Wah trims infonya.
Dan seperti yang saya duga bahwa hampir setiap gejala gempa di Jogja dan
sekitarnya lebih diasosiasikan akibat aktifitas G Merapi. Tidak (belum)
terpikirkan bahwa itu aktifitas tektonik aktif. Dan mungkin yang lebih
menarik adalah bahwa adanya hubungan antara gempa tektonik dengan aktifitas
G Merapi. Catatan yg dikemukakan Danny ini datingnya bisa jadi mirip dengan
aktifitas G Merapi. Ini yg menjadi pelajaran dan barangkali "alert" buat G
Merapi dalam dua minggu ini. Status Awas merapi mungkin masih perlu
diteruskan.

Dan bukan hal yang aneh kalau Gempa Jogja selama ini tidak dipikirkan akibat
tektonik. Coba bayangkan 50 tahun yang lalu kalau ada gempa, siapa sih yg
berpikir akibat aktifitas plate tectonik ? Lah wong teori plate tektonik
saja belum lama kita kenal, kok. Mungkin saja kalau kejadian gempa ini
terjadi 50 tahun yang lalu orang masih berpikiran adanya pertempuran penjaga
Merapi dengan Penjaga Laut kidul ..... bahkan sekarang masih ada yg berpikir
begitu.

Btw, info Danny ini perlu ditindak lanjuti untuk melihat hubungan antara
Merapi dengan kegempaan tektonik di Jawa (khususnya Merapi).

Salam

RDP



-----Original Message-----
From: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI)
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Hery Harjono
Sent: Monday, May 29, 2006 9:04 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ?

Info u/ mas Rovicky,
Jogja pernah dilanda gempa hebat tahun 1867. Bisa jadi sebelum itu juga
ada.=20
danny Hilman pada tanggal 25 April di Jogjakarta kebetulan
mempresentasikan gempa 1867 ini pada International Symposium on
Geothechnical Hazard:=20
Prevention, Mitigation and Engineering Response yang diselenggarakan
oleh LIPI, IAGI, CODATA dan Int. En. Geology Assoc. Terimakasih semoga
bermanfaat.
Salam,
Hery Harjono


----- Original Message -----
From: "Rovicky Dwi Putrohari" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, May 29, 2006 1:41 PM
Subject: [HAGI-Network] Mengapa pengamatan kita terlepas ?


Gempa Yogyakarta menelan korban lebih dari 4000 nyawa manusia.
Peristiwa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan siapa saja.
Bagaimana tidak, ketika semua mata tertuju pada Gunung Merapi yag
sedang bergejolak tiba-tiba sebuah daerah patahan (fault/rupture zone)
bergetar dengan kekuatan 6.3 Skala Richter dengan kedalaman 10 Km
(USGS) dengan daya rusak 6 hingga 7 skala MMI.

Zona patahan penyebab gempa.

Zona patahan (fault zone) ini sebenarnya sudah lama diketahui dan
dipetakan oleh ahli-ahli geologi. Lembar peta yogyakarta yang
diperbaharui dari peta-peta sebelumnya oleh Wartono (1995) juga sudah
memetakan zona patahan ini. Hampir semua mahasiswa geologi di
Yogyakarta mengenali patahan ini. Patahan ini memisahkan dataran
tinggi Wonosari yg bagian teratasnya terdiri atas singkapan
Batugamping Wonosari dengan dataran landai Yogyakarta yg merupakan
kaki Gunung Merapi.

Mengapa pengamatan kita terlepas ?

Daerah ini sebelumnya dikenal daerah dikenal "aman" terhadap gempa
bumi. Bahkan peta geologi teknik yg terbitkan oleh DGTL juga tidak
menyebutkan bahya gempa ini.
http://www.dgtl.esdm.go.id/peta_web/GT_YOGYA.html Bahaya-bahaya yg
disebutkan dalam peta itu adalah bahaya kebencanaan geologi yang
meliputi: bahaya letusan dan aliran lahar gunung Merapi, potensi
lempung mengembang, dan kerentanan terhadap kejadian longsoran.
Bencana bencana lain seolah terlewat dalam pemikiran.

Selama ini belum ada catatan sejarah dari gempa tektonik yang merusak
di Yogyakarta. Sehingga bencana yg berhubungan dengan aktifitas Gunung
Merapi lebih menyita perhatian dibandingkan bencana gempa. Gunung
Merapi sangat sering menunjukkan aktifitasnya, bahkan menjadi sebuah
Gunung Api teraktif di dunia. Ketiadaan catatan khusus mengenai gempa
ini mungkin beberapa gempa yg terjadi dimasa lalu selalu dikaitkan
dengan kegiatan Merapi, sehingga kebencanaan gempa di Yogyakarta
tertutupi (overlooked).

Banyak bangunan-bangunan tua (lebih dari 300 tahun) yg berada di
KotaGede serta Surakarta yang ikut roboh. Disini ada dua hal yg perlu
diketahui, yaitu : bangunan tersebut barangkali memang sudah tua dan
rapuh, dan yang kedua selama 350 tahun terakhir memang tidak tercatat
adanya gempa merusak. Dan barangkali inilah pertanda mengapa
kewaspadaan bahaya gempa tidak tercatat di daerah ini.

Ada pelajaran baru buat kita semua, tentusaja.
*    Sebuah patahan yg diperkirakan pasif (nonaktif) sangat mungkin
menjadi aktif karena trigger-triger tertentu, mungkin saja Patahan
Opak ini terpicu oleh aktifitas Gunung Merapi, atau juga saling
mempengaruhi. Bahaya bencana alam dapat terjadi dimana-mana dan tidak
disangka-sangka.
*    Perlu perubahan carapandang suatu daerah dengan memperhatikan
potential desaster tidak hanya berdasarkan catatan sejarah (tertulis).
Banyak rekaman-rekaman geologi yg harus dipelajari seperti rekaman
gempa yg ada di batugamping terumbu yg usianya dalam jangka ribuan
tahun.
*    Adanya beberapa patahan-patahan pasif yang paralel dan
berpasangan dengan Patahan Opak ini yg perlu diperhatikan, misal
Patahan Grindulu yg membentang sejajar dengan Patahan Opak dari daerah
Pacitan kearah Timur-laut. Kajian sejarah kegempaan yang terekam dalam
tanah berusia ribuan tahun sepangang sungai grindulu barangkali dapat
membantu memerikan periodisasi kegempaan di daerah ini.

Masih banyak PeeR yang harus kita lakukan bersama.

------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------

------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------

------ https://www.lists.uni-karlsruhe.de/warc/hagi.html ------




--
How to win the game without breaking the rule --> make the new one !

Kirim email ke