Sedikit reply dari saya: Itu sebabnya saya tulis di email sebelumnya. Saya beranggapan bahwa kekerasan yang didasari atas nama agama itu sama saja dengan perbuatan orang barbar.
Regards --- Minarwan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kalimat "berbuat sesuatu untuk agama" ini membuat > saya ingat pada > sejarah tentang Inkuisisi Spanyol. Orang-orang yang > pada waktu itu > berkuasa di gereja melegalkan usaha 'memurnikan' > penganut Katolik. > Orang-orang non-Katolik diburu, dijebak dan kalau > perlu di-pedang-in > supaya 'kembali ke jalan yang benar'. Semua katanya > demi 'menyelamatkan' > orang agar masuk surga. Seandainya pada waktu itu > bom telah ada, mungkin > ada pula yang pake bom kali yah. > > Sejarah mencatat Gereja pernah melakukan kesalahan > besar dan ini menjadi > noda hitam 'demi menyelamatkan orang'. Tampaknya ada > sebagian orang yang > tidak mau belajar dari sejarah. Akankah kesalahan > seperti ini terulang? :(( > > Salam > Min > > kristiawan candra wrote: > > Dear Pak Eko dan professionals IAGI > > > > Saya hanya seorang junior yang coba ingin sedikit > > komentar mengenai email2 sebelumnya sebab saya > menemui > > beberapa ganjalan di hati waktu membacanya. > > > > Kalo seorang barbar "berbicara" dalam bom dan > senapan > > dan membunuh orang2 yang dianggap bersalah bagi > > dirinya... Kalo seorang lainnya yang memanggil > asma > > Allah dan mengaku bertakwa juga "berbicara" dalam > bom > > juga membunuh, bahkan membunuh korban2nya yang > belum > > tentu bersalah. Apa bedanya? Apa bedanya orang > barbar > > sama orang beriman? Kenapa orang beriman tidak > > "berbicara" melalui pembangunan sesuatu? Bukankah > > menghancurkan dengan bom relatif lebih mudah > ketimbang > > membangun society dengan ideologi yang sehat. > > > > Kalo seorang napi yang sadis di penjara seumur > > hidup... Ia sangat bangga akan banyaknya korban2 > > pembunuhan yang ia lakukan... Ia begitu bangga > > menceritakan bagaimana ia memperkosa dan > membunuh... > > Juga ia sangat bahagia mendengar jeritan dan > teriakan > > korban2 tersebut sebelum ia bunuh. Tapi kalo > seorang > > agamawi juga bangga membunuh orang lain, mendengar > > teriakan2 ketakutan, bangga dengan banyaknya > korban > > yang dihasilkan dari perbuatannya, bahkan lebih > parah > > dia bangga membunuh diri sendiri... Apa bedanya > > seorang napi sadis dengan si agamawi? Bukankah > seorang > > agamawi seharusnya sadar betapa berharganya > kehidupan > > dan nyawa seseorang di mata Allah, Sang Pencipta. > > > > Bagaimana dengan para korban atau keluarga > korban??? > > Para teroris itu mungkin tidak pernah merasakan > > bagaimana rasanya mengetahui keluarga yang ia > cintai, > > istri dan anak2 yang begitu berharga di hati > mereka > > terbunuh oleh bom jahanam. Bagaimana dengan kita > > semua? Siapkah melihat istri yang kita cintai, > anak2 > > yang kita banggakan atau orang2 tua dan kerabat > yang > > kita kasihi mati karena "ketulusan" seorang > teroris? > > > > Saya harap kita jangan pernah mengalami ditinggal > oleh > > orang2 yang kita kasihi karena "ketulusan" seorang > > teroris. Karena ketika saya melihat dengan mata > kepala > > saya sendiri kenyataan ditinggal orang yang kita > > kasihi itu sangat pahit, begitu menyakitkan, dan > > menjadi beban yang sangat berat untuk dipikul > > seseorang. > > > > Menurut saya, Terorisme TIDAK bisa dibenarkan atas > > alasan dan segi apapun.Karena seorang teroris > tidak > > pernah memikirkan orang lain, dan seorang teroris > > tidak pernah sadar betapa berharganya nyawa dan > > kehidupan seseorang di mata Allah, Sang Pencipta > yang > > Rahmani dan Rahimi.Seorang teroris tidak memiliki > satu > > bahasa universal yang Allah sudah ajarkan ke umat > > manusia: Kasih! > > > > Mohon maaf bila ada salah2 kata. Saya hanya ingin > > menuangkan komentar saya lewat email ini. > > > > My Best Regards, > > > > > > Kristiawan Candra > > "The truth (Veritas) will set you free" > > > > Processing Dept. > > Veritas DGC Asia Pacific Ltd. > > Union Industrial Building > > 37 Jalan Pemimpin Suite #06 - 01 > > Singapore 577177 > > email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, send email to: > iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id > To subscribe, send email to: > iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: > http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: > http://groups.yahoo.com/group/iagi > Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina > (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id > Komisi SDM/Pendidikan : Edy > Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) > Komisi Karst : Hanang > Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) > Komisi Sertifikasi : M. > Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) > Komisi OTODA : Ridwan > Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau > [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi > Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) > Komisi Database Geologi : Aria A. > Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) > --------------------------------------------------------------------- > > ____________________________________________________ Start your day with Yahoo! - make it your home page http://www.yahoo.com/r/hs --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

