Sungguh luar biasa karya Prof Soeroso ("mbah Roso") ini. Sepertinya tidak
akan terjadi di zaman yang serba ada seperti sekarang ini. Apakah IAGI dapat
memuat riwayat hidup mbah Roso dalam majalah IAGI?. Saya kira ini perlu
untuk memberikan motivasi kepada teman-teman muda dalam meniti kariernya.
Apakah mungkin IAGI dapat memberi tanda penghargaan kepada mereka yang
berjasa seperti mbah Roso ini?
M. Untung
----- Original Message -----
From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, February 06, 2006 7:49 AM
Subject: Re: [iagi-net-l] PROFESOR OTODIDAK> Sayang sekali sayapun tidak memiliki tulisan alm mBah Roso, yang ada > hanya tulisan "tentang" almarhum mBah Roso saja seperti yg dituliskan > oleh Pak Wartono Rahardjo, 1989. > > RDP > === > Prof.Soeroso Notohadiprawiro (1904-1977) > Oleh: Wartono Rahardjo (majalah Nebula, 1989). > > Tepat bagi kita semua untuk mengenang kembali seorang tokoh > pendiri, "Founding father" dari Jurusan ini. Tokoh yang dulu oleh para > mahasiswanya secara akrab dipanggil dengan sebutan Pak Roso atau > bahkan Mbah Roso, adalah tokoh yang tidak dapat dipisahkan dengan > Jurusan Teknik Geologi FT UGM. Memperingati ulang tahun berdirinya > jurusan tanpa menyinggung nama, peran dan jasa beliau sama saja > dengan secara sengaja melupakan sejarah. Prof Soeroso dilahirkan pada > tanggal 24 April 1904 di Kutoardjo, Jawa Tengah. Beliau adalah putera > ketiga dari keluarga dr.Sukadi. Selepas pendidikan dasar dan menengah > pertama, beliau memasuki pendidikan keteknikan Prinses Yuliana School > di Yogyakarta. Setelah lulus, atas rekomendasi penuh dari direktur > sekolah tersebut, beliau diterima di pendidikan asisten geolog di > Batavia (Jakarta) yang diselenggarakan oleh Bataafsche Petroleum > Maatscapij (BPM) setelah mengalahkan 4 calon lain, yang semuanya > bangsa Belanda. Dengan dasar pendidikan inilah kemudian beliau > bertugas sebagai geolog lapangan untuk BPM menjelajah hutan di > Sumatera Utara dan Sumatera Selatan > > Prof Soeroso memberikan kuliah pengantar kepada mahasiswa baru, di > kampus Jetis tahun 1973 > > Pada tahun 1929, beliau menikah dengan R.Ay.Sri Sutengsun. Dari > perkawinan ini lahir dua orang putera. Salah seorang diantaranya, > yaitu Prof. Dr. Ir.K.R.M.T. Tejoyuwono melanjutkan naluri kecintaan > beliau terhadap bumi, namun tidak lewat geologi melainkan melalui ilmu > tanah (pedologi), dan kini sebagai guru besar di Fakultas Pertanian > UGM. Sedangkan dua dari 5 cucu beliau melanjutkan tradisi geologi > ini. Mereka saat ini telah menyelesaikan pasca sarjananya dalam > geologi di luar negeri. Kelihatannya tradisi ilmu kebumian telah > mendarah daging pada keluarga Notohadiprawiro ini > > Ketekunan beliau dalam melakukan pekerjaan mengantar beliau ke jenjang > karir yang lebih tinggi, Beberapa ladang minyak yang dioperasikan > oleh BPM, proses penemuannya boleh dikatakan sebagai hasil langsung > maupun tidak langsung dari interpretasi beliau. > > Pada beberapa kuliah yang sempat penulis ikuti, beliau pernah > menceriterakan bagaimana suatu persoalan struktur sempat membuat > beliau pusing. Beberapa hari beliau berfikir keras tentang persoalan > tersebut. Dari hasil pemikiran keras tersebut akhirnya beliau > menemukan suatu cara rekonstruksi struktur, yang merupakan modifikasi > dari cara rekonstruksi yang dikembangkan oleh Dr.Molengraaf, seorang > ahli geologi Belanda yang kenamaan. Hasil modifikasi tersebut beliau > namakan sebagai metode SRS. Beliau tidak pernah menjelaskan apa arti > singkatan SRS tersebut. Namun kita yang selalu melihat beliau begitu > antusias kalau menerangkan metode SRS tersebut, menduga bahwa SRS > adalah singkatan dari nama beliau Soeroso. Dengan menggunakan metode > SRS tersebut beliau mencoba memecahkan problema struktur. Namun > setelah beberapa hari bekerja, beliau masih memelukan data tambahan, > yang merupakan suatu perlapisan kunci yang seharusnya ditemukan, > tetapi sampai saat itu belum pernah ditemukan singkapannya. Namun > akhirnya persoalan tersebut dapat dipecahkan melalui suatu peristiwa > yang unik. > > Sudah menjadi kebiasaan pada waktu itu bahwa bagi para geolog lapangan > bahwa sungai merupakan sahabat yang baik. Lintasan pemetaan umumnya > sangat efisien kalau dilakukan dengan menyusuri sungai. Demikian pula > air untuk mandi dan mencucipun diambil dari sungai. Tak ketinggalan > tentunya buang airpun di sungai. Nah pada suatu pagi, geolog muda > Soeroso memisahkan diri dari kru pemetaan yang dipimpinnya untuk > nongkrong buang air di tepi sungai. Benak beliau masih sarat terisi > oleh problematik yang belum terselesaikan . Ketika buang air tersebut, > beliau keras berfikir, sambil sekali-sekali memandang ke arah sungai > untuk melihat barangkali ada buaya ganas yang sedang berjemur. Pada > waktu mata beliau mengamati sungai, pandangannya tertumbuk pada > sesuatu yang mencuat dari dalam air sungai, yang kebetulan tidak > seberapa keruh. Semula beliau menganggap itu sebagai kayu hanyut yang > mencuat dari dalam sungai saja. Namun naluri geologi beliau mengatakan > tidak, barangkali suatu singkapan perlapisan batuan.Secara bergegas > beliau membersihkan diri lalu menghampiri tempat yang mencurikgakan > tersebut. Apa yang ditemui beliau? Tak lain adalah perlapisan kunci > yang selama itu dicari-carinya. Dengan penuh kegirangan diukur dan > dicatatnya singkapan yang sangat berharga ini. Selanjutnya > rekonstruksi struktur dilakukan kembali dan akhirnya persoalan > struktur di daerah tersebut dapat dipecahkan. Selesainya persoalan > struktur itu kemudian secara langsung diikuti dengan ditemukannya > ladang minyak di Sumatera Selatan. > > Dari contoh peristiwa tersebut jelas sekali suatu sikap yang selalu > menjadi ciri dari Prof.Soeroso, yaitu ketekunannya dalam menyelesaikan > pekerjaan. Beliau selalu menunjukkan "commitment" dengan apa yang > sedang menjadi tugasnya. Sikap ini tidak hanya dimiliki pada waktu > beliau sedang bekerja di perusahaan minyak (yang m engantarkan beliau > ke jabatan Asisten Geolog, suatu jabatan teknis tertinggi yang pernah > dicapai oleh seorang pribumi pada waktu itu), tetapi juga di bidang > pendidikan, lama setelah pekerjaan geologi minyak beliau tinggalkan > > Setelah usai perang dunia kedua, keadaan pertambangan minyak dan > pertambangan lain di Indonesia menjadi morat-marit. Tenaga ahli yang > hampir semuanya bangsa Belanda telah meninggalkan negeri ini pulang ke > negerinya masing-masing. Kekurangan tenaga ahli menjadi sangat gawat. > Bukan hanya tenaga ahli tingkat sarjana saja, tetapi tingkatan yang > lebih rendahpun sangat diperlukan. > > Untuk itu, pada awal kemerdekaan beliau di Yogya memelopori > didirikannya pendidikan tenaga menengah dan asisten geologi, yang > kemudian hari menjelma menjadi STM Geologi dan Pertambangan. Disamping > itu, beliaupun aktif pula membantu di yayasan Perguruan Tinggi Gadjah > Mada, bahkan semenjak bagian-bagian dari perguruan tinggi ini masih > berada di Klaten. Keaktifan ini menerus sehingga Perguruan Tinggi > tersebut diresmikan sebagai menjadi Universitat Gadjah Mada pada tahun > 1949. Di universitat inilah beliau berusaha merealisisr salah satu > cita-citanya untuk mendidik sendiri kader ahli kebumian untuk mengisi > lowongan yang ditinggalkan oleh Belanda > > Salah satu usaha beliau yang pertama adalah mendirikan laboratorium > Mineralogi dan Petrografi yang berlokasi di Pingit Kidul. Walaupun > semula laboratorium ini hanya melayani praktikum mineralogi untuk > Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik Jurusan Kimia, namun > laboratorium tersebut merupakan cikal-bakal dari Jurusan Teknik > Geologi. Jurusan ini sendiri baru secara resmi berdiri pada awal tahun > ajaran 1959/1960 > > Satu hal yang patut dicatat adalah bahwa sejak semula Prof.Soeroso > menginginkan suatu bentuk pendidikan geologi yang bersifat > profesional. Hal ini barangkali agak sulit dimengerti saat ini, > tetapi pada saat itu, yaitu pada akhir dasa warsa limapuluhan, apa > yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah tenaga yang siap terjun ke > lapangan sebagai profesional. Bukan sekedar sebagai ahli atau > scientist saja. Ini sangat mudah dimengerti karena hmapir semua > lapangan yang memerl ukan tenaga ahli geologi kosong personilnya. > Dengan demikian kebutuhan ahli geologi lapangan bersifat sangat akut. > Dialin pihak, model pendidikan geologi yang biasa dipakai sebagai > acuan adalah model Belanda, mereka mengikuti falsafah yang berbeda. > Mereka lebih menitik beratkan keahlian berfikir, bukan ketrampilan > mengerjakan dan menyelesaikan persoalan riel di lapangan. Oleh karen > aitu kalau sistem pendidikan seperti model Belanda itu akan diikuti > maka dikhawatirkan yang akan menjadi hasilnya adalah sarjana-sarjan > yang hanya pandai berteori tapi takut kotor tangannya akibat pekerjaan > lapangan. Hal ini yang tidak diinginkan oleh Prof.Soeroso. Beliau > dengan gigih memperjuangkan didirikannya suatu pendidikan Geologi > Terpakai (Applied Geologi). Oleh karena itulah maka ketika pemilik > Laboratorium Mineralogi Pingit yaitu Sekolah Teknik Tinggi (STT) pada > tahun 1955 pecah menjadi Fakultas Teknik (FT) dan Fakultas Ilmu Pasti > dan Alam (FIPA), beliau memilih tinggal di FT. Resikonya secara > administratif kehilangan Laboratorium Mineralogi Pingit, yang sesuai > dengan statusnya sebagai laboratorium ilmu-ilmu dasar, mengikuti > induknya Fakultas Ilmu Pasti dan Alam. > > Namun pemisahan itu nampaknya tidak terlalu merisaukan Prof.Soeroso di > lingkungan FT., pada akhir tahun lima puluhan beliau mendirikan > laboratorium Geologi Terpakai yang berlokasi di kampus FT di Jetis. > Laboratorium inilah yang secara langsung menjadi embrio Jurusan Teknik > Geologi FT-UGM. Dengan modal laboratorium inilah maka pada tahun 1959 > Prof. Soeroso mendirikan Jurusan Geologi Teknik yang kemudian diubah > menjadi Jurusan Teknik Geologi seperti yang kita kenal dewasa ini. > Dari satu laboratorium sebagai modal , sedikit demi sedikit > dikembangkan laboratorium yang lain. Dari sejumlah laboratorium yang > sekarang sudah ada, masih ada cita-cita Prof.Soeroso yang belum > terlaksana, yakni mendirikan alboratorium Geologi Eksperimental. > Menurut angan-anagn beliau di laboratorium inilah dilakukan peniruan > poses alam dengan menggunakan hukum-hukum yang sebenarnya. Disamping > itu dapat juga dilakukan percobaan dan engujian bermacam-macam gejala > dan proses geologi, pengamatan perubahan-perubahan yang terjadi dan > faktor-faktor yang sangat mempengaruhinya. Dengan demikian pemahaman > ilmu geologi tidak hanya cukup secara teoritis di kelas dan praktis di > lapangan, tetapi pengetahuan dan pemahaman tersebut dapat > diverifikasikan lewat sejumlah pengujian di laboratorium > eksperimental tersebut. Mahasiswa tidak hanya dilatih untuk mengerti, > tetapi juga paham, terampil dan mampu bersifat kritis. Sikap kritis > tersebut akan timbul karena mahasiswa dilatih lewat ekperimen > tersebut untuk mengetahui hal-ikhwal dari gejala atau proses geologi, > sehingga ia dapat memahami secara sungguh-sungguh, bukan sekedar > menelan apa yang dikuliahkan oleh para dosen saja. > > Dari uraian tersebut diatas dapat kita lihat betapa dalam dan jauhnya > visi Prof.Soeroso dalam menangani masalah pendidikan ini. Bagi beliau > mendidik sudah menjadi commitment hidupnya. Hal ini beliau buktikan > dalam perkuliahan, puluhan tahun beliau mengajar, teramat jarang > beliau absen dari kuliah. Bahkan di usai beliau yang semakin senja, > keaktifan beliau di masalah pendidikan bukannya berkurang. > Vitalitasnya amat tinggi, bahkan pada awal masa pensiun beliau, > beliau masih sering mengajar (tidak tetap) hanya dengan kendaraan > sepeda. Konon sepeda tersebut adalah sepeda yang amat bersejarah > karena sepeda tersebut merupakan hasil rakitan sendiri. Beliau memang > terampil dalam masalah yang barangkali jauh hubungannya dengan > geologi. Satu contoh, beliau sendirilah yang membangun rumah keluarga > yang terletak di samping nDalem Tejokusuman. Semua dikerjakan sendiri, > sedikit demi sedikit. Semua ini menunjukkan contoh ketegaran hidup > beliau. Ketegaran ini tetap nampak sampai akhir hayat beliau. > > Ir.Ricardo Pardede adalah mahasiswa terakhir yang ujian sarjananya > dipimpin langsung oleh Prof Soeroso, yaitu tiga hari sebelum beliau > wafat pada hari Sabtu tanggal 6 Nopember 1977. > > Duapuluh dua tahun sudah Prof.Soeroso meninggalkan kita, namun jasa > beliau tidak akan dapat kita lupakan . Jurusan Teknik Geologi UGM > tidak akan ada tanpa perjuangan dan jerih payah beliau. Oleh karena > itu pengabdian nama beliau untuknama Stasiun Lapangan Geologi di Bayat > adalah sudah tepat. Sekedar sebagai tanda bukti bahwa kita semua, > generasi penerusnya, tidak melupakan jasa beliau dan kita semua akan > meneruskan cita-cita beliau. > > Oleh: Wartono Rahardjo (majalah Nebula, 1989). > > > > JABATAN YANG PERNAH DILAKSANAKAN OLEH ALMARHUM. PROF SOEROSO NOTOHADIPRAWIRO > > (Sumber: Buku Peringatan 35 tahun Pendidikan Tinggi Teknik, 1981) > > 1958 – 1960 : Dekan F.Teknik UGM : Prof. Ir. Soepardi.S > > Sekretaris F.Teknik UGM : R.Soeroso Notohadiprawiro > > 1960 – 1962: Dekan F.Teknik UGM : Prof. Ir. Soenarjo > > Sekretaris F.Teknik UGM : R. Soeroso > Notohadiprawiro. > > Di Jurusan Teknik Geologi: > > 1959 – 1968 Ketua Jurusan : Prof. Soeroso Notohadiprawiro > > 1968 – 1970 Ketua Jurusan : Prof. Soeroso Notohadiprawiro > > Sekretaris Jurusan : Ir.Sudaldjo, PA. > > 1970 – 1972 Ketua Jurusan : Prof. Soeroso Notohadiprawiro > > Sekretaris : Ir. Wartono Rahardjo. > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

