Kepada kawan-kawan IAGINET,.... mohon posting berita terlampir bisa dijadikan 
pertimbangan acuan untuk melakukan kegiatan nyata disekitar tempat anda semua, 
sehingga sumbangan langsung kita ke masyarakat jadi lebih mengena dan terasa.

Salam

Andang Bachtiar
Exploration Think Tank Indonesia

----- Original Message ----- 
From: Andang Bachtiar 
Sent: Wednesday, January 18, 2006 1:01 PM
Subject: AMC pemetaan potensi longsor daerah Malang Raya


Setelah melalui pertemuan-pertemuan pendahuluan baik di Jakarta maupun di 
Malang, akhirnya terbentuk Panitia bersama AMC-IAGI-Unibraw untuk melakukan 
Pemetaan dan Sosialisasi Antisipasi Bencana Longsor/Banjir di Malang Raya, yang 
kick-off meeting-nya dilakukan kemarin 17 Januari 2006 di Sekretariat Sementara 
AMC Jl. Bunga Merak 25 (rumah Marcillinus / Mercy).

Hadir kurang lebih 20 orang dalam meeting tersebut yaitu:
AMC: Kukuh (Ketua, Jkt), Yayang (JKT), Marci (Sby), Daponk, Herland, Saiin, 
Koco, Agus Rawon, Farid, Yoto, Yoga, . sopo maneh yo? lali aku..
Unibraw: Adi Susilo, Sunaryo, Joko Wiyono & 5 rekan mahasiswa,
IAGI: (diwakili Yayang & Marci)
lain2: Mubin (simpatisan) Retno (bojoku)
Hadir pula wartawan2 dari Radar Malang, Kompas, dan Jakarta Post (hasilnya: 
hari ini di halaman G Kompas Jawa Timur termuat berita terlampir).

Dalam kick-off meeting kemarin didiskusikan beberapa hal:

A. Tujuan:
1. Melakukan pemetaan daerah berpotensi longsor/banjir skala operasional 
(25.000 s/d 10:000) yang bisa dipakai secara langsung oleh aparat pemerintahan 
(kabupaten/kecamatan/desa) untuk perencanaan tata-ruang, jalur evakuasi, 
pembuatan shelter dan operasional penanggulangan apabila bencana benar-benar 
terjadi. Peta-peta potensi bencana yang ada selama ini dari pemerintah hanya 
berskala strategis yaitu 1:100.000 yang tidak bisa digunakan secara langsung 
oleh masyarakat / aparat level bawah (dusun, desa, camat) untuk action.
2. Memberikan contoh kepada pemerintah (eksekutif&dpr) bahwa mereka harus lebih 
tanggap dalam mengantisipasi bencana dengan melakukan "real action" yaitu 
pemetaan-pemetaan skala detail tersebut, dimana dalam hal ini contoh tersebut 
diberikan oleh / berasal dari INISIATIF MASYARAKAT (pecinta alam, asosiasi 
profesi, mahasiswa, dan perguruan tinggi). Hal ini terkait dengan lemahnya 
tanggung-jawab pemerintah dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip yang sudah 
terkandung dalam startegi kebencanaan nasional yang diadopsi dalam paradigma 
BAKORNAS PB, yaitu lebih mengedepankan antisipasi/pencegahan daripada 
penanggulangan darurat. Tetapi kenyataannya sampai sekarang sulit sekali 
dilakukan proyek-proyek pemetaan/peneliatian/mitigasi bencana, karena , selain 
banyak dana bencana diperebutkan dan dijadikan lahan KKN ... kasus akhir 2005 
ttg makelar-makelar anggaran benacana di DPR sampai menyeret-nyeret Irma 
Huitabara tsegala .... sifat dasar kekuasaan pemerintahan kita sekarang ini 
lebih ke SHORT TERM action, bukan kepentingan jangka panjang. Akibatnya banyak 
sekali DPRD-DPRD yang meremehkan dan mencibir dan akhirnya menolak pendanaan 
proyek2 yang bersifat jangka panjang penyelamatan rakyat dari bencana tersebut 
karena yang mereka lihat hanya hasil yang berupa peta2 dan rekomendasi, bukan 
hasil fisik seperti umumnya proyek2 infrastruktur dan ekstraksi komoditi dsb.
3. Mensosialisasikan hasil pemetaan dan rekomendasi langsung kepada masyarakt 
dan pemerintahan dari berbagai level, mulai dari dusun, desa, kecamatan, 
kabupaten, dan provinsi, lsm/ngo lainnya, dan tentunya PERS.

