3. - Tidak tahu bahwa dirinya tahu - ...

Mas Budi,
Saya ebih condong menyatakan bahwa orang ini mungkin rendah diri atau
minder. Saya ambil contoh serta analogi sewaktu obrolan santai IATMI-KL
Jumat lalu, dimana Rusdinadar Sigit sebagai pembicara ttg Enterpreneurship
dengan judul "Client Engagement".
Pak Sigit ini sudah malang mlintang dalam dunia konsultasi, beliau pernah
menjadi "consultant of the year" di Landmark dan akhirnya bekerja mandiri
(mendirikan perusahaan di Malaysia) bekerja sebagai freelance. Menurut Pak
Sigit ini banyak GGE Indonesia yg sebenernya pinter, mereka tahu banyak
tentang teori dan aplikasi serta segala aktifitas dalam usaha perminyakan
ini, namun banyak diantaranya yg tidak tahu bahwa pengetahuan GGE ini jauuuh
lebih tinggi dari orang lain, juga jauuh lebih tinggi dari orang-orang
"bule" sekalipun.
Menurut Pak Sigit, bahwa rekan-rekan Sr Geologist di Petronas ini tidak
semestinya mengerjakan geostatistic modelling, karena utk mengerjakan
geostatistik ini mestinya bukan pekerjaan level "senior geologist" tetapi
sudah "specialist geologist". Jadi semestinya mereka ini mampu
mengerjakan lebih
dari yg dicari oleh Petronas, tanpa mereka ketahui (sadari). Betapa
untungnya Petronas, yah ?

Disini saya rasa mereka tidak tahu bahwa mereka tahu banyak. Hanya karena
perasaan minder yg mungkin akhirnya tidak memunculkan apa yg sebenernya dia
ketahui (ketika wawancara). Sering menyatakan, ah orang lain juga tahu kok.
Ini kan cuman pekerjaan keciil dsb. Sehingga kurang menghargai kemampuan
diri sendiri. Menurut Pak Sigit, ini bisa jadi akan mengarah ke "underpaid".
Karena harga (gaji) yg diperoleh lebih rendah dari standart yg dimiliki oleh
Petronas sendiri.

Jadi kalau saya analogikan apa yg dibicarakan menurut Rusdinadar Sigit, GGE
Indonesia ini banyak yg pinter-pinter (tahu), tanpa dirinya tahu.

Salam
RDP
"jadi jangan minder, tapi juga hati-hati jangan sampai kepleset di kwadran 4
..:p"

On 4/21/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Pak rovicky,
> tentang empat kwadran ini cukup menarik. Saya mengerti untuk kwadrat
> 1,2,dan 4. bisa tolong beri penjelasan lebih lanjut untuk kwadran 3?
> menurut pendapat saya tentang "enlightment" mungkin akan lebih mudah
> mendapatkannya bila orang tersebut merupakan orang yang "open mind"
> dengan analog dalam menanggapi pendapat atau opini seseorang dia bersikap
> gelas kosong sehingga dia akan menampung opini yang ada. Bukan menerapkan
> prinsip seperti gelas yang penuh dengan larutan, sehingga segala pendapat
> orang lain akan percuma karena akan "mudal" dalam bahasa sundanya.....
>
>
>
>
> "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
> 04/20/2006 04:59 PM
> Please respond to iagi-net
>
>
>         To:     [email protected]
>         cc:
>         Subject:        [iagi-net-l] Hari Kartini
>
>
> Pendekatan Pak Awang ini memang dulu sering dipakai untuk menunjukkan
> mengapa atau apa motivasi seseorang utk melakukan sesuatu. Perasaan tidak
> memiliki menjadi keinginan memilki. Karena merasa sangat "negatip"
> (kurang)
> maka ada keinginan menjadi "positip". Ini pendekatan dua kutub + dan -
>
> Namun dalam hal ilmu pengetahuan atau pendidikan kadangkala ada yg
> melihatnya dengan kacamata berbeda berbeda. Dengan menggunakan empat
> kwadran.
> Kalau dibuat empat kwadran :
> 1. - Tahu bahwa dirinya tahu - Ini bener-bener wong pinter
> 2. - Tahu bahwa dirinya tidak tahu - Ini yg menjadikan orang yg rajin
> blajar
> 3. - Tidak tahu bahwa dirinya tahu -
> 4. - Tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu -
>
> Curiousity atau keingintahuan bukan karena merasa tidak tahu tetapi sebuah
> perasaan manusia yg "sudah ada dari sono". Mengapa bukan kebodohan ?
> Orang bodoh adalah orang yg masuk dalam kwadran 4 "tidak tahu bahwa
> dirinya
> tidak tahu". Sehingga sulit bagi si kwadran 4 untuk menjadi tahu (sadar).
> Lah diberitahu sampai "meniren" ya ndak bakalan tahu.
>
> Perubahan dari satu kwadran ke kwadran yg lain ini diperlukan pencerahan "
> enlightment", aku sendiri belum tahu apa yg menjadikan orang bisa
> mendapatkan "pencerahan". Seringkali datangnya "ujug-ujug mak pluk !"
> (disini aku masuk kwadran 2 atau mungkin 4 :).
>
> Enlightmen ini bisa berupa inspirasi
> Seperti Newton, yang katanya mendapat ide ketika kejatuhan apel. Peristiwa
> tak terduga yg akhirnya membawa ke teori gravitasi dan membuaka cakrawala
> dunia. Hal yang sama dengan Archimedes yg tiba-tiba melonjak keluar dari
> tempat berendamnya. Peristiwa ini kalau dilihat sepintas sepertinya
> memalukan, berlari-lari masih dalam keadaan telanjang, namun membuat
> sebuat
> teori apungan benda. Apakah mereka-mereka ini duduk diam saja ? Tentu
> tidak
> .... keingintahuan yg terus menerus dan berulang inilah yg menimbulkan ide
> dan inspirasi dan akhirnya bersiklus menjadikan manusia mengerti, sadar
> akan
> dirinya (conciousness). Namun tidak jarang manusia ini malah berubah dari
> kwadran 1 kembali ke kwadran 4 ... karena kesombongan atau ketidak
> tahuannya
> justru akhirnya menjadi "sok tahu" ....
>
> salam
> RDP
> "bagaimana orang lain tahu kalau kamu tahu, kalau kamu ndak pernah
> memberitahu"
>
> On 4/20/06, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Berdasarkan logika, pengamatan, pendapat pribadi dan pelajaran hidup
> saja
> > Pak Nataniel. Contoh sederhana saja, orang yang mengambil kursus/les
> bahasa
> > inggris tentu karena dia merasa masih kurang (katakanlah bodoh)
> penguasaan
> > bahasa inggrisnya, orang yang memilih mengambil kursus sequence
> stratigraphy
> > tentu adalah orang yang tertarik dengan sequence stratigraphy tetapi dia
> > sendiri tak tahu banyak soal yang diminatinya.
> >
> > Maka, kebodohan adalah dorongan yang kuat menuju kepintaran. Sadar dulu
> > bahwa kita bodoh adalah langkah awal kepada pembelajaran.
> >
> > Kalau saya, selalu beprinsip semua hal negatif (tekanan, ketidaktahuan,
> > kebodohan, kemiskinan, siksaan, penghinaan, kelemahan) adalah dorongan
> yang
> > kuat sekali untuk menuju kutub2 sebaliknya. Dulu, semasa masih sekolah
> > menengah-kuliah, saya tulis besar2 di dinding kamar saya, "doloris
> sopitam
> > recreant vulnera viva animam" - luka duka dan derita akan membangunkan
> > kemampuan jiwa yang layap-layap tertidur.
> >
> > Salam,
> > Awang
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Nataniel Mangiwa [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > Sent: Thursday, April 20, 2006 1:36 PM
> > To: [email protected]
> > Cc: [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: [iagi-net-l] Hari Kartini
> >
> > ini ngutip dari mana Pak Awang? atau berdasarkan pelajaran hidup ;)
> >
> > "Tidak akan ada kepintaran kalau tidak ada kebodohan"
> >
> > just curious..
> >
> > On 4/20/06, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > "Tidak akan ada kepintaran kalau tidak ada kebodohan" (orang harus
> > menyadari dulu  kebodohannya sebelum ia berusaha untuk menjadi pintar).
> > >
> > >  Ingat hari Ibu Kartini, ingat kumpulan surat-suratnya kepada
> > teman-teman Belandanya yang kemudian dibukukan berjudul "Door Duisternis
> tot
> > Licht". Buku ini suka diterjemahkan sebagai "Habis Gelap Terbitlah
> > Terang".  Saya pikir, yang lebih cocok mewakili pemikiran2 Kartini
> adalah
> > kalau diterjemahkan "Karena Kegelapan Terbitlah Terang" atau "Oleh
> Kegelapan
> > Terbitlah Terang". Ini bukan hanya secara leksikal bahasa Belanda lebih
> > mengena, tetapi juga secara maknawi lebih pas.
> > >
> > >  Kartini mengeluh dalam surat2nya (semoga banyak perempuan Indonesia
> > telah membacanya) tentang sistem (saat itu) yang membendung agar
> perempuan
> > Indonesia tidak menjadi pintar - hanya cukup di dapur dan melayani suami
> > serta anak2nya. Maka, tak heran kalau kebodohan (kegelapan akan ilmu
> > pengetahuan) melanda mereka (bagaimana bisa menjadi pintar kalau membaca
> pun
> > tidak bisa ?).
> > >
> > >  Menyadari bahwa banyak kaumnya yang masih ada di dalam kegelapan,
> > Kartini berani menentang zamannya dengan mendirikan sekolah buat kaumnya
> > walaupun tak lama umurnya (karena terhalang "tugas klasik" pula sebagai
> > perempuan bersuami). Baguslah ada penerus2nya sehingga perempuan2
> Indonesia
> > pun pada saat itu mulai banyak yang sepintar Kartini.
> > >
> > >  Maka, tepatlah kalau Abendanon, teman senior Kartini, memberikan
> judul
> > "Door Duisternis tot Licht"  - oleh kegelapan kebodohan terbitlah terang
> > kepintaran.
> > >
> > >  Dalam dunia geologi, semoga makin banyak geologist wanita Indonesia
> > yang cemerlang, yang berani mengemukakan pendapatnya, yang banyak
> menulis
> > paper. Buat rekan2 saya, geologist wanita Indonesia, selamat hari Ibu
> > Kartini, semoga bisa menangkap semangatnya !
> > >
> > >  salam,
> > >  awang
> >
> > ---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> >
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> >
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> >
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
> > --
> > No virus found in this incoming message.
> > Checked by AVG Free Edition.
> > Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
> >
> >
> > --
> > No virus found in this outgoing message.
> > Checked by AVG Free Edition.
> > Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
> >
> >
> > ---------------------------------------------------------------------
> > To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> > To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
> >
> > Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> > Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> > No. Rek: 123 0085005314
> > Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
> >
> > Bank BCA KCP. Manara Mulia
> > No. Rekening: 255-1088580
> > A/n: Shinta Damayanti
> >
> > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> > ---------------------------------------------------------------------
> >
> >
>
>
> --
> "First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then
> you win." Mahatma Gandhi.
>
>
>
>


--
"First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then
you win." Mahatma Gandhi.

Kirim email ke