Berikut ini sebuah uraian yang didasarkan kepada ekskursi geologi lapangan yang
dilakukan oleh BPMIGAS bekerja sama dengan UGM pada 25-29 Januari 2006 minggu
lalu. Tujuan utama ekskursi ini adalah untuk mengenal petroleum geology Zone
Kendeng Jawa Timur, endapan volkaniklastiknya (turbidit Kerek, Pucangan,
Kabuh), dan peluangnya untuk menjadi reservoir hidrokarbon. Zone Kendeng adalah
terusan Zone Bogor-North Serayu di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Peluang dan
tantangan hidrokarbon zone deepwater Jawa di Bogor-North Serayu-Kendeng Trough
bisa dibaca di paper yang saya tulis untuk Deepwater Symposium Asia-Australasia
IPA (Satyana & Armandita, 2004). Wilayah ini jangan dibiarkan tetap tertidur,
siapa tahu ini wilayah hidrokarbon masa depan.
Kali ini, saya tidak bercerita peluang dan risiko hidrokarbon Zone Kendeng,
tetapi bercerita tentang sesuatu yang sesungguhnya telah lama menjadi
kontroversi geologi Pliosen/Plistosen Jawa Tengah-Jawa Timur dan kaitan
paleo-antropologinya. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah tulis di milis ini
: "Hominid Jawa in Problem", nah ini lanjutannya setelah melihat langsung di
lapangan minggu lalu.
"Nama Formasi Pucangan dan Kabuh berasal dari lokasi tipe Gunung Pucangan dan
Desa Kabuh di Jawa Timur sekitar Mojokerto", kata Pak Wartono, dosen senior
Geologi UGM yang mendampingi kami bersama Pak Budianto Toha (Geologi UGM).
Pengecekan lapangan kami sejak Ngawi sampai Perning, Mojokerto menunjukkan
bahwa apa yang ada di lokasi tipe formasi tak selalu sama di setiap wilayah
yang dicantumkan di peta geologi berbatuan Formasi Pucangan dan Formasi Kabuh.
Pucangan kadang2 sebagai konglomerat, lempung hitam, volkaniklastik, dll.
begitu juga Formasi Kabuh.
Lalu, saya ingat kedua formasi itu di Kubah Sangiran. Kedua formasi ini di
Mojokerto, di dekat lokasi tipenya, yang dulu pernah dipetakan oleh Duyfjes,
tak punya litologi yang sama dengan yang di Sangiran. Maka, masih layakah nama
Pucangan dan Kabuh dipakai di Kubah Sangiran, di tempat yang sebenarnya sudah
jauh dari lokasi tipenya itu ?
Dan, persoalan menjadi tambah kompleks sebab, kata Pak Budianto Toha, lapisan
Grenzbank (lapisan batas) yang terkenal banyak mengandung fosil vertebrata dan
hominid itu tidak selalu terletak dijepit Pucangan dan Kabuh, ia menjemari
bersama Kabuh dan Pucangan, artinya akan memusingkan pentarikhan relatif umur
fosil yang ditemukannya. Kalau dulu Grenzbank selalu dianggap di bawah Kabuh
(sehingga fosil di Grenzbank berumur lebih tua dari fosil di Kabuh), kini belum
tentu, sebab Grenzbank karena hubungan menjemarinya bisa lebih muda dari Kabuh.
Adalah fosil tengkorak anak yang ditemukan di lapisan Pucangan (atau Kabuh ?)
di Perning, Mojokerto yang ketika di-dating absolut berumur sangat tua (1.81
Ma). Dari penampakannya, ini adalah Homo erectus seperti yang ditemukan di
Kubah Sangiran yang telah banyak dilakukan dating dan menghasilkan range umur
1.2 - 0.7 Ma. Dating ini dilakukan Carl Swisher dan Garnis Curtis dari
Laboratorium Geokronologi University of Berkeley, California. Publikasi
penemuan ini, bersama dating baru fosil Homo erectus di Kubah Sangiran (1.66
Ma) - Swisher et al., 1994, mengejutkan komunitas paleo-antropologi.
Problemnya, apakah fosil anak Mojokerto itu : Homo erectus, atau lebih tua,
atau masa hidup Homo erectus tak semuda yang diperkirakan, atau Formasi
Pucangan/Kabuh di Perning tak sama dengan Formasi Pucangan/Kabuh di Kubah
Sangiran ?? Berbagai pendapat pernah dikeluarkan, baik yang menyerang metode
geokronologi Swisher itu (misal Bergh et al., 1995), atau menamakan spesies
baru saja buat a
nak
Mojokerto itu (Meganthropus palaeojavanicus, Homo paleojavanicus mojokertensis
?).
Tahun 2002, Carl Swisher, Garniss Curtis, dan Roger Lewin menulis buku bagus
tentang penelitiannya yang kontroversial itu "Java Man" (Scribner, New York).
Buku ini bercerita tentang drama penemuan lapangan, publikasinya, dan
perseteruan dengan para paleo-antropologists.
Agustus 2005 lalu ada Joint Excursion antara ITB dan Goethe Universitat
Jerman ke Sangiran-Trinil-Ngandong-Kedungbrubus-Mojokerto (tampat2 klasik
penemuan fosil hominid Jawa). Masalah kontroversi dating "Homo mojokertensis"
ini rupanya menjadi salah satu problem yang ingin dicari solusinya. Kata rekan
Sunjaya, BPMIGAS, yang mengikuti ekskursi itu, ada dua ahli dari Australia yang
mengumpulkan banyak sampel Pucangan/Kabuh dan mungkin fosil yang ditemukannya
untuk dating. Belum ada kabarnya lagi tentang dating ini (mungkin Pak Yahdi
Zaim/ Pak Yan Rizal bisa sharing info ?).
Saya pun mengumpulkan sampel batuan Pucangan dan Kabuh yang problematik itu,
sejak dari Ngawi sampai ke Perning. Kumpulkan dulu, siapa tahu kelak ada
gunanya..., kapan lagi ke Perning ? Selagi sempat, selagi ada, selagi lewat
(kata pedagang asongan di UKI, he..he..).
Dari Dusun Perning, Mojokerto yang gersang, terkandung suatu problem
paleo-antropologi yang besar. Jika anak Mojokerto itu sungguh-sungguh 1.8 Ma
umurnya, seluruh pengertian kita tentang jalannya evolusi manusia (di Jawa
khususnya) akan membutuhkan revolusi yang substantial.
salam,
awang
---------------------------------
What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos