On 6/14/06, Sekretariat Pengurus Pusat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya kira agak sulit sekarang Yangkung, karena Presiden IAGI sekarang dari BP Migas. IAGI juga harus membuat semacam "Tim Independen", dan meneliti semua data. Saya pribadi turut prihatin, ditengah polemik kemampuan profesional nasional menangani explorasi migas. SR, iagisek.
Beliau menjadi ketum kan bukan sebagai pegawe BPMIGAS. Di organisasi terbuka seperti IAGI tentunya siapa saja kedudukannya dalam organisasi sama dan sejajar, diluar kedinasan. Segala risiko tentunya menjadi risiko organisasional, jangan malah berlindung dibawah salah satunya. Bahkan kalaupun masih urusan kedinasan atau urusan bisnis kantor aku kira kalau mengkaji segala sesuatu berdasarkan kajian ilmiah akademis akan juga muncul solusi yg relatip lebih objective dan menguntungkan smua pihak. Jadi menurutku asal kejadiannya dikaji secara ilmiah atau bahkan argumentasi secara ilmiah ndak apa-apa. Blajar dari Kasus Buyat IAGI pernah juga dituduh terlalu cenderung ke pihak penambang, namun IAGI tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Dan kalau anda baca di minergynews yg aku kutip dibawah, sepertinya press release IAGI cukup tepat. Minergynews ini biasanya sangat pro ke pertambangan, tetapi kadang juga objektif melihat kasus pertambangan. --- start quote --- http://www.minergynews.com/berita/20060609/20060609_2.shtml Jum'at 9 Juni 2006 16:40:39 WIB * Todung: Bukti Buyat Tercemar Makin Lemah * *MinergyNews.Com*, Manado-- Proses persidangan pidana pencemaran Teluk Buyat yang telah berjalan selama sepuluh bulan memperlihatkan PT Newmont Minahasa Raya (NMR) tak bersalah. Karena, pembuktiannya sangat lemah. --- end quote -- Jadi ndak perlu membentuk "tim independen" di IAGI lagi. Sejak lahir (setengah abad yg lalu) IAGI merupakan organisasi profesi yg kajiannya berdasarkan atas kajian ilmiah akademis. Sebagai awal mungkin IAGI bisa memebrikan pess release atas keprihatinan, belum tindakan nyata ndak apa-apa. Misalnya menuntut keterbukaan data dulu saja sudah cukup. Aku rasa memang jangan buru-buru membuat release yg bersifat teknikal spt kasus buyat, tetapi juga jangan lelet yg terkesan ikut-ikutan dan terlambat. Kasus ini kalau menjurus kepada ketidakpercayaan atas kemampuan profesional Indonesian akan lebih merugikan kita sendiri nantinya. Ayo Cacak - Cening Jawa timuran, Jangan sampai kasusnya membuyat ...! rdp

