Setelah bicara di radio Ramako kemarin jam 8 pagi (atas nama geologist merdeka, 
tentunya -- walaupun mbak Mega dari Ramako sering kepleset memanggit saya 
sebagai Ketua Umum IAGI -- dan langsung saya koreksi:MANTAN, mbak!), saya 
diundang oleh kawan-kawan WALHI untuk datang di markas mereka di Tegal Parang 
Utara 14 jam 5 sore, ikut urun rembug dalam rapat koordinasi LSM-NGO lingkungan 
dan sejenisnya untuk merespon permasalahan bencana banjir-longsor terutama di 
Pulau Jawa. Lebih kurang 23 orang hadir dari berbagai LSM-NGO, diantaranya KPA, 
KAU (Koalisi Anti Utang), beberapa Serikat Tani, YLBHI, PBHI, Jatam, dan yang 
lain-lain yang saya juga agak lupa namanya. Kawan-kawan LSM-NGO memasukkan saya 
dan Pak Gatot (dari DepTan - ahli hidrologi) sebagai kelompok expert. Saya 
sendiri dalam pengantar perkenalan menyebutkan bahwa saya bukan expert 
bencana-geologi, tapi karena pengalaman & aktivitas di IAGI 5 tahun, paling 
tidak, jadi lebih tahu sedikit dari kawan-kawan yang ada di forum tersebut 
mengenai geologi dan kaitannya dg bencana.

Saya datang terlambat (jam 6) pada saat pembicaraan sudah setengah jalan untuk 
merumuskan poin-poin utama yang perlu dilakukan oleh kalangan LSM-NGO dalam 
kaitannya dengan bencana tersebut. Yang menarik, kawan-kawan tersebut menyadari 
bahwa permasalahan bencana banjir-longsor di Jawa adalah multi-sektor dan 
multi-kausal, tapi mereka belum bisa memetakan -apalagi secara kwantitatif- 
kontribusi masing-masing sektor/kausal pada bencana tersebut. Dalam perumusan 
permasalahan dan solusi-antaranya disebutkan bahwa:
- kondisi bencana banjir-longsor di Jawa yang berulang setiap tahun ini sudah 
merupakan kategori extra-ordinary, jadi pemerintah dan masyarakat tidak bisa 
menganggapnya sebagai "business as usual" belaka.
- perubahan tata-guna lahan untuk kepentingan industri, perubahan hutan primer 
menjadi hutan sekunder, dan pembiaran lahan-lahan kritis semuanya berkontribusi 
pada bencana banjir-longsor yang terjadi di Pulau Jawa
- dalam kaitan dg hal nomer 2 diatas, maka re-distribusi kepemilikan lahan 
untuk bisa dikerjakan secara produktif (sekaligus ecologically setimbang) oleh 
para petani menjadi sangat penting
- karena sebagian besar lahan-lahan hutan di Jawa dikuasai oleh Perhutani, maka 
perlu dipertimbangkan "moratorium" Perhutani untuk menata kembali kebijakan 
kehutanan di Jawa
- bencana-bencana tersebut di Jawa pada umumnya juga dikarenakan tata-ruang 
yang tidak layak, terutama dalam pengaturan tata-guna lahan untuk 
pertanian/kehutanan; oleh karenanya perlu didesakkan untuk meninjau ulang 
keseluruhan tata-ruang daerah-daerah yang punya potensi bencana di Jawa 
- pemerintah (pusat, provinsi, kota/kabupaten) bertanggung-jawab sepenuhnya 
atas keselamatan dan penghidupan rakyatnya, sehingga usaha-usaha yang tidak 
serius dari pemerintahan dalam mitigasi dan penanganan bencana harus 
dituntut-digugat, baik secara kelembagaan maupun class-action
- kapitalisasi penanganan bencana dengan menggunakan utang (IMF/ADB etc) telah 
menambah carut-marut perbencanaan nasional, dimana hal tersebut telah membuka 
peluang kontrol/bargaining pihak asing terhadap Indonesia dan bisnis-bisnis 
multinasional yang mengatasnamakan bencana; untuk itu maka transparansi dana 
penanganan bencana didesak untuk segera dilakukan dengan melibatkan grass-root 
dan LSM-NGO
- beberapa statement yang akan diusung sebagai jargon kampanye adalah 
(diantaranya):
*Dari Bencana ke Reformasi Agraria"
*Jangan Gunakan Bencana untuk Cari Utang Baru*
*Bisnis Bencana diatas Penderitaan Petani* dsb

Kedatangan saya menambahkan wawasan baru kepada kawan-kawan LSM-NGO tersebut 
yaitu dengan memasukkan hal-hal sebagai berikut dalam perumusan masalahanya:
- Kwantifikasi multi sektoral / multi kausal untuk kebencanaan mutlak 
diperlukan sebelum kawan2 tsb bergerak lebih jauh, sehingga positioningnya 
lengkap, seimbang dan tidak hanya ke satu sektor saja. Multi kausal bencana 
banjir-longsor bisa diuraikan mulai dari penyebab alam (geologi, meteorologi, 
hidrologi), penyebab teknis-budaya (kehutanan, pertanian, pemukiman, 
tata-ruang, agraria), sampai ke penyebab sosial-politik (keterpinggiran petani, 
kelalaian negara/pemerintahan atas keselamatan rakyatnya, kapitalisme & utang, 
kepentingan bisnis penguasa, kampanye politik, dsb).
- Karena kompetensi teknis dan referensi tentang geologi, meteorologi, dan 
hidrologi mereka kurang (atau hampir tidak ada sama sekali), maka fokus 
perhatian lebih ditujukan pada penyebab teknis budaya (yang lebih berdomain 
permukaan) dan terutama sosial-politik (yang paling disuka oleh kawan2 
tersebut). Untuk meningkatkan kompetensi kelembagaan dan legitimasi saintifik 
gerakan maka networking dengan para ekspert atau asosiasi profesi kebumian 
sangat diperlukan.
- Saya katakan bahwa saat itu saya tidak mewakili IAGI, tetapi lebih ke 
personal professional interest saya pribadi. Tetapi tidak menutup kemungkinan 
bahwa kawan-kawan NGO-LSM bisa lebih berhubungan dengan IAGI di masa depan 
dengan kepengurusan yang baru dibawah Pak Luthfi.
- Peta-peta tematik kebencanaan, terutama untuk gerakan tanah - tanah longsor, 
telah dibuat oleh Pemerintah walaupun belum seluruh daerah bisa dicover. Tetapi 
peta-peta tersebut masih berskala 1:100.000 dimana zona-zona merah (potensi 
tinggi), kuning (potensi menengah), dan hijau (aman) masih belum memperlihatkan 
pembagian rinci untuk kepentingan operasional. Bisa saja 1/4 daerah kabupaten 
masuk ke zona merah semua, dimana lebih dr 3 kecamatan dan mungkin puluhan desa 
termasuk di dalamnya, padahal potensi-potensi bahaya terbesar (berdasarkan 
kejadian) hanya berada di kecamatan tertentu dan desa-desa tertentu saja. Untuk 
itu perlu didesakkan supaya Pemerintan (Pusat, Prov, maupun terutama daerah) 
menyegerakan penyelesaian peta-peta untuk skala lebih operasional yaitu minimum 
1:50.000 sesuai dengan peta dasar yang dipakai dalam RTRW.
- Fokus penangan bencana, sesuai dengan paradigma Bakornas PB, seharusnya lebih 
ke arah MITIGASI dari-pada penanggulangan daruratnya. Tetapi paradigma tersbut 
sampai sekarang hanya menjadi jargon dan slogan dan bahan indah presentasi2 
saja. Tidak pernah dialokasikan dengan serius dana-dana untuk melakukan 
mitigasi, baik di tingkat pusat, apalagi di tingkat kabupaten/kota.
- Dalam jangka pendek (3 bulan kedepan) selain fokus ke penanggulangan korban 
bencana, seharusnya kawan2 NGO-LSM dengan menggunakan jaringannya di 
daerah-daerah bisa ikut berperan dalam mitigasi. Karena selama curah hujan 
terus meningkat seperti saat ini (dan kata BMG sampai akhir Februari), maka 
kita tinggal menunggu waktu saja untuk mendengar berita-berita duka 
longsor-banjir di berbagai tempat lain di sepanjang jalur OAF Jawa (khususnya) 
dan Mountain front Bukit Barisan. Keikutsertaan dalam mitigasi bisa dilakukan 
dengan mengaktifkan sosialisasi kewaspadaan / alterness / preparedness ke 
kelompok-kelompok tani di daerah2 potensi bencana melalui kerjasama dg para 
ahli / professional / asosiasi profesi kebumian. Mereka setuju untuk melakukan 
hal tsb.

Action plan berikutnya dari kawan-kawan NGO-LSM tsb diantaranya adalah:
- Konferensi Pers Bersama 11 Januari 2006
- Konferensi Bencana Multi Sektor 20-21 Januari 2006, dimana disitu akan 
bicara: Wakil dari Pemerintah (kalau nggak SBY ya JK), para ekspert multi 
disiplin, pentolan-pentolan LSM, dan kelompok2 grass-rot petani-petani di Jawa.
- Class Action (belum ditentukan target tanggalnya)
- Pengumpulan data kerugian secara independen di daerah2 yang tertimpa bencana 
(tidak harus menunggu dr Pemerintah), shg masyarakat punya pembanding apabila 
Pemerintah atau ekspert bencana asing mengumumkan temuan angka kerugiannya
- DSB.

Nah, begitulah kira-kira ceritanya. Apabila anda semua, para geosaintis, 
prihatin, concern, dan mau ikut bergerak (tidak hanya bicara), mari sumbangkan 
ide-ekspertize anda (minimal) kepada masyarakat yang butuh bantuan pencerahan 
seperti kawan-kawan LSM-NGO tersebut. Dialog-dialog yang positif dengan mereka 
insyaallah akan ikut membangun penguatan kwalitas dari inisiatif masyarakat 
madani di Indonesia.

Salam
Andang Bachtiar
Geologist Merdeka
Exploration Think Tank Indonesia. 

Kirim email ke