> Rekan rekan
Kalau ita amati , dalam persoalan Ambalat in DPR lebih galak dari Pemerintah, menurut saya hal ini bagus bagus saja kalau dalam kerangka politik diplomasi menghadapi Malaysia. Malaysia sebagai bekas jajahan Inggris tentunyabanyak belajar dari Negri Penjajahnya dalam hal diplomasi. Ndak aneh kalau memang mereka sangat awai dalam hal ini, kita (berbeda dengan Malaysia) lebih menyala "nasionalisme"nya , sehingga kadang kadang lupa kana strategi-nya. Lepas dari itu , apa ada yang tahu mengenai status "mercusuar " (?) , yang dulu kita bangun di Karang Unaran ? Apakah sudah selesai 100%? Si Abah. Hm.. itu sudah ada dalam hitungan DPR. Beberapa kasus menunjukkan bahwa > Malaysia bisa berbuat "barbar" dan licin. Benar, memang kita harus lebih > waspada menghadapi jiran yang satu ini. Tetapi, kata Kol Laut Rusdi, Ka. > Din Hidrografi dan Oseanografi TNI AL, posisi Indonesia kuat dalam > sengketa Ambalat ini mengacu ke Hukum Laut Internasional UNCLOS 1982. > > Indonesia adalah negara kepulauan dan Malaysia bukan. Malaysia menganggap > dirinya wilayah kepulauan dan mengambil hal2 yang menguntungkan dirinya > dari UNCLOS 1982 yang sebenarnya diperuntukkan bagi negara kepulauan. Dari > sini pun, mereka berangkat dari pangkalan yang salah. Tetapi, bukan > Malaysia kalau tidak "lejit" dan licin. > > Nah, secara yuridis kita kuat, tinggal kompaksi kita yang harus > ditingkatkan. Posisi kita kuat, ada peluang menang mutlak, jangan sampai > lepas lagi, hanya oleh resesi dan timbunan masalah lain yang menumpuk > sejak 1997. > > salam, > awang > > > > > [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Yang saya takut cuma satu pak, kalah dalam perundingan...........Malaysia > sepertinya memang sangat menginginkan terjadinya perundingan, karena > berdasarkan pengalaman2 sebelumnya mereka selalu unggul dalam perundingan. > Mereka memanfaatkan kelemahan Indonesia di segala bidang setelah krisis > multidimensional 1997. > > Ada satu teman bule cerita, waktu Shell mencoba ngebor laut dalam Brunei > (yang masih sengketa dengan Malaysia) kemudian gagal karena diusir oleh > kapal perang Malaysia. Murphy yang mendapatkan blok yang disengketakan > kemudia ngebor ditempat tersebut tanpa gangguan karena dijaga kapal2 > perang > Malaysia. Brunei tidak mampu bertindak, karena tidak punya kapal perang (& > mungkin takut juga). > > Kalau cerita di atas benar, berarti Malaysia menerapkan kebijaksanaan > ganda...........ketika lawannya kuat dan berani melawan, mereka minta > perundingan......ketika lawannya lemah, mereka menggunakan kekuatan > militer........... > > > > > > > > --------------------------------- > Discover Yahoo! > Stay in touch with email, IM, photo sharing & more. Check it out! --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

