Lawelawe dan Kendurnya Pengawasan Pertamina

 

15/9/2005 06:33 — Jumlah minyak mentah yang dirampok itu melebihi angka 12.600 ton. Dirut Pertamina Widya Purnama tak menyangka pihaknya bisa kecolongan. Widya menduga, oknum-oknum sengaja mempermainkan loses minyak mentah.

 


Liputan6.com, Jakarta: Sebuah penampungan minyak mentah terapung atau single buoy mooring di Lawelawe, Kalimantan Timur, sepekan terakhir menyedot perhatian khalayak. Betapa tidak, melalui terminal terapung milik Pertamina itu, sekitar 12.600 ton minyak mentah dengan mudahnya berpindah tangan kepada para pencuri dan dibawa ke luar negeri. Kendati sudah ditangani pihak kepolisian, jumlah tersangka yang saat ini hampir mencapai bilangan 30 jelas mengejutkan berbagai kalangan. Ternyata, sebagian di antara mereka adalah pegawai dan karyawan kontrak Pertamina.

Perampokan. Itulah kata yang pantas dikenakan terhadap aksi penyelundupan minyak mentah di Terminal Lawelawe, terutama di tengah maraknya kelangkaan bahan bakar minyak di sejumlah daerah. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun gerah. Beberapa hari silam, bersamaan dengan rekonstruksi kasus penyelundupan minyak mentah di Lawelawe, Presiden Yudhoyono memanggil jajaran direksi Pertamina. Seusai pertemuan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Direktur Utama Pertamina Widya Purnama mengaku para pelaku hanyalah pegawai rendahan yang terdiri dari pegawas jaga kapal, juru minyak hingga juru masak [baca: Dirut Pertamina: Penyelundup BBM Hanya Pegawai Rendahan].

Toh, bantahan Widya Purnama saat itu justru menimbulkan pertanyaan dari sejumlah kalangan. Benarkah hanya pegawai rendahan yang terlibat? Nah, sejak itulah Widya Purnama bergerak cepat, terlebih pengusutan polisi telah jauh. Selain memecat sejumlah pegawai, Widya akhirnya menyerahkan setumpuk laporan penyelewengan BBM ke Markas Besar Polri. Ternyata, perkembangan pengusutan polisi lebih jauh lagi.
Ada dua temuan menarik di lokasi penyelundupan minyak di Unit Pengolahan V Balikpapan, Kaltim. Pertama, RTC di Lawelawe dan Balikpapan ternyata rusak sejak September 2004. Alhasil, tak ada catatan pasti minyak mentah yang diproduksi dan dikirim ke terminal Balikpapan dan Lawelawe [baca: RTC di Lawelawe Telah Setahun Rusak].

Pertamina pun mengaku kecolongan. "Kita tidak pernah berpikir crude [oil](minyak mentah) bisa dicolong. Ternyata bisa dicolong," ujar Dirut Pertamina Widya Purnama dalam acara Topik Minggu Ini, Rabu (14/9) malam. Dialog yang dipandu reporter SCTV Bayu Sutiyono ini juga dihadiri anggota Komisi VII DPR Ami Taher. Adapun di ujung telepon ada Direktur Pemberitaan SCTV Karni Ilyas yang dua hari terakhir ini menyertai Tim Mabes Polri meninjau lokasi penyelundupan minyak di Unit Pengolahan V Balikpapan, Kaltim.

Widya Purnama boleh saja mengaku kecolongan. Namun Ami Taher justru menyayangkan lemahnya pengawasan Pertamina. "Pihak Pertamina perlu melihat keterkaitan dengan orang Pertamina dan pihak lainnya yang terlibat dalam hal ini," kata Ami Taher. Ia melihat, betapa mudahnya kapal asing merapat di ponton minyak terapung tersebut. Padahal, menurut Ami, sudah seharusnya kedatangan kapal itu terdeteksi petugas Bea Cukai atau Satuan Polisi Laut.

Ami juga mempertanyakan otorisasi dari petugas jaga dalam menjaga aset Pertamina yang begitu besar, yakni senilai Rp 3 triliun. "Hanya dikomandoi oleh petugas saja itu terlalu naif juga," ujar Ami.

Menanggapi sederet pertanyaan itu, Widya mengatakan, semua pihak bertanggung jawab memantau masuk dan keluarnya stok minyak mentah. Adapun mengenai dugaan keterlibatan orang dalam Pertamina, Widya mengaku akan menindak tegas oknum-oknum tersebut hingga ke akar-akarnya.

Penindakan memang penting, akan tetapi lebih penting lagi menghitung jumlah kerugian yang diderita. Setidaknya seperti yang dilontarkan Karni Ilyas. Menurut Karni, pengusutan besarnya kerugian atas kasus pencurian minyak mentah tersebut mengalami hambatan. Tak ada catatan pasti mengenai besarnya minyak mentah yang diproduksi dan dikirim ke terminal
Balikpapan dan Lawelawe. "Semua minyak yang masuk di SPM Lawelawe berupa crude oil dari luar negeri tanpa record sama sekali," kata Karni.

Karni pun mengungkapkan, alat yang ada untuk mengawasi barang masuk dan keluar yang dinamakan automatic tank gauging (ATG) dan level indicator (Li) itu tidak berfungsi. Adapun kerusakannya terjadi sudah lama. Namun awal rusaknya alat-alat itu belum diketahui secara pasti waktunya. Lebih jauh Karni menuturkan, untuk mendata lalu lintas minyak mentah tersebut selama ini dilakukan dengan cara ditulis.

Lantaran itulah, menurut Karni, kasus ini sudah bukan perkara pencurian maupun penyelundupan melainkan perampokan. "Karena semuanya itu tanpa bayar sama sekali kepada negara. Yang ada hanya kepada oknum-oknum. Dan, itu diakui oleh petugas lapangan," jelas Karni [baca: RTC di Lawelawe Telah Setahun Rusak].

Widya tampak terkejut dengan hasil penemuan Karni. Menurut Widya, kerusakan tersebut seharusnya bisa cepat diketahui. "Kita akan usut besok pagi apakah benar ini. Mesti ada yang bertanggung jawab," kata dia. Karni pun mengatakan, salah seorang pejabat Pertamina di Balikpapan sudah meminta perbaikan ke
Jakarta, tapi belum terlaksana sampai sekarang. "Tapi bisa saja mereka tidak meminta perbaikan," kata Karni.

Hasil penemuan di lapangan itu agaknya juga mengejutkan Ami. Karena itu, Ami menyarankan, sudah seharusnya Pertamina berusaha memperbaiki alat-alat yang rusak tersebut. Alat itu (ATG) sudah lama rusak dan itu sangat menentukan besarnya volume minyak," ujar Ami. Satu lagi kelemahan Pertamina yaitu adanya kebijakan soal batas toleransi tingkat kebocoran (loses) sebesar 0,5 persen. Ami menilai, jumlah tersebut nilainya terlalu besar. Itu bila dihitung tingkat kerugian yang dialami Pertamina.

Pendapat Ami diamini Widya. Jumlah tersebut memang terlalu besar. Ia pun menduga, batas toleransi inilah yang dimanfaatkan para oknum mencuri minyak mentah. "Jangan-jangan loses ini yang dipermainkan," ucap Widya yang sebelum memimpin Pertamina adalah Dirut PT Indosat.

Bila dugaan itu terbukti, Pertamina jelas kedodoran dalam pengawasan di SBM Lawelawe, Kaltim. Walau begitu, Widya tetap berupaya mengatasi kasus pencurian dan penyelundupan minyak mentah ke luar negeri tersebut. Salah satu solusinya, menurut Widya, pihaknya bekerja sama dengan Polri. Bahkan, dalam waktu dekat, Widya bakal memberikan data kapal-kapal, khususnya yang masuk ke Terminal Balikpapan dan Cilacap, Jawa Tengah, kepada Kepala Polri Jenderal Polisi Sutanto. Data tersebut di antaranya berisi informasi mengenai jadwal kedatangan dan muatan kapal. "Dengan data ini semoga [penyaluran minyak mentah] bisa lebih diawasi lagi," ucap Widya.

Niat baik pucuk pimpinan badan usaha milik negara itu memang patut disambut baik oleh seluruh pihak terkait. Dengan demikian, kerugian negara sebesar Rp 8,8 triliun per tahun akibat penyelundupan BBM yang diungkapkan Presiden Yudhoyono bisa dihilangkan atau paling tidak diminimalkan.(AIS)

 

Kirim email ke