Law enforcement kita memang lemah; tetapi kalau dari awal sebelum teken kontrak si kontraktor sudah tahu bahwa ada aturan ini yang sifatnya "mengancam" tentu ia akan tahu aturan. Kalau aturan itu tidak disukai memang akan gak laku jadinya. Ini jadi serba salah. Prinsipnya, tetap saja tarik-ulur; tak boleh terlalu ketat tak boleh terlalu bebas. Soal Cepu, sudah salah dari awal, kenapa lahan dengan risiko rendah begitu diberikan ke kontraktor daripada dikerjakan sendiri (tapi kalau dipaksa harus diberikan bagaimana ??), dan kenapa kontrak TAC boleh eksplorasi (Kontraktor2 TAC yang lain bisa minta hal yang sama lho !) Padahal, dulu ada rule of thumbs : lahan risiko rendah = own operation Pertamina, lahan risiko sedang = JOB Pertamina-Kontraktor (PSC), lahan risiko tinggi = Kontraktor PSC. Sekarang sudah ada EM di situ, dan susah lah menterminasinya, walaupun tak ada aturan bahwa kontrak itu harus diperpanjang. "Dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat" tak berlaku (atau sukar diberlakukan) di Cepu. Kita tahu bisa memanfaatkannya untuk maksimal kemakmuran rakyat, tetapi kita tak bisa melakukannya, atau "gamang" melakukannya sebab masalah Cepu mungkin sudah G to G (Indonesia vs Amrik) , bukan sekedar antara EM dan Pertamina/Migas/BPMIGAS. Saya tak berani membayangkan sunk cost yang akan ditagihkan EM itu... Maka kalau pilihan kontrak diperpanjang tak bisa dihindari lagi, yah, mainkanlah di terms of contract itu, Negara harus diuntungkan !
salam, awang Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Awang, Membuat peraturan yang "mengancam" ini tidak akan (belum) pernah berjalan baik di negeri ini. Pengawasan, kebijakan, membuat aturan2 serta addendumnya (termasuk insentif), dll ini kelemahan kita sejak dulu. Kemampuan negosiasi kita sudah terbukti selalu saja lemah, ini diketahui pihak "lawan" (dl tanda kutip lo). Ancaman kita ini malah seringkali berbalik ... dan kita lah yg justru akhirnya ketakutan. Dibawah ini salah satu komentar temen di Kerteh ttg kehebatan EM yg canggih dalam bernegosiasi, contract dll. Kerteh merupakan daerah kerja Petronas Carigali yg mengambil alih operasi Esso didaerah Peninsular Malaysia. ==== quote dr milist IATMI-KL === Dear all, Salam IATMI KL !!! (Salam HAGI ! dan IAGI ! jugo) Belajar dari real case contract dengan EM di negeri Jiran ini, semoga bangsa Indonesia tercinta, dalam kontrak untuk Cepu pada posisi yg baik/diuntungkan; atau setidaknya win-win situation. Bukan apa-apa, EM termasuk pintar dalam 'contract management' (setidaknya menurut pengamatan saya di lapangan). Dari sisi EM nggak salah, siapa yg mau rugi ? kalau boleh 'lebih untung' kenapa sekedar cari 'untung'? So semoga kita semua berkontribusi untuk membantu negeri Indonesia tercinta, setidaknya dengan berharap (baca berdoa), meski tergolong selemah-lemahnya iman. So, selamat untuk Mas Vicky yang telah berbuat dengan (setidaknya) berkata-kata (sebagai pembicara/nara sumber) dalam diskusi/seminar 1/2 hari di Jakarta yang lalu. Dan harapannya semua bisa berbuat dengan 'tangannya' untuk membangun negeri Indonesia tercinta. Semoga... Wassalam, Sriyanta Hadi === RDP On 6/28/05, Awang Satyana wrote: > Bagusnya memang seperti ide Pak Bambang itu, tapi ini kelihatannya lebih ke > business to business antara operator besar dan operator kecil, Pemerintah > maunya melihat temuan2 itu tidak dibiarkan saja alias berproduksi. Jadi, > mungkin tak perlu di-carved out undeveloped fields itu dari WKP si operator > besar. Tetapi kalau terlalu lama dibiarkan tidur saja memang harus ada > aturan2 yang kondusif atau bahkan "mengancam" agar operator itu mau > mengerjakan undeveloped fields. Kan, ironis rasanya, produksi minyak turun > terus sementara banyak temuan eksplorasi dibiarkan tidur tak dikembang2kan. > Pemerintah sudah mengamati masalah undeveloped fields ini terutama yang > cadangannya marginal, maka dikeluarkannyalah aturan2 dan insentif yang > kondusif tentang marginal fields. > > salam, > awang > > Rovicky Dwi Putrohari wrote: > Nah, Ini bedanya sistem "crafting" PSC Indonesia dengan Negeri Jiran > yg saya pernah crita kemaren. > Undeveloped fields are belong to the host country. Sampai batas waktu > exploration period habis maka Operator hanya "mengkakangi" > (mengoperasikan) lapangan-lapangan yg berproduksi saja. (mengurangi > "lahan tidur"). > Bahkan kumpeni saya (maksudku tempat saya kerja :), memiliki kontrak > PSC yang punya benefit khusus (special split) untuk lapangan seukuran > <30MMBO Recoverable. Kalau ternyata nantinya reservesnya lebih dari > thresh hold itu maka splitnya normal lagi. > > Jadi PT Angin Ribut-nya mas Bambang bisa beroperasi dengan kalem lagi > menjadi PT Angin Semilir. Walo produksi puluhan barel saja sudah > kipas-kipas. Lah wong operator besar maunya pakai AC, ngga mau kipas > angin sih ... > > Ini tantangan besar buat Migas utk merubah PSC term and schedule. > > RDP > "PSC is not just about split" > > On 6/28/05, Bambang Murti wrote: > > Pak Awang, > > Lha disini pokok pangkal permasalahannya. Duit US$ 1 buat kita (Insya > > Allah), ndak akan membuat kita "tergoda", tapi (maaf), buat tukang > > becak, mungkin bakalan dibelain mati-matian, ini in the bloody word-nya > > ya. > > Mungkin ndak ya dalam satu system PSC, katakanlah si operator ybs enggan > > untuk melakukan proper petroleum extraction, bisa karena portfolio yang > > kurang menarik atau juga karena ybs bermental "asli pedagang", terus ada > > PT Angin Ribut yang menawarkan ke operator ybs, "OK dah, gue kelola ente > > punya lapangan, ente ndak perlu keluar fulus, ane bayarin itu semua, > > ente bayar ke ane satu tahun belakangan". > > Kira-kira model bisnis seperti ini bisa ndak ya ? Jadi si PT Angin Ribut > > ndak perlu dapat equity, strict business to business, dia hanya > > "nalangi" (apa ya ini bahsa indonesianya yang baik dan benar?) > > expenditure si KPS buat sementara waktu. Kalau ada tambahan production, > > ya kedua belah pihak win-win, kalau ndak ada tambahan produksi, celaka > > tuh agen asuransi-nya he he he. > > Ini misalnya, bias membantu KPS-KPS yang sedang "senin-kemis" dalam > > mengurus-i cashflownya ataupun juga kesulitan dalam memenangkan "global > > rangking". > > > > BSM > > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > -- Education can't stop natural disasters from occurring, but it can help people prepare for the possibilities --- --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) --------------------------------------------------------------------- --------------------------------- Yahoo! Sports Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football