B. Constraint:
1. Kerjasama dilakukan antara 4 organisasi, AMC, IAGI Jatim, Lab Geofisika 
Unibraw, dan AAPG Student Chapter Unibraw. Ekspertis kita terbatas pada teknis 
geologi longsor (IAGI), teknis rintis medan, ekspedisi dan pemetaan (AMC), 
support laboratorium, data base dan analyses (lab Geofisika Unibraw), dan 
tenaga-tenaga muda perintis medan (AAPG Student Chapter Unibraw). Walaupun 
synergy/kolaborasi ini membuahkan suatu tim yang positip, tetapi kita juga bisa 
menganggapnya sebagai constraint karena kita belum punya organisasi pendana 
yang significant, organisasi yang ahli dibidang persuasi sosial kemasyarakatan, 
ahli2 surficial (pertanian, kehutanan), dsb. Karena pada dasarnya permasalahan 
bencana longsor/banjir adalah permasalahan multikausal, multisektoral, jadi 
makin lengkap tim kita akan makin yahud hasilnya. Nah, dalam keterbatasan 
inilah tim gabungan ini musti jalan
2. Time-frame: kita hanya punya waktu paling lama 2-1/2 bulan untuk melakukan 
semua pekerjaan dalam rangka mencapai tujuan diatas, karena momen durasi musim 
hujan yang besar (menurut BMG) akan berlangsung hanya sampai akhir Februari, 
dimana setelah itu intensitas akan menurun sampai akhir Maret 2003. Mumpung 
pikiran, perasaan, berita, dana, dan kekuatiran orang masih terfokus pada 
kemungkinan2 bencana seperti Jember, Singosari, Banjarnegara, Purwakarta, dll, 
maka inilah saatnya (momentumnya) untuk melakukan sesuatu sehingga effek 
kegunaannya langsung terasa ke masyarakat (termasuk efek pembelajaran 
politisnya bagi kalangan eksekutif dan legislatif kita).
3. Pendanaan; sampai saat ini dana "bantingan" berasal dari sisa dana HUT AMC 
yang rencananya akan diberikan sbg sumbangan ke Jember (+/-2,5juta); terus 
waktu itu terpikir oleh Zeggy, saya dan Piang untuk mengusulkan penggunaan dana 
itu secara lebih effektif dan effisien bagi usaha ANTISIPASI BENCANA langsung 
di tempat kita sendiri yaitu di Malang Raya. Nah, karena setelah itu Pak Ketua 
Kukuh setuju, maka diinfokan ke Daponk untuk menahan pengiriman dana tsb ke 
Jember tapi diperuntukkan bagi modal awal kegiatan ini saja. Setelah itu kita 
mendapatkan komitmen 5 juta (3juta sudah dikirim) dari BPC, dan juga minimal 
15juta dari mas Kusnio yang ada di Surveyor Indonesia (memakai mekanisme 
bantuan sponsor dari SI), dan juga penjajakan ke Kadin Jatim yang mungkin +/- 5 
juta. Jadi total estimasi dana yang bisa kita kumpulkan antara 25 s/d 27.5juta. 
Nah, dengan constraint dana segitulah kita harus bergerak. Hal ini sangat 
menentukan strategi operasi lapangan dan lebih2 penentuan daerah2 prioritas 
yang akan kita datangi untuk dipetakan.

C. Sifat keterlibatan anggota dalam Tim
Dengan demikian Kepanitiaan atau Tim Gabungan ini diharapkan bersifat 
VOLUNTARY, NO Professional fee, dan hanya menanggung biaya-biaya operasional 
langsung yang terkait dengan kegiatan (baik rapat maupun lapangan). Meskipun 
demikian, secara internal kawan2 AMC juga menyadari bahwa sebagian besar 
aktifis2 AMC yang ada dalam Tim perlu juga mendapatkan kompensasi tertentu 
karena mereka harus meninggalkan pekerjaan mereka sehari-hari untuk 
"membawa/membela" nama AMC diluar. Tetapi hal ini akan diatur tersendiri diluar 
aturan2 Tim oleh Ketua AMC langsung Pak Kukuh. Ada ide juga untuk mengumpulkan 
sumbangan langsung dari anggota2 AMC, terutama yang di JKT dan luar Jawa, 
KHUSUS untuk memberikan insentif kompensasi ini kepada mereka2 yang terlibat. 
Silahkan saja Pak Kukuh, Pak Zeggy,.. untuk mengaturnya.

D. Ulasan keteknisan singkat tentang Potensi Longsor/Banjir
Ada 4 jenis bencana longsor/banjir yang perlu dipahami untuk memudahkan seleksi 
skala prioritas:
1. Banjir lumpur/batu di daerah catchment area suatu sungai yang diakibatkan 
oleh faktor LONGSORAN dan CURAH HUJAN anomali (kasus Jember, Pacet, Bahorok, 
Galado Sumbar dsb)
2. Longsoran lumpur & batuan dr  tebing/gunung yang tidak terkait dengan banjir 
sungai atau catchment area tertentu (kasus: Banjarnegara)
3. Longsoran batu (rock-fall) tanpa medium lumpur atau air (kasus2 di Pujon)
4. Longsoran disekitar dan yang diakibatkan oleh penambangan (kasus Singosari? 
Jawa Barat awal 2005?)
Dalam hal ini Tim akan memfokuskan pada jenis 1 & 2 dari potensi bencana 
tersebut.
Khusus untuk yang nomer 1 dan 2, ada 3 faktor utama yang menyebabkan adanya 
bencana longsor/banjir tsb, yaitu:
1. Kondisi Geologi (Jenis batuan, morfologi, dan struktur:patahan,lipatan dsb)
2. Kondisi Permukaan (Vegetasi, Hutan, Pemukiman, Perkebunan, dsb)
3. Kondisi Sosial-Ekonomi-Politik (Tata Ruang, aturan2, undang2, kemiskinan, 
industrialisasi, ketidakpedulian politik dsb)
Kompetensi Tim Gabungan ini adalah pada nomer 1 (Geologi) dan sebagian kecil 
nomer 2 (pendataan vegetasi, hutan, pemukiman dsb). Khusus untuk faktor nomer 
3,... dan sebagain juga yang nomer 2,.... Tim harus berkoordinasi lebih lanjut 
dg komponen2 masyarakat lainnya. Untuk itulah makanya dalam tujuan sosialisasi 
kita masukkan LSM/NGO sebagai mitra sosialisasi kita (dan juga PERS)

E. Pentuan Daerah Prioritas
Setelah dilakukan reconnaissance survey oleh Mercy dkk week-end yang lalu, dan 
berdasar input dari koran media massa dan masyarakat setempat, maka ditentukan 
6 lokasi sebagai target utama pilot project:
1. Desa Srimulyo, Dampit (sudah terjadi evakuasi masyarakat mengantisipasi 
bencana tapi perlu kita tolong dengan info keteknikan yang benar)
2. Desa Petung Sewu, nDau,
3. Belakang Songgoriti
4. Belakang Selecta
5. Cangar s/d ke Sumber Brantas
6. Daerah Pujon-Ngantang

F. Program Kerja Tim
Di Laboratorium / Sekretariat:
1. Menyiapkan peta-peta lapangan skala 12.500 untuk dijadikan pegangan tim yang 
turun ke lokasi (direproduksi dari peta2 skala 25.000 yang kemarin sudah dibeli 
sebanyak 9 lembar dari Bakosurtanal JKT - saya bawakan ke Malang -)
2. Menyiapkan data dasar informasi berdasarkan GIS
3. Menyiapkan proposal, surat menyurat (ijin, surat jalan, surat pinjam alat 
dsb)
4. Mengkoordinasi laporan-laporan dari Tim Lapangan (persiapannya berupa 
pembuatan format2 pelaporan harian maupun mingguan per lokasi)
Di Lapangan:
1. Setiap Tim yang turun ke tiap lokasi akan beranggotakan minimal 6 orang, 
dibagi menjadi 3 sub-tim
1.1. Sub Tim Catchment Area memetakan titik-titik tertinggi disekitar 
daerah/lokasi longsor, memetakan kandidat shelter area, membuat penampang 
melintang catchment area, dan membuat panorama view fotografi dari ketinggian.
1.2. Sub Tim Kultur/Infrastruktur memetakan kultur/infrastruktur disepanjang 
aliran sungai utama dan beberapa sungai kecil yang menuju ke hulu tempat 
potensi longsor.
1.3. Sub Tim Inti mendatangi tebing-tebing yang punya potensi longsor, 
memetakan retakan-retakan, litologi, vegetasi, dan membuat sketch block diagram 
yang memuat juga mekanisme potensi longsornya.

G. Peralatan
Laboratorium: Komputer, GIS Softwares, digitizer, scanner, peta-peta dasar, 
kertas-kertas, kalkir, alat tulis, dsb
Lapangan: GPS (3 untuk setiap Tim -- masing2 subtim bawa 1 GPS), Kamera (3 
untuk setiap tim -- masing2 subtim bawa 1 kamera), tali meteran 50m, Jacobb's 
Stick, Teropong, Palu, Kompas Geologi, Buku Gambar, Buku Lapangan (Log Book).

H. Skedul/Time-Frame
1. Untuk setiap lokasi minimal dipetakan dalam 2 hari, maksimal 4 hari (3 
malam), sudah termasuk sosialisasi during action-nya ke masyarakat setempat.
2. Karena jumlah personel, dana, dan waktu yang ada maka Tim Lapangan dibagi 
menjadi 2, yaitu Tim Batu dan Tim Non-Batu; masing2 berisi 6 anggota plus 1 
geologist.
3. Tim Batu akan mengerjakan 4 lokasi dalam waktu paling lama 2 minggu (16 hari 
kerja), Tim Non Batu akan mengerjakan 2 lokasi (Dampit dan Dau) dalam waktu 
paling lama 10 hari (mob-demob antar lokasi lebih lama dr Tim Batu).
4. Kegiatan Lab/Kesekretariatan sudah dimulaii dan diharapkan siap untuk 
Lapangan sebelum hari Minggu 22 Januari nanti.
5. Kegiatan Survei Lapangan dimulai Senin 23 Januari, dan diharapkan paling 
lambat 15 Pebruari sudah selesai semua (mungkin untuk Tim Batu akan ada break 
waktu mob-demob)
6. Hari ini Tim advance akan reconn ke Dampit (dipimpin Marcillinus)
7. Antara 15 Peb - 22 Peb AMC dan Tim Gabungan akan mengadakan sosialsasi dan 
Press release ke berbagai pihak, sementara pembuatan laporan-laporan terus 
berjalan dikoordinasikan oleh kawan2 dari Unibraw.
8. 22-28 Peb akan dilakukan penyusuran Sungai Brantas dari Pendem ke Buk Gluduk 
untuk mengecek potensi banjir bandang 50 tahunan di kota Malang (terakhir 
banjir bandang 1963)...hal mana terkait juga dengan laporan akhir TIM yang akan 
memasukkan potensi tersebut dalam keseluruhan rekomendasi kewaspadaan kepada 
pihak2 yang terkait.
9. Sepanjang Maret 2003 akan dilakukan sosialsisasi akhir dan (kalau perlu) 
tour/trip dengan sponsor/wartawan ke lokasi2 yang kita survai.

I. Struktur Organisasi:
1. Steering Commitee: Kukuh (Ketua AMC), Arief (Ketua IAGI Jatim), Adi Susilo 
(Kepala Lab Geofisik Unibraw), Joko Wiyono (Ketua AAPG SC Unibraw), Andang 
Bachtiar (AMC/IAGI)
2. Project Leader: Agus S. Hidayat
3. Kesekretariatan / Keuangan / Adm Umum : Daponk, Farid, ......, ....... 
(lupa: ada 4 termasuk dr Unibraw)
4. Field Leader: Herland AR
5. Technical Leader (Marcillinus, Soffian Hadi, Agus semuanya dari IAGI Jatim)
6. Expert Advisor & Database Support & Analyses: Sunaryo (Unibraw)
7. Tim 1 Batu 6 orang (3 mahasiswa, 3 AMC), Tim 2 Non-Batu 6 orang juga (3 
mahasiswa, 3 AMC)

Demikianlah sekilas pintas berita dari Malang. (proposal lengkap dan notulensi 
lengkap beserta gambar2 sedang diproses oleh Tim: Joko Wiyono dll)

Mohon dukungan kawan2 AMC semua


Salam

Yayang
AMC-073


  ----- Original Message ----- 

Kirim email ke