Nah, banyak yang lebih aktif sekarang untuk usaha mitigasi gempa ini. Yang syaa dengar, kini ada 34 seismometer di pasang di seluruh Indonesia. Akan 80 (?) pada beberapa tahun lagi. Seperti Pak Kuntadi ini, sudah deskripsi langkah kedepan: evaluasi sejarah kegempaan tiap microplate, cari polanya, lalu prediksi gempa ke depan.
Jumlah seismometer sekian tadi, mungkin kurang sekali. Mestinya seismometer relatif murah ya (?), apalagi di banding efek kerugian gempa yang "amat besar". Ini geophone, sambung kabel, catat waktu kegempaan, yang katanya seluruh Indonesia sekitar 2500 kali gempa perhari magnitude lebih besar 1 M. Kemungkinan, seperti Merapi, gempa besar itu akan di dahului oleh "warning quake". Tapi apa memang begitu ? Salam, Maryanto. -----Original Message----- From: Kuntadi, Nugrahanto [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, May 29, 2006 4:24 PM To: [email protected] Subject: RE: [iagi-net-l] Mengapa pengamatan kita terlepas ? Bismillah, menyambung komentar mas Awang dan mas Vicky tentang PR yg masih terbengkalai bagi para ahli geologi Indonesia adalah bagaimana merangkum temuan2 selama ini dalam format tampilan statistik "popular" shg dimengerti masyarakat awam - untuk kemudian dirangkum dan dipublikasi ke media apa pun yg bisa menggapai seluruh lapisan masyarakat dari Presiden hingga wong cilik. Data dimaksud barangkali bisa mencakup: - data-data rekaman kegempaan (volc dan tectonic) di lapangan dalam 10-100 tahun terakhir - track record kapan terjadinya (shg bangsa ini bisa tahu apa iya kita pernah gak terkena bencana alam dalam setahun penuh atau bahkan lima tahun penuh? Ini yg mungkin petinggi bangsa perlukan shg hingga saat ini belum ada badan formal yg berwenang menyikapi krn kejadian nya toh jarang-walaupun besar sekalipun). - jumlah korban di tiap bencana - reaksi masyarakat dan pemerintah pasca bencana alam (sbg record sebaik apakah selama ini bangsa kita menyikapi bencana alam yang berulang kali terjadi...adakah perbaikan dari hari ke hari?) - disertai input bagi terbentuknya koordinasi lintas sektoral yg di "formalkan" - yang tidak bersifat reaktif ketika bencana terjadi saja. Insya Allah semakin terbuka hati semua pihak kalau bangsa kita ini harus siap "bersahabat" dengan bencana alam...oleh karenanya harus bersiap bagaimana menghadapinya - bukannya reaktif seperti selama ini terjadi berulang-ulang, memprihatinkan, dan yang menarik selalu dibumbui dengan rasa simpati sesaat dari segenap saudara dari seluruh pelosok negeri - yg lalu hilang bak buih di lautan setelah bbrp saat untuk dilupakan dan di reaktifkan lagi.... Subhanallah, walau kita harus bersabar dengan bencana yang dikirimkan oleh Allah SWT kepada kita. Namun, Allah SWT pun insya Allah tidak ridha bila bangsa ini tidak pernah belajar memetik hikmah untuk belajar bagaimana cara bersiap diri sebaik mungkin jasmani dan rohani dlm menghadapi semua ini. Salam, Kun -----Original Message----- From: Awang Harun Satyana [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, May 29, 2006 3:27 PM To: [email protected]; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED] Subject: RE: [iagi-net-l] Mengapa pengamatan kita terlepas ? Setiap gempa habis menewaskan ribuan saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air, sedih sekali rasanya... Ini bencana geologi, dan kita menyebut diri kita ahli geologi ?! Apa yang bisa kita perbuat dengan prediksi/precaution/forecasting bencana yang satu ini ? Ingat selalu, ini tanggung jawab kita sebagai geologist yang telah memutuskan hidupnya untuk membaca alam. Sekalipun alam itu lembaran bukunya sudah hilang di sana-sini, sudah sobek, yang ada pun tintanya sudah kabur. Tetap saja, tak ada orang lain yang menekuni gempa selain geologist dan geophysicist. Jadi, harapan besar ditaruh kepada kita. Berminggu-minggu saudara2 kita menatapkan mukanya ke Merapi, kita semua juga mau tak mau melihat Merapi karena pemberitaannya yang sangat luas. Hm...tak disangka-sangka, dari balik punggung kita justru serangan datang saat saudara2 kita tak bersiap sedikitpun, saat masih menggeliat dari tidur yang lelap, dan dalam 57 detik saja 26.000 rumah diratakan Bumi. Miris melihat mayat2 kaku diangkut keluar dari puing-puing bangunan. Tak ada yang menduganya, tak ada geologist satu pun yang menduganya. Kita hanya tahu jalur selatan Jawa rawan gempa. Dan, penelitian kegempaan Jawa minimal sekali, kalah jauh dengan barat Sumatra. Berapa banyak survey geomarin dari berbagai negara pernah melintas di barat Sumatra, dan berapa banyak di selatan Jawa ? Perbandingannya jomplang. Setiap sehabis gempa kita belajar. Banyak paper ditulis sehabis tsunami Aceh. Para ahli geologi tersulut sesaat, tapi tak lama kemudian memudar...ini sudah karakter kitakah ?! Di mana di selatan Jawa tempat2 interplate coupling, seismic gap area, wilayah2 yang siap rupture dan menyemburkan malapetaka ke darat ? Tidak diketahui. Di barat Sumatra, hal ini diketahui di beberapa tempat. Di mana di selatan Jawa sesar-sesar yang bisa jadi "death line" saat terjadi estafet front rupture dari titik gempa ke daratan ? Ada, tetapi belum dipetakan dan diwaspadai. Sesar Opak salah satunya, Sesar Girindulu mungkin. Di mana di selatan Jawa yang bisa meredam gempa, tetapi di mana juga yang malah bisa memperkuat gempa ? Ini berhubungan dengan litologi penyusun. Bisa dibuat, tetapi belum dilakukan. Saat ini, gempa Yogya paling tidak memberikan pelajaran kepada kita : jangan lengah, selalu waspada, jangan terlepas lagi pengamatan kita, dan jangan hanya gaung di muka ke belakangnya memudar. Dan, ini, semua wilayah indentasi di selatan Jawa secara seismik bisa berbahaya; kalau ada sesar2 model Sesar Opak bisa berbahaya lagi. Wilayah2 seperti Kutowinangun-Kutoarjo-Purwodadi menjadi berbahaya sebab ia ada di sedimen lunak yang diapit dua masif karbonat (Sentolo dan Karangbolong). Pacitan boleh jadi berbahaya, tapi ia sempit dan didominasi batuan keras. Di Jawa Timur, yang berbahaya dari pelajaran Yogya ini adalah indentasi antara Lumajang-jember-Puger. Walaupun ada Nusa Barung sebagai barriernya, kalau episentrum terjadi di dekat Puger bagaimana, dan jelas indentasi di wilayah ini dibentuk sesar2 tegak utara-selatan. Tinggal dicari wilayah2 inter-plate coupling di depan daerah2 ini. Kalau ada, kapan kira2 pecah sebab laju kompresi dan slip vectornya saya pikir bisa diukur dengan GPS. Betul kata Pak Rovicky, masih banyak PR-nya, sementara kemampuan kita terbatas... Salam, awang -----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, May 29, 2006 1:42 PM To: [email protected]; HAGI-Net; [EMAIL PROTECTED] Subject: [iagi-net-l] Mengapa pengamatan kita terlepas ? Gempa Yogyakarta menelan korban lebih dari 4000 nyawa manusia. Peristiwa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan siapa saja. Bagaimana tidak, ketika semua mata tertuju pada Gunung Merapi yag sedang bergejolak tiba-tiba sebuah daerah patahan (fault/rupture zone) bergetar dengan kekuatan 6.3 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km (USGS) dengan daya rusak 6 hingga 7 skala MMI. Zona patahan penyebab gempa. Zona patahan (fault zone) ini sebenarnya sudah lama diketahui dan dipetakan oleh ahli-ahli geologi. Lembar peta yogyakarta yang diperbaharui dari peta-peta sebelumnya oleh Wartono (1995) juga sudah memetakan zona patahan ini. Hampir semua mahasiswa geologi di Yogyakarta mengenali patahan ini. Patahan ini memisahkan dataran tinggi Wonosari yg bagian teratasnya terdiri atas singkapan Batugamping Wonosari dengan dataran landai Yogyakarta yg merupakan kaki Gunung Merapi. Mengapa pengamatan kita terlepas ? Daerah ini sebelumnya dikenal daerah dikenal "aman" terhadap gempa bumi. Bahkan peta geologi teknik yg terbitkan oleh DGTL juga tidak menyebutkan bahya gempa ini. http://www.dgtl.esdm.go.id/peta_web/GT_YOGYA.html Bahaya-bahaya yg disebutkan dalam peta itu adalah bahaya kebencanaan geologi yang meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi lempung mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran. Bencana bencana lain seolah terlewat dalam pemikiran. Selama ini belum ada catatan sejarah dari gempa tektonik yang merusak di Yogyakarta. Sehingga bencana yg berhubungan dengan aktifitas Gunung Merapi lebih menyita perhatian dibandingkan bencana gempa. Gunung Merapi sangat sering menunjukkan aktifitasnya, bahkan menjadi sebuah Gunung Api teraktif di dunia. Ketiadaan catatan khusus mengenai gempa ini mungkin beberapa gempa yg terjadi dimasa lalu selalu dikaitkan dengan kegiatan Merapi, sehingga kebencanaan gempa di Yogyakarta tertutupi (overlooked). Banyak bangunan-bangunan tua (lebih dari 300 tahun) yg berada di KotaGede serta Surakarta yang ikut roboh. Disini ada dua hal yg perlu diketahui, yaitu : bangunan tersebut barangkali memang sudah tua dan rapuh, dan yang kedua selama 350 tahun terakhir memang tidak tercatat adanya gempa merusak. Dan barangkali inilah pertanda mengapa kewaspadaan bahaya gempa tidak tercatat di daerah ini. Ada pelajaran baru buat kita semua, tentusaja. * Sebuah patahan yg diperkirakan pasif (nonaktif) sangat mungkin menjadi aktif karena trigger-triger tertentu, mungkin saja Patahan Opak ini terpicu oleh aktifitas Gunung Merapi, atau juga saling mempengaruhi. Bahaya bencana alam dapat terjadi dimana-mana dan tidak disangka-sangka. * Perlu perubahan carapandang suatu daerah dengan memperhatikan potential desaster tidak hanya berdasarkan catatan sejarah (tertulis). Banyak rekaman-rekaman geologi yg harus dipelajari seperti rekaman gempa yg ada di batugamping terumbu yg usianya dalam jangka ribuan tahun. * Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan berpasangan dengan Patahan Opak ini yg perlu diperhatikan, misal Patahan Grindulu yg membentang sejajar dengan Patahan Opak dari daerah Pacitan kearah Timur-laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam dalam tanah berusia ribuan tahun sepangang sungai grindulu barangkali dapat membantu memerikan periodisasi kegempaan di daerah ini. Masih banyak PeeR yang harus kita lakukan bersama. --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- -- No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006 -- No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.7.3/350 - Release Date: 5/28/2006 --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

