Memang umumnya media massa di negeri kita, terutama media massa yang masih berusaha merebut pasar akan berbicara sebombastis dan sedramatis mungkin untuk menggambarkan apapun peristiwa. Tentunya selain redaksinya sadar bahwa media massa adalah media untuk edukasi masyarakat, juga cari untung dengan oplah...
Salah satu lahan yang paling enak saat ini adalah gempa dan tsunami. Mereka akan berusaha berebut akses ke sumber yang dianggap kompeten (macam M' Andang, P' Awang, dll). Kalau gak ada, ya sudah siapapun yang menyandang status 'geologist' akan diminta keterangan. Berbagi pendapat lalu muncul simpang siur berseliweran, kadang-kadang tidak konvergen satu sama lain. Masyarakat akan menanggapi dengan bingung dan panik... Menurut saya ada dua hal yang bisa meredam hal itu: 1. Menggunakan hak jawab dari yang 'merasa' para pakar kegempaan dan tsunami (perorangan, lembaga, dll) melalui media masa, untuk meluruskan 'kesesatan' yang ditimbulkan oleh yang dianggap 'golongan geologist sesat'; atau 2. Masyarakat kalau sudah 'muntah' akan bisa mensortir sendiri mana yang benar dan mana yang 'sesat'. Seperti biasalah yang terjadi pada para tokoh parpol..., yang belang-belang akhirnya akan kelihatan pada akhirnya.. Kalau masalah tenar atau populer, saya cenderung melihat semakin banyak geologist yang berani dan 'boleh' bersuara akan makin bagus. Toh tokoh-tokoh geologi tenar di Indonesia jumlahnya tidak mencukupi untuk mengedukasi masyarakat yang jumlahnya sedemikian banyak. Tinggal masalah koordinasi saja mungkin... ALS Iwan B <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kalau Pak Andang sih OK punya pendapatnya di mass > media. Tapi saya > pribadi juga terus terang jengkel dengan tulisan2 > yang saya baca di > mass media . > Seperti contohnya yang disebut Awang tentang potensi > gempa di jakarta > yang saya baca di kompas beberapa hari yll, dan > dituliskan oleh > seorang ahli geologi yang bekerja di instansi > pemerintah di Sumut. > Walaupun saya bukan ahli gempa, tapi saya yakin > kalau yang dituliskan > di kompas itu sifatnya sangat intuitif dan bersifat > misleading, > apalagi untuk masyarakat awam. Apalagi disebutkan > potensi tsunami yang > cukup besar di jakarta. Saya sendiri juga heran kok > kompas bisa > meliput pendapat seperti itu............ > > > > On 7/26/06, Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > Saya tak memaksudkan bahwa orang2 yang bekerja di > kegempaanlah yang boleh berbicara soal gempa. > Tetapi, tentu saja media akan otomatis menghubungi > instansi terkait untuk meminta keterangan. Hanya, > yang namanya pengetahuan geologi, saya pikir tak > dikungkung oleh instansi tertentu. Seorang petroleum > geologist, kalau ia tertarik dan cukup punya waktu, > boleh-boleh saja menekuni masalah kegempaan > misalnya. Begitu juga sebaliknya. Saya malahan > selalu menganjurkan agar kita jangan membatasi diri > dengan suatu hal dan tak mau peduli dengan hal > lainnya. > > > > Di media pun, saya pikir teman2 geosaintis kita > yang dimintai keterangan itu, pernyataannya juga tak > mewakili instansi di mana mereka bekerja, tetapi > lebih ke pendapat-pendapat pribadi sejauh yang > mereka ketahui saat mereka dimintai pendapat. > Pendapat2 individu maupun pendapat resmi suatu > instansi bisa saja salah bukan ? > > > > salam, > > awang > > > > OK Taufik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Apa saya tak salah simak, setelah Gempa > Yogya..Awang sendiri meyakini > > "tak bisa menampik komentar ahli kebumian, karena > ini pers era > > reformasi" (kira2 begitu). Untuk pernyataan resmi > memang sebaiknya > > pihak yg berwenang, namun pendapat para ahli > berkompeten dalam tataran > > analisa tak ada yg bisa membendung, apa lagi kalau > hanya bicara soal > > gempa untuk barat sumatera dan selatan > jawa..kurang lebihnya dasar > > penyebabnya itu-itu sajakan?..pergerakan lempeng > australia ke lempeng > > eurasia..anak elementry school saja agak-agak > tahulah soal ini. Dan > > lagi pula para geocsientis yg berkomentar ..masih > ada > > competencynyalah..kalau juga tak langsung terlibat > soal tsunami, masih > > terlibat soal gempa dan sekitarnya. Kalau bagi > komunitas kita sendiri > > petroleum geology misalnya bisa saja diterima > komentarnya soal > > gempa..namun untuk khalayak umum yg agak susah > nrima dan agak riskan > > dari sisi pertanggungjawaban, nanti orang > berkomentar masak orang > > pertamina komentar soal tsunami sih (misalnya). > > > > On 7/26/06, Hendri Ruslan wrote: > > > Pak Andang YSH, > > > Pernyataan Pak Awang tersebut mungkin hanya > antisipasi saja untuk lebih > > > berhati-hati, plus untuk mengingatkan bahwa ada > aturan siapa yang berwenang > > > untuk mengeluarkan pernyataan di muka umum ?. > > > > > > Salam, > > > Hendri > > > ----- Original Message ----- > > > From: "Andang Bachtiar" > > > To: > > > Sent: Tuesday, July 25, 2006 6:47 PM > > > Subject: Re: [iagi-net-l] Opini Gempa diantara > Eksekutif Muda Jakarta > > > > > > > > > > Saudaraku: Awang yang saya kagumi,... > > > > > > > > Saya benar2 tergelitik dengan pernyataan > sampeyan bahwa ada geologist2 (yg > > > > langsung mendapatkan popularitas) yang tidak > sadar bahwa pendapat2-nya > > > > bisa meresahkan (masyarakat?), terutama dalam > konteks Bencana Gempa & > > > > Tsunami akhir-akhir ini...... > > > > > > > > Kalau kita simak di media akhir-akhir ini (di > TV, radio, koran, internet) > > > > sebenarnya kawan-kawan geosaintist yang (saya > yakin) semuanya volunteering > > > > bicara karena panggilan nurani, tugas, profesi > maupun organisasi-nya > > > > jumlahnya tidak banyak dan kita hampir tahu > nama mereka satu-persatu > > > > (untungnya sejak tidak menjadi Ketua IAGI saya > relatif tidak pernah lagi > > > > berbicara di media ttg Gempa&Tsunami karena > memang ilmu saya masih sangat > > > > dangkal dibandingkan para pakar Gempa, > Tsunami, Tektonik dsb, sehingga > > > > otomatis -mudah2an- saya tidak termasuk dalam > kategori yg sampeyan > > > > sebutkan);.... Dan sejauh menyangkut > pernyataan2 mereka yang saya monitor: > > > > saya belum menemukan sesuatu yang meresahkan > masyarakat disitu. Malahan > > > > kebanyakan dari mereka seringkali harus > terbangun malam-malam karena > > > > ditilpun-i oleh masyarakat yang resah untuk > menenangkan mereka > > > > satu-per-satu...... Maka dari itu, saya mohon > pencerahan ,.... kira-kira > > > > siapakah diantara kawan-kawan kita yang bicara > di media itu yang > > > > meresahkan masyarakat? Atau paling tidak: > bagaimanakah pernyataan2 > > > > kawan-kawan tersebut yang bisa meresahkan > masyarakat? Hal ini perlu untuk > > > > diklarifikasi, karena sinyalemen sampeyan > (apabila benar) dapat menjadi > > > > umpan-balik bagi kawan2 yg lain untuk > introspeksi dan memperbaiki diri > > > > dalam rangka bicara dan sosialisasi ke > masyarakat yang lebih benar..... > > > > > > > > "Berhati-hati bicara" bukan berarti terus > lantas "diam membiarkan". Secara > > > > pribadi, saya malahan meng-"encourage" semua > geosaintist yang punya > > > > kesadaran nurani untuk terus-menerus bicara > kepada masyarakat, baik > > > > melalui IAGI, HAGI, Alumni, Klub2 Sosial, > Pendaki Gunung, Karang Taruna, > > > > Bupati, Walikota, Staff Pemerintahan, Perguran > Tinggi, LSM dsb-nya. > > > > Janganlah kita berpuas diri bicara kepada diri > sendiri (atau kelompok > > > > sendiri). Karena hal itu malahan akan membuat > ilmu geologi menjadi semakin > > > > ter-alineasi dari masyarakatnya. Saya yakin, > pengertian-pengertian dasar > > > > tentang aspek bahaya dari posisi tektonik > aktif Indonesia dengan implikasi > > > > gempa&tsunami-nya hampir semua geosaintist > memahaminya dan dapat > > > > menerangkannya kepada masyarakat. Demikian > juga bahwa tidak ada satu > > > > geologist-pun di dunia ini yang dapat > menentukan dengan pasti jam, hari, > > > > tanggal, bulan, tahun akan terjadinya gempa > (dan tsunami). Sehebat-hebat > > > > analisis geologi, geofisik, geokimia, dll > pasti masih punya kadar > > > > ketidak-pastian, standard deviasi, dan > komponen2 statistik lainnya. Dan > > > > saya yakin semua geosaintist yang pernah lulus > dari perguruan tinggi > > > > memahami dan sangat mengerti tentang hal itu. > Dengan demikian hampir dapat > > > > dipastikan bahwa kalau ada geosaintist yang > menyatakan hasil analisis ttg > > > > gempa&tsunami kemudian pernyataan itu > meresahkan masyarakat... itu bukan > > > > disebabkan oleh pernyataannya, tetapi lebih ke > persepsi masyarakat yang > > > > belum sepenuhnya terbangun untuk menyerap > informasi dengan implikasi > > > > dimensi waktu yang panjang (skala geologi), > dimensi besaran yang guedhe > > > > (volume slab, kekuatan gempa dsb), dan dimensi > ketidakpastian (standard > > > > deviasi). Kita tidak boleh lantas diam > membiarkan persepsi itu begitu > > > > saja. Kita harus terus bicara untuk membangun > persepsi dan paradigma baru > > > > GEOLOGI di masyarakat. > > > > > > > > Nah, kalau anda sering mengutip istilah: > "Publish or Perish", dalam kasus > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --------------------------------------------------------------------- ----- PIT IAGI ke 35 di Pekanbaru ----- Call For Papers until 26 May 2006 ----- Submit to: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id Visit IAGI Website: http://iagi.or.id Pembayaran iuran anggota ditujukan ke: Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta No. Rek: 123 0085005314 Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Bank BCA KCP. Manara Mulia No. Rekening: 255-1088580 A/n: Shinta Damayanti IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi ---------------------------------------------------------------------

