Bagaimana mekanisme terjadinya kelangkaan ?

Cukup banyak teori2 kenapa kok tiba-tiba saja BBM ini menjadi langka.
Namun secara mudahnya bisa kita lihat dari bagaimana keterjadian
"issue krisis BBM" ini muncul.

Banyak sebenernya penyebabnya dan bisa-bisa sangat kompleks kalau
diuraikan dengan detil, mulai dari permasalahan suplay, kebutuhan
serta stock, atau bahkan menyangkut adanya kepentingan politis serta
rekayasa. Namun Saya akan mencoba hanya ingin melihatnya dari sebuah
mekanisme sistem kemasyarakatan di Indonesia yg cukup rentan terhadap
"issue" ... isu yg diartikan sebagai sebuah berita yg tidak sepenuhnya
benar tetapi mempunyai akibat yg cukup nyata (riil).

Isu BBM terdengar muncul ketika ada berita bahwa stock BBM di
Indonesia hanya akan bertahan 17 hari dari stock yg biasanya 22 hari.
Apa sih bedanya 17 dengan 22 hari ?
Sebenernya tanpa ada tambahan stock BBM-pun, Indonesia masih akan
memiliki kemampuan untuk mensuply selama 17 hari. Namun karena berita
ini dibesar-besarkan, atau barangkali memang membesar secara natural
(dengan sendirinya) akibat imbuhan isu (berita) lain tentang ketidak
mampuan ("keterpurukan" ) Pertamina, yg saya yakin mungkin tidak 100%
benar. Juga harga minyak mentah dunia yg kebetulan meningkat hingga
50-60 dolar per barel.

Timbulnya isu inilah yg menjadikan BBM yg tadinya ada didalam
gudang-gudang (tangki2) depo BBM menjadi tersedot di masyarakat.
Mudahnya begini, tangki mobil yg biasanya baru diisi ketika tinggal
10% (R-Reserves), namun karena saat ini takut adanya isu langka BBM
menjadikan si pemilik mobil merasa harus mengisi tangkinya dengan 50%.
Sehingga ada perubahan perilaku membeli BBM lebih awal. Hal ini jelas
ketidak yakinan masyarakat terhadap pengadaan BBM.

Nah bayangkan saja, seandainya semua orang mengisi tangki mobil atau
motornya 40% dari biasanya, karena ketakutan kehabisa BBM dan ketidak
percayaan terhadap supply dari depo-depo BBM, maka tentusaja stock BBM
di depo-depo pertamina akan berkurang cukup banyak. Dan pada saat isu
ini bergulir tentusaja semua orang akan ngantri di Pompa Bensin, yang
tentusaja menganggu jadwal pengisian, keterlambatan pengisian di POM
inipun juga akan mempercepat penyebaran isu kelangkaan BBM. Proses ini
tidak hanya berjalan lurus saja, namun seperti sebuah feedback procces
yg akhirnya saling memeperkuat dan seolah kejadian ini memang sebuah
kejadian yg bener-bener mengkawatirkan.

Dan tidak salah seandainya pihak Pertamina menganggap dan menyatakan
bahwa stocknya tinggal hampir separo dari yg seharusnya. Padahal stock
dari Depo telah berpindah ke tangki-tangki mobil motor pemakai
(masyarakat). Inipun seandainya tidak ada penimbun BBM dengan niat
memeras serta menjerat antar rakyat sendiri.

Tentusaja mekanisme "kerentanan isu" ini bukan satu-satunya penyebab
kelangkaan BBM, namun saya yakin merupakan salah satu faktor dominan
dalam memperkuat serta meyakinkan bahwa isu kelangkaan BBM ini memang
sangat mengkhawatirkan. Harga minyak mentah dunia yg sudah mencapai
60$/barelpun juga sangat berat bagi negara yg sudah termasuk dalam
'oil net importir' seperti Indonesia. Apalagi BBM di Indonesia masih
cukup besar subsidinya.

Kerentanan isu ini bukan hal yg pertama. Bebrapa tahun lalu ketika
kita baru saja akan memasuki era reformasi, terjadi juga isu
kelangkaan susu. Nah siapa sih yg ngga takut anaknya ga bisa nyusu
.... tentu saja semua susu di grosir-grosir di serbu pembeli. Dan
kenyataan banyak kita lihat yg memborong susu dan menimbun susu
dirumah masing-masing. Dan kelangkaan susu di pasaranpun bener-bener
melanda. Isu kelangkaan susu ini dahulu juga disusul dengan isu langka
minyak goreng. Hingga banyak ibu-ibu yang menyimpan minyak goreng
hingga berliter-liter dirumahnya. Padahal biasanya hanya memiliki
seliter saja cukup.

Masalah stock, kelangkaan barang konsumsi termasuk beras serta 9 bahan
pokok dan BBM di Indonesia ini masih akan sensitif terhadap isu dalam
beberapa tahun kedepan. Kuncinya adalah kepercayaan masayarakat
terhadap pasar, terhadap pemimpin, terhadap sesamanya.

Jadi masihkah kita akan saling tidak percaya ?
Sampai kapan ?

Salam

RDP
-- 
Education can't stop natural disasters from occurring, 
but it can help people prepare for the possibilities ---

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke