Pak Awang,

Atau lebih tepatnya, dibuat peraturan yang memungkinkan "business model"
seperti itu. Karena kalau tidak, ada 2 sisi yang harus dilihat kembali:

1.    Kembali ke portfolio si operator besar, lha kalau lapangan
marginal diberi insentif katakanlah sampai 70-80% investment credit (lha
iya, ndak mungkin kan?), mungkin tetep belum menarik buat mereka
(kembali ke model "tukang becak" tadi).

2.    Kalau itu sampai disepakati, lha kapan rekiblik ini dapat
bagiannya ? Rasanya saya pernah denger-denger salah satu lapangan yang
di South China Sea di produksi sampai hampir depleted oleh operatornya,
sampai jangka waktu lama, tetapi pemerintah belum dapat apa-apa (mungkin
karena model FTP belum diimplementasikan). Hiii, syereeemmmm :)

 

Lha kalau SME ("Small to Medium Enterprise") "boleh bermain" disana,
trus dapat kredit dari bank-bank nasional (modalnya ndak gede-gede kan),
dapet pinjaman teknologi dari provider (misalnya Landmark, gitu he he
he), kan yang dapat "berkah" lapangan kerja dan kecipratan rejeki jadi
banyak. Mungkin si operator besar akan menjadi semacam "Induk Semang".
Coba saja di listing lapangannya Caltex atau Pertamina yang tidur,
rasanya daftar-nya bisa dicari di Scout Report.

Jangan ke operator kecil-lah (ini model pesimis-nya lho), lha wong
mbayar signature bonus yang US$ 50,000 aja ndak bisa je, nanti malah
didagangin lagi :(

BSM

 

-----Original Message-----
From: Awang Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, June 28, 2005 10:15 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] undeveloped fields

 

Bagusnya memang seperti ide Pak Bambang itu, tapi ini kelihatannya lebih
ke business to business antara operator besar dan operator kecil,
Pemerintah maunya melihat temuan2 itu tidak dibiarkan saja alias
berproduksi. Jadi, mungkin tak perlu di-carved out undeveloped fields
itu dari WKP si operator besar. Tetapi kalau terlalu lama dibiarkan
tidur saja memang harus ada aturan2 yang kondusif atau bahkan
"mengancam" agar operator itu mau mengerjakan undeveloped fields. Kan,
ironis rasanya, produksi minyak turun terus sementara banyak temuan
eksplorasi dibiarkan tidur tak dikembang2kan. Pemerintah sudah mengamati
masalah undeveloped fields ini terutama yang cadangannya marginal, maka
dikeluarkannyalah aturan2 dan insentif yang kondusif tentang marginal
fields.

 

salam,

awang

 

Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Nah, Ini bedanya sistem "crafting" PSC Indonesia dengan Negeri Jiran

yg saya pernah crita kemaren.

Undeveloped fields are belong to the host country. Sampai batas waktu

exploration period habis maka Operator hanya "mengkakangi"

(mengoperasikan) lapangan-lapangan yg berproduksi saja. (mengurangi

"lahan tidur").

Bahkan kumpeni saya (maksudku tempat saya kerja :), memiliki kontrak

PSC yang punya benefit khusus (special split) untuk lapangan seukuran

<30MMBO Recoverable. Kalau ternyata nantinya reservesnya lebih dari

thresh hold itu maka splitnya normal lagi.

 

Jadi PT Angin Ribut-nya mas Bambang bisa beroperasi dengan kalem lagi

menjadi PT Angin Semilir. Walo produksi puluhan barel saja sudah

kipas-kipas. Lah wong operator besar maunya pakai AC, ngga mau kipas

angin sih ...

 

Ini tantangan besar buat Migas utk merubah PSC term and schedule.

 

RDP

"PSC is not just about split"

 

On 6/28/05, Bambang Murti wrote:

> Pak Awang,

> Lha disini pokok pangkal permasalahannya. Duit US$ 1 buat kita (Insya

> Allah), ndak akan membuat kita "tergoda", tapi (maaf), buat tukang

> becak, mungkin bakalan dibelain mati-matian, ini in the bloody
word-nya

> ya.

> Mungkin ndak ya dalam satu system PSC, katakanlah si operator ybs
enggan

> untuk melakukan proper petroleum extraction, bisa karena portfolio
yang

> kurang menarik atau juga karena ybs bermental "asli pedagang", terus
ada

> PT Angin Ribut yang menawarkan ke operator ybs, "OK dah, gue kelola
ente

> punya lapangan, ente ndak perlu keluar fulus, ane bayarin itu semua,

> ente bayar ke ane satu tahun belakangan".

> Kira-kira model bisnis seperti ini bisa ndak ya ? Jadi si PT Angin
Ribut

> ndak perlu dapat equity, strict business to business, dia hanya

> "nalangi" (apa ya ini bahsa indonesianya yang baik dan benar?)

> expenditure si KPS buat sementara waktu. Kalau ada tambahan
production,

> ya kedua belah pihak win-win, kalau ndak ada tambahan produksi, celaka

> tuh agen asuransi-nya he he he.

> Ini misalnya, bias membantu KPS-KPS yang sedang "senin-kemis" dalam

> mengurus-i cashflownya ataupun juga kesulitan dalam memenangkan
"global

> rangking".

> 

> BSM

> 

> 

 

__________________________________________________

Do You Yahoo!?

Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 

http://mail.yahoo.com 

----------------------------------------------------------------------

This e-mail, including any attached files, may contain confidential and
privileged information for the sole use of the intended recipient.  Any
review, use, distribution, or disclosure by others is strictly
prohibited.  If you are not the intended recipient (or authorized to
receive information for the intended recipient), please contact the
sender by reply e-mail and delete all copies of this message.

----------------------------------------------------------------------
This e-mail, including any attached files, may contain confidential and 
privileged information for the sole use of the intended recipient.  Any review, 
use, distribution, or disclosure by others is strictly prohibited.  If you are 
not the intended recipient (or authorized to receive information for the 
intended recipient), please contact the sender by reply e-mail and delete all 
copies of this message.

Kirim email ke