>
  Vick , Awang

  Dalam theori yang Anda diskusikan apakah bedanya :
  KEBODOHAN dan KETIDAK-TAHUAN ?

  Menurut saya yang dimaksudkan dengan Ke - bodohan oleh Awang adalah
  ketidak-tahuan atau rasa tidak tahu yang menyebabkan JADI ingin tahu.
  (apa itu bhs Inggrisnya ....). Sedangkan Kebodohan yang lain adalah
  sifat sifat mental . Jadi bisa dia merasa tahu (sekali) atau bahkan
  tidak tahu sama sekali (tapi dia tidak perduli).



  Si - Abah.

_______________________________________________________________________

  Menarik, Pak Rovicky. Yang saya maksudkan tentu adalah kebodohan yang di
> kuadran 2. Yang no. 3 kasihan tetapi absurd rasanya. Banyak juga yang tahu
> tetapi tidak mau memberitahukan.
>
> Orang harus sadar akan kekurangan untuk mencapai kelebihan. Thomas Alfa
> Edison pernah berkata, "Kegelisahan adalah ketidakpuasan - dan
> ketidakpuasan adalah hal pertama yang dibutuhkan untuk mencapai kemajuan"
> Ini sesuai dengan orang2 di kuadran 2 (kegelisahan dibaca sebagai sadar
> akan kebodohan)
>
> Dan benar sekali bahwa orang yang di kuadran 1 mudah tergelincir ke
> kuadran 4. Untuk ini pun, Edison menulis, "Tunjukkan kepadaku orang yang
> mengaku benar-benar puas, dan aku akan menunjukkan kepadanya sebuah
> kegagalan"
>
> Jadi, adalah lebih baik kalau kita tetap mempertahankan kesadaran akan
> "kebodohan" agar rajin belajar sambil memelihara terus spirit
> keingintahuan yang benar sudah menjadi kodrat manusia.
>
> Salam,
> Awang
>
> -----Original Message-----
> From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, April 20, 2006 4:59 PM
> To: [email protected]
> Subject: [iagi-net-l] Hari Kartini
>
> Pendekatan Pak Awang ini memang dulu sering dipakai untuk menunjukkan
> mengapa atau apa motivasi seseorang utk melakukan sesuatu. Perasaan tidak
> memiliki menjadi keinginan memilki. Karena merasa sangat "negatip"
> (kurang)
> maka ada keinginan menjadi "positip". Ini pendekatan dua kutub + dan -
>
> Namun dalam hal ilmu pengetahuan atau pendidikan kadangkala ada yg
> melihatnya dengan kacamata berbeda berbeda. Dengan menggunakan empat
> kwadran.
> Kalau dibuat empat kwadran :
> 1. - Tahu bahwa dirinya tahu - Ini bener-bener wong pinter
> 2. - Tahu bahwa dirinya tidak tahu - Ini yg menjadikan orang yg rajin
> blajar
> 3. - Tidak tahu bahwa dirinya tahu -
> 4. - Tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu -
>
> Curiousity atau keingintahuan bukan karena merasa tidak tahu tetapi sebuah
> perasaan manusia yg "sudah ada dari sono". Mengapa bukan kebodohan ?
> Orang bodoh adalah orang yg masuk dalam kwadran 4 "tidak tahu bahwa
> dirinya
> tidak tahu". Sehingga sulit bagi si kwadran 4 untuk menjadi tahu (sadar).
> Lah diberitahu sampai "meniren" ya ndak bakalan tahu.
>
> Perubahan dari satu kwadran ke kwadran yg lain ini diperlukan pencerahan "
> enlightment", aku sendiri belum tahu apa yg menjadikan orang bisa
> mendapatkan "pencerahan". Seringkali datangnya "ujug-ujug mak pluk !"
> (disini aku masuk kwadran 2 atau mungkin 4 :).
>
> Enlightmen ini bisa berupa inspirasi
> Seperti Newton, yang katanya mendapat ide ketika kejatuhan apel. Peristiwa
> tak terduga yg akhirnya membawa ke teori gravitasi dan membuaka cakrawala
> dunia. Hal yang sama dengan Archimedes yg tiba-tiba melonjak keluar dari
> tempat berendamnya. Peristiwa ini kalau dilihat sepintas sepertinya
> memalukan, berlari-lari masih dalam keadaan telanjang, namun membuat
> sebuat
> teori apungan benda. Apakah mereka-mereka ini duduk diam saja ? Tentu
> tidak
> .... keingintahuan yg terus menerus dan berulang inilah yg menimbulkan ide
> dan inspirasi dan akhirnya bersiklus menjadikan manusia mengerti, sadar
> akan
> dirinya (conciousness). Namun tidak jarang manusia ini malah berubah dari
> kwadran 1 kembali ke kwadran 4 ... karena kesombongan atau ketidak
> tahuannya
> justru akhirnya menjadi "sok tahu" ....
>
> salam
> RDP
> "bagaimana orang lain tahu kalau kamu tahu, kalau kamu ndak pernah
> memberitahu"
>
> On 4/20/06, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> Berdasarkan logika, pengamatan, pendapat pribadi dan pelajaran hidup
>> saja
>> Pak Nataniel. Contoh sederhana saja, orang yang mengambil kursus/les
>> bahasa
>> inggris tentu karena dia merasa masih kurang (katakanlah bodoh)
>> penguasaan
>> bahasa inggrisnya, orang yang memilih mengambil kursus sequence
>> stratigraphy
>> tentu adalah orang yang tertarik dengan sequence stratigraphy tetapi dia
>> sendiri tak tahu banyak soal yang diminatinya.
>>
>> Maka, kebodohan adalah dorongan yang kuat menuju kepintaran. Sadar dulu
>> bahwa kita bodoh adalah langkah awal kepada pembelajaran.
>>
>> Kalau saya, selalu beprinsip semua hal negatif (tekanan, ketidaktahuan,
>> kebodohan, kemiskinan, siksaan, penghinaan, kelemahan) adalah dorongan
>> yang
>> kuat sekali untuk menuju kutub2 sebaliknya. Dulu, semasa masih sekolah
>> menengah-kuliah, saya tulis besar2 di dinding kamar saya, "doloris
>> sopitam
>> recreant vulnera viva animam" - luka duka dan derita akan membangunkan
>> kemampuan jiwa yang layap-layap tertidur.
>>
>> Salam,
>> Awang
>>
>> -----Original Message-----
>> From: Nataniel Mangiwa [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>> Sent: Thursday, April 20, 2006 1:36 PM
>> To: [email protected]
>> Cc: [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: Re: [iagi-net-l] Hari Kartini
>>
>> ini ngutip dari mana Pak Awang? atau berdasarkan pelajaran hidup ;)
>>
>> "Tidak akan ada kepintaran kalau tidak ada kebodohan"
>>
>> just curious..
>>
>> On 4/20/06, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> > "Tidak akan ada kepintaran kalau tidak ada kebodohan" (orang harus
>> menyadari dulu  kebodohannya sebelum ia berusaha untuk menjadi pintar).
>> >
>> >  Ingat hari Ibu Kartini, ingat kumpulan surat-suratnya kepada
>> teman-teman Belandanya yang kemudian dibukukan berjudul "Door Duisternis
>> tot
>> Licht". Buku ini suka diterjemahkan sebagai "Habis Gelap Terbitlah
>> Terang".  Saya pikir, yang lebih cocok mewakili pemikiran2 Kartini
>> adalah
>> kalau diterjemahkan "Karena Kegelapan Terbitlah Terang" atau "Oleh
>> Kegelapan
>> Terbitlah Terang". Ini bukan hanya secara leksikal bahasa Belanda lebih
>> mengena, tetapi juga secara maknawi lebih pas.
>> >
>> >  Kartini mengeluh dalam surat2nya (semoga banyak perempuan Indonesia
>> telah membacanya) tentang sistem (saat itu) yang membendung agar
>> perempuan
>> Indonesia tidak menjadi pintar - hanya cukup di dapur dan melayani suami
>> serta anak2nya. Maka, tak heran kalau kebodohan (kegelapan akan ilmu
>> pengetahuan) melanda mereka (bagaimana bisa menjadi pintar kalau membaca
>> pun
>> tidak bisa ?).
>> >
>> >  Menyadari bahwa banyak kaumnya yang masih ada di dalam kegelapan,
>> Kartini berani menentang zamannya dengan mendirikan sekolah buat kaumnya
>> walaupun tak lama umurnya (karena terhalang "tugas klasik" pula sebagai
>> perempuan bersuami). Baguslah ada penerus2nya sehingga perempuan2
>> Indonesia
>> pun pada saat itu mulai banyak yang sepintar Kartini.
>> >
>> >  Maka, tepatlah kalau Abendanon, teman senior Kartini, memberikan
>> judul
>> "Door Duisternis tot Licht"  - oleh kegelapan kebodohan terbitlah terang
>> kepintaran.
>> >
>> >  Dalam dunia geologi, semoga makin banyak geologist wanita Indonesia
>> yang cemerlang, yang berani mengemukakan pendapatnya, yang banyak
>> menulis
>> paper. Buat rekan2 saya, geologist wanita Indonesia, selamat hari Ibu
>> Kartini, semoga bisa menangkap semangatnya !
>> >
>> >  salam,
>> >  awang
>>
>> ---------------------------------------------------------------------
>> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>>
>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> No. Rek: 123 0085005314
>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>>
>> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> No. Rekening: 255-1088580
>> A/n: Shinta Damayanti
>>
>> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>> ---------------------------------------------------------------------
>>
>>
>> --
>> No virus found in this incoming message.
>> Checked by AVG Free Edition.
>> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
>>
>>
>> --
>> No virus found in this outgoing message.
>> Checked by AVG Free Edition.
>> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
>>
>>
>> ---------------------------------------------------------------------
>> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
>> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
>> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>>
>> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
>> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
>> No. Rek: 123 0085005314
>> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>>
>> Bank BCA KCP. Manara Mulia
>> No. Rekening: 255-1088580
>> A/n: Shinta Damayanti
>>
>> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
>> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
>> ---------------------------------------------------------------------
>>
>>
>
>
> --
> "First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then
> you win." Mahatma Gandhi.
>
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
>
>
> --
> No virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
>
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke