Bagaimana kita tahu ada "paleo-collapse" dari penampang seismik ?
-----Original Message----- From: Rovicky Dwi Putrohari [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, July 04, 2006 1:46 PM To: [email protected] Subject: Re: [iagi-net-l] Gempa, Pemicu Banjir Lumpur Porong? Saya sudah melihat seismic2 yang ada disekitar daerah ini. terlihat adanya paleo collapse, dimana paling tidak ada dua collapse yg pernah terjadi dimasa lampau. Seperti yg saya tulis dulu di sini : http://rovicky.wordpress.com/2006/06/19/ada-apa-dengan-mud-flow-di-jawa-timur-ini/ Ada beberapa hal yg menarik. Saya kira sumur Porong-1 ini "selamat" karena "beruntung" tidak menembus formasi ini. Porong-1 menembus paleo collapse, dimana didaerah ini sudah collapse pada jaman dahulu. sehingga batuan ini mungkin sudah tidak ada di Porong-1. Kita bisa saja mengukur radius colapse zonenya, untuk memperkirakan volume mudflow pada jalam dahulu. Namun jangan takut bahwa mudflow sekarang akan keluar dengan volume yang sama sehingga akan ada collapse yang sama. Mengapa ? Collapse yang dulu (paleo collapse) diakibatkan oleh gejala alam, tanpa intervensi manusia. (kecuali kalau di manusia purba ini main cucuk-cucuk pakai tongkat nabi pembelah samodra) ... :) .... Collapse jaman dahulu di-"trigger" oleh gejala alam tentunya (gempa mungkin). Kalau memang keluarnya mudflow ini hanya karena ulah manusia (drilling) saya kira kita bisa menanganginya juga dengan intervensi engineering. Sekarang kita punya ilmu kita punya alat dan kita memiliki akal. Kita harus terus mencoba untuk menghentikan ini. btw, ada yg bisa kasih saya artikel tempo yg disitir Yuriza ini ndak ? disini ndak ada tempo euy ! RDP "sekarang ndak usah jauh2 ... kalau mau ke Kuala Lumpur jalan aja ke Porong ... wupst !" On 7/4/06, Wayan Ismara Heru Young <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > kemudian pertanyaan selanjutnya adalah apakah akan ada colapse batuan yang > diatasnya akibat tekanan yang berkurang dengan cepat karena keluarnya lumpur > itu? jangan2 setelah ini terjadi subsidence lokal ? > > .heru. > > [EMAIL PROTECTED] wrote: Saya tetap nggak ngerti darimana datangnya lumpur > sebanyak itu. > Taroklah underground blowout yang keluar masak lumpur tujuh keliling gitu, > dulu pernah ada underground blowout disini sehingga perlu enam well untuk > menutup blukutuk blukutuknya, tapi yang keluar ya blukutk blukutuk tadi ( > gas di laut) bukan lumpur sak danau begitu, dan makin deras lagi ...... > Menurut deskripsinya pak Andang dan kang Awang lumpur datang dari formasi > shale diatas Kujung ( Kalibeng Clay yang colapse grain to grain forcenya > sehingga bisa ngalir). Menurut wawancara pak Adang kalau saya nggak salah > mengamati colapsenya itu yang dispekulasikan sebabnya -> karena > underground blowout itu atau karena gempa. > Pakai logika kasar aja, apakah tidak berlebihan untuk mengasumsikan bahwa > underground blowout saja cukup untuk 'meruntuh'kan clay segitu banyak ?. > Mestinya kalau benar lumpur itu berasal dari Kalibeng Clay yang 'runtuh' > maka force yang membuat grain to grain bearing hilang/rontok mestinya besar > sekali ( gempa lebih tepat). > Satu lagi yang saya tidak habis pikir adalah laporan Kasus Lapindo di Tempo > paling baru ( hal 106 2 Juli 2006), pada gambar ilustrasi terlihat bahwa > lumpur berasal dari suatu lapisan kayak gunung berusia pliosen (shale > diapir ?). Terlihat juga di gambar ini bahwa sumur BP-1 berhenti di formasi > kayak gunung ini ( bukan di Kujung). > Apakah sekali lagi Tempo membuat suatu ilustasi yagn salah ?, apakah > sipemasok ilustrasi yang salah atau memang bahwa ternyata BP-1 belum > sampai kujung malah salah menginterpretasikan mud diapir sebagai Kujung ?. > Kalau memakai seismik 2d hal ini mungkin saja terjadi karena baik carbonate > build up maupun shale diapir mirip mirip aja.. > Kalau benar ternyata BP-1 menusuk shale diapir atau underground blowoutnya > membuat berbagai patahan yagn connect ke shale dipair wah ini mah tidak > bakal terhentikan, bayangkan saja kalau si mud diapir itu mempunya tinggi > maksimum 300 m dan luas 10 km persegi, ya akan menenggelamkan daerah seluas > 500 km persegi dengan kedalaman 3 meter baru dia berhenti bukan ?. > > salam > y > -- http://rovicky.wordpress.com/ --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi --------------------------------------------------------------------- --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

