Ya Wida, coba cek di buku van Bemmelen pada section evolution of physiographic 
zone, jangan di section volcanology. Tidak disebutkan darimana asal angka tahun 
1006 itu. Hanya, angka ini kelihatannya telah dipakai banyak para ahli maka 
tahun ini ada perayaan 1000 tahun letusan gunung Merapi dengan mengadakan acara 
volcano gathering di Yogya. Teman-teman di volkanologi mungkin telah melakukan 
banyak dating absolut piroklastika hasil letusan tersebut, untuk mengkalibrasi 
pendapat van Bemmelen. Dan, van Bemmelen menyebutkan letusan 1006 adalah 
letusan paroxysmal (besar-besaran).

Di artikel lepas, van Bemmelen pernah meneliti juga berakhirnya Kerajaan 
Mataram akibat letusan ini. Hal ini masih menjadi bahan perdebatan, ada yang 
setuju ada yang tidak. Saya pikir ahli-ahli kita sekarang jauh lebih mampu 
membuktikan hubungan erupsi Merapi ini dengan mundurnya kerajaan di Jawa 
tersebut.

Van Bemmelen kelihatannya selalu berpendapat bahwa evolusi volkanisme erat 
berkaitan dengan tektonik. Banyak gunungapi yang ditelitinya dari Sumatra 
sampai Banda selalu menunjukkan pola-pola runtuhan sayap gunungapi akibat 
proses volkano-tektonik, termasuk pembentukan Danau Toba dan merosotnya sayap 
utara kompleks Bromo ke Selat Madura. Setiap runtuhan sayap akan mengakibatkan 
kompresi di kaki gunungapi. Untuk Merapi, maka Gendol Hills di BD Merapi adalah 
kompleks perbukitan hasil kompresi lereng yang collapse.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: dyah kusuma [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, April 25, 2006 2:07 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Hipotesis Telaga Borobudur dan Letusan Merapi AD 1006

hallo pak awang,

he3 menarik nih ceritanya, btw memangnya letusan 1006
memang ada ya pak [merupakan letusan besar merapi?]?

saya pernah juga liat borobudurnya dari atas menoreh,
waktu pengenalan geologi lapangan 2002 lalu, bagus
bgt!

salam,
wida

--- Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> W.O.J. Nieuwenkamp, seorang arsitek, pemahat,
> pelukis, etnolog (semacam antropolog) Belanda di
> Indonesia tahun 1933 mengeluarkan hipotesis yang
> menggegerkan kalangan para sejarahwan saat itu :
> bahwa Borobudur dulunya dibangun di tengah-tengah
> telaga seperti bunga teratai di tengah kolam.
> Hipotesisnya itu pertama kali ditulisnya di majalah
> umum yang terbit di Belanda (”Het Boroboedoermeer” –
> Algemeen Handelsblaad, Deen Haag, 9 September 1933).
> Boroboedoermeer = telaga Borobudur. Kemudian
> ditulisnya lagi tanggal 2 Mei 1937 dalam majalah
> yang sama dengan judul artikel ”Boroboedoer en
> omgeving” (Borobudur dan sekitarnya). Dua tulisan
> ini telah menyulut polemik yang hebat, dan para ahli
> geologi tersohor zaman itu pun mendapat tantangan
> yang berat untuk membuktikan apakah benar dulu ada
> danau mengelilingi candi Buddha terbesar di dunia
> itu. Nah..., tak kurang dari M.G.R. Rutten dan R.W
> van Bemmelen – dua tokoh geologi Indonesia - turut
> menyelidiki hipotesis Nieuwenkamp tersebut. Pendek
> cerita, baik Rutten maupun van Bemmelen membenarkan
> hipotesis Nieuwenkamp itu. Buku spektakular van
> Bemmelen, ”The Geology of Indonesia” (1949) sedikit
> memuat hipotesis tersebut, dan van Bemmelen
> menghubungkannya dengan erupsi Merapi tahun 1006,
> angka tahun yang berasal dari van Bemmelen.
>  
> Sebagai seorang arsitek dan etnolog, Nieuwenkamp
> tahu bahwa Borobudur adalah sebuah bangunan agung
> yang menggambarkan perwujudan bunga teratai untuk
> menghormati Maitreya, Buddha yang akan datang ke
> dunia ini. Menurut ajaran Buddha, Maitreya akan
> lahir di tengah-tengah sebuah bunga teratai yang
> melambangkan kesucian dalam agama Buddha. Inilah
> terjemahan tulisan Nieuwenkamp, ”Andaikata kita
> berdiri di tengah telaga itu, kita dapat menikmati
> keindahan panorama sekeliling Borobudur.
> Bayang-bayangnya terpantul di permukaan telaga yang
> jernih dan tenang. Di sekelilingnya hamparan padi
> menguning, hutan menghijau, dan perbukitan Menoreh
> membentang di batas selatan. Gunung Sumbing di
> barat, Merapi-Merbabu-Andong dan Telomoyo di timur,
> dan gunung Tidar terpaku di tengah hamparan sisi
> utara. Sungguh panorama yang mengagumkan”.
>  
> Daerah sekeliling Borobudur itu sekarang ada yang
> bernama Tanjung, Bumisegoro, Sabrangrowo, dan
> sebagainya. Secara toponimi (asal-usul nama daerah),
> jelas mengindikasi adanya telaga/rawa di sekitar
> itu.
>  
> Adalah van Bemmelen, diilhami oleh penelitiannya di
> wilayah Bandung tahun 1933, berhipotesis bahwa
> Telaga Borobudur terjadi akibat bendungan
> piroklastika Merapi menyumbat aliran Kali Progo di
> kaki timurlaut Perbukitan Menoreh. Itu terjadi
> sebelum Borobodur didirikan tahun 830-850. Dan
> adalah van Bemmelen juga yang berhipotesis (bisa
> dibaca di bukunya : the Geology of Indonesia) yang
> menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan
> besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur
> menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini –
> lenyap dari sejarah, sampai ditemukan kembali oleh
> tim van Erp pada tahun 1907-1911. Kalau melihat
> gambar peta dan penampang geologi volkano-tektonik
> Gunung Merapi (van Bemmelen, 1949), akan tahulah
> kita bahwa ”nasib” Borobudur sepanjang sejarahnya
> telah banyak ditentukan oleh merosot-runtuhnya
> dinding baratdaya Merapi. Dan, ke arah situ pulalah
> sekarang pun banyak piroklastika hasil letusan
> Merapi ditumpahkan.
>  
> Sebagai gunungapi teraktif di dunia, yang di
> sekelilingnya telah dari zaman purba peradaban
> manusia tumbuh dan berkembang, mau tak mau Merapi
> sedikit banyak punya peranan pada maju dan mundurnya
> peradaban di sekelilingnya.
>  
> Salam,
> awang
>  
>    _____  
> 
> 
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.6/323 -
> Release Date: 4/24/2006
> 
> 
> --
> No virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.6/323 -
> Release Date: 4/24/2006
> 
> 
> --
> No virus found in this incoming message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.6/323 -
> Release Date: 4/24/2006
> 
> 
> -- 
> No virus found in this outgoing message.
> Checked by AVG Free Edition.
> Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.6/323 -
> Release Date: 4/24/2006
>  
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------


-- 
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.6/323 - Release Date: 4/24/2006
 

-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.385 / Virus Database: 268.4.6/323 - Release Date: 4/24/2006
 

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke