Ini bukan sulap bukan sihir,  saya belum pernah mempelajarinya, tapi cerita
ini masuk akal juga.
Pertanyaan pembuatan candi itu juga diajukan anak saya pada liburan bulan
lalu pada saat melihat candi Singosari. Pada saat itu Pak pemandu wisata
menerangkan dan saya ikut mendengarkan, terus terang saya juga ikut kaget,
karena sebelumnya saya punya bayangan yang high tech. Penyusunan batu
dengan teknik saling mengikat dimulai dari bawah, kemudian ditimbun dng
tanah hingga pinggirnya rata dengan tanah, dng demikian  batu dengan mudah
didorong dari samping ke atas,  sampai selesai tumpukan kedua, berikutnya
tumpukan batu ditimbun tanah lagi, demikian selanjutnya, sampai jadilah
bukit tanah yang didalamnya ada tumpukan batu. Tahap berikutnya ada
mengukir batu dari atas, begitu selesai ukiran batu paling atas tanah
dibongkar, batu berikut diukir, demikian selanjutnya. Nah ... makanya candi
Singosari yang diukir baru atasnya, konon kabarnya, tukang ukir kabur
karena ada gunjang-ganjing perang Kediri, sehinnga Candi belum terukir
semua kecuali pada puncaknya. Itulah oleh-oleh cerita dari kaki Gn. Bromo.

regards,
mandhiri





                                                                                
                          
                      Harry Kusna                                               
                          
                      <[EMAIL PROTECTED]        To:       [email protected]   
                           
                      .com>                                                     
                          
                                               cc:                              
                          
                      08/01/2005 01:16                                          
                          
                      PM                       Subject:  Re: [iagi-net-l] 
Borobudur : Posisi Geologi dan  
                      Please respond to         Geomantik                       
                          
                      iagi-net                                                  
                          
                                                                                
                          
                                                                                
                          




Pak Awang ysh.,
3 candi di atas adalah candi Budha yg dibangun di masa pemerintahan wangsa
Syailendra.
Candi Hindu yg kira2 seumur kalau nggak salah adalah candi Prambanan, yg
juga mempunyai ruang di dalamnya.  Dari hitungan mekanika tekniknya
(kesetimbagan), bangunan yg ada ruangnya dng tumpukan batu saja membentuk
pelataran tentu berbeda.  Juga dari mekanika tanah, pondasi, atau kalau
skrg ada lagi geologi teknik-nya (daya dukung, kekerasan, stabilitas
lereng, dsb). Belum lagi sewaktu bikin site plannya, ilmu ukur tanahnya,
stake out di lapangan, kan dulu belum ada theodolite, waterpas.  Pertanyaan
saya, apakah ada buku ttg ilmu2 tsb pd masa itu?  Ilmunya dari mana?  Bgmn
mereka menaikan batu yg besar2 dari elevasi nol bangunan tsb ke puncak,
apakah sudah ada kran cantilever/derek?  Mohon penjelasannya kalau mungkin.
Terimakasih.

Wassalam
HK


Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Candi Borobudur, Jawa Tengah, mesti mempunyai kesan yang sangat kuat dalam
diri Daoed Joesoef, mantan menteri P & K 1978-1983. Daoed muda tahun 1953
pernah mengunjungi candi ini dan menemukan bagunan kuno yang seram, tak
terurus, kotor, penuh sampah, dan tempat berpacaran saja. Sejak saat itu,
bayangan ngeri tentang Borobudur yang semrawut menghantui pikirannya. Waktu
kuliah di Prancis awal 1970-an, Daoed menemukan bahwa Unesco, badan PBB
yang bermarkas besar di Paris, punya dana bagi rehabilitasi bangunan2 kuno
yang punya nilai sejarah yang tinggi. Maka mulailah perjuangan Daoed
menegosiasikan pentingnya rehabilitasi Borobudur. Dan, akhirnya Borobudur
berhasil mendapatkan dana tersebut, memenangkan persaingan dengan kota air
Venesia dan Mohenjodaro di Pakistan. Maka, dipugarlah Candi Borobudur 10
tahun lamanya, 1973-1983 (dana Pemerintah 2/3-nya, 1/3-nya sumbangan
Unesco). Dan sebagai seorang menteri, Pak Daoed Joesoef rutin mengunjungi
restorasi tersebut dan sebagai seoran
g
pelukis, dia mengabadikan peristiwa itu.

Tahun 2004, setelah lama pensiun dari kegiatan di badan2 Pemerintah RI, Pak
Daoed menerbitkan sebuah buku tentang sebuah candi yang menyita
perhatiannya setengah umur hidupnya itu, "Borobudur" (Gramedia, 2004) -
sebuah catatan tentang perenungan, perjuangan pemugaran, dan nilai seni,
budaya, keilmuan sebuah candi Budha terbesar di dunia. Juga, catatan hitam
tentang pengeboman candi ini oleh orang-orang tak berbudaya dan biadab dua
tahun sesudah candi selesai dipugar (Januari, 1985). Sebagai bangsa di mana
candi itu berada, tentu sebaiknya kita tahu sisik-melik candi ini, masa
orang asing lebih tahu dari kita ?

Nah, tulisan ini hanya akan mengemukakan posisi geologis candi ini. Semua
bangunan yang "dimuliakan" tentu tidak asal letak posisi dibangunnya. Kita
sekarang mengenalnya dengan nama Feng Shui atau Hong Shui. Bangsa kita pun
abad ke-9, tahun 825, sudah punya ilmu semacam itu - geomantik, untuk
menempatkan Borobudur. Posisi geomantik Borobudur tak akan dapat dipahami
kalau tidak menghubungkannya dengan dua candi di sebelah timurnya : Pawon
dan Mendut. Borobudur-Pawon-Mendut membentuk satu garis lurus. Mendut, yang
paling timur, dibangun di tepi timur Kali Elo. Pawon di tengah, di bangun 1
km ke barat di tepi barat Kali Progo. Dua kali ini membentuk huruf V, kedua
candi dibangun sekitar 1 km di utara pertemuan kali, sehingga kedua kali
bertemu di antara kedua candi di sebelah selatannya.

Mendut punya ruangan di dalamnya di mana ada patung Budha yang mungkin
paling besar di Indonesia. Pawon punya ruangan juga tapi kosong melompong.
Secara simbolik, Mendut adalah lambang perempuan, lebih2 lagi di gapura
candi terdapat relief Hariti, dewi kekayaan yang sedang menyusui bayi.
Pawon adalah lambang laki-laki dengan ruang kosong di dalamnya ditafsirkan
sebagai tak memiliki kandungan. Maka, Kali Elo adalah perempuan, dan Kali
Progo adalah laki-laki. Pertemuan mereka di selatan kedua candi adalah
suatu physical intercourse, begitu makna simbolik mengartikannya. Dan,
Borobudurlah, buah kasih mereka.

Adalah Nieuwenkamp, arsitek dan etnolog Belanda masa lalu, yang mengajukan
tesis bahwa Borobudur dulunya dibangun di tengah-tengah danau, pada sebuah
pulau. Tesisnya hanya didasarkan kepada bentuk arsitektur Borobudur yang
mirip teratai dan bunganya. Sebuah tesis yang mengejutkan, tetapi
dibenarkan oleh penelitian dua geolog Belanda ternama masa lalu : L.M.R
Rutten dan R.W. van Bemmelen. Mereka menyebut bahwa di dataran tinggi Kedu,
di mana Borobudur dibangun, terdapat beberapa danau yang sekarang
mengering. Nieuwenkamp dan para geolog Belanda saat itu, tahun 1937
mengadakan penelitian besar keberadaan Danau Borobudur ini. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa memang pernah ada danau dengan ketinggian muka
air 235 meter dpl, dan Borobudur dibangun di tengah2nya.

Apa makna simbolik tesis danau Borobudur ? Borobudur adalah janin yang
mengambang di tengah air ketuban rahim, hasil seksualitas Pawon dan Mendut.
Borobudur memuat sekaligus dua ajaran : Budhisme dan ajaran kepercayaan
Jawa Kuno tentang keterjelmaan manusia.

Begitulah "dichtung und wahrheit" tentang Borobudur. Percaya atau tidak,
rasanya tak akan terlalu sulit buat kita untuk menelusuri penelitian
geologis Rutten atau van Bemmelen, bila mereka mengarsipnya.

Kalau sempat mengunjungi Borobudur, mulailah menelusuri relief2nya dengan
benar : yaitu mulai dari lantai 1 tangga timur, dan putarilah reliefnya
dari kanan ke kiri, memutar searah jarum jam, selesai satu putaran, naiklah
ke lantai 2 via tangga timur itu dan putari lagi searah jarum jam, begitu
seterusnya sampai 10 tingkat Borobudur selesai, sebab Borobudur adalah :
"Bhumisambharabudhara" (bukit tumpukan kebajikan pada kesepuluh
tingkatan-tingkatan) - prasasti 842 M (de Casparis, 1950 - interscripties
uit de Cailendra tijd).

salam,
awang

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
 Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com




The  information contained in this communication is intended solely for the
use  of  the  individual  or  entity  to  whom  it  is addressed and others
authorized to receive it. It may contain confidential or legally privileged
information.  If you are not the intended recipient you are hereby notified
that any disclosure, copying, distribution or taking any action in reliance
on  the  contents  of  this  information  is strictly prohibited and may be
unlawful.  If  you have received this communication in error, please notify
us  immediately  by  responding  to this email and then delete it from your
system. CNOOC is neither liable for the proper and complete transmission of
the  information  contained  in this communication nor for any delay in its
receipt.



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina 
(Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id)
Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id)
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com)
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), 
Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id)
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id)
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke