Di dalam akunting bagi-hasil migas Pusat-Daerah yang sejak 2002 dokumennya dibagikan ke daerah (rakyat/publik), DMO selalu dijadikan faktor pengurang dari revenue pemerintah (yang akhirnya ditanggung proporsional antara pemerintah pusat dan daerah). Istilah akuntingnya disebut sebagai "prorata". Dalam penjelasan verbal seringkali disebutkan bahwa besaran pengurang tersebut berasal dari harga yang harus dibayarkan pemerintah (GOI=Government of Indonesia) kepada kontraktor (PSC) karena kontraktor menyerahkan 25% jatah minyaknya kepada pemerintah dengan harga 10% atau 25% dari harga pasar (percentage tergantung dari bunyi kontraknya PSCnya).

Dalam dokumen itung2an tersebut kalau kita periksa dibagian kolom penerimaan negara dari prosentase ETS (equity to be split), yang masuk sebagai revenue hanyalah split standard sesuai dengan yang tertera dalam dokumen PSC, misalnya 55.3571% dr ETS untuk minyak sebelum pajak (untuk tipikal 75-25 split). Nampaknya tidak ada penambahan revenue dari monetisasi minyak DMO. Apakah hal ini karena minyak tersebut langsung dimasukkan ke refinery tanpa harus di-rekord akuntansi-nya, atau kelupaan menghitung (salah rumus),... sampai sekarang juga belum jelas. Usaha-usaha untuk mempertanyakan hal tersebut (mencoba berdialog tentang rumus-rumus-nya, membandingkan rumus-rumus itungan apple-to-apple) sampai sekarang terus dilakukan oleh daerah dalam rangka transparansi, tetapi hasilnya masih sangat minim.

Jadi, kalau memang benar2 bahwa semua revenue hasil DMO langsung masuk ke Kas Negara, mustinya itu tercermin juga dalam akuntansi bagi-hasil migasnya.

Dalam kaitannya dengan transparansi, ide Prof. RPK untuk langsung memakai minyak hasil DMO sebagai subsidi untuk PLN (misalnya) merupakan ide trobosan yang perlu disuarakan, ditimbang , dan dibahas lebih lanjut. Jadi, minyaknya tidak perlu dimonetisasi lebih dulu, tapi LANGSUNG dipakai subsidi. Dengan demikian menjadi tidak relevan lagi membicarakan "kerugian kesempatan" (opportunity lost) karena perbedaan harga pasar minyak dengan pemakaian sendiri, karena sebenarnyalah bahwa minyak2 DMO itu dibeli oleh pemerintah (Pusat dan Daerah) bukan dengan harga pasar.

Mudah-mudahan bermanfaat


Salam
Andang Bachtiar
Dewan Pakar Forum Konsultasi Daerah Penghasil Migas


----- Original Message ----- From: "R.P. Koesoemadinata" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, May 15, 2006 8:10 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source based energy policy'


Nah itu adalah penyelewengan, karena dmo itu domestik market obligation dengan harga murah, seharusnya digunakan untuk "mensubsidi" domestik market, sebetulnya dapat saja domestik market itu dialihkan khusus untuk PLN

----- Original Message ----- From: "Achmad Luthfi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, May 15, 2006 8:15 AM
Subject: RE: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source based energy policy'


DMO berlaku setelah 5 th produksi bila lapangan itu mendapat incentive
new field, semua revenue hasil DMO langsung masuk ke kas Negara melalui
Bank Indonesia.

Salam: LTH

-----Original Message-----
From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, May 06, 2006 5:53 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source based energy
policy'

SEbetulnya kan ada yang disebut DMO, setiap PSC harus menjual 25% dari
produksinya dengan harga 10% dari harga pasaran international untuk
pasaran
dalam negeri. Nah alihkan saja DMO ini untuk PLN.
BTW kemana larinya DMO ini?

----- Original Message ----- From: "Liamsi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, August 03, 2005 9:47 PM
Subject: Re: [iagi-net-l] Perlunya 'Geographical source based energy
policy'



Salah satu faktornya adalah banyak yang dulu ( terutama industri )
mempunyai
Pembangkit listrik sendiri dg BBM (PLTD) karena sekarang harga BBM nya

mahal
maka banyak yang menggunakan listriknya dari PLN yang lebih murah ,
karena
tarif listrik PLN tidak bisa dinaikan sesuai  mekanisme pasar (
regulated )
akibatnya PLN kelebihan beban.Kalau kapasitas tdk ditambah ya byar pet
terus,  Dengan harga BBM industri 5500 Rp/l maka kalau 1 kwh
membutuhkan
0,3
liter BBM maka hanya untuk biaya bahan bakarnya saja  sudah 1650
Rp/Kwh ,
padahal kalau beli listrik dari PLN cuma paling mahal 1000 Rp/Kwh,
disisi
lain PLN didaerah ini karena masih banyak pakai BBM maka harus nombok.
Apakah Mahal Listrik itu ? kalau ruang tamu kita ada lampu neon 40 W
kita
hidupkan 12 jam ( jam 6 sore - 6 pagi ) maka kita cuma menghabiskan
uang
sbb = 12 x 40 W = 480 Wh atau 0,480 Kwh , kalau direkening listrik
kita
per
Kwhnya Rp.600,- maka kamar Tamu kita yang semalaman terang benderang
cuma
kena  300 Rp , untuk Beli krupuk didepan rumah saja tidak dapat.

ISM


Orang luar kaltim suka mentertawakan kondisi kaltim, punya apa saja
untuk PTL selain air, tapi selalu byar-pet. Ada niatan sebenarnya
membangun Power plant yg lebih besar kapasitasnya, tapi masalah yang
timbul kelebihan dayanya mau dikemanakan?, karena Industri tak banyak
disini.jadi saja rencana tinggal rencana, akibatnya tiap rumah sedia
gen-set untuk mengantisipasi musim byar-pet.

On 5/5/06, Nataniel Mangiwa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
sekedar informasi kecil..
Balikpapan yang termasuk Kalimantan Timur dan yang juga termasuk
daerah kaya sumber energi (coal+hydrocarbon), tetapi keadaan
kesehariannya tidak tercermin demikian.

Balikpapan cukup akrab dengan kasus Byar-Pet. bahkan hal ini termasuk
dari 2 hal Janji Palsu yang selalu dielu-elukan pada PILKADA
Balikpapan kemarin, yaitu:
1. menjamin tidak ada lagi Byar-Pet
2. menjamin ketersediaan air bersih.

sepertinya tetep saja faktor efisiensi manusia masih sangat bereperan
penting dalam pengelolaan energi, yang dalam kasus Balikpapan ini
energi berlimpah tetapi Byar-Pet pun berlimpah. dan ini masih terjadi
sampai sekarang ;-(

Salam Wik-en,
Natan

On 5/5/06, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
>  Rekan rekan
>
>  Memang benar diperlukan "geographical source based energy" spt
yang
>  dikatakan Rovicky TAPI ini tidak  akan berarti apabila energi
listrik
>  yang dihasilkan ditransfer ke Jawa untuk menghidupi industri di
> P.Jawa.
>  Kita sama sama menyadari betapa beban sosial/ekonimi dan
lingkungan
>  yang ditanggung oleh P.Jawa.
>
>  Strategi berikutnya adalah harus memaksa kegiatan ekonomi  pindah
ke-
>  daerah yang memiliki sumber energi .(Sumbagsel, Kaltim , Kalsel)
>
>  Tentunya dengan syarat syarat yang menarik para pengusaha dan
investor
>  (umpama : tax holiday bagi pajak daerah , energi mestimya lebih
murah
>  dsb).
>
>  Apakah ini mungkin ?Saya kira sangat mungkin , apalagi kalau
PemDa-nya
>  tidak berfikiran "ingin dapat PAD dalam waktu singkat" ( sehingga
>  baru saja investor kulonuwun sudah di"pajak"-i), dengan
mengeluarkan
>  PerDa 2 yang kurang masuk akal.
>
>
>  Si - Abah

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1:
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




--
OK TAUFIK

---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id

Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)

Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti

IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
-----  Call For Papers until 26 May 2006
-----  Submit to: [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------




---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
-----  PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru
----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] ---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke