Profesor Soeroso adalah mantu GPH (Gusti Pangeran Haryo) Tedjo Koesoemo. GPH Tejo adalah anak bungsu Hamongku Buwono VII, raja Mataram. Profesor Indonesia di hasilkan banyak dari UGM (berdiri 1949, sekitar 300 prof ?), UI (1950), Unair (1954), ITB (1959 resmi nama ITB dari lahir THS 1920), IPB (1963), dst.
Sejarah penyandang professor, memang menarik. Mestinya lebih banyak lagi profesor yang pendidikannya tak tinggi, atau hanya sarjana, atau hanya master, tak doktor. Jaman penjajahan Londo, yang bisa mengenyam pendidikan adalah orang tertentu saja, yang bisa disebut hanya keturunan kraton. Keturuan kraton tersebar di kadipaten, prabrik-pabrik gula, karet, dll. di waktu penjajahan Belanda itu. Karena "humble"nya, maka sering tak tonjolkan sebagai raden, nulis sebagai singkatan kadangpun tak ada, dan mungkin memudahkan membaur dlm sosialisasi. Karena kadang juga di perlukan, maka sering hanya sebut R saja. Hanya 70'an (guruku sebut 66 seingatku) sarjana di th 1945 Indonesia merdeka. Kalau bisa masuk web daftar profesor UGM, misalnya, tentu akan tahu tingkat pendidikan professor-profesor. Semakin tua/lama, semakin mudah mencari profesor pendidikan lebih awal. Merekalah sebabkan kita pintar kini. Kita mungkin tak pintar tanpa beliau-beliau. Wikepedia, sebut sbb. Jumlah mahasiswa tercatat hingga th. 1996/1997 adalah 1.924.763 orang, PTS (75.27%), 3 kali PTN (24.73%). Web lain pernah ku baca sebutkan : Di seluruh Indonesia saat (th 2005) ini terdapat 77 PTN (kalo' ada angka 7, ku mudah ingat) di bawah lingkungan Depdikbud, yang terdiri dari 2 Akademi, 26 Politeknik, 4 Sekolah Tinggi, 10 IKIP, 4 Institut, dan 31 Universitas. Ke 77 PTN ini menampung 475.988 mahasiswa (tahun 1996/1997). HB IX yang dirikan UGM, serahkan 300 hectar tuk pendidikan, cikal bakal perg. tinggi Indonesia, dan banyak orang kraton sebagai pendidik awal UGM. Ki Hajar Dewantoro (keturunan Pakualaman), K H A Dahlan (Mataram) cikal bakal pendidikan Indonesia. Prof. Ir.R. Mugiono, raden dari Kolopaking (Banyumas, adipati Mataram, banyak jendral-nya), adalah profesor lama yang tak master/doktor. Prof Dr. R.P. Koesoemadinada, raden dari Pejajaran ? P singkatan apa Pak ? Prof Dr. Ir. Herman Johannes lulusan THS (awal nama ITB), bapak fisika Indonesia, istrikan putri raja Rote. Mataram, Surakarto, Demak, Rote, Pejajaran, banyak raja yang keturunan (darah, gene) Arab, mungkin juga Mojopahit. Cirikan orangnya pintar (juga tinggi bila masih amat dominan gen Arabnya), termasuk Qurais dan Jahudi sebagai keturunan Nabi Ibrahim. India Pakistan dilaporkan suatu kedokteran, bahwa 99 % gene nya dari gene Arab. Orang India juga lahirkan orang bangsawan Bali (seperti yg nama Gedhe, Agung, dll). Apa yang bisa kita wariskan ? Salam, Maryanto. -----Original Message----- From: ismail [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Sunday, February 05, 2006 11:56 AM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] PROFESOR OTODIDAK Mungkin masalah tulisan / karya tulis ini , merupakan perbedaan antara Profesor jaman itu dg jaman sekarang. jaman dulu mungkin "tidak diukur" seberapa banyak dia menulis , namun untuk ukuran sekarang menjadi sangat pokok / utama . paling tidak untuk Profesor yang di hasilkan dari APU dimana harus mengumpulkan tulisan tulisan ilmiah dan dipublikasikan untuk memperoleh angka kredit tertentu . dan juga menjadi sarat pokok tingkat pendidikan formalnya, (Jangan harap bisa jadi Profesor kalau hanya lulusan STM seperti Mbah Roso tsb untuk jaman sekarang) Saya sangat salut dengan Mbah Roso ini, bayangkan dg pendidikan formalnya "hanya"STM itupun bukan Geologi ( Sipil) bisa menjadi Ahli Geologi yang hebat. Dan saya sangat beruntung pernah merasakan kuliah dg Mbah Roso ini , Mungkin sebetulnya Geologi itu bisa juga kita pelajari tanpa harus menjalani pendidikan formal dan dapat menjadi Ahli Geologi. Ism ----- Original Message ----- From: "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Saturday, February 04, 2006 8:34 PM Subject: Re: [iagi-net-l] PROFESOR OTODIDAK > Saya sangat kagum atas prestasi Prof Suroso, dan pernah bertemu, namun > tidak sempat berdiskusi dengan beliau mengenai geologi. > Barangkali Pak Rovicki mengetahui keberadaan tulisan-tulisan beliau? Saya > ingin mengkoleksinya, paling tidak fotocopy-nya. > Terima kasih > PLEASE DO NOT ATTACH FILE LARGER THAN 500 KB > R.P.Koesoemadinata > Jl. Sangkuriang G-1 > Bandung 40135 > Telp: 022-250-3995 > Fax: 022-250-3995 (Please call before sending) > e-mail: [EMAIL PROTECTED] > ----- Original Message ----- > From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Friday, February 03, 2006 7:33 PM > Subject: [iagi-net-l] PROFESOR OTODIDAK > > >> Setelah kemarin berdiskusi tentang sebutan profesor di IAGI-net >> ternyata dekat dengan kita (geologi) ada seorang profesor yg bukan >> sarjana. >> >> PROFESOR OTODIDAK >> >> Dikutip dari majalah Gelora Mahasiswa, no.8, thn 3, edisi Desember 1978. >> http://geologi_ugm.tripod.com/ >> >> >> Anakmuda harus punyakeberanian bereksperimen, ketangguhan "ousdour" >> atau ketahanan diri dalam menghadapi cobaan hidup. Percaya kepada >> kemampuan diri dan jangan hanya menggantungkan input dari pendidikan >> formil, tapi belajarlah otodidak," demikian petuah Profesor Soeroso >> Notohadiprawiro, 72 tahun, Gurubesar matakuliah Geologi di Fakultas >> Teknik UGM. Dia bukan sarjana, tidak punya diploma perguruan tinggi >> selain ijazah STM jaman Belanda "Princees Yulianna School" jurusan >> Sipil dan mengecap pendidikan arsitek 1,5 tahun. Namun bukan omong >> kosong bahwa mbah Roso - nama panggilan dari para mahasiswa, adalah >> orang Indonesia pertama yang punya reputasi di bidang ilmu geologi >> secara gemilang, lagipula tanpa lewat bangku kuliah. >> >> Kecemerlangan otaknya dibuktikan sejak kecil. Sekolah Dasar (Mulo) >> yang 7 tahun hanya diikuti kelas-kelas 1, 2, 4 dan 7, kemudian masuk >> STM PYS, 4 tahun. Sebenarnya rintisan pengalamannya di bidang bangunan >> sipilpun cukup cerah. Ketika usia 18 tahun - menurut Undang-Undang >> Perburuhan Belanda belum boleh bekerja, dia sudah menjadi pelaksana >> bangunan dari perusahaan pemborong "Sitzen & Lozauda" Yogyakarta, yang >> mengerjakan gedung BNI 1946, kantor berita "Antara", PLN Magelang dan >> rumah-rumah di Kotabaru. Tetapi kebosanan dan keinginannya untuk hidup >> berdikari mendorong dia meninggalkan pekerjaannya dan menerima anjuran >> bekas gurunya Van Der Houven mendaftarkan sebagai pegawai perusahaan >> minyak Inggris dan Belanda "Shell" dan BPM. Atas bantuan insinyur >> Houven pula, pemuda Soeroso merupakan satu-satunya orang pribumi dari >> 80 pemuda yang diterima. "Waktu itu Belanda memang menutup kemungkinan >> orang pribumi belajar geologi dan pertambangan, sehingga pengembangan >> ilmu geologi disini agak lamban", ujar Profesor. >> >> Selama 3,5 tahun putra dokter jawa Soekardi mengikuti pendidikan >> pegawai perminyakan di Den Haag, sebelum diangkat jadi ajun geoloog. >> Kerja pertamanya di daerah Rantau, Aceh, mengawali prestasi-prestasi >> Soeroso sebagai ahli eksplorasi geologi dan minyak bumi. Dia berhasil >> "menjatuhkan" 17 orang penyelidik pendahulunya - termasuk beberapa >> sarjana, yang telah menyatakan Rantau sebagai daerah 'non minyak', >> tetapi ternyata merupakan sumber minyak yang menghasilkan jutaan >> gulden bagi BPM dan Shell. Kemudian berturut-turut dijelajahi hampir >> seluruh Sumatera untuk mencari ladang minyak baru atau eksplorasi >> ilmiah. "Di Pangkalan Susu, Teluk Aru, ladang minyak yang saya temukan >> ketika di bor menyembur deras dengan debit 1 juta ton sehari telah >> menggenangi laut dan terbakar. Apinya menjulang dan kelihatan dari >> jarak 90 km di kota Medan, sebulan baru dapat dipadamkan dengan >> bantuan tenaga dari Amerika. Peristiwa itu membeawa beberapa korban >> jiwa manusia ...", nampak suara Profesor sendu menceritakan kisahnya >> kepada GEMA. >> >> Jaman perang memang mampu menyulam pengalaman orang dengan aneka cara >> hidup. Tatkala Jepang masuk, Soeroso yang masih punya gelar bangsawan >> : Raden, terpaksa sembunyi di Gunung Sawal, Jawa Barat, takut jika >> dipaksa jadi romusha oleh 'saudara tua'. Hampir dua tahun saya jadi >> petani karet dan kelapa serta mendirikan perusahaan dagang "Banyu >> Asih", sebelum saya diminta menjadi Wakil Direktur STM Jakarta oleh >> kerabat saya Ki Hadjar Dewantara dan mulai saat itu saya melakukan >> profesi sebagai pendidik" dan berkenalan dengan Pak Johannes Roeseno, >> Soewandi dari Bandung. Katili masih jadi mahasiswa", katanya. Tetapi >> kerja baru sebagai pendidikpun kiranya Soeroso tidak mengalami >> hambatan. Setelah ikut hijrah mendahului pindahnya pusat pemerintahan >> RI ke Yogya, bersama sejumlah Profesor dan bangsawan kraton, Soeroso >> ikut mendirikan Universitas Gadjah Mada serta menjadi dosen Geologi. >> >> Tahun 1960, resmi jabatan Gurubesar ilmu Geologi mulai dipangku, dan >> Soeroso adalah Professor yang bukan sarjana. Lulusan STM yang pernah >> ceramah di Utrech, California, Tokyo, Delft, Utah, Austria, Munchen >> serta mendapat penghargaan dari "International Cooperation >> Administration, karena prestasinya di bidang pendidikan teknik plus >> Bintang Satya Lencana Pengabdian dari Pemerintah RI. >> >> ===== >> >> - Nama Prof Soeroso sekarang dipakai sebagai nama Stasiun Lapangan >> Geologi di Byat, Klaten, Jawa Tengah. Stasiun Lapangan ini menjadi >> tempat kuliah lapangan baik dari Jurusan Geologi, dan fakultas lain >> dari Univ Gadjah Mada, juga dari Universitas lain. Lapangan ini >> dikelola oleh Jurusan Teknik Geologi UGM. >> - Ir.Ricardo Pardede adalah mahasiswa terakhir yang ujian sarjananya >> dipimpin langsung oleh Prof Soeroso, yaitu tiga hari sebelum beliau >> wafat pada hari Sabtu tanggal 6 Nopember 1977. >> --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : Ratna Asharina (Ratna.Asharina[at]santos.com)-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi(sunardi[at]melsa.net.id) Komisi Karst : Hanang Samodra(hanang[at]grdc.dpe.go.id) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo(soeryo[at]bp.com) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin(ridwan[at]bppt.go.id atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius(zardi[at]bdg.centrin.net.id) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono(anugraha[at]centrin.net.id) ---------------------------------------------------------------------

