Coba kita lihat sejarah bencana beberapa gunungapi dalam hubungan ilmiah dan 
non-ilmiah ini.
   
  Erupsi Gunung Agung (1963) sebenarnya tidak usah menelan korban yang begitu 
banyak andai pamongpraja setempat pada waktu itu lebih mendengarkan nasihat 
para ahli gunungapi daripada upacara adat yang harus dilakukan di Pura Besakih. 
Para ahli gunungapi malahan mendapat teguran untuk tidak mencampuri urusan 
adat-istiadat setempat. Upacara keagamaan penting, tetapi jangan lengah dengan 
situasi alam yang tak bisa menunggu-nunggu lagi.
   
  Korban Sinila (Dieng, 1979) juga tak perlu begitu banyak andai tanda-tanda 
bahaya (awas gas beracun !)  di sekitar gunung tersebut tidak dirusak oleh 
penduduk setempat yang malahan mendirikan beberapa bangunan seperti sekolah di 
tempat tanda bahaya dipasang.
   
  Di acara TV beberapa hari lalu Mbah Maridjan sewaktu diwawancarai oleh kru TV 
berkomentar "ya ikut pemerintah saja" (untuk kapan evakuasi) dan sang Sultan 
Yogya pun (yang katanya punya hubungan batin ke Merapi dan Laut Kidul) bilang 
"ikut yang diumumkan pemerintah".
   
  Nah, tugas berat buat rekan-rekan kita di Direktorat Volkanologi dan Mitigasi 
Bencana Kegunungapian. Walaupun Merapi makin menunjukkan gejala mau "muntah" 
tentu tak mudah menentukan kapan hari H mesti evakuasi. Terlalu cepat 
dievakuasi tetapi ternyata Merapi tak meletus akan mengikis kepercayaan 
masyarakat kepada para ahli gunungapi di samping memakan biaya di tempat 
pengungsian. Terlambat dievakuasi, akan menelan banyak korban dan para ahli 
gunungapi kembali dipersalahkan. Nah, kapan yang pas ?
   
  Masalah pelik sekali, dan di negara maju pun begitu (lihat saja film "Dante's 
Peak) - belum lagi ketidaksepahaman di antara para ahli. Semoga tepatlah hari 
evakuasinya kalau diperlukan.
   
  Kalau Merapi meletus hebat tahun ini (2006), maka tepatlah 1000 tahun sejak 
erupsinya yang pertama yang tercatat dalam sejarah.
   
  salam, 
  awang
Rovicky Dwi Putrohari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  On 4/20/06, [EMAIL PROTECTED] 
wrote:
> Merapi bakalan meletus 10 - 14 hari mendatang demikian sendiko
> pendito Raja NgaYogyokarto Hadiningrat,Sultan Hamengku Buono
> Kaping sedoso (demikian di Detik .com.)Apa wedus gembelnya sudah pada lari 
> ya....
>
> Ism

Kadangkala kalau ada "sendiko" dari sultan atau kyai, pendeta, pastur,
bhiksu dll yg tidak didasarkan pada kaidah ilmiah ini terdengar lucu.
Memang bisa saaj sendiko ini sangat ampuh dalam penanggulangan atau
usaha mengurangi korban. Namun dalam jangka panjang tidak memberikan
keberdayaan masyarakat dalam mengenali kondisi alamnya. Bahkan lebih
ekstrimnya "tidak mendidik", walaupun bisa saja menyelamatkan nyawa.

Darurat (emergency state).
Sebagai penguasa atau pejabat seringkali dalam kondisi yg sangat
"darurat" maka penjelasan ilmiah sudah bukan hal yg penting lagi, yg
penting selamat. (note: kondisi "darurat" ini bisa saja sangat
subjective).
Memang kalau rakyat masih hanya mampu bersikap menunggu
amaran/peringatan/berita dari "yang dipercaya" maka ucapan (sendiko)
dari sang raja akan lebih ampuh sebagai "komando". Keampuhan "komando"
ini akan terlihat dari pada kajian ilmiah yang "ndakik-ndakik" (detil
dan bertele-tele) bikin mumet malah ndak sempat menyelamatkan diri.

Namun sangat disadari oleh para pendidik bahwa perlu saat-saat
tertentu untuk memberikan "ilmu" sehingga akan "berkesan". Saat-saat
genting akan memberikan usia penyimpanan memory yg lebih awet
ketimbang saat normal.

Pemahaman terhadap kondisi rakyatnya ini (yg sering masih tertinggal)
sangat jarang dimiliki orang yg pinter. Yah wajar saja, scientist
biasanya hanya melihat secara alamiah apa-adanya, tidak berpikir
bagaimana manusianya, wong kondisi alamnya emang sudah gitu, mau
gimana lagi?.

IAGI saat ini memiliki momen bagus untuk memperkenalkan pendekatan
ilmiah-akademis dalam menghadapi G Merapi secara khusus dan Gunung api
pada umumnya. Membuat tulisan di koran lokal, ceramah atau hal-hal
lain termasuk mengajak mahasiswa supaya lebih mengenal alam
sekitarnya.
Menjelaskan bahaya Gunung Api lebih bermanfaat buat Yogyakarta.
Seminar gempa dan tsunami kurang relevan dengan Jogeja.

Duo- Pendekatan dua arah scientifik dan klenik.
Pendekatan dari berbagai arah barangkali akan sangat efektif dalam
menghadapi gejala alam di Indonesia ini. Pendekatan klenik akan sangat
diperlukan dalam kondisi gawat (emergency), juga peanfaatan
orang-orang yg berpengaruh misalnya "penjaga" G Merapi, dan juga Raja
atau Sultan penguasa di Jogja. SBY juga sudah meminta "prediksi"
ilmiah tentang kemungkinan letusan Merapi.

Saya sendiri ketika membaca berita tentang perubahan status G Merapi
dua minggu lalu tidak secara khusus mengkaji ilmiahnya, lah wong aku
juga bukan volcanologist. Aku hanya merasa perlu memposting di IAGI
saja. Memang kadangkala ada "rasa" ketika mengamati perkembangan
status Merapi ini. Kayaknya gara-gara dulu sering "ngematke" gunung yg
satu ini. Ya dulu aku suka melihat Gunung Merapi dari atap rumah wektu
masih kecil di jogja, psst sambil main layang-layang :).


RDP
Quote ----
Menurut Menko Kesra Aburizal Bakrie seusai rapat di Kantor Presiden di
Jakarta, kemarin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta jajaran di
bawahnya, khususnya Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Kegunungapian, membuat prediksi kemungkinan terjadinya letusan Merapi
secara ilmiah. (Tim Kompas)

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------



                
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

Kirim email ke