Begitu banyaknya simpang siur mengenai kejayaan majapahit dan gadjah mada di abad 14, ada beberapa versi yang menguatkannya dan melemahkannya, cuplikan-cuplikan sejarah memang selalu tidak lengkap kalau tidak melihat keseluruhan peristiwa dari sejarah itu sendiri, keotentikan sejarah juga patut dipertanyakan saat penguasa sedang berlangsung; ada anekdot yg muncul dikalangan sejarawan, bahwa cerita sejarah banyak terekayasa saat pemerintah kuat menguasai, penguasa akan membelokkan sejarah sesuai kebijakan politik yang mereka anut. Kondisi ini tak terjadi di indonesia saja, cina, korea, begitu kuatnya menolak isi buku sejarah pemerintah jepang atas pencaplokan kekaisaran jepang terhadap mereka, penghapusan peristiwa pembantaian dan pembunuhan rakyat mereka di buku sejarah Jepang adalah hal pembelokan sejarah yang nyata, demikian pula sanggahan pembantaian yang dilakukan oleh westerling di Sulsel oleh Pemerintah belanda, merupakan bukti-bukti pembelokan sejarah yg terjadi.
Untuk Majapahit dan Gajahmada sedikit sekali bukti-bukti penaklukan mereka terhadap kerajaan-kerajaan lainnya di nusantara, prasasti-prasasti yang di buat oleh kerajaan majapahit sendiri sungguh sangat subjective dari sisi sejarah para kerajaan lainnya, sepenggal bukti sejarah yg dimiliki oleh majapahit berbeda makna dengan yg dimiliki oleh pihak lawan. Kita tak menginginkan kalau Majapahit sebenarnya begitu memblowup kesuksesan mereka tanpa melihat fakta bahwa mereka gagal di banyak tempat untuk memperluas kekuasaannya. Candi-candi hindu yang bertebaran di nusantara (terutama luar jawa) terlampau lemah untuk dianggap sebagai bukti kekuasan administratif majapahit, candi bisa jadi hanya bentuk dan bukti penyebaran agama hindu yg dibangun penganutnya dan bisa oleh siapa saja. Majapahit: Raden Wijaya adalah salah seorang menantu Kertanegara. Saat terjadi pemberontakan, ia berusaha mati-matian mempertahankan Singasari. Tetapi sayang usahanya tidak berhasil. Akhirnya, bersama ketiga rekannya Ranggalawe, Sora, dan Nambi, ia melarikan diri ke Madura. Mereka bermaksud memohon perlindungan dari Adipati Lumajang, yakni Aria Wiraraja. Adipati ini, yang tadinya menyokong Jayakatwang menggulingkan Kertanegara, ternyata adalah ayah dan Nambi. Kini sang adipati sudah berubah haluan. Arya Wiraraja lantas menasehati Raden Wijaya agar berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang, sambil meminta sedikit daerah untuk tempat berdiam. Nasehat tersebut diiyakan. Jayakatwang yang tidak berprasangka apa-apa mengabulkan permintaan Raden Wijaya. Sang raden diijinkan membuka Hutan Tarik. Dengan bantuan sisa-sisa tentaranya dan pasukan Madura, dibersihkannyalah hutan itu sehingga layak ditempati. Sewaktu sedang bekerja, salah seorang tentaranya merasa haus. Lalu dimakanyalah buah maja. Ternyata rasanya pahit. Sejak saat itulah tempat tersebut dinamai Majapahit. Bhinneka tunggal ika: Di bidang kebudayaan tampillah dua pujangga ternama, yakni Mpu Prapanca dan Mpu Tantular. Mpu Prapanca menulis Kitab Negarakertagama pada tahun 1365 Masehi. Kitab ini mengisahkan riwayat Singasari dan Majapahit sampai zaman Hayam Wuruk. Sedangkan Mpu Tantular menulis Kitab Sutasoma yang berisi ajaran Siwa dan Buddha. Dalam Kitab Sutasoma inilah tertera kalimat "bhinneka tunggal ika". Dalam versi lain cerita mengenai bhineka tunggal ika bersumber dari kisah seorang raja pemakan daging manusia yang bernama Purushada (seorang cannibal) sangat yg gemar akan daging manusia sebagai menu utamanya sehari-hari. Rakyat awam satu persatu menjadi korbannya dan suasana kehidupan begitu menerorkan. Seorang bangsawan yang bernama Sutasoma merasa sangat terpanggil nuraninya untuk membela rakyat dan menghilangkan suasana teror yg diciptakan raja tersebut, sacrifice sang bangsawan diwujudkan dalam bentuk mempersembahkan dirinya sebagai pengganti rakyat biasa untuk dimakan oleh raja jahanam tersebut. Purushada menjadi sangat murka dan tersinggung, dengan bantuan dewa Siva mereka bersama melawan Sutasoma. Disatu pihak datang pula dewa Buddha membackup Sutasoma. Pertempuran sengit berlangsung dan cukup lama dengan tak ada yang menang dan kalah dari kedua belah pihak, akhirnya munculah Brahmins yang datang untuk menengahi. Dari mulut Brahmins inilah keluar kata-kata Bhinneka Tuggal Ika, kalian berdua ini memang berbeda tapi sebenarnya kalian ini satu. Merekapun berhenti berkelahi. * * Membicarakan kejayaan dan keberhasilan Majapahit di Jawa tak terlepas dari tokoh penting dalam diri Gajah Mada. Kemampuannya mulai terlihat saat ia memimpin pasukan kerajaan memadamkan pemberontakan Semi dan Kuti. Kemampuan semakin jelas terlihat ketika ia berhasil menggagalkan pemberontakan Sadeng dan Keta pada tahun 1331 Masehi. Pada tahun itu juga, ia dilantik menjadi Perdana Menteri Majapahit. Sebagai ungkapan pengabdian kepada kerajaan, Gajah Mada berikrar untuk mempersatukan wilayah nusantara di bawah naungan kebesaran Majapahit. Dalam ikrarnya itu ia bersumpah di hadapan para menteri: Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa (bila telah takluk seluruh kepulauan barulah daku nikmati buah palapa). Ikrar Gajah Mada ini dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Langkah pertamanya melaksanakan ikrar itu adalah dengan menaklukan Bali pada tahun 1343 Masehi. **Minangkabau: Di sumatera barat sekarang, utusan Majapahit mengalami kekalahan telak dalam pertempuran idea, utusan PM gadjahmada yg membawa misi penaklukan kerajaan minang harus menghadapi tawaran pertempuran dalam bentuk lain, kerajaan minang akan takluk ke majapahit andai mereka kalah dalam pertempuran tersebut, sebaliknya majapahit harus mengakui kedaulatan kerajaan minang dalam bentuk putri raja mereka harus memakai tenun minang. Untuk menghindari kebinasaan, kerajaan minang menawarkan adu kerbau sebagai ganti pertempuran pasukan, utusan majapahit setuju dan mereka memilih Kerbau yg tegap, besar dan tangguh untuk adu yg dijadwalkan 2 hari kedepan, sedangkan utusan kerajaan minang hanya memilih anak kerbau yg masih menetek, anak kerbau ini dikurung 2 hari tanpa diberi makan dan minum. H-day pertempuran, saat ke-2 kerbau dihadap-hadapkan maka buah pelir (maaf) kerbau jantan bagaikan puting susu induknya bagi anak kerbau, dan kerbau jantan lari tunggang langgang di kejar oleh anak kerbau dan mati terkapar karena .....(maaf) putus disusu dan digigit oleh anak kerbau, seantero rakyat minang gegap gempita dan teriak Minangkabo!..minangkabo!..minangkabo! (maksudnya; Menang Kerbaunya), kekalahan (kerbau) majapahit inilah yg melegendakan nama minangkabau sampai sekarang ini.(panggung sejarah nusantara) *Gajahmada Tiwas: *Pada tahun 1393, Gajahmada dengan pasukannya yang besar mencoba menyerang Kerajaan Peureulak dan Tamieng di samudera pasai. Tapi tentera Acheh dari kedua kerajaan itu memukul mundur dan menghancurkan tentera Mojopahit itu dan membunuh panglima mereka Gajahmada di laut lepas. Tempat itu kemudian diabadikan dengan nama* Manyakpait (bahasa Tamieng untuk Mojopahit) *sampai sekarang ini. Bukti-bukti penaklukan majapahit terhadap kerajaan samudera Pasai sangatlah meragukan.

