cost recovery berjalan.
> Artinya, setelah itu tidak ada lagi riset karena sudah ada pembuktian 
> bahwa
> migas ditemukan," ujar Harry.
>>
>>
>> Tapi di lain pihak, Andang Bachtiar menampik pernyataan itu. Menurut
> dia, saat penandatanganan dilakukan, KPS baru di tingkat yakin tentang
> potensi migas. Jadi, saat penandatanganan kontrak, belum ada pembuktian
> bahwa keyakinan KPS sudah terwujud dalam kenyataan.
>>
>>
>> Karena itu, kata Andang, setelah penandatanganan kontrak pun tetap
> dibutuhkan survei, analisis, juga riset lanjutan untuk membuktikan 
> keyakinan
> KPS tentang potensi migas. (Sabpri)
>>
>>
>> __________________________________________________
>> Do You Yahoo!?
>> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
>> http://mail.yahoo.com
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy 
> Sebayang([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
> Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
> Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau 
> [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
> Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
> --------------------------------------------------------------------- 


---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, send email to: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Deddy Sebayang([EMAIL 
PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke