Hemat Listrik Siapa targetnya ?

By : rdp

Inpres no 10 tahun 2005 baru saja di luncurkan dua pekan lalu.
Penerjemahan inpres inipun menjadi sesuatu kegiatan yg populis
dikalangan pejabat pemerintah serta pengusaha swasta. Hampir semua
merasa telah melakukan "penghematan", namun seandainya langkah yang
diambil tidak tepat sasaran sangat mungkin yang akan terjadi adalah
mengurangi kenikmatan atau bahkan secara tak sengaja menurunkan
produktifitas. Tulisan sederhana ini akan mencoba melihat seberapa
potensial yang efektif dari gembar-gembor hemat energi ini akan
berdampak pada beban penyediaan listrik. Benarkah kebijakan tak berjas
ke kantor akan berdampak optimum, benarkah menghilangkan siaran malam
hari akan menurunkan beban listrik ?
Ataukah semua itu hanya mencerminkan kepanikan rakyat dan pemerintah
ketika sedikit gejolak dunia dengan meningkatnya harga minyak. Lantas
apa yg bisa kita pelajari ?

Untuk melihat hal ini, penulis mengamati pemakaian listrik
pada`jaringan transmisi Jawa-Bali dipergunakan sebagai basis acuan.
Gambar 1 memperlihatkan bahwa Jawa-Bali yg memiliki kapasitas
terpasang sekita 19 ribu MW ini merupakan sumbangan 70 % dari daya
listrik yg dihasilkan PLN sekitar 25 ribu MW. PLN sendiri menghasilkan
dari daya 16ribu MW. Dari daya sekitar 16ribu MW ini yang akan kita
lihat bagaimana perilaku pengguna listrik secara umum di Jawa.


Menurut data dari Depertemen ESDM dalam hitungan setara dengan barel
minyak sekitar 60rb SBM, maka energi listrik ini hanya kurang dari 10%
dari kebutuhan energi total di Indonesia. Kebutuhan energi terbanyak
tetap ada pada porsi BBM sebesar 60%. Namun energi listrik yang hanya
10% ini akan sangat mungkin berdampak pada perilaku masyarakat karena
hampir semua masyarakat akan berinteraksi dengan listrik dalam
kehidupan sehari-harinya. Pendidikan masyarakat tentang hemat energi
dengan menggunakan media tentang listrik sangat mungkin memberikan
dampak yg lebih efektif dibandingkan dengan metode sosialisasi hemat
energi dengan BBM yang hanya menyangkut masyarakat pengguna
transportasi. Memang penulis kali ini hanya mengamati kira2 70% saja
tentang energi listrik Indonesia. Dengan demikian sangat disadari
bahwa pengamatan ini sama sekali bukan ditargetkan pada sebuah hal yg
sangat berdampak besar. Namun diharapkan lebih pada ketepatan sasaran.

 Gambar ada di : http://putrohari.tripod.com/Putrohari/
Gambar. 1. Jenis sumber daya alam pembangkit listrik oleh PLN.

Sumber listrik yang diperoleh dari pembangkit di Pulau jawa diperoleh
dari berbagai sumber daya alam. Namun terlihat hampir 40% berasal dari
minyak bumi. Dan  seandainya IPP (Independent Power Producer) juga
diasumsikan dengan diesel maka hampir 25% memperoleh listrik dari BBM.

Data-data ini diambil dari database PLN yang tersedia di
www.pln.co.id. Data pengamatan penggunaan (beban) listrik diambil
selama sepekan mulai tanggal 3 July hingga 10 July 2005. Diharapkan
data yang terakhir ini cukup mewakili, dimana pada saat pekan ini
tidak ada gejolak pemakaian khusus. Tidak ada hari-hari khusus dalam
penggunaan serta kebutuhan listrik dalam waktu pengambilan data ini.

Ada beberapa istilah penting dalam kajian ini yg  dibagi sebagai berikut:
- Beban minimum rumah tangga. Adalah beban minimum pada saat tidak ada
aktifitas bisnis/industri (hari Minggu di siang hari)
- Beban perkantoran dan bisnis.
- Beban peralatan pabrik. Adalah selisih kegiatan ketika istirahat siang
- Beban penerangan malam hari (lampu pertokoan)
Tentusaja pembagian ini berdasarkan segmen yg sederhana ini hanya
didasarkan untuk kemudahan dimengerti sehingga memudahkan penentuan
target-tagret penghematan listrik. Sangat disadari bahwa penerangan
lampu dimalam hari ini tentunya juga untuk kebutuhan rumah tangga dan
bisnis.

Penggunaan listrik dalam sehari.

Grafik penggunaan listrik dalam sehari (gambar.2) memperlihatkan
tipikal aktifitas sehari-hari. Terlihat jelas pada waktu jam 00:00
kebutuhan beban cukup rendah. Tentu saja ini bukan hanya menunjukkan
lampu lampu penerangan saja, namun juga kebutuhan rutin lainnya.

Gambar 2. Peggunaan listrik pada hari kerja

Kebutuhan beban terendah pada pukul 7 pagi hari diperkirakan karena
aktifitas hanyalah melakukan perjalanan menuju tempat bekerja.
Kegiatan pagi hari dimulai pada pukul 8 dengan peningkatan hingga
pukul 11:00. Kegiatan istirahat siang mengurangi beban sebesar
700-1000MW. Beban puncak di Jawa ini mulai menanjak pada pukul 17:00
dan menurun pada pukul 22:00. Beban puncak ini merupakan beban PLN
untuk meyediakan sebesar 14 – 15 ribu MW.

Penentuan target-target penghematan akan sangat jitu seandainya
didasari oleh pengamatan perilaku harian ini. Sehingga penerjemahan
Inpres no. 10/tahun 2005 ini dapat diterjemahkan dengan tepat sasaran.

Penggunaan listrik dalam sepekan.

Dalam periode satu pekan terlihat pemakaian atau beban terbesar
sekitar 14-15 rb MW terjadi pada waktu malam hari di hari kerja.
Sedangkan beban terkecil pada siang hari di hari Minggu sebesar
kira-kira 8.5 ribu MW. Beban ini lebih kurang merupakan pencerimanan
kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Daya sebesar ini masuk dalam
kategori "harus" tersedia, dan dapat dianggap merupakan kebutuhan
primer saat ini. 8.5 ribu MW ini merupakan 60% dari beban puncak.
Penghematan di segmen dasar ini tentunya akan berdampak sangat
signifikan sesuai dengan besarnya angka. Namun tidak mudah menurunkan
konsumsi ini. Karena rakyat sudah terbiasa berhemat dengan tarif yg
dirasakannya cukup mahal ini.

Beban rata-rata harian di hari kerja minimal 10 ribu MW, atau naik 1.5
ribu MW dari kebutuhan rumah tangga yg tercermin pada hari minggu
siang. Ini diperkirakan merupakan beban minimal utk kebutuhan rutin
ditambah perkantoran dan bisnis, termasuk AC, lift, lampu eskalator
dll. Beban puncak siang hari dicapai pada jam-jam kerja dengan beban
total sekitar 12rb MW. Atau bisa dianggap bahwa kebutuhan perkantoran
dan bisnis menelan sekitar 3.5rb MW atau sekitar 25% dari beban
puncak. Pada tengah hari ketika istirahat siang pukul 12-13 terjadi
penurunan beban sebesar 700-1000 MW. Ini merupakan pencerminan
berkurangnya penggunaan energi listrik di pabrik atau industri
berbasis mesin dengan tenaga listrik. Beban sebesar ini jelas jangan
sampai dikurangi terlalu banyak, karena beban energi ini merupakan
energi produktif. Penghematan pemanfaatan listrik semestinya bukan
pada segmen produktif ini.

Gambar 3. Fluktuasi beban listrik dalam sepekan di Pulau Jawa.

Pengurangan yang dimungkinkan hanya pada sisi bisnis dan perkantoran
ini berpotensi dalam penghematan yang besarnya 2500 MW. Di segmen ini
mungkin saja akan berdampak mungkin cukup signifikan dalam penghematan
beban energi listrik walopun hanya merupakan 18% dari beban maksimum.
Beban ini cukup kecil namun karena dalam jangka operasinya 6-7 jam
sehari, jumlah potensi energi yang dihemat perlu dihitung dengan lebih
detil disesuaikan dengan MWH (Megawat jam). Pemanfaatan AC diduga
menelan daya paling besar yg sangat mudah untuk dikurangi. Namun
menurut penulis akan ada berdampak negatif disisi produktifitas,
karena mengurangi kenyamanan dalam bekerja yg mungkin saja mengurangi
semangat bekerja. Salah satu langkah pengehematan segmen ini adalah
dengan kecermatan pemilihan alat-alat listrik yg memiliki efisiensi
tinggi. Penulis tidak begitu yakin apakah memungkinkan dengan membuat
sebuah regulasi pemanfaatan alat hemat energi akan berdampak
signifikan.

Pertanyaan lain adalah apakah kalau langkah penghematan di tempat
kerja ini berhasil maka mental hemat energi mungkin akan terbawa
kerumah masing2 dengan berdampak pada penghematan beban dasar minimal
yg cukup besar?. Kalau yg menjadi sasaran itu rakyat kecil,
kemungkinan tidak akan berdampak banyak karena tanpa inipun rakyat
sudah terbebani dengan tarif yang mahal. Maka berhemat memang sudah
tugasnya sehari-hari sejak dulu sebelum adanya isu krisis energi kali
ini. Sehingga kemungkinan adanya tambahan dari segmen rakyat bawah
kemungkinan kecil, Selain itu juga karena data-data ini diambil
sesudah ada himbauan PLN mengurangi lampu 50 wat per rumah akibat
krisis pasokan gas pada pembangkit listrik bulan lalu.

Beban listrik lampu malam hari dari pertokoan dan mall.

Kalau dilihat beban penerangan malam terlihat bahwa peningkatan
listrik yg merupakan beban puncak ini dimulai pukul 17:00 hingga pukul
22:00, dan terjadi pada setiap hari. Kegiatan yg merupakan kegiatan
rutin selama tujuh hari pada jam ini hanyalah pertokoan serta mall,
dan mungkin juga papan reklame. Dengan demikian pembatasan pada segmen
ini akan berdampak pada tingginya atau besarnya beban puncak yg
tentusaja merupakan beban berat buat PLN. Karena kemampuan penyediaan
yg akhirnya sangat tinggi ini akan dinilai sebagai tolok ukur kinerja
serta kemampuan PLN.

Ketika malam hari listrik jatuh ('trip') tentunya beban PLN bertambah
dengan menerima keluhan pelanggan. Dan sudah dapat dipastikan PLN akan
ngotot untuk menyediakan/ membangun pusat-pusat pembangkit untuk
mencegah rapor merahnya. Nah, tentusaja penyediaan mesin pembangkit
ini termasuk dalam biaya kapital /modal yg biasanya diperoleh PLN dari
hutang. Tentusaja hutang ini akan membebani biaya produksi listrik
yang akan dapat dipastikan dibebankan kepada konsumen.

Salah satu cara pengurangan beban puncak diwaktu malam ini adalah
pembatasan pada papan reklame. Papan reklame di Jakarta dan Pulau Jawa
pada umumnya masih banyak yg menggunakan lampu penerangan yg sangat
mahal, dan biaya lampu reklame ini tentusaja nantinya menjadi biaya
produksi yg akan ditanggung oleh pemakai produk. Sistem pentarifan
listrik untuk kebutuhan ini walaupun menambah penghasilan PLN akan
berdampak tidak langsung pada harga produk yg akhirnya ditanggung oleh
konsumen. Sehingga target pembatasan penggunaan lampu utk reklame ini
harus dilakukan dengan sangat selektif.

Pembatasan lampu penerangan umum bukan merupakan bagian dari
pembatasan segmen beban puncak dari pukul 17 hingga 22 ini, karena
setelah pukul 22 malam lampu penerangan jalan masih menyala terang.
Namun perlu dilihat bahwa pengurangan lampu penerangan jalan tentusaja
berkait dengan keamanan atau perasaan aman dari masyarakat. Dengan
demikian harus ada usaha tambahan dalam pengamanan yg tentu saja bukan
hanya masalah penyedia listrik (PLN) saja.

Penutup

Dengan demikian terlihat bahwa pentargetan penghematan serta langkah
penerjemahan Inpres 10 tahun 2005 ini seharusnya tidak diterjemahkan
secara buru-buru yang terkesan panik. Karena kepanikan mengambil
langkah  reaktif ini akan berdampak langsung pada kepanikan publik.

Perlu diketahui juga bahawa pengamatan perilaku yg ditulisan ini hanya
berlaku di Pulau Jawa-Bali. Tiap-tiap daerah akan memiliki
karakteristik pengguna yang sangat mungkin berbeda-beda, sehingga
perlu diteliti lebih detil lagi untuk mempertajam target sehingga
tepat sasaran.

Pengurangan penggunaan listrik misal penyejuk ruangan (AC) yg secara
langsung mengurangi kenikmatan ketika sedang bekerja justru akan
sangat mungkin mengurangi produktifitas walaupun dipastikan mengurangi
penggunaan energi.

Sistem pentarifan harus dilakukan dengan sangat selektif dibarengi
pembatasan, cara ini masih mungkin dapat mengurangi beban puncak,
namun karena penggunaan listrik merupakan salah satu bagian dari biaya
produksi akhirnya akan dibebankan kepada konsumen. Untuk mengetahui
hasil usaha penghematan serta melihat efektifitas dari target-target
penghematan ini perlu pengamatan lanjutan dalam bulan-bulan mendatang
untuk melihat sejauh mana dampak inpres 10 tahun 2005 ini terhadap
penghematan penggunaan listrik. Serta dampaknya pada produktifitas.

)* Penulis  [EMAIL PROTECTED]

Gambar bisa dilihat juga di blog saya : http://putrohari.tripod.com/Putrohari/

<artikel bebas dikopi dan diterbitkan>


-- 
Education can't stop natural disasters from occurring, 
but it can help people prepare for the possibilities ---

Kirim email ke