Pak rovicky dan pak awang...mungkin diskusi mengenai ini bagusnya 
dicurahkan juga dalam buletin IAGI, sehingga tidak hilang begitu saja. 
Karena hal ini menggugah para orang2 Indonesia bahwa kita bisa dan 
mengandung spirit untuk maju....karena selama ini kita dikerdilkan oleh 
banyak hal....
Bagaimana Pak rovicky dan Pak awang?
salam
Budi




"Awang Harun Satyana" <[EMAIL PROTECTED]>
04/21/2006 08:37 AM
Please respond to iagi-net

 
        To:     <[email protected]>
        cc: 
        Subject:        RE: [iagi-net-l] Hari Kartini


Menarik, Pak Rovicky. Yang saya maksudkan tentu adalah kebodohan yang di 
kuadran 2. Yang no. 3 kasihan tetapi absurd rasanya. Banyak juga yang tahu 
tetapi tidak mau memberitahukan.

Orang harus sadar akan kekurangan untuk mencapai kelebihan. Thomas Alfa 
Edison pernah berkata, "Kegelisahan adalah ketidakpuasan - dan 
ketidakpuasan adalah hal pertama yang dibutuhkan untuk mencapai kemajuan" 
Ini sesuai dengan orang2 di kuadran 2 (kegelisahan dibaca sebagai sadar 
akan kebodohan)

Dan benar sekali bahwa orang yang di kuadran 1 mudah tergelincir ke 
kuadran 4. Untuk ini pun, Edison menulis, "Tunjukkan kepadaku orang yang 
mengaku benar-benar puas, dan aku akan menunjukkan kepadanya sebuah 
kegagalan"

Jadi, adalah lebih baik kalau kita tetap mempertahankan kesadaran akan 
"kebodohan" agar rajin belajar sambil memelihara terus spirit 
keingintahuan yang benar sudah menjadi kodrat manusia.

Salam,
Awang

-----Original Message-----
From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, April 20, 2006 4:59 PM
To: [email protected]
Subject: [iagi-net-l] Hari Kartini

Pendekatan Pak Awang ini memang dulu sering dipakai untuk menunjukkan
mengapa atau apa motivasi seseorang utk melakukan sesuatu. Perasaan tidak
memiliki menjadi keinginan memilki. Karena merasa sangat "negatip" 
(kurang)
maka ada keinginan menjadi "positip". Ini pendekatan dua kutub + dan -

Namun dalam hal ilmu pengetahuan atau pendidikan kadangkala ada yg
melihatnya dengan kacamata berbeda berbeda. Dengan menggunakan empat
kwadran.
Kalau dibuat empat kwadran :
1. - Tahu bahwa dirinya tahu - Ini bener-bener wong pinter
2. - Tahu bahwa dirinya tidak tahu - Ini yg menjadikan orang yg rajin 
blajar
3. - Tidak tahu bahwa dirinya tahu -
4. - Tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu -

Curiousity atau keingintahuan bukan karena merasa tidak tahu tetapi sebuah
perasaan manusia yg "sudah ada dari sono". Mengapa bukan kebodohan ?
Orang bodoh adalah orang yg masuk dalam kwadran 4 "tidak tahu bahwa 
dirinya
tidak tahu". Sehingga sulit bagi si kwadran 4 untuk menjadi tahu (sadar).
Lah diberitahu sampai "meniren" ya ndak bakalan tahu.

Perubahan dari satu kwadran ke kwadran yg lain ini diperlukan pencerahan "
enlightment", aku sendiri belum tahu apa yg menjadikan orang bisa
mendapatkan "pencerahan". Seringkali datangnya "ujug-ujug mak pluk !"
(disini aku masuk kwadran 2 atau mungkin 4 :).

Enlightmen ini bisa berupa inspirasi
Seperti Newton, yang katanya mendapat ide ketika kejatuhan apel. Peristiwa
tak terduga yg akhirnya membawa ke teori gravitasi dan membuaka cakrawala
dunia. Hal yang sama dengan Archimedes yg tiba-tiba melonjak keluar dari
tempat berendamnya. Peristiwa ini kalau dilihat sepintas sepertinya
memalukan, berlari-lari masih dalam keadaan telanjang, namun membuat 
sebuat
teori apungan benda. Apakah mereka-mereka ini duduk diam saja ? Tentu 
tidak
.... keingintahuan yg terus menerus dan berulang inilah yg menimbulkan ide
dan inspirasi dan akhirnya bersiklus menjadikan manusia mengerti, sadar 
akan
dirinya (conciousness). Namun tidak jarang manusia ini malah berubah dari
kwadran 1 kembali ke kwadran 4 ... karena kesombongan atau ketidak 
tahuannya
justru akhirnya menjadi "sok tahu" ....

salam
RDP
"bagaimana orang lain tahu kalau kamu tahu, kalau kamu ndak pernah
memberitahu"

On 4/20/06, Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Berdasarkan logika, pengamatan, pendapat pribadi dan pelajaran hidup 
saja
> Pak Nataniel. Contoh sederhana saja, orang yang mengambil kursus/les 
bahasa
> inggris tentu karena dia merasa masih kurang (katakanlah bodoh) 
penguasaan
> bahasa inggrisnya, orang yang memilih mengambil kursus sequence 
stratigraphy
> tentu adalah orang yang tertarik dengan sequence stratigraphy tetapi dia
> sendiri tak tahu banyak soal yang diminatinya.
>
> Maka, kebodohan adalah dorongan yang kuat menuju kepintaran. Sadar dulu
> bahwa kita bodoh adalah langkah awal kepada pembelajaran.
>
> Kalau saya, selalu beprinsip semua hal negatif (tekanan, ketidaktahuan,
> kebodohan, kemiskinan, siksaan, penghinaan, kelemahan) adalah dorongan 
yang
> kuat sekali untuk menuju kutub2 sebaliknya. Dulu, semasa masih sekolah
> menengah-kuliah, saya tulis besar2 di dinding kamar saya, "doloris 
sopitam
> recreant vulnera viva animam" - luka duka dan derita akan membangunkan
> kemampuan jiwa yang layap-layap tertidur.
>
> Salam,
> Awang
>
> -----Original Message-----
> From: Nataniel Mangiwa [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, April 20, 2006 1:36 PM
> To: [email protected]
> Cc: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Hari Kartini
>
> ini ngutip dari mana Pak Awang? atau berdasarkan pelajaran hidup ;)
>
> "Tidak akan ada kepintaran kalau tidak ada kebodohan"
>
> just curious..
>
> On 4/20/06, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > "Tidak akan ada kepintaran kalau tidak ada kebodohan" (orang harus
> menyadari dulu  kebodohannya sebelum ia berusaha untuk menjadi pintar).
> >
> >  Ingat hari Ibu Kartini, ingat kumpulan surat-suratnya kepada
> teman-teman Belandanya yang kemudian dibukukan berjudul "Door Duisternis 
tot
> Licht". Buku ini suka diterjemahkan sebagai "Habis Gelap Terbitlah
> Terang".  Saya pikir, yang lebih cocok mewakili pemikiran2 Kartini 
adalah
> kalau diterjemahkan "Karena Kegelapan Terbitlah Terang" atau "Oleh 
Kegelapan
> Terbitlah Terang". Ini bukan hanya secara leksikal bahasa Belanda lebih
> mengena, tetapi juga secara maknawi lebih pas.
> >
> >  Kartini mengeluh dalam surat2nya (semoga banyak perempuan Indonesia
> telah membacanya) tentang sistem (saat itu) yang membendung agar 
perempuan
> Indonesia tidak menjadi pintar - hanya cukup di dapur dan melayani suami
> serta anak2nya. Maka, tak heran kalau kebodohan (kegelapan akan ilmu
> pengetahuan) melanda mereka (bagaimana bisa menjadi pintar kalau membaca 
pun
> tidak bisa ?).
> >
> >  Menyadari bahwa banyak kaumnya yang masih ada di dalam kegelapan,
> Kartini berani menentang zamannya dengan mendirikan sekolah buat kaumnya
> walaupun tak lama umurnya (karena terhalang "tugas klasik" pula sebagai
> perempuan bersuami). Baguslah ada penerus2nya sehingga perempuan2 
Indonesia
> pun pada saat itu mulai banyak yang sepintar Kartini.
> >
> >  Maka, tepatlah kalau Abendanon, teman senior Kartini, memberikan 
judul
> "Door Duisternis tot Licht"  - oleh kegelapan kebodohan terbitlah terang
> kepintaran.
> >
> >  Dalam dunia geologi, semoga makin banyak geologist wanita Indonesia
> yang cemerlang, yang berani mengemukakan pendapatnya, yang banyak 
menulis
> paper. Buat rekan2 saya, geologist wanita Indonesia, selamat hari Ibu
> Kartini, semoga bisa menangkap semangatnya !
> >
> >  salam,
> >  awang
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
>
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
>
>
> --
> No virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
> To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
> Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
>
> Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
> Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
> No. Rek: 123 0085005314
> Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
>
> Bank BCA KCP. Manara Mulia
> No. Rekening: 255-1088580
> A/n: Shinta Damayanti
>
> IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
> IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
> ---------------------------------------------------------------------
>
>


--
"First they ignore you, then they laugh at you, then they fight you, then
you win." Mahatma Gandhi.

-- 
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
 

-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.4/319 - Release Date: 4/19/2006
 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------



Kirim email ke